Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Rumah Putra


__ADS_3

Fajar mendengar itu terhenti sejenak, segera berbalik lagi menatap Kirana dingin. Mata Kirana membola memandang fajar yang dingin di depannya.” Apa loe bilang?” Tanya fajar serak.


Kirana di sana mengangguk penuh keyakinan.” Aku akan habisi dia sama kayak yang lain.” ketus Kirana. Tangan Kirana terkepal, dirinya sangat tidak menyukai siapapun yang mendekati Fajar.


Telunjuk Fajar mengangkat di depan Kirana, kirana mengerjab pelan memandang Telunjuk fajar.” Loe gila.. Loe nggak bisa ngatur hidup gue begitu terus Kitana. Loe udah bukan siapa-siapa gue lagi asal loe tay” ketus fajar dingin.


Kirana menganguk. "Aku emang gila kaerena kamu.. kamu yang ninggalin aku fajar. Aku sayang kamu, aku cinta sama kamu tapi kamu nya buang aku gitu aja.” Gumam Kirana lirih, fajar mendesis kembali pergi dari sana. Kirana membuat darahnya naik jika begini terus.


Pergi ke kelasnya, wajah Fajar sangat suram, kirana membuat suasana hatinya menjadi rusak, apalagi penolakan Letta tehadap dirinya sebelum nya.


Fajar hanya ingin minta maaf atas masalah sebelum sebelumnya. Benar tidak ada niat yang lain. Fajar juga sadar diri jika ingin meminta Letta bersamanya, ia sudah terlalu banyak dosa kepada Letta.


Fajar juga bertanya-tanya, apakah ia menyukai Letta Yonarsa atau Letta yang asing menjadi Letta yang selama ini menganggu dirinya.


“ kenapa loe sampek sampek muka kayak kanebo kering?” Tanya Brayen heran pada fajar yang masam di depannya.


“ Kirana lagi gangguin looe? Siapa lagi yang dia bully?” Tanya Brayen heran.


Siapapun juga tau sekarang Kirana suka menganggu Fajar, semua orang di kampus ini juga tau.


Fajar seperti tawanan wanita obsession, dulu Letta sarang Kirana. Kadang teman temannya kasihan melihat fajar,


Fajar menghela nafas pelukan memijit pelipisnya.’” Letta tadi pulang, gue ketemu letta.” gumam Fajar.


Brak. Brayen terjengkang karena kaget, sontak seluruh teman kelas memandang Brayen yang terjengkang kaget., Fajar melirik Brayen meringis,


Brayen meringis kesakitan saat tubuhnya tergeletak di lantai dengan kursi menimpah tubuhnya.” anjir sakit bet.” Gumamnya kesakitan memegang pinggulnya,terlalu kaget ia lupa jika ia duduk du ujung kursi dan memukul meja yang hanya secuil ini membuat nya patah berakhir penyangga bawa juga patah.


Fajar meringis melihat brayen ditengah orang orang tertawa.” Diem kalian semua.” Ketus brayen kesal.


Melirik Fajar yang meringis mnatapnya.” Loe? Loe ngomong apa tadi?? Ketemu letta???” tanyanya pelan mendekati Fajar yang di depannya.


Fajar mengangguk pelan.” dia pulang.. dia udah kuliah lagi itu tadi.” jelas Fajar polos.


Brayen mendengar itu segera keluar dari kelasnya. Fajar melihat itu kaget. Respon Brayen sangat berlebihan.


Dan brak semua orang kembali kaget saat Brayen yang malah kembali menabrak seseorang.


Dosen..!! brayen tak sengaja menabrak dosen hingga buku yang dosen itu bawa berjatuhan. Brayen kaget mengerjab pelan menatap dosen kiler tersbeut.” Yaampun miis. Sorry saya nggak kelihatan sorry sorry.” Gumam Brayen segera memungut buku. Brayen rasa hari ini adalah hari sialnya.

__ADS_1


“ kamu ini. kamu pikir saya hantu apa nggak bisa lihat.” Ketus pak guru yang Brayen tabrak.


" Beneran Miss. saya nggak lihat!!"


Brayen menjadi gugup disana. ''badan saya segede gaban ini, menghina saya yah kamu?” tanyanya lagi datar, sebab tubuhnya memang sangat besar, beratnya saja 120.


