
Sorenya Letta pulang di antar oleh polisi polisi tadi. Hanya Reno dan Putra yang lainnya harus kembali tugas. awalnya Letta ingin minta bantuan Mars saja untuk mengantarkan dirinya pulang tapi rupanya Putra dan Reno ingin mengantar dirinya.
yah Letta mau-mau saja kan gratis. Dan ada Putra yang mengantarkan dirinya pulang.
Letta juga tidak terlihat trauma sama sekali, hanya saja luka di bagian bagian tertentu saja. Itupun beberapa luka di biarkan dibuka saja supaya lebih cepat kering kata dokter.
Tapi beberapa tim medis menyarankan untuk di kain kasa saja sebab luka terdapat dibagian lipatan. Takutnya akan selalu basah.
Ternyata jatuhnya Letta kemaren membuat keningnya merah dan kaki yang terkilir penuh luka. Akibat berlari kemaren sehingga kakinya mengeliupas dan lecet sampai letta kesusahan berjalan, bahkan ada yang terlihat berlubang karena menginjak batu Runcing. Jadi gini yah rasanya Full sakit.
“ dimana rumah kamu?” Tanya polisi prihatin memasuki gang yang banyak rumah tak layak di dekat tong sampah.
Letta menunjukan rumah miliknya yang berada di ujung, tak jauh dari tempat pemukiman kumuh. Rumahnya memang beton seorang diri tapi lokasinya sangat memperhatikan.” Itu rumah kamu?” Tanya Putra tidak percaya pelan.
Letta mengangguk pelan. Reno menutup hidungnya menggunakan baju dan melirik Letta yang tenang saja. “ kamu semangat yah Letta.” ujar Reno.
Letta mengangguk tenang lalu melirik Reno. Tatapan Reno menatapnya penuh belas kasih membuat Letta paham. Mereka sedang prihatin dngan tempat tinggalnya? Tenang saja, nanti ia akan pindah kok dari sini ke rumah yang sudah ia kredit kan.
eh eh karena besok ia akan dikirim uang oleh Zeyn ia akan membeli rumah itu cesh..!!!
Sampai rumah Letta, rumah sangat sepi.” Kamu tinggal sendiri letta? kamu yatim piatu yang kerja banting tulang sendiri?” Tanya Reno menyerobot penuh prihatin.
Letta mendelik., “ enak aja loe ngomong. bapak nyumpahin ibuk bapak saya meninggal?” Tanya Letta nyaris meledak.
Reno meringis saat dibentak letta.” hehe kayak di novel dramatis Letta. hidup sebatang kara harus menghidupi dirinya sendiri. Atau ibunya sakit dan kamnu harus banting tulang.” Jelasnya kepada Letta nelangsa.
Letta menatap nyalang Reno.” mbah mu novel.!!!! Terus nanti ketemu CEO orang kaya dan hidup happy ending? Yey.. gitu?” Tanya Letta malas.
Reno terkekeh.” Seru tau novelnya.” Gumamnya mencibir.
“ dasar duda.” Gumam letta. Reno menatap letta tak terima, kenapa statusnya dibawa-bawa?
__ADS_1
Putra mengeleng menatap keduanya yang ribut.” Udah udah. Ribut aja terus kalian ini, kita udah sampai.” ujarnya kesal pada keduanya.
Letta disana menatap Putra yang bicara. Suara Putra. Jika suara Putra lembut maka sekarang suaranya agak sambal, bahasa Indonesia baiknya kasar, terdnegar serak basah. Lebih cool ketimbang sebelumnya. tapi tetap lembut.
“ udah le hmm dek.. letta.” gumam Putra pelan kepada Letta.
“ kamu tinggal sendirian atau bagaimana?” Tanya Putra menyentu bahu Letta pelan.
Letta menatap bahunya membuat Putra melepaskan tangannya.” Maaf .” gumam Putra.
Letta mengangguk.” Saya sama orang tua dan saudara saudara saya. Tapi mereka sedang perg--. “
“ Letta..'' suara tergesa gesa dari seseorang membuat letta menatap ke belakang. Dimana Nato penuh poeluh keringat berjalan mendekatinya. Menatapnya tajam dan tidak suka. Saat hendak bicara suara Nato tertahan, menatap luka luka yang ada di tubuh letta. ia merasa prihatin.
” bapak ibuk nyariin loe dari semalem, dan gue denger kabar loe di begal. “ jelas Ntao kepada Letta.
