
Tak jauh dari sana, ada Bima yang melihat segalanya, sebenarnya Bima tidak tega melakukan hal ini pada anaknya, apalagi melihat Brayen yang di pukul oleh sang kakak, bagaimana Brayen yang dipukul oleh saudaranya sendiri dirinya lihat.
“ tuan? Apakah ini tidak kelewatan?” Tanya supirnya menatap Brayen tak tega.
Bima menghela nafas pelan membuang muka.” Ini yang terbaik.” Jelas Bima.
“ tapi tuan muda terluka tuan, mata nya berdarah.” jelas supurnya dengan tegas. Bima tak ambil suara, tangan Bima terkepal. dirinya Bukan ayah tak bertanggung jawab atau tanpa belas kasih terhadap anaknya. Tapi anaknya yang memaksa dirinya menjadi begini.
Ingat ucapan letta tempo lalu sebelum dirinya pergi dari rumah. “ om tidak tegas kepada mereka sehingga mereka menjadi pembangkang. Om pernah tidak mengajarkan kepada mereka jika hidup itu bukan sesuai apa yang mereka impikan tetapi sesuai apa yang ditakdirkan..!” tegas Letta kepada Bima kesal. Mendengar cerita Bima tentang anak anaknya yang membangkang dan durhaka letta kesal.
" Jika saya keras mereka akan jauh lebih keras dan menjadi pembangkang. Saya lembut dan baik saja mereka membangkang apalagi jika saya jelaskan. nggak semua harus pakai kekerasan Letta!" Jelas Bima tenang.
" Justru itu, nggak semua harus pakai kekerasan tapi sebagian memang harus pakai kekerasan Om sayang!!!" gumam Letta geregetan pada Bima. Bima ini papa eble. jadi apa-apa dari anak di turuti.
Bima menghela nafas mendengar Letta yang marah.” Bagaimana jika om bilang saja sama mereka jika ibu mereka itu yang pergi dan menikah lagi, dia memilih meninggalkan om dan anak anak untuk laki laki lain, ? Biar mereka tau jika yang salah itu ibu mereka bukan Om.” Tanya Letta kembali kepada Bima.
Bima menggeleng pelan.” om nggak tega baby, mereka terlalu menyayangi ibunya, jika ditinggalkan ibunya saja mereka menjadi pembangkang apalagi kelak jika mereka mengetahui orang yang selama ini mereka banggakan sama sekali tidak pantas. Om tidak mau mereka merasa sedih.” Jelas Bima tegas.
Letta memijit pelisnya terasa pening.” Ini nih kalo hidup banyak mendang mending nya, banyak mikirnya, mikirin perasaan anak anak om sedangkan mereka sama sekali nggak mikirin perasaan om, yah ini. karena om nggak beri mereka kesempatan buat mikir perasaan om, om terlalu memanjakan mereka dan selalu mengutamakan mereka, mereka jadi lupa kalo mereka itu anak da nom bapaknya. Harusnya om pukul pakek rotan atau cambuk biar mereka ada takutnya sama om.” Tegas Letta kesal.,
Bima mendelik melirik Letta yang bicara begitu sadis,” hei. Kau mengajarin om yang nggak baik? mana boleh begitu kasar kepada anak anak letta.” jelas Bima tegas.
Letta berdiri menatap bima dengan kesal.” He om, anak itu nggak boleh di biarin jadi pembangang, kalo mereka bentak om harus lebih keras suaranya, kalo mereka membangkang memukul atau nggak menurut om harus buat mereka menurut, didik anak nggak mesti dibaikin, dibaikin itu untuk anak anak yang menurut, kalo anak membangkang jangan, bisa bisa bunuh om nanti.” Jelasnya tegas.
“ jadi saya harus bagaimana menurut kamu letta?” Tanya Bima lemah.” Saya nggak tau harus gimana lagi, saya sudah berlaku lembut mereka tetap membangkang, kasar pun tetap menuduh saya hal tidak tidak., saya juga serbah salah jadi ayah.” jelas Bima frustasi.
“ kan udah Letta bilang, bongkar aja sama mereka kalo ibu mereka itu nggak mati, dia udah nikah dan punya anak. Dia yang ninggalin om sama mereka.” Tegas letta serius. " Anak-anak durhaka kayak mereka nyusahin aja!" Ketus Letta kesal.
Bima menggeleng tegas.” Nggak semudah itu letta, mereka juga mungkin nggak akan percaya sama saya dan akan semakin membenci saya., mereka itu terlalu memuja ibunya, dan meng ibliskan saya sebagai ayah. “ tegas Bima frustasi kepada Letta yang ngotot.
