
Letta mendengar hal itu menaiki alisnya, diikiuti Bastian dan Agung, sedangkan udin dan Beta sudah juliah. Bastian saja yang bolos, dan memilih tinggal dengan keluarga Letta di sini,
Melirik Bastian penuh pertanyaan.
“ Gue beneran nggak ngapa ngapain dia wey. Dia gue Tanya ngapain, eh malah pingsan.” Jelas Bastian dengan tegas. Dirinya dimana mana di tuduh.
“ kayaknya dia di usir deh.” Gumam Bastian pelan.” soalnya gue lihat dia bawa tes gede gitu, ih tas nya.” Jelas bastian membukanya sembrono.
” He jangan di buka.” Jelas Agung.,
“ Tuh kan ada cancutnya, ada kut4ng, ada baju sama celana. Dia pasti di usir bonyok nya karena habis kesabaran sama akhlak Brayen..” Jelas Bastian kembali dengan tak terima. Ucapan Agung sama sekali tidak di apikkan olehnya.
Agung hanya menatap Bastian tak lagi bersuara. Letta mengangguk pelan menyetujui ucapan Bastian, sepertinya Bima katakana semalam benar, jika ia mengusir anak anaknya dari rumah, melirik Brayen kembali yang pingsan,” tapi nonjokin ini muka dia siapa?? Berdarah loh. Coba deh kalian panggilin dokter dulu, siapa tau dia jadi buta,” jelas Letta pelan.
“ syukur deh.” Jelas Bastian memutar nola mata malas.
“ hus.” Gumam Nato melirik Bastian kesal., Letta melirik Brayen malas, dan Agung segera memanggil bidan terdekat saja. " Biar bapak aja yang panggil, kalian jagain dia!!" Mereka Mengangguk malas.
“ ngapain juga abang loe baik banget bawa nih orang,. awalnya mau gue tinggal, warga aja tiba tiba nuduh gue.” jelas Bastian kesal memukul pelan perut Brayen yang pingsan.
Letta melotot mendengar Bastian bicara.” Hus loe ngomong suka bener.” Jelas Letta terkekeh, keduanya terbahak pelan sama sama berfikir jahat. Melirik Brayen lagi yang menyedihkan sama sekali tak prihatin.
Sudah dua jam usai di obati, mata Brayen yang merah sudah di kain kasah, melirik malas Letta membuka hp nya dan bermain dengan tenang. Sampai Brayen meringis bangun dari tidurnya, ia meringis memegang kepalanya terasa pening.
Letta meliriknya dengan santai dan tatapan mereka bertemu.” Kya.” Teriak Brayen kaget melihat letta.
”loe?” gumam Brayen gugup.
Letta membuang muka dan memainkan Hp nya lagi.” loe kok masih hidup?” Tanya Brayen menatap seluruh ruangan,.” Dan kenapa gue ada di sini? Apa gue juga ikutan meninggal?” Tanya Brayen polos. Ini kamar bernuasansa putih semua lagi mana dirinya tau.
Letta mendelik melirik brayen.” Loe pikir gue udah mati gitu ha? Gue masih hidup yah.” jelas Letta kesal.
Brayen shok tak bisa bersuara.” Duh apa ini rib-- eh udah bangun kamu?” Tanya Nadia pelan menatap Brayen dengan heran.” Kamu istirahat saja, biar ibu ambilkan minum sama makanan yah, kata bidan kamu dehidrasi.” Jelas nya pelana segera pergi.
Brayen diam menyenderkan tubuhnya di pinggiran kasur, meraba matanya yang tertutup sebelah, melirik Letta yang masih menonton dengan tenang . “ gu gue kenapa ada di sini?” gumam Brayen pelan, ingatan terakhir ada pada sata dimana ia bertemu Bastian, Bastian yang bertanya padanya sedangkan Brayen sudah di ambang batas kesadarannya.
Letta malas menjawabnya, tapi Nadia sudah sampai membawa makanan dan minuman.” Sini miinum dulu.” Jelas Nadia memberikan air.
