Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Malam itu


__ADS_3

“ Xior bisa bicara sebentar?” Tanya letta menghentikan tingkah Xior yang makin meresahkan.


Xior menggeleng pelan, masih memeluk Letta erat.. letta menghela nafas menaruk paksa tubuh Xior, tapi terlihat Xior sudah tertidur. Letta melihat itu tak tega.. ia hanya bisa menghela nafas dna membaringkan tubuh Xior di atas kasur.


“ hehe temen menderita.” Gumam Letta terkekeh.


Karena lelah, Letta menaruh bantal di tengah tengah dan mengampil posisi untuk tidur di sebelah Xior, kasur yang sangat lebar dan besar sangat cukup untuk tidur berdua.


Letta tidur dengan tenang di sebela Xior yang juga tertidur, tanpa mereka sadari jika diluar sana lorang orang luntang lantung mencari dimana Letta karena takut di amuk Xior.


Jasmine memegang perutnya terasa nyeri, keram, ingat bagaimana terjadinya malam di mana vila miliknya Zyeyn sebelumnya. Jasmine menghela nafas pelan sesak, jasmine mengepalkan tangannya, tidak, dirinya tidak bisa marah pada Putra, sebab Putra tidak salah, dirinya yang bersalah.


On Flashback


Malam itu di mana ia tersenyum membawakan segelas coklat hangat ke kamar milik Putra, dengan penuh wajah sumringah mengetuk pintu Jasmine mengetuk pintu pelan.


“ Komandan..” gumamnya pelan mengetuk pintu..


Tak ada sahutan, Jasmine menggigit bibir bawah menahan rasa gugup. “ komandan ini saya mau mengantarkan coklat hangat.” Jelas jasmine kembali.


Tetap tak ada sahutan selain ringisan kecil. Jasmine mendengar itu takut, segera membuka pintu paksa. Pintu tidak terkunci Jasmine buru buru menatap sekitar. Tatapan Jasmine jatuh pada Putra dimana Putra yang sedang mengepalkan diri dan memeluk dirinya sendiri di sudut ruangan.


” Putra??” gumamnya nanar dan takut.


Putra semakin meringis melihat Jasmine memasuki kamat ini.” jangan mendekat.” Teriak Putra.


Jasmine mendengar itu takut, kepalanya berisikan banyak ragam pertanyaan, memeluk dirinya sendiri Putra memejamkan matanya.. menahan diri agar tidak melakukan sesuatu tanpa di control.


“ Putra ada apa?” Tanya Jasmine penuh keraguan mendekati Putra.


“ saya bilang akh jangan mendekat Jasmine.” Teriak Putra menggelegar.


Jasmine menggeleng.” aku dokter.. aku bisa mengobati jika kamu sakit.” gumam Jasmine memegang pundak Putra.


Putra hanya laki kaki biasa memandang Jasmine kabut. Jasmine melihat tatapan Putra yang berbeda, merah dan suram kaget.


” Jasmine..” gumam Putra serak dan sakit.


“ Ada yang menaruh sesuatu di minuman dan makanan ku.” Gumamnya serak, sangat serak...


Jasmine mendengar itu melebarkan mata... “ racun?” gumam Jasmine buru buru mendekati Putra dan menatap wajah Putra penuh kekhawatiran.


” Kita harus cepat mengobatinya. Ayo.” Jelasnya menarik Putra.


Putra menggeleng pelan, nafasnya tertahan, memejamkan mata nya Putra menggeleng lagi.” obat perangsang. Ada yang menaruh di sana. jadi pergi dan kunci pintu dari luar.. “ jelas Putra kembali serak.

__ADS_1


“ keluarlah.. aku akh.. Jasmine kumohon.” Gumam Putra penuh permohonan.


” pergi dari dini sekarang.. “ tegas Putra serak.


Jasmine melihat bagaimana tak bisanya Putra menahan diri, tangannya bergetar gemetaran, mata yang memerah tubuh yang seperti bengkak semua, tak tega Jasmine melihat ini. Jasmine meneguk Saliva kering nya dan menggeleng.” tidak bisa.. efek samping nya juga nggak bagus Putra. Kita harus mengobatinya.” Jelas jasmine pelan.