Letta menghela nafas, menguras emosi juga rupanya. Diam sejenak memikirkan cara lain, tangan letta menjentik pelan.” gimana kalo om marah dan cabut akses semua mereka, dan buat mereka sengsara?” jelas letta dengan berbinar.
Bima memandang letta ragu dan tak bisa bersuara lebih dalam, “ kemaren sudah om lakukan.” Jelas Bima pelan.” semua akses fasilitas sudah om hilangkah kepada mereka, om juga Cuma kirim uang sepuluh juta.” Jelas Bima dengan pelan.
Letta menghela nafas pelan dan malas.” Kalo hentikan fasiilitas itu artinya om hapus semuanya, nggak kirim uang, nggak kirim sedikitpun, seribupun nggak boleh, om juga nggak boleh kasih bawa mobil dan motor.” Jelas Letta tegas.
Bima mendengar hal itu mengernyitkan dahi memandang letta dengan heran. Letta menggeleng pelan.” om terlalu baik dan lembut, coba sesekali om kasar sama mereka dan ajarin buat hidup mandiri, mereka nggak akan paham sebelum mereka ngerasain sengsara.” Jelas Letta menggebu gebu.
Bima mendnegar hal itu diam sembari berfikir.” Kamu ada ide baik? saya akan mendengarkan jika itu yang terbaik untuk anak anak saya.” Jelas nya tenang. Di sana Letta tersenyum smirk dan memberi wejangan pada Bima.
Awalnya bima merasa itu hal buruk, sampai mengusir anaknya tanpa uang, lalu Letta mengatakan hal tegas jika itu bukan lah hal salah, itu benar.
__ADS_1
Selagi untuk kebaikan anak-anaknya itu benar. Untuk pelajaran kepada anak-anaknya jika mereka hidup dengan kemewahan karena pemberian ayahnya.
Bima hanya mengangguk mengiyakan meski hati menolak, tetapi lambat laun semua yang dilakukan anaknya semakin membuat Bima muak, mengingat apa kata letta, ia melakukan semua yang di sarankan, di awali tak memberi uang, mengambil semua fasilitas, dan terakhir pura pura menjual rumah itu. lihat bagaimana keadaan anak anaknya.
itu cukup menyakitkan dirinya.
Xior memandang kedepan, dimana Gunawan yang memasuki ruang rapat pagi ini, memang mereka bekerja sama, tetapi Zeyn tiba tiba mengambil kembali saham miliknya di perusahaan milik Gunawan, karena Zeyn mengambil kembali sahamnya membuat beberapa orang juga mengambil saham mereka. Semua itu menyebabkan saham milik Gunawna turun drastis dan mereka mengalami bangkrut.
Hal ini membuat Gunawan mengundang investor agar meminta kejelasan mereka mengambil saham mereka, wajahnya sudah lusuh dan pucat akibat tak tidur semalaman, ditambah kabar anaknya yang buruk.
Anaknya Sunja hilang entah kemana sampai sekarang belum di temukan.
Satupun tidak ada yang datang kecuali Zeyn dan Xior di undangan kali ini.” terimakasih tuan Zeyn.” gumam gunawan memelas pada Zeyn, hanya Zeyn satu satunya harapan miliknya saat ini.
Zeyn tersenyum miring meliuhat Gunawan.” Bagaimana keadaan tuan? Terlihat cukup buruk.” Jelas Zeyn dengan pelan. Gunawan tersenyum masam, paham ejekan Zeyn.
.......
Brayen mengerjab pelan menatap kedepan, rasanya sakit sakit dan dirinya tidak bisa melangkah lagi, sudah satu kilo dirinya berjalan dengan keadaan buruk,
“ HOY...” teriak Bastian menenteng tepung,.Minyak dan beberapa barang untuk jualan menatap Brayen yang berjalan dengan mata yang membiru dan darah yang membeku.
Brayen menggeleng pelan di sana, segera menjauh. Malu untuk bicara atau bertemu dengan Bastian, bastian melihat hal itu menaiki alisnya,
Lihat bugh.. Brayen terjatuh di jalan dengan keadaan pingsan, di depannya. “ lah pingsan?” Tanya Bastian dengan mendekati Brayen.
" Ngapain tidur sini??" Tanya Bastian menyenggol kaki Brayen menggunakan ujung kakinya. tapi sepertinya Brayen beneran pingsan " Bangun oy jangan tidur di sini!!!" Serunya Bastian kembali.
