
Letta membuang muka enggan menjawab. “ letta.” bisik putra lagi.
Letta terlihat marah di dekatnya dan itu membuat Putra sakit hati. putra sakit hati jika di abaikan dan di diamkan oleh Letta seperti sekarang.
Putra sangat menyayangi Letta, berkali-kali ia katakan, ia bukan tak ingin punya anak. ia hanya takut untuk kehilangan Letta demi anak...
Putra lebih baik tidak memiliki anak dari Letta dari pada harus kehilangan Letta untuk selama-lamanya. putra tidak mau egois.
Letta masih terlihat marah tak mau bicara dengan Putra. Putra mengusap pelan tangan Letta yang ada di genggamannya lembut.” Aku bukannya ngak mau anak kita hidup letta. bukan, aku Cuma takut kehilangan kamu. Takut banget.” Gumam Putra mulai berusaha menjelaskan tentang perasaannya sendiri." Aku nggak bisa bayangkan hidup tanpa kamu cuma karena pengen anak. Letta aku udah berkali-kali kehilangan kamu dan aku udah nggak mau itu terjadi lagi!"
Lettya diam tak menjawab, membuang muka enggan menatap Putra.” Kamu ngak tau gimana aku berusaha buat selalu berfikir kamu baik baik aja, bisa makan ini atau enggak.” Jelas putranya lalu mengeluarkan Hpnya.
Letta diam melirik saja.” Setiap hari aku selalu shareching kamu bisa makan ayam atau enggak? Brokoli? Makanan yang sehat buat kamu. Makanan yang nggak boleh dimakan.’' Jelas Putra bergetar menunjukan histori googlenya
Letta tetap diam dengan air mata yang jatuh” Aku takut banget kamu ngak baik baik aja Letta. saku sayang banget sama kamu, aku sayang sama kamu mangkanya aku takut pas dengar kalo kamu hamil anak kita.” jelasnya bergetar sesak.
Letta menghela nafas pelan mendengar itu, dirinya salah kah??? Putra menatap letta yang masih diam saja.”letta jangan diamin aku tolong, aku tau aku salah tapi demi kebaikan kita.” jelas putra tegas
“Put.” Seru Letta menatap Putra dan menggeleng.” aku udah konsul sama dokter, aku udah cek Semuanya baik dari kesehatan aku, apa aku boleh hamil atau enggak, dan dokter kandungan bilang bisa put bisa, hanya saja porsi aku harus lebih jaga diri lebih baik, harus lebih banyak istirahat makanan dan juga beberapa obat harus di hindari,. “ jelas letta secara pelan.
“ aku juga tau mana baik untuk aku, anak kita. aku tau dan aku ngak mungkin membiarkan diri aku egois, aku bisa..” jelas letta.
Putra menatap letta dalam dan sulit.” Kamu keras banget yah letta.” bisiknya nanar dan sesak. Tak bisa ia tahan hatinya sangat sedih dan khawatir.
“ semua ibu itu keras dan juga sayang sama anaknya.” jelas Letta memegang tangan putra.” Aku hamil anak kembar, kamu tega buat mereka meninggal?” Tanya Letta menaruh tangan putra diperutnya dengan penuh harap.
Putra mendengar itu menatap tangannya di atas perut Letta, lalu melepaskannya, Putra memukul l kepalanya sendiri sesak. Dan berteriak memaki dirinya. Letta melihat putra yang menggila merasa bersalah, sedihnya karena putra malah menyakiti dirinya sendiri begini.
“Letta.” Gumam Putra sesak, ia tak bisa apapun jika sudah begini. Membunuh anak mereka tidak mnungkin tapi membiarkan letta hamil juga adalah hal yang paling ia takutkan. Ia takut letta terluka.
membunuh satu anak saja sulit apalagi dua anak!
“ kita pulang.” jelas putra berdiri dari duduknya menyentuh tangan letta.
Letta mengeleng pelan.” nggak mau kalo kamu belum nerima anak kita.” jelas letta dengan runyam.
Putra menatap letta dalam.” udah malem letta. ayo pulang.” jelas Putra lembut.
“nggak mau put. Nggak mau kalo kamu ngak terima bayi ini.,” seru letta kembali lebih tegas pada putra.
Putra memejamkan matanya. Letta egois sekali rasanya saat begini. Putra menarik kedua bahu Letta dan menatapnya dalam.
