Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Ngambek Terus


__ADS_3

"Ayah!"


Cilla dan Cello berseru riang saat melihat Farhan dan Reyno berdiri di ambang pintu.  Kedua anak itu langsung bergegas lari, di mana ekor mata Reyno terus mengikuti kedua ondol-ondol yang berlarian secara beruntun. Lantas menghamburkan tubuhnya di antara kedua kaki Farhan.


"What?" seru Reyno tidak percaya. Awalnya Reyno sedikit terperanjat dengan panggilan anak-anaknya yang mendadak berubah. Namun sejurus kemudian hatinya langsung terbakar ketika ayah yang dimaksud adalah Farhan.


"Bagaimana bisa kalian memanggil orang asing yang baru kalian temui dengan sebutan ayah. Siapa yang ngajarin?" Mata Reyno tertuju pada Jennie yang berdiri lima meter di belakangnya. Wanita itu mengedikkan bahu tanda tidak tahu.


"Kita seling pideo-pideo kol, Pa!" seru Cilla yang sudah berpindah tempat di gendongan Farhan. Membuat pria itu merasa bangga sekaligus senang.


"Kakak meracuni otak anak-anakku yang polos ya," protes Reyno tidak terima. Bibirnya mencebik seperti mulut bebek.


"Hahaha," tawa Farhan lepas sekali. "Sudah-sudah, berhenti mengerjai Papa kalian. Nanti Papamu bisa masuk rumah sakit karena penyakit cemburu," kelakar Farhan jemawa.


Cillan dan Cello menyengir kuda. Memamerkan deretan gigi susu yang terlihat menggemaskan.


"Siap, Om! Dasal Papa, Kita cuma belcanda aja Papa malah!" cibir Cilla sambil menjulurkan lidahnya—nakal. Farhan semakin tergelak, lantas mencubit pipi Cilla gemas.


"Keponakan om memang pintar ya," puji Farhan sambil mengelus puncak kepala Cello dan Cilla secara bergantian.


Pria itu ternyata masih bisa sedikit bercanda. Tidak terlalu mengerikan di mata si kembar. Tadinya, Reyno pikir Cilla dan Cello akan lari ketakutan ketika melihat Farhan yang selalu memasang tampang garang.


"Cilla turun dulu, sini!"


Jennie mendekat, mengambil Cilla dari gendongan Farhan lalu menurunkannya perlahan. "Omnya baru dateng, masih capek. Nanti lagi gendongnya, ya." Cilla hanya membalas dengan anggukan patuh.


Jennie mencium tangan Farhan, lantas memeluk pria dengan sejuta rindu yang menyeruak di dada. Secara sudah empat tahun mereka tidak bertemu. Terakhir saat Cilla dan Cello masih di dalam kandungan.


Dirangkumnya wajah Farhan dengan binar kasih sayang. "Kakak masih sama, tidak ada yang berubah. Masih tampan seperti dulu."


"Cih!" Seseorang di samping Farhan berdecak sinis. Reyno langsung kebakaran jenggot melihat sang istri yang mendadak sok manis di depan Farhan.


"Tapi sayangnya, suamiku jauh lebih tampan. Hehehe...." Ekor Jennie melirik Reyno ketika menyadari perubahan sikap pada sang suami.

__ADS_1


"Om Farhan kok gak bawa apa-apa dari Amerika?" cetelut Cello yang masih berdiri di bawah kaki Farhan. "Kalo Papa Teddy seling bawain kita mainan ama makanan, tuh," imbuh Cilla.


Kali ini Farhan kalah telak. Pria itu mendadak gelagapan sekaligus mengerjapkan kedua kelopak matanya bingung. Reyno yang melihat ekspresi wajah Farhan langsung terbahak.


"Hahaha, Om Farhan kalian tidak mungkin bisa bersikap manis seperti papa. Dia mana paham arti kata oleh-oleh," cibir Reyno penuh kemenangan.


"Ehmmm." Farhan berdeham gugup.


Jujur saja, pria itu sama sekali belum pernah membawa buah tangan meski uangnya tidak habis tujuh turunan delapan tanjakan. Bukannya pelit, selain tas yang berisi file kerjaan, Farhan tidak pernah membawa apapun saat bepergian. Bahkan bajunya pun tidak.


"Tentu saja Om sudah mempersiapkan semuanya untuk kalian, tunggu sebentar lagi... oleh-oleh untuk kalian segera datang," bohong Farhan pada kedua keponakannya.


***


Dua jam kemudian, sebuah truk berisi banyak mainan berhenti tepat di depan muka rumah Reyno. Farhan tersenyum bangga menatap kedua anak-anak polos yang mulutnya masih ternganga tidak percaya.


"Ya Tuhan, Kak? Kenapa banyak sekali mainannya?" tanya Jennie terheran-heran. Nampan berisi teh hangat yang Jennie bawa sedikit terguncang karena terkejut.


