Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Lelaki paling tulus


__ADS_3

Letta mendengar itu menatap calisa dengan melotot." Hamil duluan??" gumamnya shok. Calisa mengangguk malu-malu membuat Letta meringis. bisa-bisanya dia menampilkan wajah malu malu begitu.


” Boleh pegang nggak nih?” Tanya Letta pelan menatap perut Calisa yang sudah terlihat buncit..


Calisa mengangguk.” Boleh dong, sini..” gumamnya menaruh tangan Letta pada perutnya.


Letta memegangnya gugup. buuk.. kya.. Letta berteriak heboh menutup mulutnya.” Gerak..” gumamnya dengan polos membuat Calisa tertawa riang. sangat terhibur dengan wajah Letta yang menggemaskan.


Letta sekali lagi menaruh tangannya girang diperutnya Calisa . “ ihhh.” Gumam Letta dengan gemas pada perut calisa yang kembali gerak.


” Lebai lu.” Gumam Tama pada letta malas.


” ini ajaib Tama,, duh yaampun loe harus jadi kakak yang baik dimasa depan.” Gumam Letta menepuk pundak Tama.


Tama mendengus mendengar ucapan Letta.” Harusnya gue ngasih cucu bukannya malah dapet adek baru. Mau ditaru dimana muka gue nanti.. “ gumam Tama kesal.


” Lah kok loe ngomong gitu?” Tanya Letta geram pada Tama, melirik wajah sedih Calisa yang mendengarnya.


Tama melirik letta dengan kesal.” gue bukan nggak mau punya adek lagi, Cuma umur gue kan udah 21 tahun lett. kalo temen temen gue tau gue punya adek bayi bisa di ejek gue.” jelasnya kesal. Melirik calisa yang diam mengusap perutnya.


Ssuttt “ auu lett.” gumam Tama berjengit kaget merasa perutnya di cubit kuat oleh letta.


Letta melotot pada Tama.” Loe nggak noleh ngomong gitu Tama, loe nggak tau kan gimana maunya Calisa punya anak, dia juga mau ngerasain jadi bu, mengandung, melahirkan dan menyusui, membesarkan anak. Lagian kenapa loe malu sama temen temen loe. Emang loe yang hamil dan nyusuhin anak bokap loe?” Tanya Letta kesal.


“ tetep, loe nggak akan paham.” Tegas Tama disana.


Letta menaiki sudut bibirnya malas.” Aneh loe. Orang harusnya seneng dapat adek loe malah begini. Harusnya Bima buang loe di panti aja sih., untung gue nggak jadi, jadi emak tiri loe. Kalo gue jadi kemarin loe paling duluan gue bikin bisu, gue potong leher loe biar ngomong nggak sembarangan.” Ketus Letta kembali menyurit perut tama.


Au au au.” Sakit let, astaga ampun.” Gumam Tama menahan tangan Letta yang terus menyerangnya dengan cubitan.


Calisa melihat itu terkekeh, tidak bisa ia pungkiri hatinya sakit.” duh Letta nggak apa apa hehe. Tama pasti kaget kan usia dia udah dewasa, punya adik di usia dewasa memang agak sensitive.” Gumam Calisa tak enak hati.


“nggak, dia aja yang nggak tau etitut, bikin gue sebel aja..” gumam Letta melepaskan Tama, melirik calisa.’'Nanti kalo dia nggak mau jadi kakaknya debay gue aja yang jadi kakaknya.. utu utu pasi lucu banget kayak tante.” Gumam Letta pelan mengusap perut Calisa.


Calisa mendengarnya itu terharu, Letta memang anak yang baik, sekali lagi ia memeluk letta membuat letta tersneyum tipis,” Terimakasih yah Letta. kamu memang orang baik, kamu pasti nanti bisa mendapatklan hal yang paling baik.” gumamnya dengan tulus.


Letta menepuk pelan pundak Calisa, “ Kamu di luar megri gimana? Pengobatannya sukses nggak? Masih ada yang sakit?” tanyanya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Letta menghela nafas pelan menunjukan dirinya.” Yah gini mbak. Syukurlah sekarang udah jauh lebih baik.” jelas Letta senang.


