
Bugh. Tubuh Kirana tersentak saat Fajar melepaskan kasar lengannya usai di seret keluar gedung.
Kirana memandang Fajar tak menyangka, selama ini Fajar selalu bersikap lembut sekarang begitu buruk memperlakukan dirinya.” Kamu beneran udah tunangan sama Mars dan aku selingkuhan kamu selama ini? iya?” Tanya Fajar mengerang marah pada Kirana.
Kirana gelagapan, menyusun kata kata agar tak salah, memegang lengan Fajar.” Bukan... Letta bohong, dia Cuma mau kita rusak aja, dia kan suka sama kamu mangkanya dia fitnah aku.” Jelasnya dengan berbohong kepada Fajar.
Fajar menghempaskan tangan Kirana yang mencoba memegang tangannya.” Cukup..!!” tekannya kepada Kirana yang mencoba menggapainya.
Fajar menggeleng.” kalo sampai yang dikatakan Letta benar..” Ancam Fajar menunjuk wajah Kirana menggunakan telunjuknya.” Kita putus.. sorry gue nggak mau jadi selingkuhan, atau bahkan pelakor.” Tekannya dan segera pergi.
Kirana yang ditinggal mencoba menggapai Fajar dan menahannya.” Fajar dengerin aku. Dia bohong. Fajar jangan gini.” Ia terjatuh jatuh mengejar Fajar tapi Fajar sama sekali tidak menghentikan jalannya. Kirana berhenti usai kakinya terkeseleo menggunakan hils ini, memandang Fajar menjauh kesal. Sialan sekali malam ini.
Acara sangat semarak dan Letta di suruh duduk oleh Zeyn di kursi yang di sediakan, Letta memandang sekeliling, menajamkan mata, kaget saat dimana ia melihat ada Bara yang juga melihat dirinya. Pelan tapi pasti Bara mendekati Letta sembari memegang gelas yang berisikan wine. Letta memandang hal itu tidak suka. masih kecil sudah minum alcohol..!!
“ wah wah.... tunangannya tuan Zeyn?” Tanya Bara menyeringai, Letta mengerjab pelan sata Bara menduduki dirinya di kursi depan Letta. menaruh gelas di depan meja bundar ditengah dan menggeleng.” pertama kemaren anak SMA? Dan ada OM om, sekarang juga Zeyn??? luar biasa. Kamu pakai dukun mana??” tanyanya terkekeh.
Bima sejak tadi melihat Letta yang bersama Zeyn, diperkenalkan sebagai tunangan dan calon istri, saat sejak masuk hingga letta menatapnya membuat ia semakin berani mendekati Letta yang seorang diri di meja tamu.
Letta memandang Bara dengan menguap.” Mau daftar jadi calon keempat nggak?” tanyanya malas.
Bara menatap letta tak suka.” nggak sudi, cewek murahan seperti kamu empat saya dapat.” Tegas Bara kembali menyesap minuman miliknya kalem.
Letta mengernyitkan dahinya dan menarik minuman yang Bara minum. Bara menatap letta tak suka saat letta menaruh kembali ke atas meja meski tertahan oleh Bara.” Masih bocil, siapa yang ngajarin buat minum alcohol ha? Belum dua puluh tahun juga... masih tujuh belas kamu..!!” tegas letta kepada Bara.
Bara mendapat kan larangan Letta menatap letta remeh.” Siapa kamu sampek saya harus mendengar ucapan kamu? Orang tua saya saja tidak melarang.” Ujarnya malas dna kembali hendak meminum wine miliknya.
“gue emak loe..”!!!!
ingin rasanya Letta bilang begitu didepan Bara. Tapi ia tahan dan diam memandang Bara dari samping. Anak yang dulu ia pungut dan ia besarkan sekarang sudah besar dan juga tampan. Letta senang melihatnya, Bara hidup dengan aman dan nyaman, memiliki keluarga yang lengkap.
Bara mendapatkan pandangan sayang dan rindu sari Letta menjadi geli dan tak senang, memandang letta tajam.” ngapain loe ngelihat gue gitu? Sorry loe bukan type gue.” ujarnya ketus pada Letta.
