
Zeyn menaiki alisnya memandang letta penuh pertanyaan.” Kamu mau tetap di sini selamanya?” Tanya Zeyn pelan dan serak.
Letta menarik saliva kering dan menggeleng.” tidak tau, tapi aku akan kembali di waktu yang cukup lama, entah di sini entah di suatu tempat.,” jawab Letta pelan.
“ tidak boleh.” Tegas Zeyn dingin.
Letta menatap Zeyn lamban, “ Letta, saya izinkan kamu di sini tapi tidak jika di tempat yang saya tidak ketahui., bisa kah kamu tinggal di sini saja?? Saya menyukai kamu dalam keadaan baik dan di dalam pengawasan saya.” jelas Zeyn pelan.,
Letta mendengar itu mengerjab pelan. “ kalo begitu biarkan gue di sini lebih lama.” jelas Letta tenang.
Zeyn mendengar itu menghela nafas legah. " Syukurlah!" Letta tersenyum tipis kepada Zeyn.
“ kamu terlihat takut. “ jelas Xior menaiki alisnya memandang Letta penuh tanda tanya.
Letta melirik Xior yang bertanya angkuh kepadanya. “ Takut?” Tanya Letta tersenyum miring di depan Xior.” Boleh kenalan dengan takut?” Tanya Letta lebih lanjut meremeh Xior. Wajah Xior menjadi beribah dingin kepada Letta. itu menghina dirinya???
“Letta ini-.” Zeyn memegangi ucapan, ia memberikan sesuatu yang ada di tangan Xior. Letta menatap benda itu tenang.” HP. Saya tidak bisa di sini setiap hari jadi saya beri ini untuk kamu jika butuh sesuatu dengan saya, kamu bisa kabari saya oke?” jelasnya tenang pada letta.
Letta menerimanya dan mengangguk pelan.” thanks Zeyn,.” jelas Letta pelan.
Zeyn mengangguk pelan. segera memilih berdiri dari sana,.” saya pergi dulu oke.,” jelas Zeyn pelan.
Letta mengangguk kembali melihat Zeyn menjauh. Xior tertinggal menatap Letta dingin.” Saya tau kamu bukan Letta asli.” Gumamnya tersenyum miring. Letta hanya memandang nya remeh. Mau apa memang jika dirinya bukan Letta asli hmm?
Zeyn menghela nafas keluar dari kamar Letta. Xior mengangguk pelan mencibir Zeyn yang begitu lembut pada Letta.” tadi bukannya loe mau maksa letta buat nikah?” Tanya Xior heran,. Ini bukan scenario yang mereka buat sebelumnya. Ini keluar dari rencana.
Zeyn melirik Xior dingin.” Kau tidak lihat wajahnya yang pucat dan raut muka yang dingin???
Aku tidak ingin menambah jarak di hubungan kami.” Jelas Zeyn menghela nafas pelan. Xior mendengar itu menggeleng datar.” Kau salah cari perempuan, harusnya kau cari yang penurut dan tidak banyak tingkahnya.” Gumam Xior tersenyum lebar.
Zeyn menatapnya intimidasi.” Kau yang tidak normal.” Jelas Zeyn mendengus segera menjauh dari sana,.
Zeyn menggeleng segera menjauh. Xior menaiki alisnya.” aku tak normal dan kau apa hmm? sedeng?” gumamnya tidak terima. Ini soal selera seseorang.
...----------------...
__ADS_1
Letta memandang HP milik Zeyn berikan, menatap keseluruhan sampai mengecek programnya, terlihat ada GPS di sana. Letta segera tersenyum sinis, biarkan sampai Zeyn puas. Menutup camera yang aktif setiap saat letta mulai mengakses kampus mengenai berita dirinya.
Letta sedikit legah mendengar berita penepisan itu foto dirinya, sudah seratus persen di selidiki oleh aparat kepolisian sehingga membuat penegasan jika itu memang bukan Letta asli. Letta melihat itu menatap jurnal pertama yang mengklarifikasi itu hanyalah sebuat editan belaka. Letta senang, Letta bersyukur masih banyak yang menyelesaikan masalah dirinya, meskipun orang orang ini sudah terlambat,
Letta menghela nafas pelan.” bukan mereka yang terlambat, tetapi aku saya yang berharap mereka percaya kepadaku. Mereka hanya menjalankan naluri seorang manusia, yakni mudah menyalahkan dan menyimpulkan sesuatu hal.” Gumam letta menggusur ke link lain.