Brayen menggeleng cepat,” tad-tadi saya buru buru pak. Maaf,, “ gumam brayen.


dosen itu hanya mendengus mengambil buku yang sudah dipungut dan masuk. Brayen mau tak mau ikut masuk dan belajar, tidak jadi menemuinya Letta. Fajar melihat itu tersenyum tipis. Brayen duduk di sebelah fajar dan mendengus kesal.” Ketawa terus loe..!”


Memasuki kelansya. Letta harus satu kelas dengan anak anak baru, yang artinya mereka leih muda dari Letta. Tatapan mereka menatap Letta yang memasuki kelas dengan kagum, dengan wajah yang cantik dan tubuh yang tinggi, seluruh laki laki di dalam insecure. Letta paling tinggi di antara yang lain..!!!


Menaruh tasnya di bangku kosong. Letta menghela nafas pelan. jurusan kedokteran ini membuat letta malas belajar tapi jika tidak belahar dirinya mau jadi apa. Mau nganggur saja tapi kena tampol ayahnya nanti. Agung kan mau dirinya sekolah tinggi tinggi.


Tapi bukan baik tangga juga.


“ halooo.. ini bangku gue..” Letta melirik wanita yang bicara padanya ketus, melirik name teg yang di jas putih miliknya Kertas bisa membaca namanya, Sarah, wah wah namanya mirip dengan mantan istri Bima yah, melihat lagi wajah wanita ini. wajah dengan make up yang cukup tebal, blush-on yang tebal, lipstick pink.


Letta berdehem pelan.” emang sejak kapan bangku di kampus bisa dikliem?” Tanya letta sinis.” Siapa yang cepat dia yang dapat lah.” Gunanya kembali.


Wannita bernama Sarah itu mendatarkan wajahnya., menatap letta dingin.” Loe baru masuk kan? orang udah pada masuk sejak kemarin. Loe dateng dan ini gue duluan yang nemuin kemarin.” Tegas Sarah kembali dengan jelas.,


“ itu kan kemarin.” Jelas Letta dingin.” Kalo sekarang yah beda cerita lah. “ lanjut Letta tak mau kalah, seluruh orang kelas menatap mereka dengan pandangan ragam. Menilai Sarah dan Letta yang rebut pada bangku yang mereka inginkan.


Letta melirik sosok tersebut melirik dari atas hingga bawah. Wnaita yang ditatap oleh letta begitu dingin tertegun, sedikit tidak nyaman. Sedangkan sarah tersenyum bangga menatap letta yang diam saja.” Udah kan?? jadi silahkan pergi gue nggak suka cari gara gara.” Tegasnya dingin lagi.


Letta melirik Sarah sinis.” Bawa kakak loe ke sini, nggak takut gue. bahkan kalopun bokap loe dosen di sini gue nggak takut.” sinis Letta.


Sarah mendengar itu menatap letta dingin dan datar.” Loe cari gara gara sama gue,” tegasnya kesal. Letta meliriknya dan menaiki satu alisnya. Saat hendak bicara dosen memauskiu kelasnya.


Sarah di sana mendengus segera menjauh, tidak mau mencari gara gara pada Letta. Letta tersenyum sinis dan segera kembali membuka bukunya.” Loh.. Letta kan?” Tanya dosen tertegun pada Letta


Letta meliriknya dna bergumam.” Yaampun kemana aja kamu..” gumamnya menggeleng. Letta berdehem.


” hiling pak.” Jelas Letta.


“ hiling kamu setahun, nggak sekalian pindah Negara kamu?” tanyanya dingin.


Letta terkekeh pelan menatap dosen ini. ia masih ingat Letta yah. Dosen bernama Rafael, yang dulu menjajikan dirinya nilai A jika Letta bisa menajwab seluruh pertanyannya.

__ADS_1


Sedangkan sarah disana menatap dingin kearah letta.” sabar aja.. nanti loe lapor sama kakak loe. Biar dikasih pelajaran dia.” Ketus temannya.


Sarah tersenyum sinis.”lihat aja nanti. Gue bakal bikin dia nggak masuk lagi ke kampus.” Ketusnya dingin, melihat kehadiran Letta. Sarah menjadi tersampingkan. Letta sangat cantik dan juga tinggi, berbeda dengan dirinya yang semampai. Padajal sebelumnya tidak ada Letta dirinya paling cantik di kelas ini.