Letta yang di ketus oleh Bara memejamkan mata. Ini salah satu kelebihan bara sekarang. Bara sangat ketus dan menyebalkan.
“ Mama loe lihat loe begini, kena pukul kepala loe.” Jelas Letta kesal pada Bara.
__ADS_1
Bara melebarkan mata.” Mama yang mana?” tanyanya pelan.
Letta menyipitkan matanya memandang Bara, ada seringai di ujung bibir saat memiliki ide mengerjai Bara.” Mama loe yang mungut loe di jalanan, dia ada disini. Gue lihat soalnya gue indigo.” Ujarnya kepada Bara.
Bara melebarkan mata mendengarnya, mendekati Letta dan memandangi sekitarnya.” Loe nggak usah ngacok, nggak usah ngomong sembarang hal deh.” Ujarnya buru buru sebab tak mau perkaya kepada letta yang terkesan membohongi dirinya,
“ kalo nggak percaya yah udah. Tu mama loe.” Ujar Letta menunjuk sisi kanan Bara geli.” Katanya dia nggak bolehin loe minum Wine, harusnya jadi anak yang baik dan rajin. Apa lagi tante?” letta memandang sebela Kanan Bara seakan akan ada orang lain di sana. Bara diam memandang letta pias. Letta melihat wajah Bara yang puas menahan tawanya.
” Katanya juga, jangan suka ngurusin hidup orang lain, ada lagi, dia bilang tolong sampaikan sama kakak nya, jangan menyiksa diri, dia ada di sekitar kalian.” Ujar Letta dengan drama menakut-nakuti Bara.
Bara shok dan terdiam mencerna ucapan letta sampai bahu letta di sentuh oleh Zeyn dan menepuknya, menatap Bara tak suka.” dia siapa?” tanyanya pelan.
“ oh dia itu siapa nggak kenal.” Ujar letta mengibaskan tangannya.
“ yaudah yuk kesana kita harus sapa temen kantor lain.” Ujarnya kepada letta.
Letta mengangguk mengambil tas miliknya yang berada di atas meja, memandang Bara yang diam ditempatnya menyeringai.” Gue bisa lihat arwah, karena itu mama loe ada di sekeliling loe hihi....” ujarnya segera buru buru mengikuti Zeyn meninggalkan Bara.
Bara memandang sekelilingnya, terfokus pada sisi kanan yang diucap oleh Letta, ia mengepalkan tangan, pelan pelan air matanya jatuh dan memeluk angin, berharap jika itu nyata dan benar.” Moms gimana kabarnya?” tanyanya lirih. Bara sangat merindukan ibu angkatnya.
Bara menangis lamban dan memejamkan mata, bahunya ditepuk oleh Zaxi dan Reta yang melihatnya dengan heran, Bara mengusap air matanya dan memandang kedua orang tua angkat. “ kamu kenapa?” Tanya Zaxi pelan.
Mata Letta melebar melihat sosok yang ia kenal di depannya, " Zeyn gue mau ketoilet!!" Seru Letta kepada Zeyn. tapi Zeyn tak mengindahkan sampai di depan bapak-bapak.
“ wah tunangan mu sangat cantik tuan Zeyn,”
letta menelan Saliva kering memandang kedepan. Bima yang salah satu berbicara tajam dan dingin kepalanya. Letta benar benar tidak tau jika ada Bima disni, sejak tadi ia tidak melihat ada Bima disini. Tolong Letta ingin menghilang saja sekarang.!!!!
Zeyn mengangguk mengusap tangan Letta.” terimakasih tuan Bima. Calon istri saya memang sangat cantik.” Ujarnya dengan tersenyum bangga kepada rekan kerjanya yang lain.
letta tercekat rasanya. Bima memandang Zeyn dan juga Letta dingin, rautnya sulit di artikan, mencoba tersenyum dan mengangguk pelan.
” sayang sekali, padahal saya ingin mengenalkan tuan dengan putri saya yang tak kalah cantik dari tunangan tuan.” Ujar rombongan lain.
