Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Keinginan untuk pergi


__ADS_3

Berselang beberapa saat bidan datang, bidan perempuan segera diberi ruang untuk merawat Tama. Letta sendiri memilih duduk di depan kamar Tama menikmati teh yang di sajikan Sarah, ada pisang goreng juga membuat Letta diam dengan keindahan yang ia nikmati di depannya.


“ nona..” panggil Ningsih.


Letta meliriknya kesal. Tadi mbak sekarang nona. “ itu lukanya obatin dulu sama bu bidan. Nanti tambah parah loh,.” Jelas Ningsih kembali polos pada Letta.


Letta berdehem ingat luka miliknya sendiri. Ia mengangguk segera masuk, ia juga butuh obat.


.....


Di sisi lain. Brayen sendiri mendapakan kirimanan seseorang yang entah dari mana, dimana sang ayah, dan kakaknya bertemu ibu kandungnya. Brayen lemah di rumah Letta memandang itu semua, yah dia tetap di rumah Letta sebab tak tau harus kemana, ia juga malu berkata kepada teman temannya jika dirinya di usir.


Brayen tak enak hati melirik orang tuanya Letta yang masih sibuk mencari dimana letta. frustasi semua orang disana juga membuat Brayen semakin frustasi.


Brayen menghela nafas pelan, sakit rasanya mendengar semua keberan yang dirinya dapatkan, bukan apapun yang dirinya salahkan, ia menyalahkan dirinya yang sudah menyia nyiakan seorang ayah yang begitu baik dan tulus, tidak pernah menyalahkan siapapun dan tetap merawat mereka sebagai anak durhaka. Brayen terlalu banyak salah kepada Letta. dan Brayen menyadari hal itu semakin sedih dan sakit. maafkan dirinya.


Agung menghela nafas pelan, kepalanya pusing dan pening.” Bapak minum obat dulu sini. “ jelas nadia.


” Bapak nggak bisa tenang kalo Letta belum di temukan. ‘” jelas nya menolak.


Nadia menggeleng tegas.” Letta pasti baik baik aja, jadi bapak nggak boleh nggak baik baik aja. Biar nanti pas Letta pulang bapak sehat. Ayo pak minum obat dulu.’” Jelas Nadia lembut.


Agung diam memandang kosong kedepan, lelah, sudah dua hari memauski tiga hari anaknya tak pulang, agung tidak pernah marah jika berita itu benar Letta, dirinya hanya kecewa, tetapi bukan berarti dirinya akan menghukum Letta, mengapa Letta begitu tega menghukum dirinya begini..


...----------------...


“ pakar Genhinda menyatakan jika kabar dari foto Letta Yonarsa itu adalah editan, begini penjelasan selengkapnya..”


Bastian di dalam kelas memandang Hpnya yang baru saja berbunyi, begitu juga yang lain, mendapatkan Link dan beberapa penjelasan mengenai foto foto yang tersebar di poster dan social media tentang Letta.


Letta bahkan hampir terjerat pasal akibat konten tidak benar, di sana dijelaskan dari pakar ahli jika foto dan video adalah editan, itu bukan Letta, mengenai dari kontras tubuh dan beberapa banyak hal yang membuktikan jika itu hanya tubuh orang lain di satukan dengan wajah Letta, lebih tepatnya ini di buat secara alami.

__ADS_1


“ jadi itu beneran editan?” gumam Bastian serak dan merasa bersalah.


Sama dengan Betta di sebelahnya yang nanar dan juga merasa bersalah.” gue juga nggak yakin sebelumnya sih, soalnyakan Letta tu yah di deketin sama cowok aja sulit masa jual diri. Kalian aja temen masa nggak tau karakter temen kalian sendiri.” Jelas Syafira di sebelah mereka kesal.


“ loe ngomong apa sih?” Tanya Bastian kesal.


Syafira melirik bastian mencibir.” Sekarang Letta udah hilang karena di tuduh dan di fitnah, nggak ada yang mau percaya sama dia. Gimana kalo diam diam dia bunuh diri karena kalian?” Tanya Syafira kembali.


