Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Marah


__ADS_3

.” saya... saya a.. tolong ambil darah saya.” Jelas Panji.


"Saya juga..” jelas Putra. suster mengangguk segera membawa dua orang itu ke ruangan pengambilan darah. Dengan ketelatenan menjahit luka dan beberapa hal penanganan umum.


Letta juga harus bertemu Putra yang masuk ke ruangan ini. darah sudah sangat di butuhkan.


Sama sekali tidak melirik keberadaan Putra, Letta mulai melakukan instruksi pendonoran darah ke kantong dan melakukan pekerjaannya secara professional.


Putra nyaris menangis melihat keadaan anaknya yang menggunakan tabung oksigen, kepalanya dibotakkan karena kepala yang dijahit, lalu kaki yang di gift. Letta terlihat kelelahan dengan pekerjaannya nyaris 4 jam ini.


Tak sengaja kontak mata Letta dan Putra bertemu tapi Letta kembali berkerja tenang. Putra menghela nafas pelan, apa yang dirinya harapkan sih??


“ Tunggu beberapa saat yah... “” jelas Letta tegas, menghentikan pengambilan darah dari Putra. Panji tidak jadi sebab ia kurang cocok darahnya.


Letta menghela nafas pelan mendekati Puatra dan suara tamparan menggema. semua orang kaget melihat letta yang menampar wajah Putra, ayah sang pasien.


Dengan nafas yangh berat Letta menghela pelan. putra tak kalah kaget mendapatkan pukulan itu, “ sejauh mana loe nggak lihat diri loe bajingan?” Tanya letta mengerang.


“ apa maksud kamu?” Tanya Putra kaget melirik Letta yang menamparnya begitu buruk. Letta menarik baju Putra dari sana. menatap perawat di sana untuk keluar.


Perawat segera keluar membiarkan mereka saja. Di sana letta kembali memukul kepala Putra, Putra sontak meringis memegang kepalanya. Kenapa Letta marah marah begini padahal mereka sudah sangat lama tidak berjumpa?? Apa dirinya melakukan kesalahan?


Letta menatap putra dingin, terlihat oucat dan lemah baru saja melakukan transfusi darah, mengepalkan tangan Letta menghela nafas pelan. menatap lagi anak Putra Letta memejam kan mata.


” Letta ada apa?” Tanya Putra lemah nyaris jatuh andai Letta tak menahan tubuhnya.


Letta mendorong tubuhnya keras ke kasur. Putra meringis menatap letta ngeri. Membuang muka Letta segera keluar dari sana. saat keluar Letta tak sengaja bertemu panji dan juga komala tapi ia tak segera bertegur, ia pergi menjauh dari sana.


“ yah itu letta??” Tanya komala kaget saat letta melewati mereka begitu saja.


Panji mengangguk pelan.” kayaknya iya.. tapi dia kelihatan marah banget gitu.” Gumamnya menatap Letta yang menjauh rumit.


Sampai pada suster kembali mendekati mereka. “ bapak ibu bisa masuk untuk menjaga pasien. Jika ada apa apa tolong panggil kami.” Jelas suter serius.


Panji dan komala mengangguk.” Oh iya tidak boleh lebih dari dua orang yah.. sebab belum di pindahkan ke ruangan inap.”


“ siapkan kamar VIP. “ tegas panji. Perawat kembali mengangguk segera melakukan tugas mereka.


Panji masuk menatap ke dalam, dimana ada Juya yang sudah ditangani, kepala yang dibotak habis, pelipis juga terlihat diperban, bagian bibirnya juga luka tapi di sana tidak diperban, bagian kaki di gift dan diikat ke atas oleh dokter. Komala menatap cucunya sedih.” Juya..” gumamnya lirih mendekati Juya dan mengusap pipi Juya nyeri.


Panji menghela pelan melirik putra yang diam saja melirik Juya, wajahnya bonyok mengeluarkan darah dan keunguan.” Loh kamu kenapa Put?” Tanya Panji kaget. Putra melirik panji bingung, ia tak tau harus menjawab apa jika seperti ini.