Di lain sisi nato menatap smeua fakta yang di sampaikan mengenai Letta dan poster yang tersebar di mana mana, penyelesaian langsung dari ahli, jurmal dan polisi yang secara tegas menegaskan itu adalah editan, dengan sejumlah poto asli dari gambar gambar yang tersebar.
Rupanya itu hanyalah editan dari badan seseorang yang dipotong. Bukan hanya dirinya yang lemas mendengar semuanya, juga Bastian, Udin dan Betta yang diam saja di kelasnya memandang fakta itu. menghela nafas , ada seusatu yang menyakitkan setiap kali Udin mengingat bagaimana mereka menyalahkan letta dan mempervayao hoax.
“ gue nggak percaya sedari awal itu letta. udah gue bilang, Cuma kalian masih aja percaya.” Ujar Syafira dengan bangga memandang berita yang ada. Tapi tak ada yang menyahut. Ia melirik mereka yang berkumpul dalam diam.” Kalian nggak apa apa kan?” gumam Syafira.
Bastian melirik syafira kesal.” Loe bisa diem nggak sih?” tanyanya ketus.
Syafira mendengar itu mengerjab pelan, “ mau bayar berapa?” tanyanya.
Bastian memandang dingin Syafira membuat sang empu buru buru membuang muka. Jangan sampai dirinya dijadikan umpan permasalahan.
“jadi dimana kita harus cari Letta gess? Dia bener bener nggak bisa ditemuin dimanapun.” Gumam Betta lirih.
“ kenapa kalian nggak cari di jembatan? Siapa tau letta bunuh diri? Soalnya kalo gue jadi letta gue pasti udah bunuh di ehh. Nggak gue bicara sama Bara. Yah kan bar.” Gumam Syafira merinding memandang teman teman Letta. ia memandang Bara meminta bantuan.
Syafira memejamkan ata nya tak enak.” Tapi emang begitu, kalian pikir di fitnah dan nggak dipercayakan sama siapapun enak?? Nggak wey enggak.” Gumamnya lirih,” gue pernah ngerasain semua itu, di fitnah itu sakit, tapi lebih sakit lagi kalo difitnah tapi nggak ada yang belain. Dobel Kill sakitnya. Dan gue yakin Letta ngerasain itu.” jelas Syafira.
“ jangan nambah keruh suasana Fir Tolong.” Jelas Udin disana pelan kepada syafira.” Kita tau kita salah, kita sadar kok atas kesalahan yang kita buat, kami juga sebelumnya percaya karena hasutan atau penglihatan kami. Loe nggak mungkin ngerti kenapa kami percaya. Letta nggak ada kerja tetap yang gaji ratusan juta sampai dia bisa beli mobil Porsche, atau tas LV harga 789juta. “ jelas Bastian tegas.
“semua bukti emang mengarah sama dia, bener bener nggak ada niat kami buat nyalahin dia, tapi emang karena Letta yang nggak terbuka soal dimana dia dapet duit sebanyak itu buat kami simpang siur terhadap semua masalah dan fitnah. Nggak semua salah kami, sebab Letta sendiri nggak beri kepercayaan sama kami.” Jelas Udin kembali pelan.
“ bener.” Jelas Bara menengani mereka.
Udin dan temannya memandang Bara yang angkat suara.” Meskipun mau kalian percaya atau neggak akan kasus ini, bukan berarti kalian ngehujat Letta juga, harusnya kalian ada di sisi dia, dimana Letta patahati atau memang butuh dukungan. Kenapa nggak berfikir kalo dosa Letta bukan berarti kalian mau nambah hujat dia. Gimanapun dan apapun yang Letta lakukan, mau itu salah atau bener kalo kalian bener bener sayang dan temennya Letta, pastian pasti bakal tetap meluk dia sambil kasih tau mana yang bener dan mana yang salah.” Tegas Bara kembali tegas.
“ mau seburuk apapun, karena kalo temen nggak mungkin ninggalin saat temen sulit. “ jelas Bara kembali dingin.
