
‘ tuan.” Gumam dokter memelas memandang Bara, menekan rasa sesak di dadanya, dokter menghela nafas pelan.” sebelumnya pasien pernah melakukan transpalantasi jantung, dan itu berlaku cukup lama, kemungkinan besar pasien sudah lama tidak meminum obat rutin dari dokter.” Jelas dokter dengan pelan.
Bara diam mendengar hal itu.,” dengan adanya jarang meminum obat itu membuat sistem kekebalan tubuh nona cukup meregang dan mudah terinfeksi. “
“ sebelum ini, sepertinya nona mengalami pukulan cukup kuat bagian dadanya, dan saat pemeriksaan jantung nona sedikit tak berfungsi baik karena pengendapan air,. Apa nona pernah mengalami tenggelam cukup lama?” Tanya dokter kembali.
Bara diam mendengarnya, hanya mengangguk meskipun lemas.” Karena beberapa serangkaian kesalahan fatal, tlanpantasi yang dilakukan oleh nona meregang dan rusak, terjadi masalah pada pembuluh arteri pada jantung, hal ini membuat nona mengalami gagal jantung, menurut pemeriksaan sebelumnya juga, npona terlihat ada gumpalan pada jantung seperti gumpalan kangker, bisa jadi itu salah stau resiko dari transpantasi jantung yang sudah lama tidak mengonsumsi obat, kangker Limfoma ini memang sangat beresiko saat seusai melakukan transplantasi jantung,.” Jelasnya dengan pelan.
Bara mendengar hal itu cukup lemas dan sesak. “ luka di kaki nona juga kembali bengkak dan sebelumnya sepertinya mengalami retak tulang, itu terlihat cukup jelas saat dironsen, dan beberapa luka harus dijahit ulang karena terbuka. Nona harus di rawat lebih lama dan di cek lebih lanjut,” jelas dokter.
“ beri yang terbaik buat dia, dan masukkan ke ruang VVIP.” Jelas Bara.
Dokter mengangguk.” Baik tuan,. Silahkan jika ingin masuk.” Jelasnya.
Bara di sana memelas memandang dokter menjauh, kakinya seperti melayang mendekati tubuh letta yang sama sekali tak bertenaga. Mendekat dan menggenggam tangan dingin Letta. air mata bara jatuh mengenai tangan Letta, sesak sekali rasanya, apa yang Letta lakukan sampai dirinya harus menderita baik di dunia sebelumnya maupun di dunia ini,
“ mama..” bisik Bara bergetar menguap pelan pipi letta.
Letta menggunakan tabung oksigen sehingga pernapasannya tertutup menggunakan alat. Bara kembali menangis di sebela Letta, tangisan bara bergetar begitu hebat karena tak tahan menahan rasa sedihnya.
Samar merasakan kepalanya di usap Bara mendongak menatap Letta yang rupanya sudah sadar menatap dirinya. Bara melihat itu kembali menangis dengan nanar.” moms... hiks hiks maafin bara.” Gumam Bara bergetar kembali pada letta.
“ No Moms. you are no good. I know it.. “ bisik Bara pelan.” bilang sama Braa dimana yang sakit?” Tanya Bara sesak.
Letta yang setengah sadar meneguk saliva kering.” Tenggorokan. gue butuh minum.” Bisik Letta terkekeh, samar Letta merasa ada rasa perih di dadanya. Bara melihat wajah tertekkan Letta kembali menatap letta kacau.” Dimana yang sakit moms?” Tanya Bara segera hendak pergi.
Letta menahan bara dan menggeleng.” nggak. Gue fine.” Human letta tegas.
Letta menghela nafas pelan kepada Bara. Ia sudah tau keadaannya, sebelum dirinya di cek banyak hal, ia sudah sadar dan mendengar semuanya, keadaan dirinya dan juga apa yang dirinya idap. “ gue nggak pernah merasa ini sakit, gue bersyukur hidup di kedua kalinya. Meski sakit sekalipun gue nggak apa. Asal gue sama sama dengan kalian, orang yang gue sayang.” Jelas Letta sesak.
Bara menatap ibunya sesak. Sama seperti dulu. Letta terus memikirkan orang lain, selalu mendahulukan orang lain, hati Letta memang setulus itu, wajahnya saja yang terlalu dingin dan tak banyak membicarakan tentang perasaannya.
“ jangan bilang sama siapa siapa tentang ini. cukup loe dan gue yang tau.” Jelas Letta pelan dan serak.
