Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Brayen


__ADS_3

Melebihi dari ekspetasi Letta yang membuat usaha ibunya lebih maju. Sekarang mereka bahkan harus membuka cabang di beberapa tempat lagi karena memang sangat ramai peminat nya.


Menu utama juga cukup banyak tambahan, Letta senang dan kedua orang tuanya sudah senang, hutang sudah menipis dan ekonomi keluarga sudah mulai membaik. Apalagi Nadia dan Agung juga membuka usaha catring sekarang, menerima pesanan untuk nasi kotak dan beberapa makanan lain.


keluarga ini pandai masak masak. Letta sendiri pulang sekolah sering belajar dengan Nadia sesekali, dan Nato ahli tukang masak juga mulai membantu ibu dan ayahnya membuka usaha baru.


Letta menghela nafas pelan memandang Makan dirinya sendiri, membersihkannya dan menaruh bunga bunga dimakam miliknya sendiri. Letta Terkekeh sendiri.” Gue rasanya geli banget ziarah kemakam diri sendiri. Doanya apa yah? semoga tenang di sana? hahaha gue kan masih hidup.” gumam Letta pelan dan menggeleng. melirik makam lain, di sana ada makam Ziko temannya yang dulu juga meninggal.


“ Hey.” Letta mendongak,.


Mengerjab menatap Reta yang tersenyum tipis memandang letta.” kamu kenal sama adik saya?” tanyanya duduk di sebelah letta sembari membawa keranjang beriskkan bunga bunga, wajahnya terlihat sangat lembut dan juga sendu.


Letta mengangguk pelan.” iya tante.” Gumamnya. Harusnya kakak kan? Tapi karena porsi sudah berbeda Letta tak bisa memanggilnya kakak. Reta menghela nafas pelan menaburkan bunga di makam aletta sang adik.


"kakak datang lagi hehe. Maaf yah telat, tadi kakak ke rumah sakit dulu cek darah.” Gumam Areta lirih pada makam sang adik.


Letta memandang Areta sedih, memang saat pertama ke sini ia melihat makam dirinya paling rapi dan juga bersih, memiliki banyak bunga segar di atas nya. benar-benar terawat.


” Tante suka ke sini?” Tanya Letta pelan pada Areta.


Areta mengangguk pelan.” ini makam adik kesayangan saya. “ bisiknya bergetar melirik Letta.


Letta mendengarnya tertegun sejenak.” Kalo adek? Kenal sama adek Tante bagaimana?” tanyanya.


Letta menunduk memandang tanah sedikit sendu. Masih mencari alasan yang tak membingungkan.


“ kamu kokk ke sini sendiri? Nggak gajak Aku?” Letta dan Reta melirik Rizal yang datang membawakan payung mendekati sang istrinya.


Rizal mendekati Reta dan memayungi reta dengan tersenyum tipis.” Nanti kamu sakit, cuaca hari ini cukup panas.” Gumam Rizal penuh kasih sayang. Letta melihat hal itu penuh syukur.


Areta menghela nafas pelan.” tante sakit apa?” Tanya Letta pelan.


Reta melirik letta terkekeh.” Sakit tua.” Gumamnya lirih.,


Letta hanya bisa memandang reta sedih. Apakah dia begitu sulit saat ditinggalkan dirinya? " Padahal Tante masih muda kelihatannya." gumam Letta membuat Reta terkekeh pelan.


“ kamu siapa?” Tanya Rizal melirik Letta penuh pertanyaan heran,


Letta melirik rizal dan menggeleng.” bukan siapa siapa.” Segera berdiri dari posisinya dan tersenyum.” Hiduplah dengan bahagia. karena letta sudah bahagia sekarang, melihat keadaan begini dia akan bertambah sedih. “ jelas Letta segera menjauh.


Reta melirik Letta yang menjauh segera berdiri.” Tunggu,.” Tegasnya membuat langkah Letta berhenti.” Siapa kamu??? Mengapa kau terlihat begitu banyak mengetahui keluarga kami?” tanyanya Reta kembali.


Letta menghela nafas pelan.” Aku bukan siapa siapa, tapi yang jelas Letta membenci kesedian dari kalian. Dia menyayangi kalian melebihi dirinya sendiri, berhenti membuat hidup kalian menjadi sulit.” Jelas Letta segera pergi.


“ hey.” Teriak Reta tercengang kembali.

