Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Reyno ngambek


__ADS_3

Masa ujian Reyno dan Jennie telah usai. Seharusnya tinggal keberangkatan mereke untuk liburan ke Korea, namun di luar dugaan Jennie mengalami sedikit masalah dengan kandungannya. Atau yang biasa sering di sebut morning sickness pada ibu hamil, semacam mual, sakit, bahkan sampai pingsan. Tidak terlalu berbahaya memang, tapi berpengaruh besar pada aktifitas ibu yang mengandung. Faktor umur Jennie yang masih di bawah delapan belas tahun membuat tubuhnya belum siap menghadapi kehamilan pertamanya. Terlebih Jennie mengalami nyidam yang aneh, dan terkadang membenci suaminya sendiri.


Makan es krim sambil mendengarkan lagu ice cream. Itulah yang sedang Reyno lakukan sekarang, duduk bersantai di rumah mertuanya. Memegang cup es krim dengan berbagai toping buah di atasnya.


Di mana Jennie? Terdengar suara angin memanggil namanya. Reyno dan Jennie sedang musuhan. Bunda sebagai orang tua melerai dan memisahkan kedua anaknya. Dengan cara menarik Reyno dan merayunya dengan satu cup besar es krim home made ala-ala bunda.


"Jadi kenapa Jennie tidak mau bobo bareng, Reyno? Nggak percaya kalau gara-gara nyidam. Masa anak Reyno benci sama ayahnya sendiri."


Bibirnya mengerucut sambil menyendok es krim perlahan, membuat bunda jadi gemas melihat tingkah menantu kesayangannya ini. Begini si menantu kalau sedang ngambek. Bunda sampai kewalahan menjelaskannya.


"Sabar ya, Reyn. Nyidam memang suka macam-macam perkaranya, tidak hanya sekedar ingin makan seuatu, tapi tingkahnya juga bisa berubah aneh. Malam ini Reyno tidur di kamar tamu saja ya," rayu bunda sebisa mungkin.


"Huuh!" Reflek Reyno melengos kesal, di taruhnya satu gelas cup es krim yang isinya tinggal setengah itu di atas meja. "Jadi anak aku benci ayahnya sendiri? Belum lahir aja udah begitu, memisahkan ayah dengan ibunya. Dasar nakal!" Akhirnya ia mengumpati si buah hati yang belum keluar dari tempatnya.


Bunda ingin tertawa, namun di tahan sebisa mungkin. "Eh, bukan begitu, Reyn. Itu hanya nyidam saja, tidak ada hubungannya dengan bayimu nanti."


"Jadi maksudnya gimana? Reyno bingung, Bunda!"


Gimana ya, bunda juga bingung kalau menjelaskan secara logika. Di saat ia masih memikirkan jawaban terbaiknya, tiba-tiba Jennie datang dengan wajah datarnya.


"Ayo ke kamar!" ajaknya sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"Emang sudah boleh?"


"Hmm." Hanya berdeham, lantas Jennie kembali naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Selamat. Bunda tidak harus menjelaskan apapun pada anak itu. Reyno berdiri dengan semangat. Mengabaikan es krim yang tinggal setengah isinya.

__ADS_1


"Aku ke kamar dulu ya, Bunda."


"Iya. Sana ke kamar," ucap bunda sambil tersenyum. Ada helaan napas lega saat Reyno berjalan menjauh darinya.


Sudah di dalam kamar, namun Reyno masih tetap dipersulit, ia disuruh tidur agak jauh dengan skat bantal yang cukup tinggi. Sementara Jennie sibuk main game ular dan mengabaikan suaminya yang duduk mematung memperhatikannya.


Sesuai umurnya, namanya juga calon ayah yang belum cukup umur, Reyno merasa sudah tidak di hargai lagi oleh istrinya. Apa jangan-jangan sudah tidak sayang lagi? Berbagai pikiran negatif berkecamuk dan menari-nari di pikiran Reyno saat ini.


