
“ Nemo sudah tidur?” Tanya Agung kepada Nadia cemas.
Nadia menggeleng pelan kepada sang suami, melirik kearah Nemo yang terus mericau dalam tidurnya.” Nemo panasnya belum turun.” Jelasnya sedih kepada sang suami.
Agung mendengar istrinya segera masuk dan menyentuh kening sang anak, panas, sangat panas membuat dirinya semakin khawatir, menyentuh hidung sang anak yang nafasnya juga kelewat panas.
“ Buk kita kerumah sakit saja yuk. Takutnya Nemo kambuh.” Ujar sang suami khawatir.
Nadia mendengarnya menatap sang suami sendu.” Uang kemaren sudah buat bayar koprasi dan bank pak, kita nggak ada uang lagi.” jelas Nadia lirih.
Agung mendengarnya melemas memandang sang anaknya, anaknya sudah terlihat tak bisa bernafas dan kejang kejang. Agung dan Nadia buru buru mendekati anak dan menduduki dirinya di kasur” Nad panggil Letta buat pinjam mobil, kita ke rumah sakit sekarang..!!!” tegas Agung cemas.
" tapi!!!" lirik Nadia nanar. dulu pernah ia meminta Letta untuk mengantar Nemo yang sekarat tapi Letta malah memaki mereka dan menendang mereka jauh. Letta tidak mau.
" cepat!!!"
Nadia mengangguk, tak memikirkan apapun segera menaiki tangga menuju kamar letta, tapi karena suara mereka yang ribut, Nato yang belum tidur keluar kamar memandang Nadia menaiki tangga bertanya.” Kenapa buk?” tanya nya dengan cemas.
Nadia mengusap air matanya dan menggeleng menaiki tangga menuju kamar Letta. Nato otomatis mengikuti Nadia karena khawatir.
Dor.,dor.. “ Letta..!!!” teriak dari luar pintu di tengah malam.
Letta membuka matanya kaget memandang pintu yang di gedor oleh nadia.” Letta..!! Nemo sakit tolong nak... Tolong hantarkan Nemo ke rumah sakit.” teriak Nadia kepada letta kembali semakin membuat Letta kaget. Buru buru dirinya turun dari kasur dan membuka pintu sedikit oleng.
Diluar terlihat wajah pias Nadia yang di depan pintu dan wajah penuh air muka yang pucat. Membuka pintu cepat Letta memandang ibunya dengan tatapan bertanya.” Ada apa buk?” Tanya Letta cemas memegang kepalanya yang sakit.
Nadia menarik tangan Letta memelas.” Nak Nemo sakit, bawakan dia kerumah sakit, ibuk mohon tolong adik kamu.” Bisik Nadia lirih.
Akibat kejadian tadi pagi, Nemo sakit, dia harus dilarikan ke rumah sakit saat tengah malam, Letta yang shok karena orang tuanya yang datang tiba tiba menemui nya Karena meminta tolong mengantarkan Nemo yang sakit. membuat dirinya buru buru keluar kamarnya.
Letta shok mendengar ucapan Nadia, Nadia bahkan berlutut di kaki Letta, letta menahannya.” Yaudah bawa Nemo ke depan ke mobil,. Letta ambil dompet sama kunci mobil dulu.” Ujar Letta pelan.
Nadia mengangguk buru buru turun meninggalkan letta yang memegang kepalanya terasa sakit. dirinya di tubuh ini mengalami darah rendah, tidak bisa dikagetkan begini.
__ADS_1
Bahkan sampai hampir jatuh karena dunia nya yang seperti berputar.
"’ letta..” Nato melihat letta hampir jatuh buru buru memegang lengan Letta, Letta meringis pelan menatap nato., “ tolong tolong ambilkan dompet sama kunci gue..” ujar Letta pelan mengusap kepalanya pelan.
Nato menggeleng.” Gue nggak tau dimana.” Ujarnya.
Letta menunjukan meja nya dan di sana ada kunci dan tas. Segera Nato mengambilnya meninggalkan Letta yang memegang dinding.
Letta menguspa kepalanya yang belum mereda, “ loe nggak apa apa?” Tanya Nato kepada letta penuh pertanyaan lirih. Letta menggeleng pelan mendengarnya,
Memandang Nato yang di depannya lamban.” Pegangin tangan gue. kita turun,” ujar letta. buru buru turun.
Menuju kamar Nemo masih dalam keadaan kepala yang terasa sakit, tapi Nemo rupanya sudah di gendong ke bagasi. Letta segera menaiki mobilnya. Nato hanya diam di sebelah Letta, dirinya tidak tau harus apa sebab ia tidak bisa menyetir mobil, bermotor saja ia tidak bisa.
