Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Keluarga yang di rindukan


__ADS_3

“ ini penghinaan untuk keluarga sama Bumi.. bunga..!” tegas Milan kepada pasutri di depannya dingin.


“ bodok.. mau penghinaan mau di permainkan mau apapun kami nggak peduli..!!! emang situ siapa mau dia hargain sampek gue diem aja di khianatin. Sorry yah sono pergi.” Usir Mars kepada kedua orang tua Kirana.


Keduanya memandang Mars tajam dan tak terima. “ Mars.” Gumam Bunga menatap anaknya mengingatkan. bukan apa-apa, Mars tidak sopan.


Mars melihat itu memandang ibu dan ayah kirana malas” sono pergi..! mau gue jajal pakek sapu?” tanyanya Mars tak mempedulikan ayah dan ibunya yang sudah malu.


“ mars..!” peringat Bumi tegas karena Mars kelewatan.


Tapi One dan Milan segera bangkit menggandeng Kirana yang juga pucat dan terlihat tertekan.” kami akan ingat hal ini di kedepan hari, pak ibu kami tidak ingin tunangan ini di putuskan secara sepihak karena anak kita sama-sama melakukan kesalahan. Kami undur diri.” Jelas One tegas segera pergi dari sana buru buru bersama keluarganya.


Mars ingin mengucapkan sumpah serapah, tapi tertahan oleh Bumi yang mencubit perutnya keras. Mars meringis memegang perutnya. Melirik Bumi yang memandangnya tajam.” kamu ini kayak anak nggak di ajarkan sopan santun, malu papa dibuat kamu!” tegasnya.


Bungga menggeleng melihat tingkah Mars.” Kalo begini gimana??? Pertunangan kamu menggunakan perjanjian pra nya, kamu harus paham dulu, ingat Mars kita akan menyelesaikan tanpa ada kerugian. Pusing deh mama lihat kamu kayak anak sd.” Jelas nya kesal kepada anaknya kembali mencubit perut anaknya.


Mars mendesis segera menjauh dari orang tuanya sampai sampai tersandung meja. “ au akh capek. Pokoknya Mars nggak mau sama Kirana titik..!!!” tegasnya menjauh dari sana. tidak mau di cubit lagi oleh kedua orang tuanya. Bunga dan Bumi hanya bisa memandang anaknya jengah.


Letta mengantarkan banyak baju yang ia jual ke rumah rumah pemesanan, sampai di rumah yang dirinya kenal, ia melirik keseluruhan, tak banyak yang berubah, hanya didepan rumah banyak tanaman hidroponik yang sangat asri dan subur.


Ini Rumah Putra.


Mengetuk pintu menggunakan ketukan berbentuk bulat terbuat dari besi di depan pintu, “ permisi..” seru Letta kepada pemilik rumah pelan, melirhat sekeliling.


Letta jadi ingat dulu dirinya bersama Putra ke sini saat dimana Bulan sedang hamil, berarti anaknya bulan yang ke dua itu usianya sekitar 10 tahunan yah??? apa dia yang pesan baju crob miliknya ini adalah adik Putra??


“ iya?” dari dalam perempuan muda keluar dengan pakaian yang masih tertutup oleh kropi untuk bersih kebun.


Letta memutar tubuhnya mlihat pemilik rumah. Letta kaget melihat Bulan, bisa bisanya dia semakin cantik, bahkan dulu dia yang terlihat gendut karena hamil sekarang kurus dan langsing, sangat cantik.

__ADS_1


“ iya ada apa?” Bulan kembali bertanya karena Letta yang diam saja.


Letta menunjukan tote bag yang ia pegang.” Ini tante, pesanan atas nama Bulananda Yohanes... “ jelas Letta. Letta sedikit mengutuk dirinya lupa atas nama Bulan dan Yohanes, ia lupa jika Bulan dan Yohanes adalah ayah dan ibu dari Putra.


Bulan membulatkan bibirnya kecil.” Oh yaampun itu yang Letta itu yah yang jual baju branded bekas?? masuk dulu mbak, saya lagi bersih bersih di kebun, saya ambil uangnya dulu juga yah.” ujarnya. Letta mengangguk melepaskan sepatunya dan segera memasuki ruang tamu Bulan.


Disana ia bertemu dengan anak perempuan yang sedang di ajarkan oleh seorang pria yang ia kenal.


“ Putra?” gumam Letta pelan.


Putra yang focus mengajar sang adik mendongak melihat Letta, bahkan sama dengan adiknya. Letta tersneyum tipis” halooo.. apa kabar pak Pol?” Tanya Letta.


