
“Kerja itu susah, Reyn. Mending aku balapan aja, dapat uangnya juga gampang.” Jennie mulai protes lagi.
“Memang susah, tapi tujuan Papi nyuruh aku pergi dari rumah untuk hal ini kan. Papi mau aku mandiri, ngelakuin kewajiban aku sebagai seorang suami.”
Jennie termenung sejenak. Yang dikatakan Reyno memang ada benarnya. Tapi. Ada saja hal yang mengganjal di pikiran Jennie. Bukan bermaksud merendahkan kemampuan Reyno. Cowok itu terlalu meragukan untuk bekerja. Takutnya malah tambah menyusahkan nantinya.
Reyno sudah pergi ke arah dapur, meninggalkan Jennie yang masih termangu dengan sejuta pikiranya. Cowok itu mengambil baskom, mengisinya dengan air hangat, lalu membawanya ke kamar untuk mengompres luka-luka di tubuh Jennie.
“Awkkh!” Jennie menjerit saat handuk panas menyentuh permukaan pipinya. Secara ia masih melamun kan. “ Panas!”
“Jangan manja, salah siapa kamu jatuh.” Reyno terus menempelah handuk hangat di pipi Jennie, gadis itu meringis sakit setiap kali handuk itu di tempel.
“Biasanya pakai air es, kok ini air panas.” Protes Jennie lagi. Karena memakai air panas terasa menyengat dipermukaan kulit.
“Air dingin dari mana? Kita ngga ada kulkas kan?” Reyno menaruh handuknya lagi ke dalam baskom.
“Benar juga ya, tapi emang bisa pakai air hangat?”
“Bisa lah, air hangat atau dingin sama aja. Kompres air hangat digunakan untuk meredakan nyeri otot atau sendi yang telah berlangsung lama. Suhu hangat dapat memperlebar pembuluh darah, sehingga aliran darah dan suplai oksigen dapat lebih mudah mencapai daerah yang sakit. Air hangat dapat membuat otot relaks dan mengurangi nyeri,” tuturnya panjang lebar.
“Hehehe, kamu udah kayak dokter aja ngejelasin detail gitu,” cengir Jennie dengan wajah jenaka.
“Ini terakhir kalinya kamu balapan liar begitu, aku ngelarang kamu balapan. Kamu tahu kan alasanya, selain bahaya itu juga ilegal. Tadi aku sempat dengar teman-teman kamu cerita tentang pengalamanya, mereka beberapa kali masuk penjara gara-gara terciduk polisi.” Reyno kalau sudah marah tidak jauh dengan ibu mertuanya. Kata-katanya pun hampir sama dengan kalimat yang sering di ucapkan oleh bundanya.
“Tapi aku hobby, Reyn. Aku suka balapan.” Jennie menggenggam tangan Reyno yang masih menempelkan handuk di pipinya. “Balapan adalah dunia impian aku.”
Kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada Reyno. Cewek manja juga butuh sandaran sekali-kali. Reyno meletakan handuk yang masih ia genggam ke dalam baskom. Lalu merangkulkan dua tanganya memeluk Jennie.
“Hobby kamu ngga baik, itu ilegal. Sebagai suami yang baik, wajib menegur seorang istri jika yang di lakukanya tidak benar. Aku hanya menjalankan kewajiban aku untuk hal itu. Aku ingin menuntun kamu supaya kembali ke jalan yang benar.”
“Tapi masalah kerjaan gimana? Apa kamu yakin mau nyari kerjaan. Aku sih malas kerja, lagian anak kecil seperti kita, memang di terima untuk bekerja?”
“Kita kan sudah memiliki KTP, kamu bawa ijasah smp aku kan?” Jennie mengangguk. “Aku bawa semuanya, kok. Surat nikah, akta kelahiran, ijasah, semuanya lengkap.”
“Kalau gitu mulai besok aku mau buat lamaran, terus taruh di tempat-tempat yang membutuhkan lowongan pekerjaan. Barang kali saja beruntung dan di terima kerja.”
“Tapi Reyn...”
“Jangan ada kata tapi, kasih aku semangat!”
Jennie terperanjat mendengar nada keseriusan yang Reyno ucapkan.
“Semangat ya suami aku,” ucapnya sambil tersenyum. “Eh, tapi kok ada yang beda sama kamu?”
Apa ya? Ada yang aneh, tapi aku bingung.
“Apanya yang beda? Hayooo!”
“Apa ya?” Jennie tampak berfikir keras. “Kayaknya aku ngga denger kamu nyebut nama kamu sendiri, deh. Biasanya kalau kita ngobrol begini, satu atau dua kali, pasti kamu nyebut nama sendiri.”
__ADS_1
“Reyno ngantuk, Jennie,” cibir gadis itu sambil menirukan suara Reyno.
“Abis temen kamu ngeledekin aku mulu,” balas Reyno jutek.
“Ngeledek gimana? Nanti kalau ketemu biar aku hajar. Berani-beraninya ngeledekin suami aku,” candanya sambil terkekeh.
“Dia bilanga laki-laki yang nyebut namanya sendiri itu menjijikan. Begitu...”
“Hahaha, terus kamu gak terima, dan berubah gara-gara di ejek sama dia.” Jennie ikut meledek jadinya.