Jika bisa pasti dirinya saja!! Melirik Letta cemas,
Melihat keadaan Nemo yang sangat pucat, muka yang seperti tak di alirkan darah sangat membuat Letta pias, Letta segera mengantarkan Nemo ke rumah sakit bersama Nadia, Agung dan juga Nato. Sakit kepala ia tahan sebisa mungkin.
Nemo tidak bisa bernafas dan dadanya terasa sesak, sesekali kejang semakin membuat Nadia menangis sedih.
Nemo dilarikan ke unit gawat darurat, Letta masih dalam mobil turun dengan penuh terlatih, Agung dan Nadia sudah lebih dulu turun.
Nato memegang lengan Letta kaku dan membantunya berjalan, Letta memandang Nato yang begitu baik, bahkan Nato setengah menggendongnya karena jalannya lamban.
Letta di duduki di kursi untuk ruang tunggu, Nemo sudah lebih dulu di tangani oleh dokter.
Letta diam di tempat, menunggu Nemo, Nato pergi dari sana, hanya beberapa menit dan kembali membawa air mineral untuk Letta dan keluarga.
“ loe udah nggak kenapa napa?” Tanya Nato kepada Letta pelan.
Letta menggeleng,. hanya pusing sedikit bukan masalah besar. Meneguk minuman lamban, Letta memandang Nato tersenyum tipis.
” Thanks.” Gumamnya. Nato berdehem tak menjawab.
__ADS_1
Jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari, Nadia bahkan dipeluk oleh agung.” Keluarga mohon untuk mengisi data administrasi nya.” Petugas mengarahkan kepada mereka yang masih sakit, segera Agung berdiri dan mengangguk menuju ruang administrasi.
Nadia melirik Letta dan Nato yang duduk di sebelahnya, “sabar yah buk.” Gumam Nato memeluk bahu sang ibu, Nadia mengangguk lirih di pelukan Nato.
Menghela nafas Letta melihatnya, ini kesalahannya yang tidak becus menjaga sang adik. ini semua salah dirinya!!
“ tidak ada kartu kesehatan gratis artinya bapak mengambil tindakan mandiri pak?” Tanya petugas pada Agung.
Agung mengangguk pelan di tempatnya.” Baik, kami akan memproses nya pak, bapak silahkan tunggu.” Jelasnya kembali. Agung mengangguk keluar dari ruang administrasi masam.
Letta melihat Agung kembali yang masam tak banyak Tanya, “gimana pak?” tabya Nadia padda agung.
Agung menggeleng.” kita mandiri.” Gumamnya pelan,
Nadia memejamkan nafas pasrah, tidak bisa berbuat banyak, pasti akan sangat banyak memakan uang.
“ keluarga pasien Nemo Yonarsa..” Agung dan nadia buru buru bangkit dan mendekati dokter dan suster.” silahkan ibuk masuk, “ jelasnya.
Nato dan Letta duduk segera hendka masuk tapi tertahan.” Maaf adek adek, nggak bisa masuk, hanya orang tuanya saja yah.” jelasnya dan segera menutup pintu.
“ eh mbak adek gue gimana kabarnya?” Tanya Letta memekik kepada petugas yang menutup pintu melarang mereka masuk.
Petugas sama sekali tidak menggubris membuat Letta dan Nato kesal, kembali duduk di kursi tunggu sampai ayah dan ibunya keluar. Letta tidak tau harus bagaimana, ebab ini sangat lama, ia hanya bisa memejamkan mata dan menidurkan kepalanya di penyangga kursi, sakit kepala.
Agung dan Nadia menatap dokter yang sudah memasang alat di pernafasan Nemo.” Bagaimana dok keadaan anak saya?” Tanya Agung serak.
Dokter menatap sang suami istri menggeleng.” anak bapak ibu sudah sangat parah, apalagi dia memiliki penyakit epilepsi, mohon buk segera tindakan lebih lanjut, anak ibu butuh pemasangan Ring cincin jantung Nemo, sebab penyumbatan jantung dia sudah semakin parah.” Jelas dokter ikut prihatin.
Agung mendengarnya menatap dokter dengan perasaan sakit, pemasangan ring ciincing berkisar antara 80 sampai ratusan juta, dimana dirinya mengambil uang sebanyak itu.” dok kami bisa cicil tidak??? Saya baru ada uang 10juta tabungannya, kami akan setor setiap bulannya dua juta.” Ujar Agung memelas,,
Dokter tersenyum tak enak.” Maaf pak, tidak bisa.” jelas dokter berat hati.
Agung terdiam memelas, menyangga tubuhnya di penyangga brangkar.. memandang Nadia yang diam di sebelah Nemo memelas, dimana mereka mengambil uang sebanyak itu??
__ADS_1
......
kalo banyak yang komen ntar gue up kembali... awokawok..