
Situasi pagi sudah sangat terkondisikan. Karena Letta kelelahan dirinya kesiangan, untung Nato membangunkannya, jika tidak sudah pasti ia akan telat semakin lama.
segera keluar menggunakan baju koas miliknya Letta mendapatka nato yang duduk di meja makan.” Sarapan dulu.” Tegas Nato.
Letta mengangguk mengambil sandwich miliknya dan buru buru hendak pergi, tapi tertahan sata Nato memberikan dirinya bekal.” Ini buat makan siang, jangan makan sembarangan.” Tegasnya.
Letta menghangat, mengangguk segera mencium pipi Nato, " Tancuuu brother!!!" lalu pergi dari apartemen.
Nato mendengus mengusap pipinya kesal.” Sembarangan aja cium cium.” Gumamnya kesal, sebab bekas mayones sandwich letta menempel di pipinya.
Nato mengunyah lagi dan wegera berangkat juga. Pagi tadi ia membuat sarapan, kan sudah di bilang Nato berguna untuk merawat letta di sini, sesuai janjinya.
Menatap rumah sakit yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu Letta berdehem pelan., menatap sekitar yang sudah ramai letta memasuki ruangan miliknya nanti, ruangn Profesor Canva, laki laki yang berusia 34tahun sudah menjabat sebagai professor di rumah sakit karena skilnya yang tidak main main.
Masuk mendapatkan sudah ada empat orang disana, salah satunya bara. Letta melambaikan tangannya polos pada Bara. Bara mengumumkan senyumnya dan membalas pelan pada letta.
” siapa?” Tanya Canva pada Letta yang tiba tiba masuk.
Letta melirik dokter Canva dan tersenyum tipis.” Saya salah satu yang akan mengikuti keprofesian kedokteran prof.” gumam Letta jujur.
” kamu tau sekarang jam berapa?” Tanya Canva dingin dan tegas.
Letta segera melihat tangannya yang berisikan jam. Sudah pukul 8 padahall harusnya ia datang jam set 8. Mata Letta melebar, inilah susahnya kalo di kota, jalan macet membuat dirinya telat” Maaf dok saya tadi ma..”
“ macet.” Tanya Canva dingin.,
Letta mengangguk karena ucapanya dipotong.” Taukan kota itu macet, mengapa tidak pergi lebih awal?? Jika kamu menjadi dokter masa depan, bayangkan berapa banyak orang yang akan meninggal???? Orang yang tidak tepat waktu, bisa bisanya ingin menjadi dokter.” Tegas Canva dingin.
Letta tertegun mendengarnya, melirik Canva lagi tenang. wajah Canva ini padaal tampan, tatapannya tajam, wajahnya juga simetris, tapi yaitu dia sangat tegas begini, tapi dia cukup dewasa alias tua.” Maaf dok.. di..”
“ tidak usah membelanya, kau menyukainyua ha? Mengapa kalian tidak menikah saja dari pada berada di sini.” Tegas Canva pada Bara yang baru saja ingin membeli letta yang kena marah.
Para anggota lain hanya diam menatap letta berbagai tatapan, ada yang tertawa, ada yang kasihan. total di sana ada tiga perempuan dan tiga laki laki. Letta tidak mengenali siapa mereka.
__ADS_1
“ maaf dok.” gumam Letta serak.
Canva menggeleng pelan.” maaf kamu nggak bikin orang gidup lagi. jadi dokter jangan terlalu mudah bilang maaf, karena pada dasarnya maaf nggak bisa nyembuhin atau hidupin orang mati.” Tegas canva.
Letta tau, dirinya salah tapi jika begini ia tambah merasa bersalah. letta hanya bisa diam jika begini. Canva melihat tak ada perubahan diwajah Letta kesal, wajah Letta tidak ada terlihat rasa bersalahnya.” Kamu segera keluar dan mintalah surat keterangan sp dari HRD, “ tegasnya.
Letta melotot pada canva, tak suka dan tak terima. Canva yang dipelototi menatap letta tajam.” kenapa? Tidak suka? jika iya keluarlah dan minta pada kampusmu untuk mengubah siapa doktor pembimbing mu..” tegas canva dingin.