Putra mengusap kepalanya kasar.” Obat apanya Jasmine , kau sendiri tau apa obatnya.” Tegas Putra.


Jasmine mengangguk pelan.” ayo kita melakukannya. Aku tidak tega melihat kamu begitu sengsara.” Jelas Jasmine sedikit. Putra tak bisa, pikirannya tak bersih, kotor yang ada hanya nafsu nafsu, mendengar ada angin segar tentu saja ada getaran di hatinya.


“ tidak.. pergilah.” Gumam Putra masih setengah sadar, masih menolak ajakan Jasmine.


Jasmine menggeleng pelan.” putra..” gumamnya memelas m


Putra tak bisa, tubuhnya menggigil seperti sekarat dan jasmine melihat itu tidak tega segera membungkam mulut Putra dengan bibirnya.


Putra seperti kehausan, tapi setengah sadar menolak. Menolak ciuman Jasmine, tapi Jasmine mencium putra lebih dalam, tidak putra tidak lagi sadar. Menahan Jasmine pun tak bisa, sebab tubuhnya menerima seluruhnya. Sampai sesuatu yang tidak seharusnya malam itu terjadi.


Jasmine meneteskan air matanya.” maafin saya yah Putra,. Saya benar benar egois.. saya harap jika tidak mendapatkan kamu saya bisa mendapatkan anak drai kamu.” Bisik Jasmine bergetar. Memegang perutnya sedih. Jasmine yakin ia akan mendapatkan sesuatu yang dirinya impikan.


Berbeda dengan Gina yang memandang Reno nanar.” yang kita lakuin itu benar atau salah sih? gue bener bener nggak tega kalo putra nggak mau tanggung jawab sama Jasmine Remo..” gumamnya dengan sedih. Yah pelakunya adalah Gina dan Reno. Keduanya melakukan kelicikan untuk jasmine dan juga Putra.


Reno menyedot minumnya dan menggeleng pelan menatap Gina.,” Gue tau Putra orang baik, dia ngak mungkin lepas tanggung jawab. Jasmine cewek baik sampek gue mikir apa sih yang kurang dari dia sampek Putra nolak dia begitu kuat.” gumam Putra heran.


” Loe buaya kalo putra enggak, gue nggak tau apa yang kita lakuin ini bener atau salah Ren, sebab kita sendiri tau kalo Putra itu nggak cinta sama Jasmine, gue harap dengan keadaan yang begini nggak memperburuk keadaan.” jelas gina tegas.


Reno memandang guna dengan tenang. “ apa lagi dia udah lama cinta udah mau nikah kan sama Letta?” gumam Gina pelan,.


Reno mengangguk pelan mendengar itu, “ duh temen gue mafain gue. gue harap Putra tanggung jawab.” Gumamnya sedih menaruh kepalanya di atas meja, memikirkan kesalahan dirinya. Sebelumnya Reno mengajak Gina supaya Putra dan Letta gagal menikah dan Putra akan menikah dengan Jasmine sebagai pertanggung jawaban.


Tapi saat tragedi itu mereka melihat jika Putra menolak Jasmine mentah mentah tapi Jasmine yang mengajudukan dirinya sendiri, dan saat pagi pagi sekali Putra hilang entah kemana meninggalkan Jasmine sendirian.


Mereka tau jika Putra benar benar menolak Jasmine, mereka tau itu, jadi mereka takut jika Putra tetap pada pendiirian nya untuk tidak bersama Jasmine.


“ kita tunggu aja Jasmine sampek hamil..” gumam Reno tersenyum tipis.


“ kalo Putra tetap nggak mau tanggung jawab gimana?” Tanya Gina kepada Reno kesal.


Reno menggeleng.”Nggak akan, Putra pasti mau tanggung jawab, dia bukan cowo brengsek.” Tegas Reno.


“ kalo dia nggak mau nikahin nanti gimana? Mau taruhan loe?” Tanya Gina melotot.


Reno mengangguk tenang.” Gue yang nakal mukul dia banak belur.” Tegas nya kesal.


Gina mendengar itu semakin kesal.” Nggak ada salah di Putra, ini salah kita. Ya Tuhan jangan sampek temen gue jadi single parent.” Gumamnya sedih mengingat Jasmine., perempuan baik dan setulus itu.