__ADS_1


Belum sempat bicara lebih jauh letta sudah pergi meninggalkan mereka. Rizal di sana melirik Letta dengan tatapan menganalisis. Ia merasa sesuatu hal janggal. Tapi itu tidak mungkin pernah terjadi, sebab Alletta sendiri ia yang membantu mengangkat mayat untuk di kremasi, memasukkan abu Milik Letta ke dalam tabung.


...----------------...


Letta menghela nafas pelan, di dalam mobil menangis. Melihat Reta dan Rizal yang sudah menjauh.” Maafin letta yah kak, Letta nggak bisa pulang ke rumah lagi, soalnya letta udah ketemu rumah yang nyaman.,” gumamnya sedih.


Biarkan dirinya egois, karena letta sangat tidak menginginkan lagi dunianya seburuk dunia pertama.


Letta menghela nafas pelan melirik kembali makamnya, menyipitkan mata melihat seseorang yang menggunakan tongkat berjalan dan menyekar makamnya. Letta tersenyum miring melihat hal itu. Carmon, bagaimana keluarganya sekarang? letta harap mereka tidak baik baik saja.


Letta melaju mobuilnya menjauh dari pemakaman, segera menuju kampusnya, tetapi mobilnya menyusutkan kecepatan Melihat sosok di tengah jalan sedang dihajar oleh segerombolan orang.


Letta menyipitkan mata melihat siapa yang di hajar oleh segerombolan orang.


Letta acuh mengangkat bahunya melihat hal itu segera melaju mobil menjauh, tapi lirikan matanya tak bisa beralih pada korban yang sudah terkapar tak berdaya di injak dan di tendang oleh keempat orang yang menggunakan pakaian serba hitam.


Cit. Letta menghentikan mobilnya melihat siapa korban. Brayen. Menyipitkan mata melihat Brayen yang sekarat dihajar ia hanya bisa mengetuk jari jarinya di atas stir mobilnya.


Rasanya senang dan puas melihat musuhnya hampir mati, tapi lebih kepada kasihan juga. Lebih tepatnya membayangkan bagaimana jika Bima kehilangan Brayen, Ayah Brayen baik anaknya saja kayak iblis.


Sampai matanya melihat seseorang mengeluarkan pisau dnya hendak menusuk Brayen. Letta segera menarik gasnya dan membunyikan klakson keras.


Keempatnya terhenti mendongak melihat mobil yang mendekati mereka. Melirik kedalam boksnya. Letta mengeluarkan pisau dapur milik ibunya, hey ini tajam yah. letta lupa dimana pisau miliknya, turun dari mobilnya dan mendekati keempatnya.


Mereka memandang Letta dengan pandangan kaget, sama dengan Brayen yang sudah terbatuk batuk, darah yang mengalir di sela bibirnya samar samar melihat Letta yang turun membantunya.


Letta menatap mereka remeh.,"’ sebenarnya nggak mau apa apa. “ gumam Letta melirik Brayen yang melirik dirinya lemah.,” tapi kalian mau bunuh dia, kalo dia dibunuh siapa lagi musuh gue?” Tanya Letta terkekeh. Brayen melebarkan mata melihat Letta kaget.


Mereka mendengar hal itu terbahak.” Tapi kalo ikut campur loe juga bakal kita bunuh mau?” Tanya mereka.


Letta mengangkat bahu acuh.” Bunuh aja. Tapi kalo bisa.” jeda letta tersenyum miring,.


Mereka saling lirik dan menatap Letta jengah,” loe aja duluan. Sama cewek nggak boleh keroyokan.” Jelas salah satu menyuruh temannya.


“ loe aja. Gue nggak mukul cewek.” Jelas yang di suruh.


Letta melihat perdebatan mereka mendengus. Menendang kepala yang sedang berdebat keras membuat nya shok mundur.


” Lama.” tegas Letta menyerang keempatnya sekaligus.


Mereka kaget saat letta mengarahkan pisau ke leher mereka,. Srak. Tersayat Leher salah tu menggunakan pisau milik letta,


brak.. mundur karena tendangan ke bahunya, letta segera menghindar dan brak, menendang yang sudah menendangnya awal. Menusuk perut mereka dan mengarahkan pisau ke wajah mereka.


Brayen melihat Letta yang menghajar mereka berempat kalut, sebab dirinya saja kalah dengan mereka, apalagi Letta sebagai seorang perempuan.

