
“ adek loe yang idiot?” sahut Brayen di sana dengan lirikan mengejek kental.
Letta melirik Brayen dengan malas.” Gue lagi capek, jan sampek gigi loe gue rontokin..!!” seru Letta dingin.
Brayen terdiam memandangi letta.” iya adek gue idiot, kenapa loe emang ha?.” Gumam Letta dengan kesal. Brayen melihat hal tersebut ingin kembali menjawab tapi tertahan dengan suara lain.
“ sakit apa?” Tanya fahmi pelan. Mengalihkan atensi seluruh keributan
“ jantung biasa.” Jelas Letta mengalihkan atensi ke computer.
” Terus loe ke rumah sakit pakek celana pendek gini?” Tanya Fahmi memandang kaki Letta yang terlihat jelas.
Letta berdehem pelan. tak mau menyahut kembali, mereka hanya bisa diam saja melihat Letta yang sibuk memasukan berkas berkas registrasi ulang dirinya., Tapi lamban kakinya merasa hangat saat Fahmi menutupinya menggunakan Jaket miliknya..Letta hanya membiarkan nya saja.
Untuk dirinya sendiri menghabiskan waktu sekitar dua jam, sudah jam enam dan dirinya baru selesai. “ nih yang Nato loe lagi rem. Sorry banget gue capek serius.” Jelas letta.
Renja mengangguk menggantikan Letta.” sans aja.” Jelasnya segera membantu Letta, menyamakan berkas berkas Letta isi sebelumnya,.
Letta mengambil posisi duduk di dekat sofa, mengambil HPnya dan memesan makanan gofud, tidak ada yang memahami dirinya di sini, bahkan tidak ada yang memberi dirinya minum, Fajar melirik Letta yang duduk di depannya.
Lamban ia melihat letta yang tanpa menggunakan riasan apapun, bahkan berpenampilan tak rapi dan kusam, tapi dia malah terlihat menggoda dan seksi, kenapa matanya dulu tidak melihat hal seperti ini di diri Letta sih??
“nih.” Letta melirik Fahmi yang memberi kan dirinya bungkusan.
Letta menaiki alisnya.” Ini buat gue?” Tanya letta.” buat semuanya.. gue ambilkan piring dulu.” Jelasnya segera menuju ruang dapur.
Letta membukanya dan memandang bakso itu semangat.” Gue baru aja mau pesan geprek.” Gumam Letta terkekeh,
“ Gue tadi mau beliin loe makan tapi loe kelihatan serius banget sama ngisi berkas.” Jelas Fahmi mendekati letta dan memberikan Letta mangkok cukup besar.
Letta menerimanya dan mulai membuka bakso untuk dirinya, di sana masih ada kok untuk yang lain. Fahmi menaruh mangkok di meja dan juga gelas. “ gue kira kalian nggak ada yang peka.” Jelas Letta jujur.
“ loe terakhir kapan makan emangnya?” Tanya Fahmi pelan sembari mengambil jus yang ia beli dan ia beri pada Letta.
“ pagi tadi, siang tadi nggak inget soalnya gue nganter ibuk pulang terus mandi sama ganti baju terus ke rumah sakit lagi, pas udah sore gue pulang dan sekarang lupa makan.” Jelas Letta serius dan mulai membuka jus untuk ia minum.
“ gue turut berduka yah., semoga adek loe lekas sembuh.” Jelas Fahmi dengan Letta tersenyum.
Letta berdehem pelan mendengarnya.” Thanks yah.” jelas Letta mulai makan tanpa menghiraukan Brayen dan Fajar yang memandang mereka aneh.
__ADS_1
“ sejak kapan kalian akur?” Tanya Fajar serak.
“ sejak gue tau dia bukan letta asli.’' Batin Fahmi.
Fahmi sangat terpukul dan merasa bersalah akan meninggalnya Letta, tapi ia juga sudah sadar jika sekarang tugasnya adalah mendekati Letta dan menebus dosa dosanya.
“ Loe aja yang jahat mangkanya nggak nyangka gue sama Fahmi normal. "Ujar letta melirik Fajar.
Fajar membuang muka malas.” Itu juga gara gara loe.” Jelasnya kesal.
Letta menunjukan tenggorokannya.” Baretnya masih ada btw.” Jelas Letta menunjukan garis bekas digorok.
Fajar mendengarnya meneguk Saliva kering.” Sorry.” Gumamnya.,
Letta berdehem pelan mendengar Fajar. Letta mengambil bakso lain dan menuangkannya ke mangkok lain, mendekati Renja yang fokus mengerjakan milik Nato. Membawa jus juga kesana.” Gue suapi aja mau?” Tanya letta dengan polos.
Renja yang sedang mengerjakannya memandang Letta dengan kaget.,” loe pasti laper kan, yuk gue suapin, loe bisa kerjain.” Jelas Letta.
Renja ragu menggeleng pelan.” nanti gue bisa makan.” Jelas Renja gugup.
