Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Akang batagor


__ADS_3

Bugh. Semua shok tiba tiba Letta menendang perut Fajar yang tak siap apapun kuat.” lain kali kalo ada apa apa nanya dulu jangan sembarang mukul orang. loe pikir loe hebat apa kayak gitu??? Bajingan.” Gumam Letta sinis segera pergi dari sana meninggalkan Fajar yang menabrak meja kantin sembari meringis memegang perutnya yang terasa perih.


.


.


.


Letta mendesis malas di buat Fajar. Letta kesal membuat ia duduk di kelasnya suram, diikuti Udin dan teman temannya. “ Gue mau lihat Kirana akh, loe mau ikut kita nggak Let?” tanyanya Udin.


Letta menggeleng.” vc nanti.” Jelas letta membuat keduanya terkekeh mengangguk menunjukan jempol.


Kirana ditoilet uks karena tubuhnya penuh lumpur, di sana ia dimandikan dan diberi obat oleh Brayen dan teman temannya. Hanya Fahmi yang diam menatap kirana yang menangis teredu seduh. Luka di kakinya cukup besar sebab kulitnya mengelupas karena tergesek semen.


Berselang beberapa menit Fajar datang dangan masih berjalan tertatih. Ketiga temanya menatap Fajar heran.” Loh. Loe kenapa Fajar???” Tanya Brayen berdiri menatap Fajar.


Fajar meringis menduduki diri di brangkar kosong dan menyenderkan tubuhnya mendesah kasar. Melirik teman temannya yang menatapnya heran.” Letta nggak ngaku nyebur kirana di got, dan gue di tendang.” Jelasnya meringis pelan.


Kirana melebarkan mata marah dan menggeleng.” beneran Letta doriong aku ke got jadi aku jatoh terus dia pergi karena marah sama aku, dia mau kita putus Fajar.” Lirih Kirana pada Fajar yang terlihat kesakitan di sebelahnya.


Fahmi membuang muka, sekarang dirinya paham, jika Kirana pembohong. Fahmi sudah yakin jika letta sekarang bukan Letta asli, yakin dan sangat yakin. Memilih pergi dari ruangan menambah rasa penasaran dari keseluruhan di dalam.” Fahmi kini pendiem banget, dia ada masalah apa gimana?” Tanya Brayen pada Renja dan juga Fajar.


“ Katanya, dia sariawan.” Jelas Renja pada Brayen.


“ yakali? Biasanya dia paling menggerutu kalo sariawan karena nggak bebas makan. Bahkan udah tiga hari ini dia nggak ke kantin sama muka pucetnya. Jangan jangan dia punya penyakit lagi. “ jelas Brayen kepada teman temannya.

__ADS_1


“ udah lah mikir Fahmi, kalian nggak kasihan lihat aku yang begini?” Tanya Kirana lirih pada mereka semua. Mereka menghela nafas segera membantu Kirana mengobati lukanya dan Fajar yang terdiam di tempatnya melirik Kirana. Sialan, dirinya lagi lagi dipermalukan oleh letta.


“gue udah bilang kalo Letta itu tetep aja Letta,, jahat tetap jahat dan nggak bakal berubah, selama ini dia tu Cuma masang topeng baru buat caper sama kita.” jelas Brayen dingin pada teman temannya.


“tapi menurut gue nggak deh?” jelas Renja membuat Brayen dan Fajar menatap Renja.


Renja mengangkat bahu acuh.” Kayak Letta lebih menikmati hidupnya, lebih tenang dan cerah. Dia lebih Nampak hidup ketimbang sebelum sebelumnya.” Jelas renja kembali kepada teman temannya jujur. Renja tidak bercanda,


“ dimata gue dia tetep manusia per3k, sampah murahan. Bajing4n,” jelas Brayen terdengar sangar membenci letta.


Renja mengangguk menatap Fajar yang mengangguk setuju.” Per3k tetap aja per3k. Murahan.” bisik Fajar. Ada rasa getir di lidah Fajar saat mengatakan hal tersebut.


“ gila gue baru tau sih kalo bahasanya Fajar dan temen temennya sekasar itu.” jelas Udin kepada Bastian yang berada di kaca depan UKs, ia mendengar semua yang mereka katakana di dalam.