__ADS_1


Keempatnya habis ditangan Letta, luka mereka cukup parah dan mereka memilih mundur. Letta memandang pisaunya penuh noda dnegan kekehan.” Lumayan juga.” Gumamnya pelan, pisau itu tinggal saat memindah barang kemaren.,


Melirik Brayen yang tak bisa bangkit sebab sepertinya tubuhnya benar benar remuk. Letta segera mendekat dan menyenggol lengan Brayen menggunakan ujung sepatunya.


“ hoy... masih hidup nggak loe?” Tanya Letta dengan heran kepada Brayen. Brayen meringis kesakitan saat lengannya di senggol Letta.


Letta menaiki alisnya, merunduk memandangnya dengan aneh, menatap lengan Brayen. Lebam dan kebiruan. Ini terlihat patah, “ Loe masih bisa pergi sendiri nggak? Gue mau ngampus ini.” gumam letta pelan pada Brayen..


Brayen meliriknya dengan lirikan penuh kelesuan, serak, wajahnya bahkan penuh lebam dan luka berdarah Letta masih bertanya apakah ia masih bisa sendiri? apa Letta punya otak?


Letta berdecak kesal nyusahin loe.” Ketus letta memukul lengan Brayen yang patah. Brayen berteriak kesakitan membuat letta terbahak.” Rasain tu.” Gumamnya dan menarik tubuh brayen untuk dirinya gendong.


Brayen meringis kesakitan melirik letta dengan enteng menggendongnya alah pengantin baru.” Gu gue bisa jalan sendiri.” Gumam Brayen memerah malu.


Letta segera menurunkan Brayen tetapi Brayen malah terjatuh dan meringis. Kakinya lemas tak bertenaga. Letta melihat itu mendelik, mengejek Brayen.” Katanya bisa jalan sendiri.” Gumamnya kembali menggendong Brayen paksa.


Brayen malu hanya bisa meringis memejamkan mata, mencium aroma tubuh Letta yang beraroma vanilla. Untungnya ia masih menggunakan baju biasa bukan bajunya ke kampus. Segera menaruh Brayen di bagian belakang, Letta segera membawa Brayen menuju rumah sakit.


“ gue mau pulang aja.” Gumam Brayen kepada letta.


” nanti loe mati lagi nggak diobatin.” Gumam letta melirik brayen lewat kaca di atas.


Brayen meneguk Saliva kering.” Nggak. “ jelasnya serak.


Letta berdehem pelan.” rumah loe dimana?” Tanya Letta kembali.


“ Grasiyantara perumahan.” Jelas brayen.


Letta kembali mengangguk membawa mobil ke perumahan milik Brayen. Tetapi telepon masuk ke hpnya. segera Letta angkat dan berdehem, rupanya dari bastian.


” Halo.” Gumam letta.


“ letta loe nggak masuk? Udah mau masuk ini.” jelas Bastian bertanya.


Letta menantap jam yang lima menit lagi sudah masuk. Letta kembali bicara.” Gue kayaknya telat deh, soalnya ada urusan bentar. Atau bisa jadi juga nggak masuk.” Jelas Letta.


“ sih anak ini, baru beberapa hari kuliah udah bolos aja. Urusan apa sih? aduin nih sama bu nadia pak agung.” Jelas bastian mengancam.


Letta mendengarnya terkekeh. Melirik brayen yang menatapnya tajam meski kesakitan.” Nyetir aja jangan teleponan ngapa.. nanti kita kecelakaan.” Tegas Brayen dingin.


“ loh loh kok ada cowok let? Letta loe sama siapa dan dimana?” teriak Bastian mendengar suara brayen.


Letta menggeleng pelan.” ada lah. Gue duluan yah. bye.” Letta segera mematikan Hpnya membuat Brayen di ujung kulon mencak mencak tak terima karena perlakukan letta yang meninggalkan dirinya dalam penuh pertanyaan,


Memasuki perumahan yang Brayen ucapkan. Brayen mengarahkan rumah miliknya, tepat terhenti di depan rumah warna putih memang sangat besar di sana, Letta memasuki mobil ke dalam saat sudah dibuka gerbangnya, melirik Brayen setengah sadar Letta hanya diam tak bicara apapun.

__ADS_1


Berat Letta menyelamatkan Brayen, harusnya ia tinggalkan saja biar ia mati kan.


Enak saja mati mudah sekali.


__ADS_2