Bara menggeleng pelan sesak. Letta menggeleng pelan meneteskan air matanya.” gue bener bener minta tolong sama loe.” Jelas Letta sesak.
“ tapi gue mohon, pikirin diri loe, berhenti mukul siapapun. Gue bakal lindungin loe.” Jelas Bara sesak. " Gue yang bakal balas siapapun mukul loe!!!"
“ gue percaya sama anak laki laki gue. loe emang paling baik.” bisik letta dengan senyum tipis.
Bara tersenyum sendu.” Sorry.” Bisik Bara sesak.
“ sorry moms..” bisik Bara nanar menggeleng.
__ADS_1
Letta terkekeh pelan membuka oksigen di hidungnya.” Im fine.” Bisik Letta meski sedikit sulit bernafas.
Bara menggeleng segera menahan tangan letta dan memasang nya lagi.” Gue janji bakal jagain mama dari siapapun. Bara janji moms.” Bisik bara menggeleng.” mama nggak boleh sok kuat lagi, ada Bara, Bara yang jagain moms. “ bisik Bara kembali ringan.
Letta tertawa ringan.” Oke dimula dari hubungin keluarga gue dulu. Mereka pasti khawatir sama keadaan gue.” jelas Letta dengan pelan.
Bara mengangguk pelan kepada Letta. Letta segera memberikan nomor HP Nato dan juga teman temannyya agar ke sini saja. Bara mengangguk setuju, segera menghubungi mereka agar tidak mencari Letta lagi.
Selesai kembali Letta bcara. Memegang tangan bara.” Janji oke nggak bilang sama siappaun keadaan gue?” Tanya Letta memelas.
Bara menatapnya rumit. Tapi ia tak tega untuk berkata tidak, sehingga ia mengangguk pelan di depan letta, meski sakit Bara akan memberikan yang terbaik pada letta.
...----------------...
Seruan heboh Nato yang masuk bersama teman teman Letta di ruangan Letta yang baru, Letta sudah tak menggunakan oksigen untuk permintaannya, tidak ingin mereka melihat keadaan Letta yang buruk, Letta tersenyum lebar menatap Nato yang bersama teman temannya masuk.
Terlihat wajah kalut dan cemas Nato, keadaannya yang kacau. Saat sampai Letta tertegun mendapatkan pukulan dari Nato, nato memukul pelan paha Letta dan mencibirnya geram.
letta terdiam menatap nato.” Loe kenapa sih terus aja luka? Terus aja cari masalah.” Jelas Nato, tangisan Nato jatuh di depan letta nanar. Letta mengerjab pelan memandang Nato linglung.
Smeua diam melihat nato yang marah.” Loe nggak tau gimana perasaan gue denger keadaan loe yang berantem sama manusia manusia itu, apa yang harus gue lakuin sama loe Letta biar keluar dari zona masalah loe. Apa yang harus gue lakuin, gue nggak berguna banget sama loe. Gue nggak bisa jagain loe. Hiks hiks.” Nato menangis terduduk di depan Letta, tangisannya begitu sakit dan juga dalam membuat Letta sesak dna ikut menangis.
“ sorry.,” gumam Letta sesak,
Letta turun dari kasurnya dibantu oleh Bara, mengusap pelan bahu Nato yang menangis.” Gue benci sama loe. Gue benci. Berhenti letta bikin gue takut, berhenti bikin gue cemas.” bisik Nato bergetar.
Letta tak kuasa hingga memeluk Nato. Nato dipeluk oleh letta menangis lebih keras. Teman teman letta membuang muka melihatnya.” Gue lebay, gue ngak tau apa apa selain nangis. Sorry gue nggak bisa jadi abang loe. Gue nggak becus.” Bisik nato di telinga Letta nanar.
Letta menggeleng pelan menahan wajah Nato agar menatap wajahnya.” Cengeng.” Gumam Letta terkekeh, tapi siapa yang tak lihat air matanya yang jatuh.
“ iya gue cengeng.. hiks hiks.’ Nato malah tambah menangis membuat Letta terkekeh pelan.
Letta kembali terkekeh melihat wajah Nato yang lucu dimatanya. “ nangis terus., muka loe lucu banget.,” jelas letta menggeleng.
“ Letta sialan.” Gumam nya nanar dan memukul pelan baju Letta, Letta semakin terkekeh menahan dadanya sakit. akh lihat betapa senangnya di sayang.
Usai dari drama keduanya. Sekarang Nato menjaga Letta penuh kasih, menyuapi dia makan dengan tenang, Udin dan Betta kembali ke kampus karena pelajaran mereka masih berlanjut, mereka tidak bisa bolos begitu saja, nanti saat sudah pulang mereka akan ke sini lagi.
