Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Nasi


__ADS_3

“ kalian sudah lama saling mengenal?” Tanya Nadia kepada Bima pelan.


bima melirik Nadia dan mengangguk.” Mungkin sudah hampir tiga tahun, dan mobil, barang barang yang ia miliki saya yang beri dan saya bisa menjamin Letta tidak menjual diri. Kami hanya menjalani kehidupan normal, saya menganggap dia wanita terkasih dan dia menganggap saya sebagai hmmm entah, tetapi kami cukiup dekat pastinya.” Jelas Bima tak malu. Lebih tepatnya menekan rasa malunya sendiri.


Bukan masalah apa, usia mereka cukup jauh dan Bima tidak mungkin di cap Fedofil kan?


“ kalian pacaran? Dan nggak mungkin kan Tuan beri tanpa ada imbalan? Maaf bukan imbalan berupa hal fisik maksud saya apa dia kerja di cafe atau gimana?” Tanya Bastian pelan.


Bima menggeleng.”letta selalu menolak tentang hubungan khusus, dia tidak pernah meminta barang ataupun uang, saya memberi karena senang,. Karena Letta selaku ada di saat saya sendiri. Dia menemani saya.” Jelas Bima tegas.


Agung dan Nadia mendengar hal itu menghela nafas bergetar, rasanya sesak dan sakit mnengetahui jika anak yang mereka besarkan tidak melakukan fitnah orang orang, dimarah dan di fitnah oleh kakaknya sendiri. Pasti dia merasa tertekan karena itu dia pergi dari sini, karena mereka.


“ saya hanya ingin menjelaskan kepada keluarganya. Sebab saya tau di posisi Letta tanpa ada yang percaya jika kita bukan pelaku utama itu sakit. saya harap ibu bapak bisa berfikir jernih jika Letta pulang nanti. Saya akan mencari cara untuk menemukan letta secepatnya.” jelasnya tegas.


Agung menatap Bima penuh harap.” Terimakasih karena sudah memberikan kami kebenaran, kami harap hmm kamu bisa membantu anak kami untuk ditemukan.” Jelas nya tegas pada Bima,. Tidak tau harus memanggil Bara apa, sebab dari segi wajah terlihat Bila Bima ini seusia dirinya.


Bima tersenyum tipis melihat bahasa kaku milik Agung. “ jika boleh tau usia tuan Bima berapa?” Tanya Nadia pelan, .


Bima mendengar itu melirik Nadia dan sedikit kikuk. “39tahun.” jelasnya pelan. mereka melirik Bima cukup kaget sebab usia mereka memang sama. bahkan lebih muda usia Agung dan Nadia.


” Jadi lebih tua tuan Bima yah? soalnya usia kita baru 38tahun.” jelas Nadia dengan kekehan.


Agung menepis pelan paha nadia,. Andia melirik agung polos. Sedangkan agung melirik Bima tak enak hati.” Maaf yah .” gumamnya pelan.


Bima tersenyum masam.” Tidak apa kok, karena saya memang sudah cukup tua.” Gumam Bima berat hati mengatakan kalimat terakhir.


Nadia dan agung mengangguk. Baru tau jika Letta memiliki selera di atas rata rata. Yakni yang sudah tua namun kaya raya. Boleh juga,


” Hm kamu sudah menikah sebelumnya?” Tanya Agung kembali pada Bima.


Bima mendengar itu sedikit yak enak hati.” Saya sudah menikah, tetapi sudah cerai 13 tahun yang lalu, punya anak dua, 1, usia 20 tahun dan satunya berusia sama dengan letta 18tahun.,” jelas Bima jelas kembali.


Agung kembali shok mendengar penjelasan milik Bima yang transparan.” Berarti kamu duda?” Tanya Agung gagu.,


Bima sedikit pelan mengangguk tak enak hati. Sialan jika begini dirinya harus apa? Apakah diri mereka salah menaruh perasaan pada letta?” saya rasa usia saya belum tua banget kok untuk sama letta.” jelas Bima mencetus pelan melihat wajah mereka yang kaget.

__ADS_1


Betta memandang Bima masam, bahkan wajahnya terlihat tak enak hati.” Tapi maaf yah om, om cocok jadi ayahnya Letta bukan su-- au au au.” Udin menyubit paha utami yang bicara ketus.