Letta mendengar itu tak suka, jika mengulang ke kampus untuk pindah mentor bisa jadi akan keluar satu bulan atau dua bulan lagi. itu sangat lama untuk dirinya tunggu.
Berjalan menuju ruang HRD, tatapan letta sangat dingin dan kesal, meminta surat SP padahal belum juga magang. Letta merasa dirinya ditekan begitu buruk. Menghela nafas pelan, menunggu HRD yang mencerca dirinya dengan beberapa nasihat letta hanya bisa diam mendengarkan.
“ nih. Inget yah dik. Pak Canva itu emang sedikit garang orangnya, em garang banget.. kamu harus baik baik sama dia, kalo perlu kamu perginya jam enam deh.” Tegasnya. Lettta mengangguk dan segera keluar dari ruangan. Segera menuju ruangan Canvca lagi.
Sata masuk menatap Canva yang duduk di ruangannya, dan semua peserta lain sudah pergi. Letta memberi surat SP pada pak Canva. Canva memperbaiki kaca mata dan menerima surat dari letta, segera mengangguk menatap letta.” kamu hanya punya 1 buah kesempatan lagi untuk melakukan kesalahan, selebihnya kamu hanya bisa keluar dari sini.” Jelasnya tegas.
Letta hanya menatap Canva datar. Canva yang ditatap begitu menaiki alisnya.” Mengapa kamu tapi saya begitu?? Tidak suka kamu? Iya?” tanyanya dengan melotot.
Letta membuang muka dan tak lagi bicara. Bicara dengan dia ini hanya membuat emosi dirinya naik ke ubun ubun, canva melihat reaksi Letta melebarkan mata, kehilangan suara, baru kali ini dirinya diperlakukan begitu buruk.
Letta mendengar itu mengangguk tenang. Canva mendengus,. Bukan apa apa. Bot JKS adalah bot dimana berisikan pasien menengah ke bawah, yang memang memiliki lebih banyak pasien dari pada yang lain.
Bara di dekat teman temannya menghela nafas pelan, menunggu Canva dan letta sampai ke sini setengah jam, barulah keduanya sampai. Letta yang berada dibelakang canva dan Canva berwajah suram. Buru buru anggota berdiri di sana menatap canva.” Perkenalkan diri kalian satu persatu. Mumpung sudah lengkap.” Tegas Canva.
“ saya Bara.” Tegas Bara memang dia paling depan, diikuti yang lain.
Loly, iya Loly yang membenci letta ada di Bot ini, lalu ada Leo. Lelaki itu terlihat biasa saja sih, tidak banyak bicara. Letta tau Leo ini. laki laki yang sangat bucin di kelasnya, kemana mana selalu berdua, dan kabarnya ibu dari sang pacarnya itu manager rumah sakit ini.
untuk anggota yang lain adalah residen bulan lalu yang sudah tau tugas mereka.
“Di sini kami jarang mnerima pengrekrutan koas.” Tegas Canva. Letta diam saja mendengarnya.” Tapi tahun ini ada gebrakan baru untuk menambah akreditasnya rumah sakit ini, jadi kalian harus professional. Saya dengar kalian ini lulusan paling bagus.” Tegasnya lagi.
“ jadi berprilakulah sebagaimana dokter yang baik, kalian juga harus banyak mengimplementasikan apa yang kalian dapatkan di kampus. Saya harap tidak ada hal aneh yang kalian lakukan kedepannya, ditanya apa itu Ovalium kalian tidak bisa jawab. Ditanya ini tidak bisa jawab, “ tegasnya lagi menyindir.
__ADS_1
Melirik letta yang diam saja.” Dan telat, menjadi dokter di rumah sakit ini jangan sekali kali telat, karena ini rumah sakit menjunujung tinggi kedisiplinan, jika ada yang telat satu menit saja, saat ada pasien itu membuat kita kehilangan pasien. Ingat sebagai dokter kalian harus paham, jika satu menit itu sangat berarti untuk hidup.” Tegas Canva,
Letta paham, dirinya salah, iya.. seharusnya ia sadar hal itu, di tambah dirinya sebagai tenaga menis, jika terjadi kecelakaan dirinya terlambat 1 menit padahal 1 menit itu ia ada kesempatan membantu pasien gimana??
