
“ itu tolong masukin airnya..” ujar Nato menunjukan botol minuman 2liter.
Letta mengangguk segera melakukan yang di suruh Nato, memasukan air kedalam botol dengan cermat agar tidak tumpah.
Sedangkan Nato sibuk memasukan nasinya kedalam nampan yang cukup besar, memnaruh sayur dinampan lain, uap harum menyergap ruangan membuat Letta lapar, Letta mengambil telor dadar yang disebelahnya pelan plak..
Letta meringis mengusap tangannya yang di pukul Nato menggunakan centong nasi. Nato menajamkan matanya membuat letta mencebiikan bibir kebawah.
Saat Nato kembali focus ke sayur manisan Letta buru buru memasukan telor yang sedari tadi membuat dirinya tergoda yang ia comot ke dalam mulut.
“ whOhhhhh” Letta terpekik kepanasan karena telur sangat panas membakar mulutnya. Kembali memuntahkan telur dan mengipasi lidahnya yang kepanasan.
Nato melihat tingkah Letta mengernyitkan dahinya tak paham, terkekeh sejenak saat paham.” Rasain loe..” gumamnya sinis.
Letta hanya kembali melahap telur yang sudah dingin di tangannya. enyakkk...
Pergi menuju rumah sakit kembali dengan senang, Letta menuju ruang inap adiknya,, ruang inap hanya ruang biasa bukan VIP, tapi cukup bagus karena mreka mandiri kan, lalu mendapatkan Agung dan juga Nadia yang duduk di bawah sebab memang disini tak ada sofa. Agung yang memejamkan mata sembari bersandar dan Nadia yang tidur di bahu sang suami. Letta melirik Nato yang membawa semua makanan yang mereka masak
“ bapak... ibuk..”
panggil Letta menggoyangkan lengan Agung dan Nadia. Keduanya membuka mata pelan mengerjab memandang Letta. Letta menunjukin Nato yang menaro barang barang ke depan mereka.” Kalian belom makan kan? ayo makan dulu Letta yang masakin.” Ujar Letta tersenyum lebar.
Letta memejamkan mata merasakan rambutnya ditarik pasar oleh nato.” Ngomong apa loe?” Tanya Nato dingin.
Letta meringis memegang tangan Nato.” Aduh aduh iya buk pak, Nato yang masak., bapak sakit.” Pekik letta.
Agung menepis tangan Nato dari rambut anaknya, memandang Nato tajam, Nato mendesis tidak menyukai posisinya. Agung mengusap kepala letta yang berantakan. “ masih sakit sayang?” tanyanya lembut.
Letta memasang wajah melas dan mengangguk.” Drama loe..? gue nggak sekencang itu yah Jambak rambu loe..!!” seru Nato tak terima.
“ tetep aja jambak kan pak?”Tanya Letta memelas pada agung.
__ADS_1
Agung menggeleng pelan melihat tingkah mereka.” Bapak ibuk ayo makan. Letta laper, Nato nggak nyuruh letta makan di rumah katanya harus makan bareng disini aja.” Ujar Letta memegang perutnya memelas.
Agunhg dan Nadia terkekeh melihatnya.” Yaudah ayo kita makan.” Jelas Nadia mulai memberikan piring kepada letta, Agung dan Nato. Mengambil nasi dan sayur masing masing, Letta berbinar hendak mengambil dua telor tapi Nato sudah melotot duluan padanya,
Letta memajukan bibirnya dan mengambil satu telur saja, mengunyahnya kasar didepan Nato. Agung dan Nadia hanya bisa menggeleng melihat tingkah Letta dan Nato tak pernah ada akur akurnya.
“ ambil secukupnya saja, nanti jika mau lagi atau kurang kamu bisa mabil lagi Letta.” ujar Agung penuh pengertian pada letta.
Letta meringis diperingati oleh Agung, mengangguk pelan Letta kembli makan dengan nyaman. Ternyata masakan Nato enak juga yah, tak kalah dari masakan nadia.
Setengah jam keseluruhan semua sudah makan, Letta pun sama, kekenyangan dengan dua telur dan dua kali menambah. Nato melihat tingkah letta memberi wajah masam, ayahnya terlalu memanjakan dia bagi Nato.
Letta membantu Nato mengumpulkan piring kotor dan di bawa ke kamar mandi untuk dibersih oleh nanti.” Nggak bisa cuci piring juga loe?” Tanya Nato bengis. Letta memberi senyum polos.
Nato mendesis mengusap kepalanya kasar.” Nyusain loe akh. Sana sana, panas gue deket sama loe..1” mendorong Letta menjauh,
Letta menendang bokong Nato karena kesal. “ letta..!” seru Nato hampir terjungkal.