"Kamu udah bosen sama aku? Sampai tidurpun harus di kasih bantal setinggi itu?" Akhirnya Reyno bertanya karena tidak kuat. Jennie masih diam, tidak menjawab dan memilih asik dengan dunia gamenya.


"Ya sudah. Besok aku tinggal di rumah, Mami saja."


Reflek Jennie menoleh kesal. Ada bantal yang melayang ke wajah Reyno selanjutnya.


"Berani ninggalin aku, kamu gak akan pernah ketemu anak kandung kamu lagi!" ancam Jennie emosi.


"Aku gak mau kamu jauh-jauh, tapi gak mau juga liat muka kamu dari dekat begini. Pengin muntah!"


Huuuh. Reyno menghela napas kasar. Ia masih tidak menyangka akan se—merepotkan ini menghadapi istri hamil. Semua yang ia lakukan selalu salah di mata Jennie.


"Terus mau kamu apa?" bentak Reyno dengan nada meninggi.


Di luar dugaan wajah Jennie berubah mendung. Ia tertunduk dan mulai menitikan air mata.


"Kamu bentak aku? Padahal aku sendiri juga ngga tahu kenapa bisa begini. Kadang aku kangen kamu, tapi kadang juga malas liat kamu. Ini bukan kemauan aku, kalau tahu begini akhirnya, aku gak mau hamil anak kamu."


Kata-kata Jennie menikam tepat di ulu hati Reyno. Pria itu langsung merasa bersalah karena menyakiti hati istrinya. Namun ia sendiri juga bingung dengan situasi ini. Tidak paham mau Jennie itu apa.

__ADS_1


"Ya. Maaf, aku bingung harus bagaimana. Semua yang aku lakuin gak ada benarnya di mata kamu." Bahkan untuk sekedar mendekat dan mengusap air mata Jennie saja Reyno tidak berani.


Satu hal lagi, semenjak hamil Jennie sangat sensitif. Ia tidak lagi kuat seperti biasanya, dibentak sedikit saja langsung nangis, namun hampir setiap hari Jennie membentak Reyno tanpa ampun. Sabar, sabarlah seorang Reyno.


"Peluk aku," lirihnya sambil mengepangkan kedua tangan. Air matanya sudah berhenti. Menyisakan bibir yang mengerucut lucu dan terkesan imut.


"Benar mau di peluk? Gak pengin muntah?"


"Engga. Mau peluk," ucap Jennie dengan nada manja. Lantas Reyno bergerak semakin dekat, menyingkirkan bantal penghalang dan meraih tubuh kecil istrinya.


"Anak Papa jangan nyusahin Mama ya, kasihan Mama kalau harus mual lihat muka, Papa." Di usapnya dengan lembut perut datar Jennie. "Mama ngga bisa jauh dari Papa, jadi kamu jangan benci Papa ya,"


"Memangnya dia Paham?" tanya Jennie heran. Belajar dari mana gaya seperti itu. Sepertinya Reyno sudah dapat dikatakan layak menjadi seorang ayah.


"Entahlah. Apa salahnya menasehati anak sejak dini."


Reyno mengusap bekas air mata yang masih menempel di pipi Jennie. Lalu mengecup matanya, hidungnya, dan memagut bibirnya dengan lembut.


Terlalu lembut hingga pertahanan Jennie mulai melemah, membiarkan Reyno mengeksplor bibir dengan tangan yang bergerilya ke sana-sini.


Pada akhirnya, bukan hanya pelukan yang Jennie dapatkan. Namun sentuhan hangat yang berujung pada sebuah kepuasan.


Akang gendang paling bisa emang.


***


Aku mau tes, apakah masih stabil pembacanya? jangan lupa komen dan like ya, biar aku gak males lanjut, kalo udah pada kabur kan percuma nulis juga ..wkkwwk.

__ADS_1


__ADS_2