Tatapan Putra terbalas dengan mata Letta yang kelam dan tajam.” kita pulang yah sayang, kasihan sama adek bayinya, nggak boleh egois, katanya mau jadi mama yang baik.” jelas Putra lembut lagi.
Letta menatap putra dengan pandangan melebar penuh harap.” Jadi kamu sudah setuju kan?” Tanya letta penuh harap.
Putra menghela nafas pelan.” sebenarnya enggak, Cuma mau bagaimana lagi? janji yah buat baik baik aja??” Tanya Putra lirih
Letta segera memeluk putra erat penuh rasa haru dan bahagia, dengan nafas yang berat ia terkekeh pelan dan berdehem.” Terimakasih Putra. Aku sayang banget sama kamu.” Jelas Letta mengecup pipi Putra.
Putra memeluk letta lebih erat. Putra mengusap kepala Letta lebih lembut dan keduanya mulai pulang dengan keadaan yang jauh lebih baik.
putra tidak bisa membuat Letta lebih jauh membenci dirinya.
...----------------...
Hari berlalu begitu saja, dengan cepat, seperti sebelumnya, keributan kecil kemarin seperti angin lalu., Putra dan keluarga Letta mati matian menahan diri untuk tidak memaki Letta yang keras kepala , mati matian untuk tidak memukul kepala Letta yang entah isinya apa.
Sudah enam bulan letta hamil, dan syukurlah saat sudah enam bulan ini Letta tidak lah terjadi apa apa. Hanya saja letta sering mengeluh dadanya sesak dan juga punggungnya sakit. tapi Letta tak berani bicara dnegan orang tua ataupun putra. Jika ia kasih tau mereka pasti lebih memilih letta mengugurkan anak anak ini.
__ADS_1
Ukuran perut letta jutga sangat besar, sudahs eperti hamil 8 bulan. Di rumah ini, kadang banyak yang bertamu, kadang Zaxi dan keluarga, kadang Nadia dan Agung, kadang calisa dan Bima, kadang Xior ataupun bara. Jadi letta tak pernah kesepian atau sendirian di rumah.
Putra memilih untuk selalu mengajak orang ke rumah agar ada yang menjaga atau menemani Letta jika ia sedang berada di luar untuk kerja. Sampai saat ini Putra takut Letta kenapa-napa.
“letta mau mau ambil cuti?” Tanya Canva menatap perut letta yang sudah sangat besar.
Letta tersenyum dengan tipis.” Saya mau mengundurkan diri pak hehe.” Jelasnya.
Canva mendatarkan wajahnya menatap Letta menyipitkan matanya.” kenapa?” tanyanya.
Letta menunjukan perutnya yang besar dan segera duduk.” Kalo semisal saya nanti kerja saya rasa nggak baik untuk kesehatan nggak sih prof. Soalnya pasti saya harus jagain anak saya juga. Kasihan kalo mereka harus saya tinggal.” Jelas Letta pelan.
Canva mengangguk pelan.” justru karena kamu hamil anak dua, saya sarankan untuk ambil baby sister dulu Letta, soalnya takutnya kamu baby bluse.” Jelas canva dengan tenang.” ada banyak orang tua yang stress usia melahirkan, saya nggak tau juga kamu akan mengalaminya atau tidak, tapi saya sarankan kamu tetap bekerja saja. Ambil cuti selama enam bulan atau satu tahun, lagi pula kan di sini kamu kerjanya Cuma empat jam, selebihnya kamu pulang. hitung hitung kamu refreshing setiap hari. Dengerin dan juga bicara sama orang orang. itu bisa mengurangi kebosanan kamu. Kamu juga menyalurkan profesi kamu dengan baik. Sayang loh Letta kalo harus berhenti.” Jelas Canva ringan.
Letta menganguk paham.” Memang begitu yah prof?” Tanya Letta polos.
Prof terkekeh melihat wajah Letta yang polos.” Ih prof malah ketawa. Saya beneran ini dok, soalnya saya baru pertama kali juga.” Jelas Letta cemberut dengan pelan.
“ kamu suka anak kecil atau bayi?” Tanya Canva.
Letta cengengesan.” Hehe nggak terlalu sih prof, soalnya kan saya dari dulu jarang yah ngurus atau ketemu bayi gitu. Saya Cuma sering lihat tapi ngak ngurusin.” Jelas letta jujur.
“ saya sarannya begitu aja yah letta. soalnya biar kamu bisa control diri kamu, kamu bisa main diluar, punya banyak teman,, kamu bisa pulang buat jagain bayi kamu. “ jelas Canva.