“ nanti jangan bilang sama ibuk bapak yah.” jelas Letta pelan sembari memakan bubur yang Nato berikan.
Nato menatap Letta dingin.” Terus mau bohong? Bapak sama ibuk ppasti khawatir sama loe, enak aja loe bilang gitu.” Jelas nato tidak terima ucapan letta.
Letta menggeleng pelan.” bilang aja kalo gue nginep di apartemennya Betta,. Nanti bapak cemas lagi, gue nggak mau bapak sama ibuk khawatir.” Jelas Letta lemah.
__ADS_1
Nato menatap Letta dengan bimbang, yang dikatakan Letta benar, ayah dan ibunya pasti sangat khawatir mendengar kabar anaknya kembali masuk rumah sakit padahal baru beberapa hari keluar,
“ terus yang jagain loe siapa?” Tanya Nato kesal.
“ yah kan ada loe. Bilang aja loe nemenin gue gitu karena khawatir.” Jelas Letta kepada Nato kesal.
“ ogah gue nemenin loe.” Jelas Nato menjojok kan sendok kemulut letta kasar.
Letta terbatuk pelan dibuatnya membuat Nato buru buru memberikan minum, Letta sendiri melihat itu tersenyum tipis dan meneguk minum tenang.” kalo loe ngak mau yah udah nanti gue minta tolong sama Bastian, Betta dan Bara aja.” Jelasnya.
Nato mendengar itu hanya menghela nafas tak lagi menjawab, tak jauh dari sana ada Bara yang memainkan tabletnya, melirik kearah keduanya yang terus berdebat, sejujurnya ada rasa hangat diu hatinya melihat sang ibu yang begitu diperhatikan, bukan hanya ayah dan ibu yang begitu penuh kasih, dia juga punya kakak yang begitu gengsi. Nato terlihat sangat menyayangi Letta, hanya saja tidak mau mengakuhi perasaannya.
“ itu temen loe di kelas ?” Tanya Nato melirik bara yang sejak tadi diam saja di sofa.
Letta mengangguk pelan melirik Bara.” Namanya Bara, “ jelasnya.
Nato mengangguk paham.” Gue sebentar lagi ada jam sampek jam lima sore, gue ke sini mungkin habis magrib, loe nggak apa kan?” Tanya Nato pelan.
Letta mengangguk tegas.” Gue fine kok. loe tenang aja.” Jelasnya,
Nato mengangguk pelan.” gue juga bakal ngurusin kasus loe. Gue pastiin tama Tama itu masuk penjara.” Tegasnya dingin segera mengusap kepala sang adik pelan, segera menjauh membawa tasnya.
Melirik Bara yang diam saja sejak tadi Nato berdehem.” Gue titip adek gue bentar yah.” jelas Nato.
Bara mendongak menatap Nato, ia mengangguk pelan.” kalo ada apa apa telepon gue aja, dia orangnya memang nyebelin. Bandel dan nakal.” Jelas nato melirik letta.
‘ fitnah aja loe.” Jelas Letta kesal.
Nato memutar bola mata malas/.” Jadi kalo dia ngapa ngapain loe, pukul aja biar makin bengkak itu muka." Jelas Nato mengejek Letta.
" Sana loe.!!!! bikin males!" ketus Letta mengusir Nato yang menghina dirinya. Nato hanya memberi wajah malas dan segera pergi dari kamar Letta.
Bara menggeleng pelan, menaruh tablet nya di atas meja dan mendekati letta.’' loe kelihatannya deket banget sama dia, dia kakak loe?” Tanya Bara pelan dan tenang.
Letta mendesis.” Loe loe. Kepala loe. Gue mama loe ye.” Ketus Letta kesal mendengar panggilan Bara kepada dirinya.
“ lah loe duluan yang pakek loe gue. gue nurut aja yah.” ketusnya kesal dan mendelik tidak terima pada Letta.
letta menghela nafas pelan mendengar hal itu.” gue pecat juga loe sebagai anak.” Gumamnya.
Bara mendesis melirik Letta yang begitu menyebalkan.”ini yang bikin gue nggak percaya kalo loe itu mama gue. loe nyebelin soalnya.” Jelas bara jujur. Tingkah Letta yang tengil dan mengesalkan membuat orang yang mengenal Letta lama itu jadi ragu jika dia Letta asli.
sikap mereka memang sama, tapi jika dilihat secara sekilas mereka berbeda di setiap sisi.
__ADS_1