Bastian dan udin tertegun, merasa bersalah semakin meluap, benar, tidak seharusnya dirinya menjauhi letta dan ikut menghujar letta. yah ia bersalah.
__ADS_1
.....
Tama meringis merasa matanya perih, membuka matanya melihat semua ruangan, samar samar matanya terasa rabun membuat ia diam mengucek matanya. “ Jangan di kucek.” Gumam sesoerang yang Tama tidak kenali.
Ningsih dan sarah di sana menatap Tama dengan heran, Tama meringis merasa kesakitan, matanya memang sangat buram di sana, tidak tau mengapa matanya begini. “ coba panggilkan bidan kembali, bisa jadi matanya buta.”
Suara itu Tama ingat. Letta.
Ia melihat ke sudut ruangan, samar berbayang ia melihat, tak jelas tapi ia tau itu Letta. Letta memang ada di sana., segera pergi usai mengatakan hal itu,
“ bentar ibu panggilkan bidan yah.” jelasnya pelan.
Ningsi mengangguk memilih duduk membantu sang kakaknya. Tama kakak tirinya kan?? sedangkan tama diam tak bersuara, rasa sakit ditubuhnya sangat menyengat. Seperti patah tulang semua.
“ keadaan Tama jauh dari kata baik, bagian kepalanya ada dua puluh jahitan, di kaki ada dua puluh jahitan. Gigi depan patah empat, dan dua copot bagian geraham. Rahangnya bahkan bengkok di sana, dan terakhir hidungnya patah. Kali ini matanya, bisa jadi karena dipukul begitu kuat matanya terkena syarafnya dan rusak.
orang tua Tama Sarah tak ada niat membawa Tama ke rumah sakit sebab tak ada kendaraan dan uang. Jadilah hanya mengandalkan bidan saja.
Letta menatap rumah yang Zeyn tinggalkan, tersenyum miring menarik kakinya membawa HP dan casan yang Zeyn berikan. Letta memilih pergi dari rumah, ini bukan pergi untuk diam diri. Letta ingin pergi menghilang dari pradaban. Hilang sampai orang lain tidak akan menemui dirinya. Letta harus menyembuhkannya luka, tidak lagi sama hidup di tempat ini, bahkan terikat dengan laki laki gila ini membuat dirinya ikut gila.
Menuruni jalanan yang bebatuan Letta merasa jeram di kakinya, memilih melepaskan gift di kakinya yang terasa nyeri dan menatap keatas, menghela nafas. ia akan pergi dari sini sejenak...
“ Halooo..” Letta melirik siapa yang mengajak dirinya bicara. Samar letta ingat di selalu bersama Tama.. Tama?? Dia teman tama, apa dia mencari Tama sampai ke sini??? Dia dihubungi tama untuk menjemput dia???
Oh iya Letta ingat.
Letta tak menjawab di sana segera pergi. Tangan letta tertahan oleh Galen. Letta melirik tangannya yang di tahan Galen. Galen tersenyum lebar memandang letta.”Gue Cuma mau kenalan kok. kenalin nama gue Galen.” Jelasnya mengenalkan dirinya dengan keramahan.
Letta tidak percaya ada yang begitu ramah kepada dirinya, Letta melirik Galen yang terlihat memiliki maksud.” Gue Letta. Nice To met you.” Jelas Letta tersenyum.
Galen melihat itu heran, mengapa Letta terlihat ramah.” Oh iya temen loe ada di vila, kemaren hampir mati di temukan. Loe nggak ada niatan buat jenguk dia?” Tanya Letta pelan.
Galen mendengar hal itu menatap Letta dingin dan penuh intimidasi, wajahnya mudah sekali berubah yah. letta di sana mengangguk pelan di depan Galen.” Loe apain temen gue?” tanyanya meremas tangan Letta di tangannya.
“ Why me?” gumam Letta aneh.” Gue nggak ngapa ngapain temen loe. Soalnya kalo gue yang ngapa ngapain, temen loe udah hilang dari bumi.” Bisik Letta terkekeh. Galen mendengar hal itu terdiam.
__ADS_1
Letta terkekeh pelan di depan Galen. Melepaskan tangan galen dari tangannya dan berdehem.,” Galen Galen..” terkekeh pelan, tetapi kekeh Letta sangat mengerihkan di telinga Galen.
” Loe?” gumam Galen dengan lirikan aneh.