Calisa mengangguk bersyukur.” Syukurlah...” gumamnya pelan.” kamu hebat bisa lewatinnya sejauh ini, kalo mbak jadi kamu mungkin mbak milih buat nggak sekuat kamu. “ jelas Calisa dengan tulus.


Letta terkekeh pelan.” awalnya aku nggak kuat, Cuma banyak yang support dan buat aku kuat. Letta rasa menyerah bukan hal yang bagus.” Jelas letta.


Calisa tersenyum tipis mendengar itu.. tok.. tok...” papa pulang..” teriakan itu membuat mereka menatap Bara yang datang. Bara menaruh sepatu di rak sepatu dan menggunakan sandal,. Tapi sejenak terhenti menatap Letta yang duduk di sebelah istrinya.


Tas yang ia pegang karena shok. Letta melihat Bima yang menatapnya begitu shok Tersenyum tipis.” Haloo om..” gumam Letta.


Bima mendekati Letta shok.”Letta?” gumamnya dengan lirih. Letta disana tersenyum leabar dan berdiri memeluk Bima.


Bima membalas pelukan Letta erat, sangat erat membuat air matanya jatuh.” Im sorry Letta. because I didn't marry you, I broke my promise." Gumamnya lirih dipundak Letta. lihat tangisannya yang begitu tulus dengan ucapannya yang begitu pahit.


Letta dipundak Bima tersenyum tipis dan melepaskan pelukan Bima yang cukup erat tegas, Letta mengangguk. “ nothing om, om memang harus dapat yang lebih baik dari Letta, dan tante Calisa orangnya, “ jelas letta menepuk pundak Bima pelan.


Bima mengangguk pelan mengisap pipi Letta, rasa rindu dan juga sakit di hatinya terobati. Bima tidak bisa bohong jika ia memang mencintai Letta, sangat, tapi kmarin dirinya labil dan memilih Calisa dari masa lalunya, sebagai duda yang sudah lama hidup sendiri dirinya tidak bisa membendung diri lagi. ia tidak bisa menunggu Letta hingga hari yang entah kapan ia kembali.


“ gimana kamu? Udah baikan?” Tanya Bima lembut.


Letta tau perasaan Calisa pasti sakit melihat suaminya memeluk wanita lain. Letta segera duduk di sebelah calisa dan menghela nafas pelan.” oprasi letta syukurlah berjalan dengan lancar." gumam Letta jujur.


Bima mendengar letta mengangguk, ia paham letta menghindari dirinya, ia duduk di sebelah Tama dan menatap Letta serius.” Kamu ada perlu apa lagi? bilang sama saya, saya akan membantu kamu sesuai kemampuan saya. Bagaimanapun kamu sudah saya anggap sahabat.” Tegas Bima.


Yah sekarang hanya sebagai sahabat, letta dulu selalu ada untuknya, meskipun tidak jadi istri ia tidak mau kehilangan orang sebaik Letta.


Letta lemah berhadapan dengan Bima, rasanya sakit kehilangan Bima, sebab Bima sudah memauski hidupnya. Yah letta Sudah jatuh cinta pada Bima saat itu, sayangnya keadaan dirinya tidak memungkinkan dan Letta sadar jika Bima harus mendpaatkan wnaita yang bisa memberikan dia keturunan


“Letta Cuma butuh uang dan black card.” Jelas Letta dengan jahil.


Tama disana terbahak mendengar itu, sama dengan calisa. Tapi Bima segera membuka dompetnya dan menaruh black card di atas meja meja.


Letta yang tertawa terdiam menatap bima yang malah membawa serius apa yang ia katakan.’ “ kamu bisa beli apapun. “ tegasnya jelas.


Letta melirik Calisa yang terdiam menatap itu kaget.” Om.” Gumam Letta gugup. Bima melirik Calisa dan terkekeh pelan.” saya haya berterimakasih karena kamu saya bisa bersama dengan wanita sebaik dan setulus Calisa. Kamu sangat baik hingga kami bisa bersama.” Jelas Bima segera mendekati Calisa dan mencium tangan Calisa.


Letta melihat itu jadi terharu dan Calisa yang tadinya sakit hati menjadi merona malu, melirik letta mengangguk.” Letta Cuma bercanda om.” Bisik letta mengambil black card itu malu.” tapi karena om maksa Letta ambil yah.” gumamnya malu malu menaruhnya di salam dompet.