Bastian menatap syafira dingin.” Mulut loe mau gue jahit?” tanyanya dingin. Syafira hanya terdiam di sana.


....


Letta memandang bidan kampong ini tenang. Bidan mengangguk pelan dengan diagnose miliknya.” Kamu ada memiliki kelainan jantung sebelumnya atau tidak?” tanyanya melepaskan Stetoskop ditelinganya dan segera duduk di ujung kasur. Ruang ini sepi, hanya ada dirinya dan bidan.


Letta hanya diam tak menjawab membuat bidan melirik Letta kembali. “ detaknya cukup tidak normal, silahkan kamu melakukan pengecekan lebih lanjut di dokter terkait. Dan untuk luka luka kamu, di kaki cukup bengkak dan rentan terinfeksi. Tolong untuk beberapa hari ini jangan banyak gerak, kaki kamu bisa saja membusuk dan di amputasi jika kamu paksa juga.” Jelas bidan kembali tegas.


Letta melirik kakinya. Memang sialnya sudah berkali kali membengkak dan sekarang membiru.” Saya pasang gift saja yah biar kamu tidak banyak gerak. Resikonya cukup besar, jangan menyepelehkan diri kamu sendiri.” Jelas bidan kembali.


Letta hanya diam mendnegar semuanya, bidan cukup kesal melihat Letta yang diam saja.” Kamu maaf tidak bisa bicara?” tanyanya lagi.


Kaki letta kembali di gift, Letta biarkan saja, dan lengan yang terluka untungnya tidak terbuka jahitannya, hanya berdarah saja jadi tak ada yang perlu dijahit lagi, . bidan memberi salep di beberapa bagian luka letta dan meninggalkan salep.” Oh iya.. nama kamu letta yah??? nama saya Jasmine..” jelas perempuan itu tersenyum tipis.


Letta melihat senyum itu mengangguk pelan. wanita cantik dan anggun di depan nya ini cukup baik baginya. “ cukup segini dulu yah. saya permisi letta, semoga lekas sembuh yah.,” jelas bidan mengisap pelan kepala letta, ia terlihat jauh lebih tua dari letta memang.


Letta mengerjab memandang Jasmine. Ia hanya memberikan wajah datar tampa perubahan,.


“ tolong jangan beri tahu apapun tentang pemeriksaan ini kepada siapapun, bilang saja kaki yang terkilir. “ jelas letta pada Jastin.


Jastin tertegun melirik letta.” loh kamu bisa bicara?” tanyanya mengerjab pelan. dirinya pikir letta bisu mangkanya ia tidak bicara sama sekali saat ditanya.


Letta menggeleng pelan.” saya bisa bicara.” Jelas letta tenang.

__ADS_1


Jasmine mengangguk kaku mendengar jawaban letta yang terkesan kaku. “ Baik. jika butuh sesuatu kamu bisa hubungi saya oke.” Jelas Jasmine tenang. Letta berdehem pelan melirik Jasmine, Jasmine mengangguk kaku dan segera pergi dari sana,


Letta menghela nafas pelan segera duduk memandang kakinya yang di Gift, Letta memegang dadanya yang terasa nyeri. Sialan, bahkan di hidup keduanya ia tetap harus merasakan sakit di jantungnya. Letta jadi ingat keadaan dirinya yang mengungsi sendiri tampa ada yang mengetahui dirinya.


“ bener kata Ragiel.” Gumam Letta menatap lamban ke kakinya.” Nggak ada yang harus kita harapkan dari orang lain, karena pada dasarnya berharap sama orang lain artinya menambah permasalan yang akan datang di hidup kita... potensi merasakan sakit dan hancur akan lebih besar.” Gumam letta pelan. rasanya letta merinduykan Ragiel.


“ Letta... ingat, tidak ada yang kamu harapkan kepada orang lain, tidak boleh, sebab hati itu bersifat lunak, mudah sekali hancur dan goyah. Jika kamu berpegang pada perasaan, hati. Maka kamu akan hidup dalam kesulitan dari apa yang kamu perbuat. Sesulit apapun hidup, akan menjadi tambah sulit jika itu menyangkut dengan perasaan. Jadi berhenti melakukan kesalahan dalam perasaan.” Jelas Ragiel dingin sembari menatap Letta yang terjatuih di lantai sembari menangis memegang dadanya yang sakit.