Letta menatap canva ragu. Memikirkan apa yang dikedepannya harus ia lakukan. Melihat wajah Letta yang ragu Canva berdehem.” Gini saja, kamu bikin surat pengajuan cuti dulu, dan nanti saat kamu harusnya udah masuk kamu ngerasa harus jagain anak kamu full kamu bisa urus keluar, tapi kalo kamu keluar sekarang kamu nyesel nanti.” Jelas Canva pada Letta yang kebingungan.
Letta mengangguk pelan.” boleh deh dok hehe.” Jelas Letta tersenyum lebar.
Canva mengangguk.” Oh iya? Gimana keadaan kamu? Apa ada indikasi harus menyakitkan atau bagaimana?” Tanya canva.
Letta melirik ke belakangnya dan berdehem,” Sebenarnya saya sering ngerasain sesak nafas dan pinggang sakit, itu gara gara penyakit saya atau gimana yah?” Tanya Letta khawatir
Letta mengangguk paham mendengar itu.” anak kamu cewek atau cowok?” Tanya canva lagi.
Letta tersenyum lebar.” Kemarin periksa cewek cowok dok hehe.” Jelas Letta lagi tersenyum.
” Bagus deh. Kamu terlihat bahagia banget yah.” jelas Canva ikut senang.
Letta mengangguk dengan semangat.” Yaudah dok saya mau ke depan yah, saya juga mau priksa sama bu Hera untuk rutinnya. “ Kata letta segera berdiri dari duduknya.
Canva hendaknya berdiri membantu letta jalan, ngeri-ngeri sedap melihatnya.” Nanti saya kabarin lagi yah prof. terimakasih.” Lanjut letta melambaikan tangan. Prof Canva berdehem pelan menatap letta yang keluar dari ruangannya. Ia Tersenyum tipis melihat itu.
Keluar dari ruangan Canva letta mengusap pelan perutnya. Ada benarnya yang dikatakan Canva, Letta hanya berdehem pelan tak bisa banyak bicara. Ia hanya harus menunggu waktu dan apa yang harus ia jalankan. Kadang apa yang kita bayangkan tidak sesuai ekspetasi hanya akan menjadi hal yang menyakitkan untuk dikemudian hari.
Saat berfikir Letta sama sekali tak sadar jika jalan yang ia lewati ini sangat licin baru saja di pel. Saat tak sengaja terpeleset Letta terpekik memegang perutnya lebih erat.
Letta memejamkan mata, Sesuatu terjadi begitu tiba tiba. Sampai letta merasakan seseorang memeluknya dari belakang, Letta memeluk balik orang tersebut karena takut.
Beberapa detik Letta tak merasakan apa apa menimpa dirinya, sejenak ia membuka mata menatap kearah siapa yang menangkapnya. Zeyn, letta segera berdiri dari posisi mereka dan berdehem pelan pada Zeyn yang mulai berdiri tegak menatap letta dalam.
“ eh thanks yah Zeyn duh.” Gumam letta cemas memegang dadanya. Ia terlalu teledor tadi.
Zeyn berdehem pelan melihat Letta yang sudah berbadan dua, ia menatap letta dengan pandangan kecewa.” Kamu hamil?” tanyanya.
Letta mengangguk pelan .” anak kembar.” Jelas letta tersenyum.
Zeyn memandang leetta dengan pandnagan rumit, tak bisa berkata kata lagi. “ bukannya kamu mandul” yanya Zeyn heran. Ia masih ingat perkataan Fajar kemarin.
“ kata siapa?” Tanya Letta heran.
__ADS_1
Zeyn mengangkat bahu acuh.” Sempat dengar kemarin dari orang, katanya karena penyakit kamu nggak bisa hamil, dan nggak bisa hubungan suami istri.” Jelas zeyn Dengan gugup.
Letta mengangguk pelan.” dari orang kampus atau fajar yah?” Tanya Letta terkekeh. Zeyn diam menatap letta rumit.” Orang emang banyak berfikir gitu sih. tapi gue nggak mandul, gue bisa hamil kok. lihat nih.” Jelas Letta menunjukan perutnya bangga.
” Udah berapa bulan?” Tanya Zeyn.
Letta menunjukan angka enam.” Bentar lagi lahir.” Jelas Letta senang.
“ zeyn..” panggil Gina dari belakang mereka.
Letta melirik Gina kaget. Apa Gina akan memaki dirinya. Gina melihat keberadaan Letta didekat suaminya berdehem pelan, di sebelahnya ada wanita muda yang segera mendekati letta dan zeyn.” kamu kok lama banget?” Tanya Gina serak.
