
Letta mendengar hal itu kaget,
Udin mengangguk mengingat dua hari yang lalu dimana mereka di pagi hari kaget sudah ada Fajar dan temannya yang ada di kokasi, “ kalian ngapain ke sini???” Tanya Bastian kesal sembari Sudah menggunakan baju pelampung lengkap.
“ bukan urusan loe.” Ketus Brayen dingin pada mereka.
Udin tidak terima di ucapan begitu.” Urusan gue dong. Kalian kan nggak suka sama letta, jangan jangan kalian yang buat Letta kecelakaan..” tegas Udin kepada ketiganya.
Fajar tak terima menunjuk wajah Udin dengan telunjuknya tak senang.” Loe nggak usah sembarangan yah. gue ke sini mau bantu cariin letta.” tegas Fajar menaikkan okta suaranya.
Hahaha. Bastian dan Udin tertawa mengejek dibuat oleh fajar.” Sejak kapan kalian peduli sama Letta? selama ini perasaan kalian paling suka lihat Letta di siksa dan menderita karena dendam kalian yang nggak jelas itu.” jelas Bastian remeh.
“ gue emang benci sama dia, tapi bukan berarti nggak peduli sama dia, kita tetep aja manusia saling tolong menolong. “ jelas Brayen kepada bastian dan udin tegas.
“ loe ngomongin apaan? Manusia saling tolong menolong?? Bukannya loe yang suka bikin Letta sengsara? terus sekarang ngomong soal kemanusiaan, kemanusiaan loe selama ini kemana? dimakan rayap?” Tanya Udin remeh.
“ udha udah.. kalian bubar bubar.” Jelas Betta yang ada di sana buru buru mendekati kelima yang sedang rebut.
“ dia mulai duluan.” Jelas Brayen pada Betta kesal.
“ kita nggak mungkin ngomong gini kalo bukan sama kalian, kalian tu masalah di hidup Letta tau nggak.” Tegas Udin dingin.
” Lebih baik kalian pulang..!” tegas Bastian menunjuk arah atas jalanan mengusir mereka.
“ loe nggak bisa ngatur kita seenaknya gitu, kita di sini udah sewa pelampung dan juga detektif buat nyari dia.” Jelas Brayen dingin.
Udin dna Bastian membuang muka mendengar hal itu, wajah mereka sangat meremehkan ucapan Brayen dan juga teman temannya yang sok sokan ingin membantu mencari letta.
“ udah udah. Biarin aja, selagi bisa bantu kita cari dimana Letta kan.” jelas Betta kepada teman temannya membujuk. Udin dan Bastian saling tatap dan memilih pergi saja dari sana.
Brayen dan fajar di sana menatap mereka penuh intimidasi, sedangkan Renja hanya diam memanang air sungai yang begitu deras, jika saja posisinya Letta terluka dan terjatuh ke sungai, sudah pasti ia akan hanyut dan tak akan selamat batinnya, hati Renja sakit memikirkan hal demi kian.
..., Of flashback
“ syukurlah kalo loe di selamatkan sama tuan Zeyn.. kita seneng dengar kalo lo udah baik baik aja.” Jelas Bastian mengusap kepala Letta sayang.
Letta mengerjab pelan menatap Bastian dan udin.” Siapa yang bilang sama kalian kalo gue udah fine?” Tanya Letta heran.
“ kemaren Nato ke tempat pencarian dan bilang sama kita kalo loe udah fine dan pulang hari ini, karena itu kita ke sini juga buat jenguk loe.” Jelas betta di sana.
” eh btw dimana Nato kok nggak kelihatan?” Tanya Udin menatap sekeliling yang kosong.
“ tadi dia udah nganter gue pulang kayaknya pergi balik lagi kerumah sakit ngambil barang ketinggalan di sana, “ jelas Letta.
mereka mengangguk paham mendengarnya hal itu.” jadi loe nggak sakit lagi kan Letta?” Tanya Udin pelan menatap pipi letta yang terluka, cukup dalam membuat wajah Letta yang cantik sedikit tertabir oleh luka.
Letta menggeleng.” gue udah baik, Cuma butuh waktu buat luka di kaki dan leher gue. leher gue rasanya sakit kalo banyak gerak.” Jelas letta tenang. sejujurnya setelah sadar Letta merasa dadanya sesak dan sakit, cuma ia tak bisa bilang, nafasnya sedikit sulit membuat ia terganggu untuk tidur.
__ADS_1
“ syukurlah.” Gumam Betta dan Bastian bersamaan.
