
Jam 12 oprasi nemo selesai, Letta memang tidak berani dekat dekat dengan nemo, dirinya takut jika akan menyakiti Nemo, cukup, Letta merasa jika ada Nemo dirinya tidak bisa sabar padahal Nemo kan tidak salah apa apa, memang kelebihannya yang membuat dirinya begitu.
Letta sadar jika dirinya memiliki kesabaran yang tipis, mudah marah dan tempramental, lebih baik dirinya membiarkan Nadia dan Agung saja yang didekat Nemo. Letta takut menyakiti Nemo kembali dimasa depan.
Agung dan Nadia tetap di rumah sakit, sedangkan Nato pulang pergi untuk membereskan rumah dan juga masak , Letta pun juga ikut andil dalam menjaga Nemo, kadang karenanya tidak pergi kemana mana, dirinya jadi tukang ojek orang tua dan Nato yang pulang pergi dari rumah ke rumah sakit, itu terjadi sampai lima hari mendatang, hingga hari sabtu tiba.
Letta mendapatkan pesan dari Zeyn, pesan teman teman Letta terbengkalai, Letta sama sekali tidak lagi memperhatikan chat chat, entah karena dirinya merasa tidak penting atau memang karena ia keasikan bersama keluarga.
“ katanya bakal ada acara buat perpisahan dua hari lagi.” jelas Nato kepada Letta yang di sebelahnya sedang bermain game.
Letta melirik Nato yang bicara sembari membuka HPnya.” oh yah??? temanya apa?” Tanya Letta pelan.
“ biasa aja. Party kalo nggak salah.” Jelas Nato kembali.
Letta mengangguk plan.” Pas sih, besok kan nemo pulang jadi bisa ikut.” Jelas Letta kepadanya.
“ baju sama jasnya kalian sudah di siapkan belom??” Tanya Nadia kepada anak anaknya lirih.
Letta mengibas tangannya.” Baju Letta banyak.” Gumam Letta santai, melirik Nato yang diam saja, Nato memang tidak banyak baju bagus apalagi jas.
“ Nato nggak ikut biar bisa jaga Nemo.” Jelas Nato.
Nadia memandang Nato sedih, tidak bisa bicara apapun saat ini. Letta juga hanya diam saja. Tak banyak bicara.
Sore letta selalu pulang, jam 4 atau jam , ia di tugaskan untuk menjaga rumah dan nato juga kadang pulang kadang tidak, tapi kali ini tidak, nato memilih istirahat di ruangan nemo saja. Hanya letta sendiri yang pulang.
Memasuki kamar Letta menghempaskan tubuhnya di kamar, ia memandang langit langit kamarnya suram..
tringgh. Hpnya berbunyi pertanda ada yang menelpon, melirik siapa yang menelpon letta menaiki satu alisnya. Nomor asing. Letta mengangkat tenang.
” Haloo letta.” gumam sosok laki laki dari seberang.
Letta berdehem pelan.” siapa?” Tanya letta pelan.
__ADS_1
” gue renja,. Sosis... gue di suruh guru buat hubungin loe sama Nato, katanya kalian belum registrasi ulang yah buat SNPTN??” Tanya Renja pelan.
Letta mendengarnya menepuk keningnya pelan.” duh gue seminggu ini sibuk ngurus adek gue sakit. btw itu kapan terakhir?” Tanya letta serius kepada Renja.
Renja berdehem pelan memainkan tangannya di buah jeruk yang ia pegang. “ hari ini, kata bu Mega kalian berdua belum daftar mangkanya gue hubungin.” Jelas Renja.
“ astaga... duh gimana yah gue nggak ada berkas nato.” gumam Letta nanar. ia tidak tau dimana mana berkas-berkas Nato.
“ pergi ke sekolah aja sekarang biar gue bantu.” Jelas Renja tenang.
Letta memandang HPnya .” duh udah jam 4 Ren...” bisik Letta lelah.
“nggak apa apa, gue tunggu kok.” jelasnya serius.
” Yaudah gue otw sekarang yah.” jelas Letta segera bangkit. Renja berdehem mematikan HPnya, tersenyum tipis ia memasukan hp ke dalam saku,
Letta buru buru mengambil kunci mobil dan dompetnya, segera memasukan hp kedalam saku hodie yang dikenakan, mengambil jedai rambut dan mengikat rambutnya asal, 20menit ia sampai di sekolah.