Zeyn melirik Gina dan letta sejenak.” Tadi Zeyn nolongin saya.” Jelas Letta pelan.
Gina mendengar itu menatap Letta dan perutnya. Ia menggeleng pelan.” aku udah bilang kan sama kamu kalo kamu harusnya ngak muncul di hadapannya kita?” Tanya Gina.
Letta diam menatap gina lamban,. “ Gina.” Gumam Zeyn tegas.
Gina menghela nafas pelan mengontrol emosinya.” Kita ke ruangan kandungan sekarang.” Jelas Gina tegas lalu pergi dari sana.
Letta mengernyitkan dahinya, lalu melirik wanita muda di sebelah letta, ia terlihat manis dan masih sangat muda, mungkin masih sekolah.
“ ayo Letta barengan aja. Kamu nanti jatuh lagi.” Jelas Zeyn menggenggam tangan Letta lembut
Letta segera melepaskan tangan Zeyn dan berdehem.” Aku akan lebih hati hati kok.” jelas letta.
zeyn hanya diam menatap letta menjauh sesak, memejamkan mata memegangi dadanya, sakitnya tetap sama, itu tidak bisa dirinya hindari. Apa kabar hati yang begitu pedih? Apakah ada cela untuk mengobatinya di kedepan hari?
salahnya terlalu mudah menyerah dan percaya pada kata orang lain.
Letta segera mengambil antrian dan duduk di ujung jauh dari Zeyn dan Gina. Tapi bukannya menjauh Gina malah bangkit dari tempatnya dan duduk didekat letta.
Letta melirik gina dengan pandangan heran,. Tadi katanya jauh jauh ini kenapa dia yang duduk di sebelahnya.” Letta.. aku minta maaf.” Jelas Gina menunduk, manik matanya tak berani menatap letta.
Letta menaiki alisnya.” Maafin gue karena gue loe sama Putra dulu harus pisah.” Jelas Gina memejamkan matanya. sejenak Gina menatap zeyn dan wanita muda disebelahnya. “ dia namanya Citra... dia hamil anak zeyn.” jelas Gina bergetar dan pelan.
Letta melebarkan mata menatap keberadaan Zeyn dan wanita muda di sebelahnya.” Aku nggak tau kalo hidup aku sekarang bisa sehancur ini letta. aku tau aku dulu salah, salah sebesar besarnya sama kamu dan Putra, tapi bukannya ini balasan terlalu sakit?” Tanya Gina lirih.
Letta tetap diam tak menjawab, ia hanya diam menyimak apa yang Gina katakan, Gina mengusap wajahnya kasar.” Aku nggak bisa kaish Zeyn keturunan, aku aku bersalah sama jasmine sama putra.” Bisik Gina lagi lirih.
Letta menatap gina tak simpatik sama sekali.” Mereka sudah menikah? Zeyn poligami?” Tanya Letta bingung.
Gina menggeleng pelan.” tiba tiba dia pulang dan bilang dia hamilin wanita itu karena mabuk. Dan mama sama papa malah senang, mereka senang malah dapat cucu dari wanita itu dan zeyn.” jelas nya terkekeh pelan. “ akhirnya yah gini, zeyn sama dia harus nikah." Jelas Gina lemah.
Letta mengangguk pelan mendengar itu.” aku nggak tau harus bilang apa Gina.” Jelas letta pada Gina.
Gina melirik letta dan berdehem pelan.” gue jahat banget yah sama kalian? Letta.” gumam Gina memejamkan matanya.
"Nggak bisa punya anak aja sesakit ini, tapi ini aku harus lihat dia ngehamilin orang lain saat aku sendiri masih berjuang punya anak. Aku harus gimana letta." bisik Gina menangis lirih.
" Kenapa enggak cerai aja?" Tanya Letta heran. jika sudah menyakiti bukannya lebih bagus cerai?
Jasmine menggeleng pelan. " Aku cinta sama Zeyn!"
Letta terdiam sejenak. Letta menggeleng pelan.” kamu pernah nggak minta maaf sama Jasmine atau Putra?” Tanya Letta.
Gina menatap Letta dan menggeleng pelan.” aku tau aku sangat salah, aku nggak berani minta maaf.” Lirihnya.
” Owh..” gumam Letta pelan. Gina mengusap air matanya sedih.
__ADS_1
Letta bahkan tak bersimpati kepada dirinya.