
“ bagaimana Zeyn? Kamu sudah menemukan Letta?” Tanya Genta pada Zeyn, sudah hampir satu minggu ini mereka mencari Letta, sama sekali tidak ditemukan.
Zeyn mengangguk pelan.” iya ma... Letta Sudja pindah rumah.” Jelasnya Zeyn pelan.
Genta dan Bita menghela nafas pelan.” syukurlah jika begitu, kita harus kesana mengajak Fajar untuk meminta maaf atas tingkah laku bajingannya.” Jelas Genta melirik dingim Fajar yang diam saja.” Di suruh ikuti dan Tanya alamat milik Letta saja tidak dapat. Anak ini.” tegasnya mendesis.
“ udah pa. ayo kita siap siap, ini nanti malam kita akan ke rumah letta.” jelas Bita.
Awal mula dari mereka ke rumah letta, mereka kaget awalnya melihat rumah Letta yang sederhana dan benar. Rupanya Letta anak tukang penjual gorengan biasa, tapi ramai, bahkan sangat ramai sehingga warung itu sangat berisik, mereka harus meninggu sampai malam dan jualkan mereka habis baru bisa turun dan menyapa kedua orang tua Letta.
“ ini rumah Letta buk?” Tanya Bita pelan pada Nadia yang sedang mengelap meja.
Nadia melirik mereka dengan sopan dan heran.” Yah buk? Apa anak saya bikin masalah?” Nadia terbiasa akan Letta yang membuat masalah, jadi tak heran jika ada yang ke rumah karena meminta petanggung jawabannya teradap apa yang anak gadisnya lakukan.
" Oh tidak buk hehe. Mari kita biacara sejenak." gumam Bita pada Nadia tak enak. " Saya Bita ibu dari Zeyn pacar Letta!!!, ''Ujarnya membuat Nadia Shok.
Terjadi perbincangan hangat mereka. Orang tua Zeyn menceplos akan pertuangan antara Letta danZeyn sehingga baik Agung dan Zeyn terdiam sulit bicara, di tambah fakta lain bahwa anak mereka si bungsu meninggalkan putrinya di jalanan. Agung benar benar marah Cuma ditahan saja. Sampai Letta pulang barulah mereka kembali bicara dan di bawa ke rumah.
Baik Letta dan keluarga Zeyn sudah duduk di sofa depan rumah, di ruang tamu, dengan camilan apa adanya dan minuman, jangan Tanya rumah Letta ,macam mana, yang jelas, nyaman, hangat dan lengkap karena siapa?
Karena Om BIMA..!!! hahaha.
__ADS_1
“ bagaimana keadaan kamu Letta? bioleh om cek luka kamu nggak?” Tanya Genta kepada Letta yang duduk di dekat agung, dan juga Nadia. Letta melirik Agung dan Nadia, keduanya mengangguk menyuruh letta mendekat.
Letta mendekat menunjukkan lukanya yang sudah di lepas kain kasa, sehingga luka kahitan tusukan terlihat jelas, bagian leher. Bita sampai meringis memejamkan mata, itu sangat terlihat bahkan menghitam segaris dengan garis leher.
Letta juga menunjukan kakinya yang sudah bolong dan beberapa yang dijahit dan juga yang sudah mengering. “ nak Letta kami benar benar minta maaf atas apa yang dilakukan anak bungsu kami. Kami sangat kecewa dengan dia yang sudah membuat nak Letta berada di posisi ini.” jelas Genta kepada Letta sayu. Malu sebenarnya tapi mereka keluarga yang beretitut, paham akan tata karma dan sopan santun.
Agung disana hanya diam membuang muka, terlihat sangat emosi, Zeyn hanya diam menatap luka luka milik letta dingin. Letta menghela nafas pelan.” saya nnggak mau maafin Fajar tapi saja nggak benci om tante kok.” jelas Letta.
Genta dan Bita mendengarnya tak bisa menyahut apapun, memaksa Letta pun tidak bisa sebab anaknya memang salah.
Toktok..” permisi..” siiara dari depan mengalihkan tatapan mereka, Fajar datang bersama Brayen, Fahmi dan Renja. Ketiganya memandang mereka dengan pandangan gugup.” Sini Re ja. Dari mana kamu.” Ujar Genta melihat anaknya malah bawa rombongan.
Fajar masuk dengan tak enak hati, bersama teman temanya yang ikut dari belakang, “ tadi Fajar ke ..”
“ iya pak. Terus pak.” Ujar letta menggebu melihat Agung menghajar Fajar hingga Fajar dibawahnya dan Agung memukulnya berkali kali.