Letta tersenyum lebar.” Abisnya seru, Nato suka banget ngomel ngomel kayak nenek nenek.” Jelas letta mencibir.
“ hus, didengerin sama Nato habis kamu di marahin.” Ujar Nadia memukul tangan Letta menggeleng pelan. Letta hanya diam saja di dekat Agung.
“ oh iya uangnya udah ada.” Ujar Letta mengambil tasnya.
” Tapi nanti siang kayaknya Letta pergi duluan, buat administrasi bapak aja yah yang ngurus, Letta ada beberapa urusan.” Jelas Letta.
Agung memandang Letta dengan kening mengerut.” Tapi bapak nggak paham pakek kartu.” Jelasnya polos.
Letta menepuk keningnya.” yaudah kita urus dulu nanti Letta pergi setelah sudah ngurusnya yah. “ jawab Letta tenang.
Agung mengangguk pelan.” gimana keadaan Nemo? Sudah membaik belum?” Tanya Letta memandang ayah dan ibunya.
__ADS_1
Keduanya menggeleng pelan, “ dia masih sering ngelu sakit di dada dan susah nafas, itu tadi dia tidur karena dikasih obat sama dokter. “: jelas Nadia pada Letta pelan.
Letta memandang wajah Nemo yang pucat menggunakan oksigen sedih.” Dulu nemo memang terlahir kurang bulan, premature, bulan ke 7 harus lahir karena ibuk hampir keguguran, “ jelas Nadia pelan.
Letta memandang nadia mengerjab pelan, Nadia tersenyum tipis mengusap pipi Nemo.” Ibuk nbggak menyangkah kalo nemo bisa tumbuh sebesar ini, kalo lihat dia pas lahir, haduh ibuk jadi nggak percaya dia udah besar.” Jelasnya kembali. Letta mengusap bahu ibunya. Tersenyum tipis.
" yaudah... pak kita urus administrasi Nemo dulu yuk." ujar Letta mengalihkan atensi Nadia. tidak mau Nadia menjadi sedih. Agung paham segera mengangguk.
Agung dan Letta menuju ruang administrasi dan ruang persetujuan dan surat perjanjian oprasi, oprasi cincin jantung ini menghabiskan biaya 98juta, itu diluar dari rawat inap dan lain lain, mereka harus membayar uang awalnya 89juta beserta beberapa tambahan jadi total keseluruhan 110juta. Agung tercenung melihat uang Letta yang begitu banyak.
Tatapan Agung melihat Letta mengurus registrasi, apa yang anaknya lakukan sampai memiliki uang sebanyak ini???
barang-barang mahal itu dimana ia mendapatkan nya? apa semua hasil dari gadai rumah dan koprasi? tapi rasanya ini cukup mahal dan banyak apalagi Letta baru sudah beli rumah credit dan lain-lain.
Ingin rasanya Agung bertanya tapi apakah anaknya nanti tidak tersinggung? Apakah anaknya akan terasa tertuduh?? Agung tak mau membuat Letta tak nyaman.
“ yuk pak.” Ajak Letta keluar dari ruangan admistrasi.
Agung mengangguk pelan segera keluar dari sana usai pengurusan berkas. Agung melirik Letta yang memasukan kartu ke dalam tasnya pelan.” letta... kamu dimana dapat uang secepat itu? apa barang yang kamu sudah terjual?” Tanya Agung kepada Letta.
Letta mendengarnya memandang lain arah mencari jawaban,” letta minjem dulu duit temen sembari nunggu pembeli pak, nanti Letta ganti uangnya dia.” Jelas Letta dengan Agung meyakinkan.
Agung mengangguk pelan, mencoba percaya meskipun hatinya berdusta. Agung memegang bahu anaknya tenang.” Kita orang miskin nggak punya apa apa kecuali harga diri nak.” Jelasnya tegas.
Letta diam memandang Agung dengan pandangan Tanya.” Tidak ada lagi yang kita miliki kalo kita tidak punya harga diri., kamu anak kuat dan anak yang paling bapak sayang, mau bagaimana pun tolong jangan jual diri yah.” jelas Agung pelan.
Letta melebarkan matanya.” bapak mikir letta jual diri?” Tanya Letta shok.
Agung memandang letta polos.” Nggak, bapak Cuma nasehatin..” gumam Agung pelan.
“ nasehat bapak kayak nggak percaya sama Letta ih....” jelas Letta meremas tangannya sendiri. Agung jadi gelagapan dan takut.
__ADS_1