“ yaudah loe istirahat aja biar kita jagain.” Jelas Bastian tegas.
Letta mengangguk pelan.” bisa bantuin nyalahin ac nya nggak? Panas banget.” Jelas Letta.
“ siap nona.” Jelas Udin segera berdiri.
Letta terkekeh pelan dibantu Betta untuk menyenderkan kepalanya agar lebih nyaman. Letta menghela nafas legah, ini hidup keduanya, hidup penuh kasih sayang dan juga perhatian.
Letta tersenyum tipis, semuanya terasa indah. Terimakasih Tuhan akan kehidupan kedua yang lebih dari sempurna.
Malam tiba, teman Letta sama sekali tidak beranjak, mereka malah di suruh oleh Nadia untuk tidur dikamar tamu agar Betta tidur dengan Letta dan Nato tidur bersama teman temannya. Teman Letta juga bermain bersama nemo yang sejak tadi bermain bola dengan riang bersama Bastian. Bastian sangat baik terhadap Nemo, berkali kali terkena liur Nemo, dia malah tertawa dan kembali bermain, sama sekali tidak jijik.
Letta sangat lelah tidur saja di kamarnya, segera berdiri dan berjalan keluar sembari menguap.
” Letta.” teriak nato buru buru mendekati letta, mereka menatap Letta kaget, sontak mendekati Letta yang berjalan dengan santai menyeret kakinya yang masih di gift.
Letta mengerjab polos memandang Nato yang buru buru membantunya berdiri dan memukul kepalanya.” Loe apa apaan sih ha???? Kaki loe masih sakit dan loe jalan seenaknya? Kalo loe sakit gimana???? Kenapa susah banget manggil orang buat bantu loe.” Tegas Nato mendumel tanpa jeda.
Letta mendengar hal itu melepaskan tangan Nato tetapi Nato lebih erat memeluk erat pinggangnya.” Gue udah baik baik aja kok, santai aja gue nggak sekarat.,” jelas Letta menolak Nato yang berlebihan baginya.
“nggak sekarat gimana..! baru baru aja pulang dan harus istirahat. Loe gue labit pakek rotan tau rasa loe..” ketus nya kembali kepada Letta kesal.
Letta di sana memandang nato lempeng,.” Letta sih asli, di suru istirahat bukannya jalan jalan begitu,” jelas Betta di sana sinis memberikan pisang goreng di atas meja, dia membantu Nadia masak di dapurnya sejak tadi.
Letta hanya menghela nafas di suruh duduk. “ ada yang sakit nggak?” Tanya Agung lembut.
plak. argh Letta meringis saat kepalanya di jitak oleh Bastian,” ngeyel loe sama orang tua, dosa kualat loe.” Gumam bastian dingin.
Letta melirik Bastian dan melirik agung.” Pak lihat kepala letta di jitak sakit banget.” Jelas letta dengan memelas.
Bastian gelagapan di sana melihat letta mengadu.” Eng enggak kok.” Jelas Bastian menolak.
Agung menggeleng pelan.” nggak kena luka kan?” Tanya nya pelan.
Bastian menggeleng pelan.”duh lupa astaga.” Gumam Bastian menatap kepala letta yang dijahit.
Bastian meringis melihat kepala Letta yang kembali berdarah, dan menatap mata Letta dengan penuh penyesalan.” Ma maaf gue nggak sengaja.” Gumam Bastianini memelas.
Letta di sana mengerjab heran, dirinya Cuma main main padahal.” Gue Cuma bercanda haha.” Jelas Letta tertawa, tetapi smeua terlihat serus memandang lukanya.
Letta menjadi diam memandang mereka aneh. “ astaga. Telepon dokter cepat.” jelas Udin buru buru. Letta melihat mereka yang gelagapan dan buru buru heran.
Saat tubuhnya di gendong masuk Letta lebih tak paham, tapi tunggu, letta mengerjab melihat di arah jalan, di sana ada Bima yang di dalam mobil menggunakan kaca mata memandang dirinya dari dalam mobil.
Letta mengerjab pelan dan melambaikan tangannya di sela segera di bawa masuk ke dalam.
__ADS_1
Bima menghela nafas pelan, hatinya legah, sudah dua hari tidak tidur tenang karena keadaan Letta yang tidak tau bagaimana, sialnya Zeyn menutupi didentitas Letta di rumah sakit, hingga dirinya tidak mendapatkan kabar apapun, tadi orang nya mengabarkan jika Letta sudah pulang dari rumah sakit sehingga Bima segera kemari melihat bagaimana keadaan Letta. Letta hanya bisa melihat dari jarak jauh, jika jarak dekat nanti orang tua Letta akan curiga.