” Haisss...Tinggalin aja lah.” Gumam Bastian mengangkat bahu acuh meninggalkan Brayen. Toh siapa Brayen sampai dirinya mau membantunya bangun?
“ hoy.. loe apain tu orang?.” Teriak orang berdatangan.
Bastian di sana kaget segera mendekati Brayen.” Nggak, gue temennya, dia tiba tiba pingsan.” Jelas Bastian gelagapan.
Dia takut di tuduh macam macam. Mereka segera mendekati bastian dan membantu mendudukan brayen.” Dibawa kemana ini? aduh matanya bengkak. “ jelas beberapa warga.
“ loe tonjok ya?” Tanya wanita baya di sana dingin.
“ enggak woy. Sembarangan aja... “ jelas Brayen menggeleng buru buru menolak tuduhan.
” Terus kenapa dia sampek pingsan sama mata biru begini?” Tanya warga kembali.
__ADS_1
“ mana gue tau, ketemu tadi dia udah diem baek, gue Tanya nggak dijawab.” Jelas Bastian tegas.
“Dia nggak mungkin pingsan kalo nggak di apa apain..” teriak warga.
Bastian di sana gelagapan dikarenakan di tuduh.” Ada apa yah pak?” Tanya Nato mendekat, menatap mereka dengan heran, ditangannya juga membawa bahan di supermarket lebih banyak.
“ ini gue di tuduh nonjok nih orang.” jelas Bastian menendang kaki brayen kesal.
” Nah tuh kan.” seru warga, Bastian gelagapan segera mendekati Nato dan bersembunyi dibelakangnya.
Nato di sana melebarkan matanya,” eh eh.” Gumamnya menatap wajah Brayen yang bengkak, melirik Bastian dengan bertanya,.
” Sumpah gue nggak ngapa ngapain, tangan gue aja masih megang belanjaan kita.” jelas Bastian menunjukan tangannya.
Nato menyetujuinya pelan, mengangguk pelan menatap warga.” Dia temen sekolah kita pak, kami juga baru pulang dari supermarket buat beli barang yang kurang. Bisa minta tolong bawain temen kita ke rumah kita aja nggak??? “ Tanya Nato pelan dan sopan.
" Kalian nggak boong??" Tanya salah satu yang lain.
Nato menggeleng tegas" Bener kami tidak bohong!" semua saling lirik, sebenarnya tidak percaya tetapi karena tidak ada yang mau bertanggung jawab mereka jadi setuju
Mereka berunding dan mengangguk, mereka menyetujui membawa Brayen ke rumah nato dan bastian. Bastian mendesis, niat hati ingin melewati Brayen saja malah dibawa pulang. rasanya Bastian tidak sudi dan tidak senang sekali jika begini.
Melihat nato yang berjalan ke rumah, jarak rumah paling sepuluh menit sehingga saran dari warga untuk bawa pakai mobil aja. Untunglah setidaknya mereka tidak jalan kaki, beberapa menit mereka sudah sampai di rumah, di sambut dengan Agung di depan dapur.
Menatap mereka aneh sebab turun dari mobil., tapi di susul Nato yang mengangkat tubuh seseorang, Bastian membawa semua belanjaan mereka yang tadi dibeli. “ loh itu siapa?” Tanya Agung heran kepada Nato di sana.
“ bentar pak.. kita ke rumah dulu.” Jelas nato.
“ itu pak sampah dibawa smeua sama Nato. Harusnya dibuang ke sungai malah di bawa pulang.” jelasnya bastian mencibir.
” He ngak boleh ngomong gitu.” Jelas Agung pelan. Bastian mengatup bibirnya pelan, melirik Agung kesal, anak sama bapak sama saja, sama sama susah di bilangin.
“itu kenapa Nato?” Tanya Letta kepada Nato yang menidurkan seseorang di sebelahnya, menaiki alisnya,. Ia kaget. Brayen.
“nggak tau, tadi kata bastian tiba tiba pingsan, mana bastian di tuduh yang buat dia begini.” Jelas Nato dengan pelan pada Letta.
Letta mendnegar hal itu menaiki alisnya, diikuti Bastian dan Agung, sedangkan Udin dan Beta sudah kuliah. Bastian saja yang bolos, dan memilih tinggal dengan keluarga letta di sini,
" Loe!???" Tanya Letta melirik Bastian mendelik
“ Gue beneran nggak ngapa ngapain dia wey, sumpah. Dia gue Tanya ngapain, eh malah pingsan.” Jelas Bastian dengan tegas. Dirinya serius.
__ADS_1