Sampai rupanya masih ada banyak murid yang berkeliaran. Letta memasuki ruang OSIS tanpa memandang banyak orang yang melihat Letta berbagai pandangan. Di sana sudah ada Renja, Fajar dan Fahmi, bahkan ada Brayen rupanya. Letta lelah sekali jika harus berkelahi lagi dengan mereka.
Letta berdehem pelan kepada Renja mengabaikan teman teman Renja yang kaget melihat letta yang sampai menggunakan hodie yang oversize dan celana pendek, bahkan pahanya setengah terlihat karena menggunakan celana jins putih senada dengan jaketnya yang hitam.
“ sini.” Ujar Renja melirik kaki jenjang letta, Letta segera mendekati renja dan duduk didepan komputer.”loe belum lihat pengumuman?” tanyanya melirik Letta yang duduk di dekatnya.
Letta menggeleng pelan,” loe pucet banget? loe sakit?” gumam Renja berbisik.
“ udah seminggu tidur gue nggak teratur.” Bisik Letta pelan, Renja mendengarnya mengangguk paham.
“ loe nggak ada celana Letta? Mau gue beliin?” Tanya Brayen mengejek.
Letta melirik tanpa minat, hanya fokus pada komputer. Brayen mendengus memandang Letta yang mengapik dirinya.
Letta melihat namanya yang terdaftar dan juga Nato.” Ternyata kalian saudara gue baru tau.” Gumam Renja memandang nama Letta dan keluarga, dirinya tidak tau jika Letta dan Nato punya marga yang sama.
__ADS_1
Letta diam saja, “ loe keterima di kampus yang sama sama Nato. Loe ngambil jurusan kedokteran dan nato jurusan arsitektur. Kalian keterima di Universitas ternama.” Jelas Renja dengan senang.
Letta mendengarnya memandang Renja tersenyum lebar, memandang namanya, benar saja dirinya di terima di kampus itu, lalu memasuki situs yang milik Nato.
“ registrasinya surat berkas pernyataan ini loe ambil.” Jelas Renja memberikan berkas berkas di meja.
” Loe isi aja dulu, dan nanti loe serahin ke kampusnya langsung, “ jelas Renja kembali.
“ terus berkas yang harus gue isi apa?” Tanya letta pelan.
“ loe harus isi pernyataan ini.” jelasnya menunjukan komputer, berisikan beberapa berkas yang meminta kk dll.
Letta menggaruk tengkuknya tak gatal.” Udah semua, Cuma pendapatan orang tua dan lain lain itu juga harus di isi semua. “ jelasnya Renja kembali sedikit mundur.
Letta mengangguk pelan, tapi suara perutnya tak bisa bohong, letta benar benar lelah dan lapar. Renja memandang letta yang terlihat sangat lelah dipaksakan untuk mengisi semua ini kembali angkat suara.” Mau gue bantu?” tanyanya.
Letta mengangguk.” Tolong isi yang Nato aja, yang gue biar gue aja nggak apa apa. Sorry gue cape banget.” Gumam letta pelan.
“ kenapa lo?” Tanya Fahmi kepada letta, menarik bahu letta memandang wajah Letta yang luas.
letta melirik fahmi yang sudah baikan pun tersenyum.” Udah nggak gila lagi loe?” Tanya Letta berseru.” Gue nggak gila..” jawab fahmi kesal.
Letta terkekeh. “ loe kenapa??? Pucet banget?” Tanya Fahmi kembali mengusap pipi Letta yang terasa dingin.
Letta menepisnya pelan.” gue capek, semalem gue nggak tidur, ini baru pulang dari rumah sakit, bolak balik nganter bokap nyokap adek ke rumah sakit. “ bisik letta jujur.
Renja dan fahmi mendengarnya memandang letta kasihan.” memangnya siapa yang sakit?” Tanya Renja kembali.
“ adek gue, yang diberita itu. gara gara Belle dia kambuh.” Gumam Letta dengan sendu.
“ Adik loe yang idiot?” sahut Brayen di sana. Letta melirik Brayen dengan malas.” Gue lagi capek, jan sampek gigi loe gue rontokin..” seru Letta dingin.
Brayen terdiam memandang letta." kan emang ideot.." gumam Brayen sok polos.
__ADS_1
” iya adek gue idiot.” Gumam Letta dengan kesal.
“ sakit apa adek loe lett?” Tanya Fahmi pelan. mencoba mengalihkan atensi mereka.