Utami menatap udin kesal sebab di cubit.” Dia emang udah tua, bahkan anaknya udah usia 20 tahun cuy. Udah cocok punya cucu.’" Jelasnya ceplos kembali. Semua hanya tertawa hambar memandang wajah merah Bima.


Tak jauh dari sana ada Brayen yang mengintip di pintu kamar miliknya, matanya menatap Bima penuh rasa bersalah. Ingin keluar pun rasanya berat. Tapi Brayen sadar jika perasaan ayah nya selama ini sangat dalam kepada Letta.


Rasanya Brayen menyesal,


................


Sudah satu jam Letta sama sekali belum sadar. Putra menatap lama jam, ini satu jam pertama terlama yang Putra rasakan, segera hendak keluar sampai ia merasa pergerakan dari tangan letta. ia segera mendekati leetta dan menahan tangan letta yang bergerak agar infusnya tidak terlepas.


Letta meringis merasa kepalamnya sakit, tidak ingin membuka matanya karena kepalanya sangat pening, terasa dingin tangan seseorang menahan tangannya untuk memegang kepalanya. Letta merasa deruan nafas di wajahnya sangat dekat.” Letta...” Gumam Putra serak.


Letta menyipitkan matanya memandang siapa yang ada, meringis pelan merasa pening dan kepala berdegung. “Putra?” gumam Letta berbisik.


Putra mengusap pelan kepala Letta dan bergumam serak..” Jangan banyak bergerak..” bisiknya pelan mengusap pipi letta tenang.


Letta merasa tak nyaman menggeleng membuat Putra menjauhkan tangannya dipipi letta, Letta mengenakan alat bantu nafasnya merasa terganggu, Putra membantu menahannya.” Ja..” letta membuka pelan membuat Putra tidak lagi berkutik. Letta terlihat memejamkan mata mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


“ minum.” Bisik letta pelan.


Putra segera keluar dar posko miliknya dan berteriak meminta minum, itu di dengar oleh letta, sampai Putra membawa air putih dalam gelas. Segera membantu letta minum, sejenak letta meringis merasa perih bagian bibirnya. Putra menatap letta sedih sebab memang bibir letta bagian bawah ada yang terluka,


Meneguk minum pelan pelan Letta menghela nafas pelan. “ butuh apa lagi?? bentar aku ambil obat yah, tadi kata dokter kalo udah sadar harus kasih obat.” Jelas Putra memberikan kapsul yang letta tidak tau apa. Letta melihat tablet yang masih ada di sebelahnya, menatap berturut turut dan berdehem. Vitamin dan juga obat agar lukanya tertutup kembali.


Letta menikmati obat yang Putra beri, usai meneguk yang Putra melebarkan mata.” Yaampun kamu kan belom makan, muntahin muntahin..” jelas Putra menatap letta panic.


Letta mengerjab polos memandang Putra. “ sudah tertelan.” Jelas Letta pelan.


Putra meringis.” Coba buka mulutnya.” Jelasnya pada Letta,


Letta membuka pelan mulutnya, tangan Putra hampir masuk sampai letta gigit. Putra meringis menatap letta melotoot.” Kenapa digigit aduh.” Gumam Putra mengusap jari yang letta gigit.


Letta menghela nafas pelan.” yah loe ngaoain masukin ke mulut gue?” bisiknya bingung.

__ADS_1


” Buat ngambil obatnya dong, nanti bukannya cepet sembuh tapi malah bikin sakit, itu kan ada zat asamnya nanti kamu sakit letta.,” gumam Putra.


Letta mendengar itu menggeleng pelan.” ambilkan gue roti sekarang.” Jelas letta berdehem.” Untuk tidak sakit yah makan sekarang saja.” Jelasnya.


Putra mendengar itu mengangguk setuju dan segera mengambil roti yang lketta katakan. Letta menghela nafas melirik ruangan, mengernyit sadar jika ini bukan ruangan, tapi ini adalah semacam tenda yang cukup lah tidak besar hanya cukup, berisikan baju yang entah berantah, lalu ada beberappa carter dan peralatan. Tidak jika kalian pikir rapi, ini cukup berantakan bagi letta.


