Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
kebenaran


__ADS_3

Letta menghempaskan tangan Ningsih dari lengannya.” Loe an--..”


hap. Letta diam merasakan tangan Ningsih yang menyuapi mulutnya dengan ikan goreng.”makan nggak.'’ Tegas Ningsih dingin.


Letta di sana menepis tangan Ningsih dan membuang nasi yang ada di mulutnya didepan wajah Ningsih kadar.


Ningsih kaget mendapatkan hamburan nasi dari Letta diwajahnya. Tangan Letta Mencekik leher Ningsih dengan kuat.


Ningsih memegang lehernya kaget mendapat serangan Letta yang begitu kasar. “argh.. le lepas.” Gumam Ningsih gugup dan kesakitan tak bisa bernapas akibat ulah Letta.


Menghempaskan leher Ningsih, Letta memandang Ningsih dingin, Ningsih meringis sebab tubuhnya tersenggol meja makan, memandang Letta takut dan tak suka.,” lain kali simpen omongan nggak berfaedah loe itu.” bisik Letta segera menjauh dari sana.


“ tapi kamu keterlaluan.” Air mata Ningsih terjatuh memandang letta yang menjauh.”nggak gitu caranya, nyepelehin orang tua ku, makanannya nggak dimakan terus sekarang kamu cekek aku. Sombong, suka menyepelekan orang dan kasar. Pantas saja kamu hidupnya sulit.” Jelas Ningsih merengek sembari menangis mendapatkan perlakuan kasar,.


Letta tak menjawab, hanya diam saja.” Hey manusia batu, kau mendengarkan tidak?” teriak Ningsih mendekati Letta,


“ harusnya kau dengar aku.” Jelas Ningsih tak jauh dari letta. melirik Letta yang berjalan santai membuat ia geram,


” kau tul eh.” Bugh..


Suara tabrakan Ningsih mengenai punggung Letta. Ningsih meringis menjauh takut dari Letta yang terlihat menyeramkan. “ bisa berhenti bicara??? “ Tanya Letta pelan.


Ningsih menggeleng pelan.” sebelum kau bilang minta maaf kepada ibu dan ayahku aku akan terus menganggu mu.” Jelasnya tegas.


“ Ningsih, apa yang kau lakukan..” teriak pak Dar kepada Ningsih yang sedang bicara kasar pada Letta, menarik tangan sang anak yang tak sopan dan melirik Letta tak enak.” Duh maaf yah nona, anak saya bukan anak pendidikan, maklum jadi tolong maafkan yah, dia nggak paham apa yang dia bicarakan dan tingkah yang kurang sopan.” jelas pak Dar tak enak hati pada Letta.


Ningsih mendengar ucapan sang ayah memerah marah.” Tapi yang Ning bilang bener kok, dia keterlaluan. Dia harus nya hormat sama bapak ibuk.” Jelas Ningsih memberontak. Pak Dar melototi sang anak dingin, membuat Ningsih di sana menunduk takut.


Letta menghela nafas pelan dari sana.” tunjukan kamar saya saja pak., saya mau istirahat.” Jelas letta.


Ningsih mendengar suara letta yang melunak mengerjab tenang memandang letta. “ baik nona, mari silahkan.” Jelas pak Dar mendorong anaknya agar berjalan.


Ningsih meremas tangannya mengikuti sang ayah untuk mengantar letta ke kamar. Letta mendapat kamar paling atas, di sana kamarnya luas.” silahkan nona.” Jelas pak Dar.


Letta melirik keseluruhan kamar cukup besar dan juga sedikit kuno sebenarnya. “harti hati, di sini banyak hantu, apalagi jika anaknya kayak kamu pasti akan diganggu.,” jelas Ningsih di sana dengan malas.


“ Ningsih.” Jelas Dar dengan kesal.

__ADS_1


Letta melihat interaksi keduanya membuat ia ingat pada sang ayah. ayahnya, apa kabar? apa dia marah? Apa dia mengutuk dirinya?” nona ada butuh sesuatu?” Tanya pak Dar pelan.


Letta menggeleng pelan mengenyah pikirannya.” Tolong bawakan saya coklat hangat satu yah.” jelasnya tegas.