“ coba loe lihat deh muka Kirana? Dia kayak nahan senyum gitu ngeliat Fajar dan Brayen ngomongin Letta *****??? Jangan jangan Letta beneran di fitnah nggak sih?” Tanya Bastian menunjuk Kirana yang mudah mengubah ekspresi, kadang tersenyum lalu sedih, lalu muka sinis. “ yaampun gila aja mereka.” Jelas udin lirih.,


Letta melangkahkan kakinya dengan tenang bersiul memandangnya sekitar, sampai di dekat rumah milik Reta, Letta mengambil posisi tempat jualan batagor keliling yang ada di sana.” mau beli dua porsi di satu piring aja bang.” Ujar letta.


“ oke neng.” Ujar nya Tersenyum menatap Letta. Letta melirik rumah milik Reta. Rasa rindu di dadanya menggebu membuat dirinya ingin menatap rumah Reta. Atau hanya sekedar sapa atau melihat keadaan mereka. “ non kenal sama orang yang punya rumah itu atau emang tinggal diperkomplekan ini?”Tanya penjual batagor melihat tatapan Letta.


Letta menghela nafas pelan dan menggeleng.” Itu saya adeknya yang punya rumah.” Jelas Letta pelan.


penjual batagor mengangguk paham. Memberikan pesanan Letta, lamban Letta makan sambil menatap rumah tapi yang ditunggu tak kunjung keluar, serak dan panas karena terik, Letta memilih menyelesaikan makannya dan segera membayar yang ia pesan. Mungkin ia belum bisa bertemu dengan keluarganya. Memang beginilah hidup, saat orang yang diinginkan di cari nggak dapat, pas nggak di cari mereka seleweran saja lewat.


Mobil Letta melaju, gerbang rumah terbuka, “ mang beli batagor yah. dua, kecapnya dikit aja.” ujar Reta kepada penjual batagor.

__ADS_1


Tukang bataor mengangguk pelan melirik Reta yang membeli batagornya.” Oh tadi adeknya ibu beli batagor juga lih disini tapi dua porsi habis sendiri sambil lihatin rumah.” Jelas tukang batagor.


Reta mendengar hal itu melebarkan mata.” Rumah saya? Adek saya?”Tanya Reta lebih lanjut.


Tukang batagor mengangguk” eh tadi dia Cuma bilang’ saya adeknya’ saya sih nggak tau maksud dia adeknya siapa tapi yang jelas dia bilang adek yang punya rumah yang artinya ibuk.” Jelas tukang batagor dengan serius.


Reta mengernyitkan dahi, tidak mungkin Bara sebab Bara anak semata wayangnya, “ cewek mas?” Tanya Reta kembali.


Tukang batagor mengangguk lagi tapi dengan raut heran kali ini. “ tapi mas, adek saya udah lama meninggal.” Ujar Reta lirih.


Bras... mangkok di tangan tukang batagor jatuh menatap Reta dengan tatapan shok.


“ Mbak jangan becanda deh mbak, ini masih siang bolong loh mbak, masa hantu bawa mobil?” Tanya tukang batagor dengan lirih.


Reta mengangguk.” Memang ciri cirinya bagaimana? Coba mas sebutkan.” Jelas Reta gugup.


Penjual batagor gemetar memulai bicara.” Dia putih, rambutnya pendek, hampir dibawah telinga, terus tinggi dan pakek baju hitam semua.” Jelasnya gugup.


Reta semakin lemas mendengarnya.” Itu beneran ciri ciri adek saya. Tapi udah lama meninggal.” Jelas Reta kembali lemas. Tukang batagor ikut lemas mendengarnya. Sama sama keduanya duduk terlemas di kursi memikirkannya.


“ tapi bu dia bawa mobil, masa hantu pakek mobil mana siang bolong.” Jelas penjual batagor masih enggan mengakuhi jika itu adalah setan.


“ siapa tau kan kamu salah lihat, Cuma penglihatan kamu aja.” Jelas Reta mendelik pada penjual. Penjual menatap Reta dengan paham.


“ kayaknya saya mau pindah jual batagor aja deh,” gumamnya lirih.

__ADS_1


” Cepetan bikini saya batagor.” Jelas reta menepuk pundak penjual.


Penjual berdecak.” Tangan saya masih gemeteran ini.” ia menunjukan tangannya yang ternyata memang masih gemetaran.


__ADS_2