Letta memandang Ragiel nanar sat Ragiel mengontrol perasaan dan jantungnya yang ia letatkkan Cift. Letta menggeleng pelan melirik temannya yang mati di depannya sendiri karena di bunuh oleh Ragiel.


“ kau jahat... kau menjadikan aku robot. Berhenti membunuh siapapun yang aku sayang.” Teriak letta tertahan sebab sakit di dadanya.


Ragiel tersneyum miring.” Aku hanya mengurangi potensi kau sakit hati, biarkan dia mati dan kau tak memiliki perasaan sayang.” Jelas Ragiel dingin kepada Letta.


Letta hanya bisa mengepalkan tangan, menelan pill pahit dari yang ia jalankan. Ragiel tidak pernah membiarkan dirinya hidup dalam kebahagiaan. Setiap orang yang dirinya sayang akan di bunuh sehingga letta harus berdiri dengan telapak kakinya sendiri.


Letta harus terpukul dengan perasaan dirinya yang harus menghindari rasa bahagia, Letta tidak mengenal apa itu bahagia, mengenal apa itu kasih sayang. Ragiel jahat, itu yang letta pikirkan. Ragiel egois dan monster.


Saat ini letta hanya bisa menelan pill pahitnya, “ pada akhirnya yang Ragiel bilang benar, luka paling sakit itu tentang perasaan, dan gue naruh perasaan terlalu dalam di kebahagiaan.” Gumam Letta lemah. Yah letta sadar yang Ragiel dulu lakukan rupanya tidak seburuk yang dirinya pikirkan. Andai saat itu Ragiel tidak menaruh Cift di jantungnya, bisa jadi letta tidak akan jadi melakukan balas dendam. Letta tidak akan pernah menjadi monster di setiap tindakan karema terlalu mempunyai perasaan, bisa jadi juga dirinya jatuh cinta kepada anak bungsu dari musuh.


Benar kata Ragiel, jika ragiel hanya menekan perasaan letta agar tidak jatuh cinta sebelum dendam itu terbalaskan, sebab musuh paling berat dikalahkan adalah cinta itu sendiri. Dan letta tersadar saat Ragiel sudah tiada. Letta harus berterimakasih kepada Ragiel.


“Letta.” Letta melirik Zeyn yang datang dengan stelan jas miliknya tenang memasuki ruangan, bersama tangan kananya yang letta tidak ketahui sampai sekarang siapa namanya.


Tetapi aura dia buruk, hitam, senyum yang dia lampirkan bahkan mengandung arti cukup jelek. “ bagaimana keadaanmu?” Tanya Zeyn menatap kaki letta yang t di Gift.


Letta menggeleng pelan.” sudah cukup baik. “ jelas Letta menghela nafas.


Zeyn mengangguk pelan duduk di dekat kaki letta.,” sudah tenang dan mau pulang?” Tanya Zeyn pelan.” orang tuamu mencari mu, mereka mengkhawatirkan kamu.” Jelas nya pelan kembali.


Letta memandang manik mata gelap milik Zeyn, Zeyn ini jahat Letta tau itu, tapi Letta sadar dirinya juga orang jahat karena itu tak membenci Zeyn. mereka sama sama di sikap yang jahat. Haha letta jadi ingin tertawa. “ Gue nggak mau pulang. gue Cuma mau kasih surat aja sama mereka bisa?” Tanya Letta pelan kepada Zeyn.

__ADS_1


Zeyn menaiki alisnya memandang letta penuh pertanyaan.” Kamu mau tetap di sini selamanya?” Tanya Zeyn pelan dan serak.


Letta menarik saliva kering dan menggeleng.” tidak tau, tapi aku akan kembali di waktu yang cukup lama, entah di sini entah di suatu tempat.,” jawab Letta pelan.


__ADS_2