“yaampun muka kamu kenapa?” Tanya Komala mendekati Putra dan menyentuh lengannya, Putra meringis sakit sebab itu tempat pukulan letta tadi. Melihat Putra kesakitan komala meringis menatap anaknya khawatir. "Putra kenapa???" Tanyanya lirih.

__ADS_1


Putra menggeleng pelan.” gimana keadaan Juya??? Apa dia udah baik?” Tanya Putra mengalihkan percakapan.


” Put jawab bunda. Ada apa?” Tanya komala yang tidak mau di alihkan pembicaraannya oleh Putra, ia sangat khawatir.


Panji melihat putra tak mau bercerita memotong pembicaraan.” Juya sudah cukup baik. Tapi kakinya mengalami patah tulang dan kepala yang juga luka dalam, di sana di jahit 10 jahitan, di bagian pelipis juga 4 jahitan, bagian lengan dan paha ada 6 jahitan.” Jelas Panji ngeri. Putra mendengar itu hanya bisa memejamkan mata nyeri. Sakit dan sedih melihat ke adaan anaknya.


Juya hanya menggunakan kain saat ini sebab belum mendapatkannya pakaian. Pakaian yang tadi ia kenakan harus di gunting seluruhnya, dan sekarang ia hanya menggunakan pempers dan juga dikasih kain menutup tubuhnya yang belum bisa digerakkan.


Letta di jalanan menuju ruangannya sangat murkah, ingat bagaimana Juya yang kemarin sedang di bully di lapangan, disana Juya dibilang anak haram dan sebagainya., Letta mengusap kepalanya pelan dan menghela nafas pelan. dia emang bukan anak Letta, tapi Letta merasa jika anak itu lahir itu artinya anak itu tanggung jawab orang tuanya, jika anak itu jahat maka artinya orang tuanya gagal, dan jika anaknya sakit maka orang tuanya kurang bertanggung jawab.


“ letta..” teriak Mars dari kejauhan.


Letta melirik mars yang datang bersama wanitanya. Kirana letta kaget melihat Kirana yang di sebelah Mars.” Loh nggak bahaya tah?” Tanya Letta menatap Kirana yang meliriknya dengan takut.


Mars berdehem pelan.” bahaya nggak nih?” tanyanya terkekeh.


Letta menghela nafas pelan.” kalian balikan?” Tanya letta pelan.


Mars melirik Kirana dan menganguk pelan.” iya btw.. loe nggak cemburu kan? soalnya kalo ngejar loe gue nggak dapet.” Gumam mars sedih, sudah dua tahun mendetail letta, bukannya dekat eh letta nya mau jadi teman saja.


“ oh jadi aku Cuma pelarian aja gitu?” Tanya Kirana melirik Mars tajam.


Mars gelagapan menatap kirana.” Eh enggak, kan sebelumnya ngejar dia, kalo sama kamu kan masa depan aku.” Gumam Mars tersenyum menyenggol lengan Kirana.


“ kayak dulu kamu ngejar fajar, eh nggak dapet kan balik sama aku. Kita impas Kir.” Gumam Mars dengan sulit.


Kirana menatap mata masam dan Letta terkekeh melihat pasangan kedua ini.” udah kalo mau bucin jangan depan gue. sana sana.” Jelas Letta mengusir keduanya di hadapannya saat ini.


“ kita mau ngajak makan siang bareng.. loe belum makan kan?” Tanya Nato pelan.


Letta menggeleng.” gue bawa bekel kok." jelas letta.


” yaudah kamu bawa bekalnya ke café aja.” Jelas Kirana pada letta.


Letta melirik kirana sulit dan Kirana terkekeh pelan.” kita udah bukan musuh kan????”


............


“ papa...” bisik Juya di balik setengah sadar, mengerjab merasa pening. Putra melihat Juya yang sudah sadar segera mendekati anaknya, diikuti panji dan Komala. Juya disana setengah linglung.” Panggil dokter cepat cepat.” ujar Putra pada orang tuanya.