Brayen dengan gugup menerimanya dan menghabisi air minum yang diberi nadia,. “ kata bidan kamu tadi ada mendpaatkan kekerasan fisik dan juga dehidrasi, perut kamu juga kosong. Kamu kenpa nak?” Tanya Nadia lembut.,
Brayen diperlakukan begitu lembut menjadi gugup dan linglung. Nadia melihat wajah Brayen yang kaku menjadi tak enak, segera mengusap pelan kepala Brayen, Nadia tersenyum tipis.” Kamu makan dulu aja yah biar nanti ibu kasih obatnya sama kamu, ayo sini ibu suapkan,.” Jelas Nadia menyuapi bubur.
” Ini Letta punya hehe, soalnya dia belum boleh makan yang keras keras, jadi berbagi sama kamu dikit, anak ibu juga baru kecelakaan.” Jelas Nadia masih menjelaskan agar Brayen ingin bicara.
“ dia tu bisu bu.” Jelas Letta tanpa melirik nadia.
__ADS_1
” Sembarangan loe.” Ketus Brayen tidak terima di bilang begitu oleh letta.
Nadia melihat itu terkekeh.” Terus kalo gitu kenapa diem aja kalo orang tua nanya? Mau gue bikin bisu loe?” Tanya Letta melirik Brayen dengan ekor matanya kesal.
“ hus.” Gumam Nadia menggeleng pelan.
Brayen di sana mencebik pada Letta dan menatap Nadia, ia tersenyum tipis tak enak hati. “ anu buk, maafin saya.” Jelas Brayen tak enak hati.
Nadia mengangguk tenang.”nggak apa apa kok. maafin Putri ibuk yah, dia emang suka gitu.” jelas nya pelan melirik Letta yang malah berwajah lempeng.
Brayen mengangguk pelan.” iya bu. Kasihan banget ibu punya anak kayak dia.” Jelas Brayen melirik letta.
Letta menghentikan video yang ia tonton, mendengar ucapan brayen.” Udah nakal, suka bolos, ngomong kasar, suka mukul orang. tapi ibuk nya baik, lembut. Perhatian. Kayaknya ibu dapet yah Letta di tong sampah?” Tanya Brayen menatap nadia.
Nadia mendengar hal itu terkekeh pelan.” justru karena Letta begitu ibuk suka, artinya dia kuat dan bisa menjaga diri sendiri. Sesekali saja ibu suka kesel tapi enggak pernah merasa kasihan punya anak kayak dia. Letta itu baik kok sebenernya.” Jelas Nadia memuji anaknya. Nadia type yang enggan menjatuhkan anaknya sendiri.
Letta terkekeh sinis.” Denger tu, nyokap gue bangga sama gue, enggak kayak loe yang jadi anak durhaka.” Jelas Letta yang sama sekali tidak sadar diiri. Dirinya dulu kan juga begitu, melawan bahkan juga saingan malin kundang malah.
“ kalian ini..” gumam Nadia pelan,
Brayen diam memakan suapan nadia, padanya, bubur ini enak, sangat enak malah, jadi ia melirik Nadia yang bicara lembut.
” Letta sini ada dokter, ganti gip kaki dulu katanya biar ga iritasi,.” Jelas Nato memasuki kamar letta,.
Letta menampilkan wajah polos.” Ini itu bukan darah, emang kalo luka itu biasnaya ada darah itu udah hal lumrah,” jelas Letta gugup.
” Yah lalo nggak berdarah yah bukan luka namanya letta.” jelas dokter datang sembari terkekeh.
Letta meringis di buatnya. “ anak kedokteran udah bisa yah memalsukan sesuatu, nanti begitu juga sama pasien?” Tanya dokter.
“nggak.” Jelas letta membuang muka, melirik eh ada Zeyn yang berdiri di sebelah dokter.,
“ eh..” gumam Letta tersenyum pada Zeyn,. zeyn melihat itu memutar bola mata malas.” Iya saya bawa.” Jelas Zeyn dengan pelan memberikan tote bag.
" Au maaci Zeyn.” jelas Letta kesenangan memeluk lengan Zeyn.
Zeyn melirik Letta menahan senyumnya, menatap apa yang di beri semua orang tercengang, kue terang bulan.” Ajaib.. bisa ada yang jual di siang bolong begitu?” gumam Nato tertegun.,
Letta menunjukan kuenya dan melahapnya di depan mereka. “ taro dipiring dulu.” Jelas Nadia pelan.
“nggak mau. Letta nggak mau berbagi., nyam nyam,.” Gumam Letta memakannya dengan lahap didepan mereka. Semua di sana terkekeh melirik Letta yang begitu menggemaskan, beda dengan dokter yang aneh.