Letta melihat ayahnya yang selama ini lembut penuh dengan perhatian menjadi melihat sisi monster sang ayah, rupanya ayahnya kejam juga.
“ Letta..!” Tekan Nadia memukul kepala Letta yang malah mendukung ayahnya. Letta cengengesan melihat nadia menatapnya tajam. tangan Agung tidak bisa dipegang karena uratnya bahkan menonjol dimana mana. Genta dan Zeyn pun tidak ada niatan menghalangi nya menghajar Fajar. sampai Letta menahan tangan agung dengan sama kuatnya dann menggeleng.
” udah pak... nanti anak orang metong.” Ujar Letta dengan melotot. Agung seperti orang kesetanan,
__ADS_1
“ biarin aja Letta, saya kalo jadi ayah kamu juga bakal saya babat habis kulitnya dia. “ jelas Genta menatap Letta kesal, sama sekali tidak peduli anaknya, tapi beda dengan hatinya, ia merasa kasihan. sedangkan Brayen , Fahmi dan Renja diam meneguk saliva kering melihat ayah Letta dan keadaan Fajar yang menyedihkan.
Agung menghela nafas pelan dan menjauh dari sana, membiarkan Fajar tergeletak meringis merasa perih di tubuhnya, pipinya. Sangat perih dan sakit menggerayangi tubuhnya. “ andai saat itu anak saya mati, habis kamu ditangan saya.” Jelas Agung menendang kembali kaki Fajar. Fajar meringis dan Letta menatap Agung silau. Wah ayahnya keren..!!
Agung letta ajak duduk kembali di sofa bersama mereka membiarkan Renja, Brayen dan Fahmi berdiri di dekat Fajar, mereka membantu Fajar untuk duduk dan berbisik ria.
“ duh saya nggak paham lagi pak, saya biarkan bapak mau ngapain anak saya ini. saya paham anak saya memang sangat salah.” Jelas Genta kepada agung lirih.
” Bahkan jika bapak mau penjarakan, saya akan dukung.” Jelas genta. Teman teman fajar melotot mendengar hal tersebut,
Agung menghla nafas pelan menghilangkan emosi mendera di hatinya, “ jika saya bunuh saja boleh?” Tanya Agung dingin.
Bita menggeleng bersama Genta.” Maaf bapak, jika itu tidak bisa, kami hanya punya dua anak.” Jelas Genta meringis.
Agung membuang muka kesal mendengarnya. Nadia melihat keadaan suaminya kesal pun menatap mereka lirih.” Maaf yah pak bu, letta ini putri satu satunya kami, apalagi ayahnya sangat menyayangi Letta, apapun yang Letta akan dia turuti, bahkan sekalipun tidak pernah kami memukul atau bahkan menamparnya sata berbuat masalah,. Sebesar apapun masalah yang Letta buat, tidak akan pernah ayahnya bermain fisik. Ayah mana yang tidak sakit putri kesayangannya dalam keadaan berbahaya karena pria lain.” jelas nadia lembut,,
Bita mengangguk paham.” Saya mati matian besarkan anak saya sejak kecil, kamu tau fajar.” Ujar Agung melirik Fajar yang tak berdaya, hanya merasakan sakit dan terduduk lemas di bantu temannya, Fajar diam menatap Agung.
Agung menunjuk dadanya.” Pagi, siang, malam saya kerja buat bahagiakan dia, dan kamu mau buat anak saya mati. Kamu mati ditangan saya bisa.” jelas Agung bahkan matanya memerah menatap Fajar. Fajar menelan saliva kering mendengarnya. “ saya bapaknya aja nggak pernah memukul dia, kamu kurang ajar sekali jadi orang. “ jelasnya kembali berlanjut.
" Kamu memberi dia makan tidak, menyekolahkan dia tidak. siapa kamu sampai bertindak mencelakai anak saya???" Tanya Agung tegas kembali pada Fajar yang setengah menyimak karena terganggu dengan rasa perih di wajahnya.
__ADS_1
" Saya tanya sekali lagi. siapa kamu sampai berani memukul dan melukai putri saya? Apakah pernah putri saya memukul kamu??" Tanya Agung kembali lebih membentak hingga meja di depannya ia pukul. Fajar memejamkan mata takut.
Baik Bita, Genta maupun Zeyn hanya diam tak banyak ambil suara. Mereka paham disini peran Agung adalah ayah dari Letta. Dan jika mereka di posisi agung juga akan melakukan hal yang sama.