“Tuh kan, kamu ketawa. Berarti selama ini aku mejijikan ya, di mata kamu?” Kesal sendiri.
“Gak gitu juga, Reyn.” Sebenarnya ia, tapi lama-lama Jennie sudah terbiasa dengan gaya Reyno yang seperti itu. Malah tambah imut di matanya.
“Gak gitu gimana?” Tetap saja tidak dapat menyembunyikan sikap juteknya walau sudah mencoba berubah.
“Kita harus bisa menerima pasangan kita apa adanya, aku ngga masalah kamu mau nyebut nama panggilan kamu sendiri.”
“Tapi aku mau berubah, jadi Reyno yang lebih baik lagi. Terutama menjadi suami idaman untuk Jennie.”
Krukkk .... Krukkkk...
Terdengar bunyi perut Jennie yang memecahkan suasana. “Kamu lapar?” Melepas pelukanya. Menatap Jennie dengan airmuka jengah.
“Hehehe, maaf. Mungkin ini jawaban untuk kamu yang katanya mau jadi suami idaman aku.” Tersenyum kikuk.
Jennie mengangguk dengan wajah Jennaka. Siapa lagi yang akan memasak kalau bukan Reyno.
“Tadi kan aku nawarin beli makan di luar, tapi kamu ngga mau, jadi kamu harus masakin aku.” Menyeringai bodoh.
“Mau di masakin apa?”
“Mi instan dua bungkus.”
“Makanan instan gak baik!” Reyno beranjak dan melangkanhan kaki ke arah dapur.
“Ayolah, kalo gak baik kenapa waktu itu kamu diam, pas aku beli stok mie banyak-banyak.” Memeluk Reyno dari belakang. Membuntutinya agar cowok itu mengizinkan Jennie makan mie instan.
“Karena aku ngga mampu kasih makan yang layak untuk kamu.” Reyno berbalik dan mengecup kening Jennie. Gadis itu jadi salah tinggkah dibuatnya. Juga tertegun dengan kalimat yang Reyno ucapkan.
“Mau mie goreng apa kuah?”
“Go ... go ... goreng,” jawabnya setengah terbata.
“Kalau begitu aku yang kuah.”
“Eh, kamu juga mau makan mie?” Jennie terperanjat saat Reyno berjalan menuju kompor tanpa ia sadari. Cowok itu mengambil air dengan panci, menaruhnya di atas kompor lalu menyalakan api gasnya.
“Kamu bilang mie ngga sehat, loh.” Protes Jennie seraya merangkulkan kedua tanganya lagi di pinggang Reyno. Hari ini ia hanya ingin dekat-dekat dengan Reyno, bahkan ketika sedang memasakpun Jennie terus menempel.
__ADS_1
“Gak ada makanan lagi, aku juga lapar nungguin kamu seharian.” Reyno menarik kedua tangan Jennie agar semakin erat memeluknya dari belakang.
“Maafin aku ya Reyn, sudah bikin kamu khawatir.”
“Hmmmm.” Berdeham malas seakan tidak mau membahas masalah tadi. “ Mau pakai telor?”
“Mau, aku mau telor dua sama mie goreng dua bungkus.”
“Telornya sisa satu.”
“Yaaah. Kalau gitu buat kamu aja, deh. Aku kan mie nya dua, jadi kenyang.”
“Bukannya kamu yang pengin pakai telor?”
“Nggak jadi, buat Reyno aja.”
“Buat Jennie lah, kan kamu yang pengin duluan.”
“Gak jadi pengin kalau cuma sisa satu.”
Mulai ada rasa sayang, rasa saling peduli, saling berkorban dan saling mengalah. Keduanya mulai menumbuhkan rasa itu tanpa mereka sadari.
“Gimana kalau kita bagi dua saja, adil kan?”
“Ya sudah, tapi aku minta mie kuah punya kamu yah, hehehe.” Jennie membenamkan kepalanya di punggung Reyno. Mengusak-usak seperti kucing peliharahaan yang sedang manja pada majikanya.
“Serakah!”
“Gak pa-pa! nanti Reyno juga makan punya Jennie. Biar kita saling berbagi rasa hehe.”
“Iya, terserah kamu aja, deh.”
“I love you Reyn,” bisik Jennie di telinga Reyno. Cowok itu sedikit kaget mendengar Jennie mengucapkan kalimat itu. Entah itu dari hati atau bukan, yang jelas Reyno tersenyum di tengah-tengah kegiatan masaknya.
“Love u too!” balasnya sambil memecahkan kulit telur. Tidak menoleh, karena takut wajah meronanya di lihat oleh Jennie.
“Telornya jangan sampai pecah!” sergah Jennie saat Reyno mulai memasukan telurnya ke dalam panci.
“Ngga pa-pa pecah, kan aku masih punya dua. Hahaha...,” kelakar Reyno sambil tergelak.
“Siapa yang ngajarin ngomong begitu, hah!” Menjewer daun telinga Reyno keras-keras.
Gemas.
“Ampun Tuan Putri! Ampuuuuuuun ..."
***
Vote likenya jangan lupa. Biar aku semakin rajin up.
__ADS_1