Zeyn melirik Letta, ini alasan mengapa dirinya segera mengajak Letta kesini dan menyebarkan pertunangan dirinya dan Letta. Letta hanya bisa diam dan menjadi pajangannya untuk menghalau orang orang yang terus mengajukan calon atau perjodohan padanya. Kadang Zeyn juga bingung bagaimana menolaknya. Jika beginikan ia tak usah ragu lagi serta memiliki alasan yang kuat.
__ADS_1
“ pantas saja tuan Zeyn tidak pernah ingin saya jodohkan dengan putri manis saya.” Ujar pak Geno di sebelahnya tersenyum sedih. Siapa yang tidak mau mendapatkan menantu seperti Zeyn, tampan, memiliki kekayaan yang bagus dan masa depan yang cerah. Zeyn type idaman para bapak bapak.
Zeyn tersenyum tipis menggenggam tangan letta. “ saya sudah memiliki tunangan yang saya cintai bapak. Jadi maaf kalian kurang beruntung.” Ujarnya dan mengecup tangan Letta.
Letta melotot menatap tingkah Zeyn, rasanya tengkuk Letta benar benar panas karena tatapan Bima yang menyorotnya lebih tajam lagi. duh letta rasanya gemetar jika begini.
Tolong jika mata Bima itu leser seperti nya Letta sekarang sudah bolong.
“ wah wah haha. Selamat yah tuan, semoga cepat terlaksakan acara pernikahannya.” Ujar dari yang lain kepada Zeyn.
stop letta tidak tau siapa siapa nama mereka, bahkan Zeyn tidak memperkenalkan mereka siapa padanya. Ia hanya berdiri dan jadi patung pajangan.
Sesekali Letta melirik bima yang memandang dingin dirinya. Letta tersenyum tipis tak enak. Bima mengepalkan tangannya hingga gelas yang ia pegang pecah. Semua orang shok melihat Bima dan pecahan kaca yang jatuh
“ pak Bima ada apa?” Tanya temannya shok melihat tangan Bima yang berdarah
Bima menggeleng pada pak Geno.” Saya sepertinya kurang enak badan , saya pulang duluan saja yah.” ujarnya pelan.
Zeyn mengangguk pelan.” luka nya diobatin dulu saja pak. Sebentar Letta tolong hantarkan pak Bima ke panitia acara supaya di hantarkan ke kamar dan lukanya di obati. Itu terlihat banyak mengeluarkan darah.” Ujar Zeyn pada Letta.
Letta memandang Zeyn. hey ia mana tau panitia disini apa dan dimana. Memandang Bima yang menyeringai. Letta tercekat dan berjalan membantu Bima untuk mendekati panitia.
Letta memejamkan mata, sial sial siall... bagaimana bisa begini di acara sih??? pelan letta merasa perutnya dililit oleh tangan Bima dan meremas pelan perutnya.
” Kamu nakal yah baby?” bisik Bima mengerang.
Letta diam saja mendekati pelayan yang di depannya.” Mbak ini ada yang luka. Boleh minta tolong untuk diobati? Pak Zeyn pesan tolong panggil dokter.” Jelas Letta kepada pelayan.
“ tapi saya mau kamu yang obati, pelayan ambilkan kotak obat dan antarkan kami ke kamar untuk saya.” Jelas Bima tegas pada pelayan.
Letta menggeleng.” nggak, saya ada urusan lain.” jelas letta.
Bima menajamkan matanya memandang letta.” kamu yakin tidak mau mengantarkan saya ke kamar baby?” tanyanya berbisik. Letta merasa ini adalah ancaman,
Letta mau tak mau mengangguk mengikuti Biak e kamar hotel, ditemani pelayan dan membawa mereka ke kamar, pelayan keluar permisi mencari obat dan meninggalkan Letta bersama Bima, bahkan baru saja pintu tertutup letta sudah ditarik oleh Bima dan menahannya di dinding pintu.
__ADS_1
Bima mengusap pipi letta menggunakan lengannya yang berdarah membuat letta menepisnya.” Tangan om berdarah. nanti make up letta rusak.” Ujar Letta buru buru..
Bima memandang letta tajam dan tak suka. sama sekali tidak mendengarkan ucapan Letta.