Putra mengernyitkan dahinya, sama dengan Bulan.” Oh kalian saling kenal??” Tanya Bulan pelan pada Letta.


Letta mengangguk.” Iya, putra ini yang nolongin saya dulu yang hampir di begal tante.” Jelas Letta kepada Bulan jujur.


Bulan membuat hurup o pada bibirnya pertanda paham.” Kirain tadi, ayo masuk dulu kalo gitu.. hehehe kenalin nama tante bulan. Ibu dari Putra.” Jelas Bulan mengemnalklan diri. Letta tersenyum tipis mengangguk.


Letta duduk di dekat Putra dan adiknya, melirik adiknya yang kembali pokus pada perhitungan Letta tersneyum tipis mengusap kepala nya.


"Sudah besar yah.” ujar Letta pelan.


adik Letta menaiki satu alisnya memandang Letta aneh.” memang kita pernah kenal?” tanyanya ketus.


Letta terdiam melepaskan tangannya dari kepala adik Putra. Putra memandang letta ikut heran, letta terkekeh.” Hanya basa basi.” Jelasnya. lupa jika dirinya belum pernah bertemu dengan Adik Putra.


“ basi.” Gumam adik putra ketus., Letta kicep mendengarnya, Putra diam-diam mengamati setiap gerik dan tingkah yang Letta lakukan. Putra merasa ada yang ganjal, seperti Letta yang banyak mengetahui tentang ia dan keluarganya.


Letta menyandarkan tubuhnya ke belakang, memandang rumah Putra, masih sama nyamannya, kayu ulin tetap kokok berseri dan bersinar, ruangan dingin menggunakan ac, ia salah fous pada lukisan, ia menatapnya lamban, itu lukisan kenapa mirip dengan dirinya dulu?

__ADS_1


Letta diam memandangnya dan melirik Putra yang terus mengamati dirinya sejak tadi.” Itu siapa?”bertanya Letta pada Putra.


Putra memandang lukisan yang letta tunjuk. “ itu pacarnya bang Putra jadi jangan genit genit sama abang.” Jelas adik Putra ketus


Letta diam memandang Putra yang tak menjawab.” Namanya alleta?” Tanya letta pelan.


Putra melebarkan mata memandang letta.” siapa loe?” tanyanya dingin kepada Letta.


Letta meneguk saliva kering.” Gue letta,,, “ gumam Letta pelan.


Putra mengepalkan tangannya memandang Letta emosi. adik Putra duduk menahan abangnya.” Kak jangan bikin abang sedih deh...” jelas nya dingin.


Letta diam memandang Putra dan adik putra lamban.” Nama kamu siapa?” Tanya letta pada adik Putra agar mengalihkan pembicaraan.


Adik Putra mmandang Letta pahan.” Alletta.” Ujarnya pelan.


“ wahh nama kita sama?” Tanya Letta kagum.


“ nama aku ada A nama kakak kan ngak ada jadi nggak sama. nama aku mirip sama perempuan itu.” ujarnya menunjukan lukisan." kata mama biar mengenang dia yang udah penyelamat aku yang masih dalam kandungan..!" jelas Aletta kembali bangga.


Letta baru tau itu, ia kembali menatap lukisan, ada rasa sakit di hatinya melihat keluarga ini begitu memperhatikan dirinya, sampai lukisan dirinya pun ada, lukisan yang tersenyum sendiri menggunakan baju hitam. Pelan Letta tanpa sadar menangis melihat hal tersebut.,


“ kenapa?” Tanya Putra melihat Letta menangis, Letta buru buru mengusapnya air matanya, segera berdiri memandang Putra, dirinya sangat sedih dan merindukan keluarga Putra, keluarga pertama memberikan kehangatanm bahkan sampai matipun mereka mnemperlakukan Letta sebagai anggota keluarga,


“ emmm itu uangnya TF aja di rekening yah. ini bajunya gue tinggal, gue ada urusan. Duluan.” Ujarnya segera keluar dari sana.


Bulan baru saja keluar mengambil minum memandang Letta heran.” Loh loh. Kok cepet banget? Nggak mau minum dulu? Saya buatkan minum ini.” ujarnya berteriak sopan menyusul letta kedepan.


Putra dan Aletta diam saja melihat letta yang terlihat aneh.

__ADS_1


Letta mengeleng pelan memandangnya Bulan, boleh tidak mengucapkan terimakasih? Tapi rasanya terlalu aneh. Ia segera memakai sepatu asal dan berlari keluar dari rumah meningalkan bulan, Bulan memandnag letta aneh.


” Dia kenapa?” gumamnya Bulan memandang minum yang dibikin, melirik Putra dan Aletta yang diam memandang Letta penuh bertanya.


__ADS_2