Pak dar mengangguk.” baik nona. Permisi.” Jelasnya menarik Ningsih. Dan menarik anaknya pergi sari sana. ningsih menurut memandang ayahnya memelas.


Pak Dar tak habis pikir dengan tingkah berani anaknya. Ningsih memang tidak memiliki pendidikan yang bagus, ia hanya tamat SD karena memang saat kecil dia yang nakal dan suka di jauhkan oleh orang lain ia tak ingin sekolah kembali. kadang juga Ningsih suka mencari masalah dengan anak anak kampung sampai pak Dar dan istri kwalahan akan tingkahnya.


Letta menghela nafas pelan menidurkan dirinya di kasur, kasur ini sangat empuk, Letta melirik sebelah brangkar, tak ada apapun. apa yang harus dirinya lakukan di sini? Letta memegang dadanya yang terasa nyeri, sialnya ia lupa jika sekarang mengidap penyakit sialan.


Sampai suara pak Dar datang membawakan coklat panas." Nona butuh sesuatu??" tanya pak Dar. Letta menggeleng tenang dan pak Dar segera pergi dari sana. Letta seperti menjaga jarak pada mereka. Pak Dar paham akan itu.


Letta memili menikmati coklat panasnya di dekat jendela, menatap kedepan rumah, gelap, seluruhnya gelap, tetapi disini indah sekali, ada banyak bintang bertebaran di langit malam. “ mama papa lihat letta disini nggak?” gumam letta terkekeh sedih.


” Letta pengen bareng mama papa, tapi Letta nggak boleh menyerah sama Tuhan. “ gumam letta sendu. Segera menghela nafas Letta memejamkan mata sedih.


...----------------...


Di sisi lain Tama yang berada di rumah sakit membuka matanya merasakan seseorang memasuki kamarnya, ia menoleh menatap siapa pelakunya, ternyata polisi. Tama menaiki alis memandang mereka.” Maaf dengan saudara Tama?” Tanya polisi tegas.


Tama mendengarnya hal itu terkekeh pelan.” kalian tidak tau saya?” Tanya tama sinis.


“ saya anak dari tuan Bima Sanjaya.” Jelas tama dingin dan tegas kepada mereka.” Saya akan membayar kalian berapapun tetapi tutup kasus ini.” dagunya di angkat tinggi menunjukan sangat arogan.


“ kau yakin bisa membelinya anak muda?” Tanya Zeyn tersenyum miring yang tiba-tiba datang mendekati mereka,


Tama menatap kaget, Zeyn bersama ayahnya di sebelahnya.” Papa?” Tanya Tama pelan.


Bima mendekati Tama dan mencekik lehernya kuat. Tama mengerang memegang lehernya kesakitan.” Anak biadab.. tak pernah ku ajarkan kau menjadi manusia sampah begini.” Teriak Bima kuat dihadapannya.


Zeyn disana diam memeluk tangannya sendiri menatap mereka. Tama mengerang menghempaskan tangan Bima, tetapi sayang Bima kelewat batas marah sampai tama kehabisan nafas pun tak ia lepaskan.” Tuan.. anak tuan bisa mati.” Tegas dari perawat di sana,


Bima menghempaskan leher tama dan menamparnya kuat. tama meringis memegang pipinya terasa perih, sesak nafasnya terlepas tetapi sesak di hatinya yang menyempit.” Papa menamparku?” tanyanya sesak dan tak terima melirik ayahnya.


''bahkan rasanya ingin ku bunuh kau.” Teriak Bima dingin pada sang anak.


“ Karena wanita itu? kau lebih memilih dia? Sedangkan menelantarkan aku sebagai anak papa?” Tanya Tama kembali lirih tak percaya kepada sang ayah.

__ADS_1


“ bukan karena dia atau karena saya pilih kasih, tetapi karena diri kamu sendiri. Karena kamu sendiri tama.” Tegas Bima dingin di hadapan anaknya,


Tama mengepalkan tangan dihadapan sang ayah.” aku tidak mungkin begini jika bukan karena papa.” Tegas tama.


Brak... Bima melempar Hpnya didepan tama, Tama kaget memegang dadanya terasa nyeri.” Kau lihat.” Tegas Bima dengan nanar.