__ADS_1


Aakh bodoh juga ...


Bangun dalam keadaan kepala sakit Xior meringis memegang kepalanya nyeri. Melirik ke atas, ia memejamkan matanya. ini sangat sakit.. ia segera bangun tapi, ia tersentu sesuatu. Melirik sebelahnya, ia kaget melihat letta yang tidur menghadap kepadanya dengan wajah bayinya.


Tangan yang di pipi, kaki yang meringkuk dan muka yang polos. Xior meneguk saliva kering melirik sekeliling, menghela nafas tak percaya kembali melirik kea rah Letta, ia mengusap pelan pipi Letta memastikan penglihatannya tidak salah kan??? benar saja itu Letta. ia memijit pelipisnya pelan karena terasa sangat sakit.


Letta pipinya di usap mengerjab pelan, membuka matanya memang ke depan,


Letta mengucek matanya pelan melihat Xior, sejenak ia kaget tapi sejenak segera ia sadar jika ia ada di kamar milik Xior. Dan ingat tragedi semalam.


“ loe ngapain di kamar gue?” Tanya Xior sinis dan dingin pada Letta,


Letta mendengar itu menunjukan wajah lempengnya dan memegang kepalanya.” Aduh kepala gue sakit banget. Loe jedotin ke dinding semalem.” gumam Letta dengan memelas.


Xior menaiki alisnya menarik pipi Letta melihat pipi Letta. Letta mengerjab polos dan Xior melepasnya kasar.” Bohong.” Gumanya dingin,


Letta memejamkan matanya merasakan pipinya nyeri, ia menatap Xior memelas.” Beneran. Loe mabok semalem seret gue masuk ke kamar ini. gue kira gue diperkaos.” Jelas Letta memelas.


Xior mendnegar itu mencibir letta malas.” Di sini ada CCTV loh.” Jelasnya.


Letta mengangguk.” Cek aj--- eh cctv?” Tanya Letta pelan.


Xior hampir mengeluarkan tawa keras melihat bagaimana lucunya wajah Letta. Letta memutar matanya dan menghela nafas pelan..


“ iya kah???? Aku ngak ingat.” Gumam Letta kembali pada Xior.


Xior menggeleng pelan, segera turun dari kasurnya. Tapi tubuhnya oleng.


huek.. ia mulai ingin muntah, segera dengan tubuh sempoyongan memasuki toilet. Letta menyipitkan matanya melihat Xior yang masih pusing karena terlalu banyak minum semalam pastinya.


Letta menyender kembali tubuhnya di kasur, sejenak segera bangun dan membuka tirai kamar, melihat ke depan Letta cukup kagum, Letta pikir kamarnya paling bagus melihat suasana di sini, rupanya tidak.


Kamar Xior bahkan langsung mengarah pada perbukitan biru, di sini ia bahkan bisa mendengar suara monyet yang serta cegok. cegok...


ia bisa melihat di sini lahan perkebunan sawit. Letta kagum segera duduk di kursi yang memang ada di sana.


Setengah jam Xior keluar dari kamarnya melihat masih ada letta yang duduk di dekat kaca menaiki alisnya.” Belum keluar?” tanyanya.


Letta menoleh, melihat Xior yang hanya menggunakan handuk, rambut yang basah, tubuh yang. Xior menatap tubuhnya, menatap letta marah.” Nggak usah lihat, badan gue emang jelek.” Ketusnya kasar segera menjauh. Aura dirinya tiba tiba mencekam.


Letta melihat emosi Xior yang tak stabil mengenai luka lukanya tak enak hati, ia menggeleng pelan “ kama mu dikunci dan aku tak tau kodenya.” Jelas Letta polos.


Letta pikir Xior akan mendengar jawabannya. Xior menggenakan kaos dan membuka pintu kamarnya.” Keluar.” Ketusnya kasar.


Letta mendengar itu segera berdiri dan mengangguk. Dirinya melirik Xior yang melewati dirinya begitu saja. “ tubuhmu bagus. Seperti pejantan sesungguhnya. Aku suka.” jelas Letta sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2