"Bukankah, Om lebih baik dari papa kalian? Semua mainan ini untuk Cilla dan Cello," ucap Farhan bangga, menghiraukan kalimat protes yang keluar dari mulut Jennie.


"Baik banget, Ello jadi makin sayang sama Om," puji Cello, ilernya hampir menetes melihat mainan sebanyak itu."Ye, ada lumah belbi!" teriak Cilla tidak mau kalah.


Saat ditanya buah tangan oleh kedua ponakannya, Farhan langsung sigap menghubungi Rico untuk memesan mainan di toko mainan branded. Pria itu membeli semua yang ada di toko tanpa terkecuali. Kejadian ini persis seperti saat ia hendak membelikan hadiah untuk ulang tahun Lisa. Farhan membeli cincin dengan ukuran semua jari karena tidak tahu ukuran jari Lisa. Seratus persen pria yang tidak suka ribet dan kerja dua kali.


"Jangan aneh-aneh deh, Kak. Nanti mereka jadi tambah manja sama Omnya. Pokonya balikin semua mainan itu, Kak," gerutu Jennie sambil menaruh teh hangat di meja dekat Farhan.


Pria itu sedang bermain-main dengan keponakannya. Semenjak datang, Cilla dan Cello sangat lengket pada Farhan. Mungkin karena ada tali darah yang mengikat mereka bertiga.


"Ya, Mama, kenapa dibalikin?" protes Cello dengan raut wajah kecewa.


"Gak boyeh!" teriak Cilla hampir menangis.


"Sudah jangan protes, kalian tidur saja dulu. Nanti baru boleh lihat mainan." Dua bibi asuh yang mendengar itu langsung sigap. Menggendong Cilla dan Cello yang menangisi mainannya.

__ADS_1


Terjadi hening sejenak setelah anak-anaka di bawa ke dalam oleh bibi asuh. Jennie menatap kakaknya lekat. Lalu ikut duduk di kursi kayu yang ada di samping Farhan.


"Apakah kamu tidak suka dengan hadiah yang kuberi?" tanya Farhan sambil menatap mainan yang sedang diturunkan dari atas truck.


"Bukan begitu, Kak. Mainan banyak-banyak untuk apa? Aku tidak mau anak-anakku bodoh seperti ibunya karena terlalu banyak bermain," aku Jennie merendah diri. "Mereka memang menanyakan oleh-oleh, tapi bukan berarti setiap perkataan mereka harus di turuti, Kak. Cilla dan Cello hanya anak kecil polos yang suka berkata semaunya."


Farhan termenung, lalu menoleh dengan wajah datar. "Baiklah, nanti aku akan menyuruh Rico membagikan mainan ini pada anak-anak panti."


Jennie tesenyum bangga. "Aku suka gayamu, Kak!" puji wanita itu terkekeh. "Oh ya, apa Kakak sudah bertemu bunda?" tanya Jennie.


"Belum," jawab Farhan apa adanya.


Jennie menyerngitkan dahinya heran. "Ya ampun, Kak. Harusnya Kakak temui bunda dulu, baru pergi ke rumah aku."


Jennie mengambil teh di atas meja. Menghirup dan menyesapnya perlahan untuk menghilangkan efek geram pada kakaknya.


"Aku takut bunda menanyakan calon istri."


"Uhukk!" Jennie tersedak air teh yang baru saja ia sesap.


Sungguh alasan klasik yang mencengangkan. Bisa-bisanya Farhan tidak mau bertemu bunda dengan alasan seperti itu.


"Jadi Kakak benar-benar tidak mencari calon istri sama sekali di Amerika?" Nada suara Jennie meninggi dengan ekspresi tidak wajar. Lalu dibalas dengan sebuah gelengan kepala oleh Farhan.


"Tidak. Aku sibuk bekerja," kilah Farhan beralasan.


"Kak? Bisakah kau jujur padaku? Apa kau seorang gay? Jika benar, aku akan membantumu menyembuhkan penyakit itu."


Menoleh tidak percaya, Farhan menonyor dahi sang adik kesal. "Dasar mulutmu itu! Aku masih pria normal, hanya saja aku malas berdekatan dengan wanita."


Secara harfiah, apa bedanya pria tidak normal dengan pria yang malas berdekatan dengan wanita. Bukankah itu sama saja?, umpat Jennie dalam hati.


"Nanti aku pinjam kedua anak kembarmu untuk menemui bunda. Setidaknya aku akan aman jika membawa mereka untuk menemui bunda. Bunda tidak akan berani ceramah macam-macam jika ada anak kecil 'kan?" ucap Farhan dengan ide gila yang luar biasa.

__ADS_1


Ingatan Farhan kembali pada kejadian empat tahun silam. Di mana bunda mengancam akan menjodohkan Farhan jika pulang tanpa membawa calon istri.


***


__ADS_2