Tama diam menatap apa yang bima ucapkan, di sana beberapa chat dari ibu kandungnya dulu meminta cerai. Tama diam menatap itu linglung.” Papa mau melindungi wanita itu dariku?” Tanya Tama remeh kepada sang ayah.


“ papa kira aku bodoh?” Tanya nya kembali kepada sang ayah nanar.


Bima di sana mengepalkan tangannya nanar mendengar tuduhan anaknya.” ikuti aku. Dimana adikmu?” Tanya Bima dingin.


Menarik tangan tama dan menyeretnya keluar.” Papa? Papa mau kemana argh.” Tama kesakitan sebab bima menyeret tangannya terlalu kuat, tangannya patah karena Letta, dan kakinya pun terkilir karena Letta.


Bima sama sekali tidak peduli, terus menyeret tama hingga ke depan UGD. Melirik Zeyn yang di sana Tersenyum miring Bima mendengus segera membawa anaknya memasuki mobil. “ kau yakin mengundang dia untuk menghukum anaknya? mengapa tidak kita saja?” Tanya Xior kesal melirik zeyn.


Zeyn di sana diam memandang Xior sejenak.” Kau tau???? Dipukul dengan orang yang bukan siapa siapa dan dipukul dengan orang terdekat itu beda rasa, dipukul orang biasa hanya sakit di fisik tapi jika dipukul dengan orang terdekat sakitnya dua kali lipat, sakit hati, pikiran dan fisik. Aku rasa dia memang butuh amarah ayahnya. Setelahnya jeblos ke penjara.” Jelas Zeyn dingin.


Xior mencibir sang tuan.” Tidak biasanya. Biasanya juga kau bunuh.” Gumamnya mendengus. Zeyn hanya menghela nafas, kemaren ia pulang dari Vila, menelpon Bima agar pulang karena ulah sang anak, teryata benar dia pulang dengan cepat, sampai sekarang ia menyeret anaknya entah kemana.


Tama diam memandang Bima yang mengendarai mobil dengan kecepatan ugal ugalan, ia terlihat marah, sangat murkah terhadap dirinya. Tama tidak paham apa yang Letta berikan sampai sang ayah bisa begitu sayang kepada dia.. tapi tunggu.


Ayahnya membawanya sampai kemana ini batinnya. Bima menghabiskan waktu hampir enam jam di sini, mereka sudah keluar kota, dan tara... diam memandang kedepan, ia berdehem pelan. “KITA MAU KEMANA?” Tanya Tama kepada ayahnya kembali.” Aku lapar, bisa kita makan terlebih dahulu?” tanyanya kembali kepada sang ayah.


Ayahnya diam tidak bicara kembali, sampai di sebuah villa, ia diam menatap nya tenang.” Papa membawa ku untuk berlibur?” Tanya Tama terkekeh.


Bima tak menjawab, menatap kedepan dingin dan geram.” Kau lihat.” Jelasnya menunjukan seseorang yang sedang menyapu halaman rumah menggunakan sapu lidi.


Tama mengerjab pelan menatap siapa yang ayahnya tunjukan. Bima membuka pintu mobilnya dan pintu sang anak. Tama tak paham apapun, diam mengikuti arahan ayahnya, sesekali meringis kesakitan karena ayahnya terlalu kasar menyeretnya.


Bima mendekati wanita itu dengan dingin dan tenang, sampai di dekat sana Bugh... Agh Tama meringis kesakitan merasakan kakinya terasa sakit dan semakin terluka. Ia menatap ayahnya nanar dan tidka terima. Sedangkan sosok wanita yang melihat kehadiran Bima dengan anak laki laki kaget., sontak melebarkan mata memandang Bima dan Tama.


“ itu ibumu. Kembalilah dengan ibumu yang sama sekali tidak mengharapkan mu.” Jelas Bima pada tama dingin, sangat dingin.


Tama mendengar itu mengerjab pelan, mendongak menatap siapa yang ayahnya maksud. Tama shok, segera melebarkan matanya, sama hal dengan sosok memegang sapu tadi terjatuh sapunya menatap Tama


“ Mama?” Gumam Tama kaget . Tama melirik bara lagi nanar.” dia mama? Bukannya mama sudah meninggal?” Tanya Tama bergetar.

__ADS_1


__ADS_2