....


Putra menghela nafas pelan, menatap anak yang berusia 7 bulan yang ada di depanya sudha bisa berjalan dengan pelan. Tersenyum tipis, anak laki laki yang wajahnya sama persis sepertinya dirinya sata bayi, dia seperti poto copy dirinya sendiri. “Putra kan aku udah bilang jangan kasih Jay coklat, nanti dia batuk.” Keus jasmine melihat anaknya memakan coklat.


Putra yang dimarah oleh Jasmine menerjab pelan melirik lagi anaknya.” dikit aja, nggak apa apa kok.” tegas putra pelan.


Jasmine berdecap kesal mendengar itu, “ nanti batuk tau rasa.” Gumam jasmine mengambil coklat ditangan anaknya.


Anak putra yang diambil coklatnya menangis, itu coklat terbuat dari susu, memang khusus untuk bayi yang baru belajar makan. “ kan kan. “ gumam Jasmine kesal pada Putra.


Putra disana berdehem segera mengambil anaknya dan menimangnya.” Nanti kita beli yah.” bisik Putra.


“kamu jagain dulu yah. itu ada uang datang pasienku. “ tegas Jasmine.


Putra berdehem pelan pada Jasmine dan kembali menggendong anaknya. Putra mengambil susu dan memberikan anaknya minum, dengan lahap anaknya meminum susu dari botol yang Putra berikan.


Putra tersenyum tipis memainkan bulu mata milik anaknya, sangat lentik. Semenjak kasus nya dan Jasmine itu terbongkar, ada banyak cerita terlewatkan, dimana Jasmine harus di mutasi dari jabatannya sehingga ia harus dipecat secara tidak terhormat karena Sudharmawan membuat intansi rusak.,


Lalu terbongkar siapa pelaku utamanya yang membuat dirinya di posisi sekarang, sampai pada putra juga dipecat akhirnya, ralat karena Putra tidak tega melihat Jasmine harus menanggung sendiri. Agar adil Putra memilih keluar dan sekarang bekerja melanjutkan usaha ayahnya dulu.


“ kamu jika sudah besar nanti, jangan begok kayak papa yah nak. Papa aja yang begok kamu jangan.” Gumam Putra pelan mengawil hidung anaknya.


Semenjak Jasmine keluar dari pekerjaannya. Jasmine memilih membuka klinik sendiri yang dibiayai oleh Putra. Kan sudah Putra katakan dia akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Jasmine dan anaknya, ia memberikan Jasmine rumah yang layak,. Klinik yang bagus dan sekarang mereka tinggal di sini, di rumah yang Putra berikan. Dan setiap hari pasti akan ada yang datang untuk berobat. maklum rumah mereka memang di pedesaan.


Jay melepehkan dot yang ia minum. Putra menaiki alisnya bingung.” Bababababa.” Gumam bayi itu belepotan mengawil ngawil tangannya ke udara.


Putra tersenyum tipis dibuatnya.” Yayayayaya.” Gumam Putra. Sang anak malah terbahak bahak.


Putra tertawa ringan melihatnya itu. sampai jasmine datang kembali.” Loh udah?” Tanya putra pelan.


Jasmine mengangguk mendekati jay dan Putra.” Dia Cuma ambil obat rutin aja tadi katanya.” Gumam Jasmine pelan kepada putra.


Putra menganguk pelan, membiarkan jasmine mengambil alih jay.” Kamu nggak kerja? Kenapa di sini terus dari tadi pagi?” Tanya Jasmine.


Putra menaiki alisnya.” Memangnya tidak boleh? Aku ingin menemani anakku.” Gumamnya pelan dan juga kesal.

__ADS_1


“ bukan nggak boleh. Kan aku nanya aja.. kamu bisa ngak sih nggak ketus atau marah marah sama aku sedikit aja.” Gumam jasmine kesal.” Terus aja marah marah gitu.” Gumamnya pelan. Putra disana mendengus mendengarnya pertanyaan Jasmine, sedangkan jasmine hanya bisa menghela nafas kesal.


Putra tidak punya hati.


__ADS_2