Panji mengangguk segera pergi dari sana untuk mencari Letta, menuju ke ruangan dokter bagian ruangannya tetapi hanya berisikan perawat mereka berdehem.,” suster cucu saya sudah siuman, bisa panggilkan dokter?” tanyanya.


Suster mengangguk pelan di sana.” siap kami akan segera ke sana.” jelasnya segera menyuruh rekannya untuk ke ruangan Juya.

__ADS_1


Panji menatap itu heran.” Dokter yang tadi dimana mana?” Tanya nya dengan kaget.. mereka saling lirik dan mnengeleng.” Maaf dokter letta sebenarnya di bangsal jantung, kebetulan beliau juga ahli bidang umum karena itu menangani pasien tadi pagi. Dokter umum terjebak macet tadi pagi sehingga kita meminta bantuan dokter letta tuan. “ jelasnya.


Panji kaget mendengar itu .” bisa tolong panggilkan dokter letta?” tanyanya pelan.


“ aku ingin cucuku bisa ditangani dengan baik.”


“ kami bisa tenang pak.” Jelas perawatan. Panji berdehem mengangguk pasrah egera ke ruangan milik JUya lagi.


Ternyata di sana sudah di atasi oleh perawat dengan memberikan pemeriksaan lebih lanjut.” pasien masih dalam pengaruh obat, jadi beliau akan mengigau sejenak, nanti juga akan kembali sehat... dan untuk darah, mohon kembali konfirmasi jika nanti sudah segera habis.” Jelasnya.


” Baik dok.” jelas Putra mengusap kepala anaknya.


Juya samar bisa melihat ayahnya. Putra mengusap pipi anaknya pelan.” sayang.. kamu baik baik aja kan??” tanyanya berbisik lirih.,


tidak ada Juya Putra tidak tau lagi harus bagaimana, ia akan kalah pada dunianya sendiri.


Juya masih mericau tak jelas.


Sudah malam. Letta masih memiliki cukup banyak pasien hari ini, sampai ia sedikit kelelahan dan tidak kembali ke kamar milik Juya lagi, jam 9 baru seluruhnya sudah habis, Letta menatap perawat yang di depan ruangannya.” Kalian tolong nanti bikin struktur semacam ini.” jelas letta kepada mereka menunjukan aplikasi.


” Dibatasi setiap harinya untuk control, sehari saya hanya menerima control 20 orang, kasihan mereka menunggu cukup lama dan mereka akan tau jam mereka yang akan control sehingga tidak perlu menguras waktu.” Jelas letta tegas.


“ berarti pakai aplikasi yah bu sekarang?” Tanya mereka.


Letta berdehem.” Sekarang memang pakai aplikasi untuk cek up. Rumah sakit kalian saja yang ketinggalan zaman.” Tegas letta sinis.


” Tadi saja ada yang bilang jika kemarin mereka kontrol, sekali kontrol bayar 1juta padahal kan mereka sudah ada kartu gratis, “ ketus letta lagi dingin.


” Sekali lagi saya dengar ada pungli di ruangan saya. Habis kalian saya jebloskan ke penjara.” Tegas Letta.


“ ada apa ini??” letta melirik siapa yang datang.


“dokter baru yah? a?” tanyanya pelan.


Letta tau dia siapa, dia ketua umum.. yaampun letta tidak tau dia siapa tapi letta ingat wajahnya.


Letta berjabat tangan sombong.” Saya letta dokter baru di sini.” Jelas letta.


ia mengangguk menjabat tangan letta.” saya Rio, ketua utama di rumah sakit ini, saya dengar tadi kamu marah marah? Ada apa yah jika boleh tau?” tanyanya pelan. kagum pada wajah letta yang sangat cantik.


Letta menggeleng pelan.” tidak, ini urusan kami, “ tegas letta tegas.


Rio kaget mendengar itu. melirik pegawainya letta berdehem,.” Waktunya saya pulang.” tegas Letta mengingatkan agar Rio segera pergi.

__ADS_1


untuk apa hormat dengan orang yang akan segera di pecat?


__ADS_2