“ keburu dingin..” jelas Letta memaksa. Renja meneguk saliva kering dan mulai membuka bibirnya menerima suapan Letta yang sangat dekat dengannya. Renja The Javu saat saat begini. dimana dulu Letta juga begitu perhatian dan sayang padanya.
Renja yang saya itu memandang Letta dengan pandangan sayang. ' Iya bawell!!'
Renja tersenyum nanar mengingat hal itu. Rasanya sangat melekat dan membuatnya semakin menyesalinya
Letta tersneyum tipis melihat Renja yang tersenyum. “ loe ngambil jurusan apa Ren?” Tanya letta.
“ FKIP kedokteran juga.” Jelas Renja mulai fokus dengan computer.
Letta melebarkan mata mendengarnya.” Wah loe ngambil di mana emang?” Tanya Letta berseru.
” Sama dengan universitas loe.” Serunya.,
Letta mendengarnya mengangguk.” Wah daebak kita satu fakultas.” Gumamnya mulai kembali makan. Renja berdehem pelan mendengarnya, melirik Letta sejenak.
” Kalo tiga temen loe?” bisik letta melirik Fajar Brayen dan Fahmi.
Renja melirik lewat ekor mata.” Tanya aja sendiri.” Jelasnya malas. Kesal jika Letta mengulik informasi teman-temannya, jangan jangan ia masih menyukai Fajar.
__ADS_1
Letta menggeleng.” Males lah.” Gumamnya kembali menyuapi Renja.
Renja menggeleng mendengarnya.” Fajar jurusan bisnis dia, Brayen juga, tapi universitas kita sama semua kok.” jelasnya.
Letta mengangguk paham mendengar hal tersebut.” Syukur deh seenggaknya gue nggak pernah ketemu lagi sama mereka.” Jelas Letta tegas.
Brayen dan fajar mendengarnya tiba tiba merasa hati yang tak enak, melirik Letta dan Renja yang slaing bicara. “ loe benci sama mereka?” Tanya Renja melirik letta heran.
Letta mengangguk pelan.” siapa yang nggak benci coba. Selain loe nggak ada yang gue suka di kalian.” Jelas Letta serius mulai menghabisi sisa bakso. Ia mengambil bakso baru yang di nampan dirinya sebelumnya.
“ btw kita satu pan bakso tadi?” Tanya Renja melirik Letta. ia tak sadar,
letta mengangguk polos.” Iya soalnya gue males lah ganti ganti mangkok, sekalian aja. Lagian gue nggak ada penyakit, tenang aja.” Jelas letta dengan santai.
Renja shok, artinya mereka satu sendok??? “ udah santai aja nggak usah tegang, minum juga sama kok tadi.” Ujar Letta dengan pelan sama sekali tak ada rasa bersalah.
Renja terbatuk-batuk mendengarnya, memandang Letta dengan dalam. Letta ditatap begitu tersenyum manis membuat Renja merasa dadanya panas. Dia tetap saja seperti dulu, tetap dengan polos dalam prihal kedekatan int*m. Letta dulu dan sekarang tetap sama. sama-sama buta akan hal yang Tanu atau sensitif.
Sudah selesai dengan tugas nya, Letta pulang jam 9malam, bayangkan saja itu, sekolah sudah sepi hanya mereka saja, Letta pulang tampa ada tawaran yang ingin mengantarnya.
Tapi Letta sadar jika ada mobil yang mengiringinya pulang, ia hanya pura putra tak tau saja. Sanpai didepan rumah Letta melebar kan mata melihat ada mobil milik orang yang ia tak kenal.” Siapa yah?” gumamnya pelan, segera memasuki mobil ke dalam bagasi rumah.
Tapi belum juga masuk, mobilnya dihentikan oleh seseorang yang menggunakan jas lengkap memandangnya dingin. Letta meringis melihat Zeyn.
Zeyn mengetuk pintu kaca mobil pelan. tersenyum tipis Letta menuruni kacanya, mengerjab polos memandang Zeyn.
” Dari mana?” tanya Zeyn serak.
Letta menggaruk tengkuk tak gatal.” Sekolah, ngurus registrasi kuliah.” Jelas Letta jujur.
Zeyn menyipitkan mata memandang letta intimidasi. “ loe mau kabur dari gue?” tanyanya.
Letta memandang Zeyn heran.” Kabur kenapa?” tanyanya heran.
“ malam ini malam minggu, kan udah gue bilang loe Harus temenin gue.” jelas Zeyn.
Letta melebarkan matanya, mengingat-ingat kapan dirinya berjanji pada Zeyn.. Ia lupa jika ada janji dengan Zeyn hari ini. astaga... batinnya.
“ gue lupa, Ya Tuhan.” Gumam Letta shok membekap mulutnya.
__ADS_1
Zeyn melihat tingkah Letta hanya memandang letta datar, kalian pikir dirinya peduli?