__ADS_1


“ nggak ada yang maksa anjing.” Gumam Tama melotot pada Letta.


Letta terbahak menasuki blackcard itu di dompetnya santai.” Yah namanya rezeki nggak boleh di tolak.” Gumam Letta pada tama.


Tama mendengus.” Papa nggak nagsih aku blackcard kok letta dikasih?”” Tanya Tama tak terima. Ini namanya pilih kasih, di sini anaknya itu Letta atau siapa sih??


Letta mencibir Tama dengan menjulurkan lidahnya. Mengibas black card di tangannya. Hal itu membuat semua orang tertawa melihat tingkah tengil milik Letta, sedangkan Tama menatap letta kesal, sejak kapan letta menjadi begitu tengil dan jelek rupa??


...----------------...


Letta segera pulang sata jam sudah pukul 8 malam., sangat senang bermain bersama calisa. Bima dan keluarganya. Letta harus diantar oleh Tama dan Brayen agar ia bisa di antar oleh brayen dengan brayen yang menyertir sedangkan Tama mengikuti dari belakang.


Jika Tama tidak ikut Brayen pulang dengan siapa??? Karena itu ia harus bersama Brayen dan tidak di perbolehkan menyetir.


Di perjalanan Brayen melirik Letta yang santai saja menatap jalanan, tersenyum tipis Brayen berdehem memecahkan kesunyian. “ gimana rasanya gagal nikah?” Tanya brayen pelan pada letta.


Letta yang di Tanya melirik Brayen sejenak, lalu kembali menatap kedepan dimana jalanan yang cukup macet padahal bukan lagi jamnya pulang kerja. “ sakit sih.” gumam Letta pelan.


Brayen mendengar itu mengerjab melirik letta, “ loe suka sama bokap gue beneran?” Tanya Brayen pelan tak percaya.


Letta mendengar pertanyaan itu menghela nafas pelan.” papa loe type ideal sih, dia bener bener mampu memperlakukan seorang perempuan dengan baik.” jelas Letta mengingat Bima dulu bagaimana memperlakukan dirinya.


Brayen mendengar itu secara saksama.” Baik... om bima cowok paling baik setelah Agung gue kenal,. Dewasa. Bisa selalu bersikap lembut.” Bisik Letta pelan menatap jalanan sedih.” Mungkin karena hati gue itu keras sedangkan hati bokap loe lembut. Jadi gue ngerasa bener bener di hargai dan nyaman kalo sama dia.” Jelas letta serius.


Brayen mendengar Letta masih focus mengemudi tapi tentu otaknya berpergian kemana mana. “ loe tadi sakit hati ngeliat bokap sama tante calisa?” Tanya Brayen meringis. Ingat bagaimana letta ditengah mereka melihat bagaimana Calisa dan Bima.


Letta menggeleng.” bokap loe dan tante calisa memang cocok kok.” jelas letta serius


.” Gue tanya, loe tadi sakit hati dong ngeliat mereka?” Tanya Brayen lagi, menekan pertanyaannya yang di abaikan oleh Letta sebelumnya. Jawaban Letta tidak memuaskan dirinya.


Letta mendengar pertanyaan oleh Brayen diam sejenak, Brayen yang melihat Letta tak menjawab kembali bersuara.” Kalo loe diem artinya iya.,” jelas Brayen. Brayen menjadi tak enak hati kepada letta yang sudah ayahnya tinggalkan.


” Gue bukan sakit hati.'’ jelas Letta kembali karena menolak perkataan Brayen mengenai dirinya.


" gue lebih kepada terharu ngeliat kalian bisa hidup bahagia. Bima bisa begitu senang dan bahagia. punya keluarga cemara. Gue rasa om Bima memang seharusnya punya dunia sebahagia itu nggak sih?” Tanya letta terkekeh.” Bahkan seharusnya sejak dulu. Orang sebaik dia tu memang harusnya bahagia begitu.” jelas Letta serius.


” Tapi kalo papa nikah sama loe pasti jauh lebih bahagia, tapi loe malah kabur di hari pernikahan.” Jelan Brayen pelan.

__ADS_1


__ADS_2