Tenda berwarna coklat berisikan name kedinasan milik Putra, letta tau jika ini pasti tenda milik Putra dan juga anggota nya. Sampai Letta melihat bidan yang kemarin memeriksanya ada di sini sembari tersenyum kepada dirinya.” Haloo.. bagaimana keadaannya?? Ada yang sakit?” Tanya jasmine lembut dan ramah.


Letta mengerjab pelan memandang jasmine. Letta menggeleng pelan.” biarkan aku memeriksa mu oke.” Jelas jasmine, sejak pertemuan pertama letta memang tidak banyak bicara, bahkan saat ditanyakan oleh dirinya letta akan tetap diam, bisa jadi dia memang pendiam batinnya.


Letta diperiksa oleh jasmine dan saat itu juga Putra sampai membawa nasi hangat dan juga lauk sarden, menatap letta tak enak hati.” Kamu pasti lapar kan, makan nasi saja yah?” jelasnya pelan. Letta mendengar itu meringis pelan.


“ tapi dia tidak bisa makan makanan siap saji.” Jelas jasmine pada Putra pelan.


Putra mengernyitkan dahinya memandang letta dan jasmine aneh.” Kenapa?” Tanya putra.


“k.”


“ tidak, aku bisa makan, tetapi karena baru awal bangun mana bisa dikasih makan berat Putra, harusnya nasi yang lunak.” jelas Letta memotong ucapan jasmine.


Putra mendengar itu mengerjab paham.” Baik jika begitu aku akan membuat tim nasi, soalnya disini tidak bisa menghidupkan api, nanti akan mengundang musuh.” Jelas Putra pelan. letta mendengar itu mengangguk melihat Putra yang mulai menlunakkan nasi menggunakan tim di kursi tak jauh dari mereka.


Jasmine melihat itu tak percaya., putra yang biasanya pendiam, dingin, bahkan tak banyak melakukan apapun yang di perintahkan sekarang sangat menurut hanya karena seorang perempuan. Jasmine menatap letta dengan pandangan bertanya.” Kalian saling kenal?” Tanya jasmine pelan,.


Letta mengangguk pelan melirik jasmine.” Kami teman lama.” jelas letta pelan. Putra mendengar kalimat teman lama tersenyum masam, hati Putra seperti ada yang terluka tapi yak berdarah. bahkan saat ia sudah merelahkan Letta agar bahagia, hatinya tetap menolak.


Jasmine mengangguk paham sembari menyuntikkan cairan di bius milik letta. “ jika begitu kamu kedepan harus hati hati, agar lebih cepat sehat, jangan terlalu sering bergerak sebab luka di lenganmu sudah sangat parah dan tak bisa dijahit ulang. “ jelas jasmine tak enak hati.


Letta mengangguk pelan.” dan ingat kamu belum di ronsen bagian jantung kan? saya takutnya kamu ada kelainan, jadi mohon untuk memperhatikan keadaan diri kamu sendiri. Jangan makan makanan mengandung banyak pengawet, itu bahaya.” Jelas jasmine pelan dan tersenyum ramah.


Letta berdehem pelan mendengar itu.” nih.. kamu sudah bisa makan bukan?” Tanya Putra mendekati letta membawa nasi yang sudah di Tim.


Letta memandang itu tak enak, melirik Putra yang sudah berusaha membuatnya letta menjadi tak enak hati.” Yah terimakasih.” Jelas letta hendak mengambilnya.


Tetapi putra menjauhkan dari lettta. Letta mendongak memandang Putra bertanya. Putra mengambil sendok dan menuangkan sedikit air.” Tanganmu tidak bisa terlalu banyak bergerak lagi kata dokter. Jadi aku akan menyuapi kamu.” Jelas Putra mengambil kursi kosong di sebelah Letta, ia menaruh satu ikan dari kaleng.” Ini sudah aku hangatkan menggunakan kompor kecil. Tenang saja ini sudah ditaru bawang yang banyak dan daun kemangi jadi tidak amis.” Jelas Putra kembali sembari tersenyum.

__ADS_1


Letta mendengar itu cukup bersyukur sebab tak ada dalam ingatannya memikirkan makan mentah, meskipun itu makanan instan.....


__ADS_2