Letta mengangguk pelan menunjuk lehernya.” Hampir di gorok.” Ujar Letta memelas.
Plak. letta tersingkap saat Nato malah melempar dirinya sepatu. Putra dan reno bahkan ikut shok.
Letta memegang kepalanya shok menatap Nato yang nafasnya naik turun. ,matanya bahkan memerah dan urat dileher menonjol. “ loe egois tau nggak. Loe nggak pernah mikirin orang lain, selalu mikirin dii loe sendiri. Kenapa loe nggak mati aja sih.” teriak Nato kuat.
Nyut. Hati letta terasa sakit, rasanya sama melihat seperti kakaknya Zaxi yang mengatakan hal tersbeut. Letta menatap Nato nanar dan nato membuang muka, memungut sepatunya sendiri.
” Kamu kakaknya?” Tanya Putra tegas pada Nato. Reno hanya diam menatap Letta kasihan.
" Nggak boleh ngomong gitu Ama adek. Letta baru pulang loh dari rumah sakit." ujar Reno tegas.
Nato melirik Putra dan Reno, segera membuang muka.” Bukan. Saya nggak sudi punya adik kayak dia.. nakal, egois,. Bikin orang sengsara aja.” Jelasnya segera memilih masuk ke dalam rumah.
“ he.. dek.. “: Putra memangguil Nato tegas tapi Nato tidak peduli, segera memasuki rumah dengan mengepalkan tangan kuat.
__ADS_1
Letta mengerjab pelan memanyunkan bibir tanpa sadar, sebab rasanya Letta ingin sekali menangis. Air mata Letta rasanya ingin tumpah jika begini. Putra melirik Letta kasihan.
“ kamu pulang dan istirahat dulu Letta. kakak kamu itu bicara karena khawatir kepada kamu..” jelasnya Reno sendu pada Letta.
Letta menatap Reno dan mengerjab pelan, mengangguk paham. Reno semakin tidak enak rasanya melihat wajah yang tadinya ceriah penuh cahaya sekarang mendung.
“ yaudah Ayo..”Ujar Putra, membawa Reno segera menjauh dari letta. samar samar melihat letta yang diam berdiri menatap mereka memasuki mobil. Rasanya Letta yang diucap begitu tapi mereka yang sakit hati.
" Duluan Yah Letta, nanti kita main lagi!!!" ujar Reno melambaikan tangan di salam mobil.
" Iya hati-hati yah. makasih!!!" Letta ikut melambaikan tangan menatap mobil polisi menjauh. Ia Menghela nafas pelan.
Letta segera memasuki rumahnya, menutup pintu rumah pelan. Letta menatap kamar Nato yang tidak tertutup rapat. Lewati saja.. tapi Letta mendengar suara tangisan. Apa benar Nato hanya marah dan khawatir padanya?
“ ngapain loe depan kamar gue?” Letta kaget bahkan tubuhnya bergetar mundur.
Menatap Nato yang keluar dengan tubuh setengah tak berbaju hanya menggunakan celana pemndek santai. Letta menatapnya malas. “ tadi kirain kuntilanak yang nangis.” Ujarnya mengejek.
Nato mendengarnya menatap Letta tak terima.” Iya kuntilanak. Sana sana jauh jauh dari kamar gue.” ujar Nato mendorong Letta kuat dari kamarnya.
Letta yang kakinya masih penuh perban meringis merasa sakit dan juga perih. He lukanya masih basah loih yah.!!
Nato melebarkan mata mnatap letta jatuh dan meringis kesakitan. Letta Mendelik menatap Nato penuh permusuhan letta membuang muka tidak terima.
” Jahat banget sih loe,..!!” teriak Letta.
Nato membuang muka segera masuk ke kamarnya. Tidak peduli akan Letta yang duduk di lantai menyedihkan..
Letta menatap Nato yang memasuki kamarnya mendelik.” Awas yah Loe Nato...!!!!” teriaknya kesal, segera berdiri dan mengusap lukanya yang terasa perih.
Letta menatap pintu kamar Nato penuh permusuhan,. “ awas yah loe.. gue sumpahin jomblo seumur hidup..!!” teriak Letta lagi dan segera menjauh memilih menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1
Luka di kakinya bukan main main, bahkan ada yang bolong akibat terkena batu tajam sekarang berdarah lagi. Letta memasuki kamar dan mengelus kakinya perih.
” Sialan nato. Awas aja loe nanti!!!"