Harusnya Letta teriak kesakitan saat kakinya dipindahkan atau digerakkan. Tapi dia sangat santai dan menikmati makanannya.
Hati Brayen memanas menatap keluarga Letta yang begitu hangat, Brayen seperti orang asing ditengah keluarga yang begitu cemara ini.
__ADS_1
lari lari. Brayen ingin lari, hatinya sendiri berkata. Bisakah dirinya berada di jiwa letta?? merasakan semuanya juga????
“ udah yah.” jelas dokter kepada Letta.
Letta mengangguk tersenyum pada dokter. Dokter menggeleng pelan melihat letta yang begitu manis.” Ini kaki nya juga patah tu dok. tolong dong diobatin.” Jelas Letta melirik Brayen yang diam saja.
Brayen melirik Letta yang bicara, melirik dokter yang mengangguk mulai memeriksanya juga.” Wah ini kaki kamu bengkak banget,. Kena apa?” Tanya dokter pelan menatap kaki Brayen. Melihat kainnya bahkan sudah berwarna coklat. sudah bau.
Brayen hanya diam tak menjawab, dokter hanya bisa menghela nafas pelan, melepaskan perban Brayen dan menggantikannya juga. Keluarga Letta diam menatap dokter yang juga memeriksa brayen.
“ dia kenapa ada di sini?” Tanya Zeyn pelan kepada Letta,
Letta menggeleng pelan.” tidak tau, dibawa sama Nato tadi.” Jelas Letta santai.
Zeyn mendengus pelan mendengar hal itu, ia baru sadar jika ada Brayen, zeyn tau bagaimana jahatnya Brayen kepada letta selama ini, Zeyn juga sudah menyusun rencana untuk membunuh Brayen, lebih tepatnya kemaren, yang menyerang Brayen adalah orangnya, sayang sekali Letta malah membantu Brayen dan dia selamat.
Semua selesai, dan kedua orang tua letta keluar mengantarkan dokter, meninggalkan Letta bersama Zeyn dan Brayen yang ada di sana. Brayen menghela nafas pelan.” gue mau pulang.” gumam Brayen sesak segera ingin berdiri.
“Pulang kemana??? “ Tanya Letta melirik Brayen.
Brayen melirik Letta kehilangan kata kata, “ itu bukan urusan loe.” Jelas Brayen mendesis ingin berdiri.
Letta melihatnya tampa menahannya lagi. Zeyn melihat Brayen yang keluar tanpa di tahan oleh Letta segera mendudukkan diri di dekat letta.” apa keadaan mu sudah membaik?” tanyanya pelan.
Letta mengangguk pelan kepada Zeyn, menunjukan terang bulan yang masih tersisa.” Tidak habis, bisa kah kau menghabisinya?” Tanya Letta dengan rasa tampa bersalah.
Zeyn mendelik tidak suka.” oh tidak mau yah sud..”
hap.. Zeyn memakan yang ada ditangan Letta dan mengambil seluruh sisa milik Letta. Letta terkikik melihatnya dan mengusap kepala Zeyn pelan.Zeyn terdiam melihat Letta yang begitu manis.
“ mau kemna nak? Kamu masuh luka loh.” Jelas Nadia pada Brayen yang ingin keluar rumah.
Brayen melirik nya kikuk dan menggeleng.” mau pulang bu, terimakasih yah sudah mau membantu saya. Maaf merepotkan.” Jelas Brayen tegas dan pelan.
“ Loh... nanti aja pulangnya, kamu bisa telepon keluargamu supaya di jemput ke sini.” Jelas Nadia tegas.
Brayen di sana cukup terdiam beberapa saat.” Boleh pinjam teleponnya bu?” Tanya Brayen.
Nadia menggangguk pelan kepada brayen. Brayen tersenyum senang.” Terimakasih Bu.” Jelasnya.
Segera brayen menelpoon fahmi, tak di sahut... menelpon fajar pun tak dibalas, sedangkan Renja sedang sibuk di luar kota, brayen diam sejenak memandang Nadia nanar,
" dimana si mereka!" gumam Brayen sedih. kemana ia harus pergi jika begini?
” kenapa?? Kamu bisa menginap sehari lagi jika belum ada yang menjemput.” Jelas Nadia pelan kepada Brayen. Brayen hanya bisa menahan diri.
__ADS_1