Sampai malam pun rumahnya tetap ramai, tetangga, pak RT, rw dan juga karyawan dari ibunya. Rumah Letta penuh dengan buah dari yang menjenguk. Letta sendiri disuruh istirahat tetapi karena tidak enak yah sesekali mereka juga melihat bagaimana keadaan Letta,
Letta menghela nafas pelan meregang tubuhnya di atas kasur. Melihat betta sudah tidur di sebelahnya hanya menggeleng pelan. Betta pasti kelelahan sebab membantu ibunya sejak tadi mengantar minum dan mencuci piring untuk tamu.
Letta memegang dadanya terasa sesak, ada apa dengan dirinya? kenapa rasanya sakit sekali di sana.
Letta menguap pelan dan segera ikut tidur, mengabaikan rasa sakit.
krek... jendela kamar milik Letta berbunyi, membuat Letta siaga, mendengar siapa yang masuk, seseorang yang menggunakan baju serba hitam masuk dengan pelan mendekati letta dan Betta yang sudah tertidur, Samar ia mengusap pipi Letta pelan.
hap.. letta menahan tangannya dan membutar tubuhnya.
Argh.. suara ringisan itu membuat Letta berdiri menatapnya tajam.” siapa loe?” Tanya Letta dingin dan tegas.
“ Letta ini saya.. Bima.” Gumam Bima.
Letta mendengar itu melirik ke depan dan membuka tutup wajah nya. Dan benar saja. Letta mendelik melepaskan tangan Bima kasar.
Bima meringis memegang lengannya yang terasa sakit.” Om kenapa main masuk aja sih kayak maling?” Tanya Letta kesal sebab tangannya kembali berdarah dan sakit karena bergerak cepat dan menahan cukup kuat sehingga lukanya kembali terbuka.
Letta kira masih ada yang mau membunuhnya.
Bima menghela nafas pelan mendekati Letta dan mengusap pipi letta.” saya hanya khawatir kepadamu letta.” gumam nya pelan dan serak,. Tapi tatapannya tak sengaja melihat lengan letta yang berdarah kembali.” Kamu berdarah..” gumamnya takut.
“ nggak apa apa kok. luka biasa. Gara gara om ngagetin sih.” gumam letta kesal. Bima menghela nafas pelan membawa letta duduk.
“ om hanya khawatir. Sorry.” Bisiknya memeluk Letta erat.
Letta membalas pelukan Bima.” Im oke om.. thanks sudah khawtair terhadap letta.” jelas Letta pelan.
Bima mengangguk pelan.” Om Letta takut teman Letta bangun, bisakah lain kali saja om ke sini?” Tanya Letta takut melihat beta yang masih tertidur.
Bima dengan senang menyenggol lengan betta dan mendorongnya membuat tubuh Betta terjatuh di lantai. Bugh
” Om..” gumam Letta kaget menepuk lengan bima.
Bima terkekeh pelan.” dia nggak bangun kan?” Tanya bima.
Letta mengerjab pelan melihat hal itu benar. Ia melirik Bima kembali dan menggeleng pelan” Om kasih dia obat tidur yah?” Tanya Letta pelan dan serak., kasihan melihat tubuh Betta yang tertidur dibawah dengan keadaan buruk.
Bima mengangguk.”nggak ada cara lain. om sangat khawatir dengan kamu.” Jelas Bima mengusap kepala letta lembut dan pipi letta, menatap lamban pipi Letta yang terluka.” Nanti kita oprasi pelastik saja jika lukanya tidak sembuh. Kamu jangan sedih yah.” jelas Bima pelan mengusap nya lembut, sama sekali tidak melukainya.
Letta bisa melihat ketulusan Bima. Bima memeluk letta lebih erat.” Terimakaish om..” jelas letta
” tapi tolong dong angkat temen Letta ke atas lagi, “ jelas Letta kesal. kasihan sekali temannya.
__ADS_1
Bima mendnegarnya melirik Betta malas.” Cepat om, kasihan itu,.” jelas letta mendorongnya.
” Iya sayang, jangan terlalu bergerak nanti kau terluka.” Jelas Bima menekan Letta. Letta menghela nafas dan mengangguk pelan. segera Bima mendekati Betta dan dengan malas membawa Betta tidur ke atas lagi, mata Letta melebar melihat kepala milik betta. Benjol. .!