Bukankah itu sangat merugikan pasien. Tentu saja. Letta tau hal itu, Letta berjanji kedepannya ia akan lebih baik lagi dalam bertindak.
Sudah berjalan sampai setengah hari letta melakukan tugasnya. Di suruh suruh oleh Canva sesuka hati. Letta kelelahan , letta duduk di kantin memejamkan matanya menenangkan pikiran dan emosinya, masa dirinya tidak dibiarkan diam saja oleh Canva sebagai dokter nya.
Tiba tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, letta melirik apa yang menimpa pipinya, minuman kaleng, melirik bara yang duduk di sebelahnya. Letta menghela nafas pelan.” kenapa telat?” Tanya Bara pelan pada letta.
Letta menggeleng pelan dan menerima es Jambu dari bara.” Kemarin pulang malem, jadi agak capek aja.. jadi kesiangan.” Jelas letta dengan jujur.
Bara mengangguk pelan mendengar jawaban letta.” bunda sakit..” jelasnya pada letta.
Letta menaiki alisnya bingung, bunda yang bara maksud siapa?? Bara yang melihat letta yang bingung berdehem.” Bunda Retta sakit..” jelasnya lagi.
Letta mendengar nama kembarannya menatap bara rumit.” Sakit apa?” Tanya letta.
Bara menghela nafas pelan.” kangker Rahim,.” Jelasnya.
Letta tersedak dibuatnya. Bara segera menepuk pundak letta, letta mengerjab pelan kaget.” Serius???” Tanya letta lagi.
Bara mengangguk serius.” Bener, udah tiga tahun rupanya dia ngidapnya, Cuma yah itu, baru ketahuan sekarang pas kemarin dia ngeluh sakit di bagian perutnya,. Pas kami ajak ke rumah sakit dia nggak mau, kemarin dia pingsan dan kami bawa. Ketahuan bunda punya sakit kangker.” Jelas Bara serius.
Letta diam mendengar bara yang bicara jujur. Memainkan minumannya dengan pelan, tak lagi selera untuk minum.” Loe nggak mau lihat bunda??? Dia kelihatan sedih terus, kangen sama loe.” Jelas Bara kepada Letta serak.
Letta diam tak lagi menjawab, sampai Bara menarik bajunya, keduanya saling tatap. “ gimanapun dia tetap kakak loe, dia bersikap gitu dulu karena dia nggak tau apa yang loe alamin, dia Cuma korban dan loe juga korban. Ayo ketemu , jangan sampek nanti loe nyesel.” Jelas Bara kembali membujuk.
Reta sudah sakit beberapa bulan, bahkan belum juga keluar dari rumah sakit. mau bagaimanapun, Reta yang menggantikan Letta sata Letta tiada untuk dirinya.
Dulu bara sempat diminta oleh ayah kandungnya untuk balik dengannya tapi Reta tegas menolak dan memeluknya. Reta bilang dirinya adalah satu satunya peninggalan letta paling berharga yang harus dia jaga. Reta wanita yang baik dan lembut, penuh kasih. Bara menyayangi Reta sama hal dengan Letta. Jika letta keras tetapi penuh perhatian, maka Reta adalah wanita yang penuh kasih dan kelembutan.
Letta menarik diri dari cengkraman milik bara.” Nanti gue akan jenguk, gue nggak pernah benci mereka. Gue Cuma nggak mau mereka tau gue hidup.” Jelas letta jujur.
__ADS_1
” Kenapa??” Tanya Bara heran pada letta yang enggan diketahui masih hidup oleh saudara saudaranya.
Letta menggeleng pelan.” masalah di hidup gue banyak, jangan nambah nambahin lagi, dengan mereka tau gue masih hidup itu sudah jadi masalah, gue mau mereka hidup sesuai dengan keinginan mereka, gue hidup sesuai yang gue tinggal saat ini.” tegas Letta.