
Letta menghela nafas dan mengangguk pelan. segera Bima mendekati Betta dan dengan malas membawa betta tidur ke atas lagi, mata Letta melebar melihat kepala milik Betta.
Benjol. .!
bengkak nya besar lagi. Astaga!!!
Menatap Bima tajam,. Letta memukul lengan Bima keras. Bima meringis kesakitan karena Letta memukulnya.” Is om ini bikin temen Letta jadi benjol. Kan kasihan.” jelas Letta kesal pada Bima, lihat kepala Betta sangat benjol dan biru.
Bima terkekeh pelan.” yang penting saya bisa jenguk kamu, kamu cepat sembuh yah baby, besok mobil yang kemaren jual saja, biar saya ganti mobil baru.,” jelasnya tegas.
Letta mendengar hal itu memandang bima merasa bersalah.”nggak usah om. “ jelas Letta menolak.
“ No, uang saya banyak, kalo bukan kamu yang ngabisin siapa lagi.” jelas Bima enteng. Letta mendengar hal itu sangat senang, sialan, Letta matrek.
" Eh om beneran nggak usah." jelas Letta gugup. mudah sekali rasanya di bujuk.
Bima terkekeh melihat tingkah menggemaskan Letta. " kau lucu sekali." Gumam Bima. Letta menatap Bima kesal. Harusnya kan Bima tawar lagi!!!
.....
Di pagi hari Betta meringis kesakitan keluar kamar Letta, memegang jidatnya yang memar kebiruan dan bengkak, bertemu dengan Nato yang membantu ibunya membawa barang barang kedepan.” Loh bet? Itu kenapa kening loe?” tanyanya pelan. ini masih subuh, jam 4subuh.
Betta menggeleng pelan kepada Nato.”nggak tau, tiba tiba bangun kayak gini, mungkin gue semalem jatoh deh terus Letta bantuin gue tidur ke atas lagi, soalnya tadi gue lihat lengan Letta berdarah.” jelas Betta tak enak hati.
Nato mendengar hal itu mengangguk paham, semakin paham jika Letta itu sebenarnya sangat baik, memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri.
“ bentar loe tunggu di sana. gue ambilin obat.” Jelas Nato membawa Betta duduk di sofa.
Betta mengangguk dan Nato segera pergi ke warung mengantar barang barang yang tadi dirinya bawah.
Berselang beberapa saat Nato datang membawa kompres air hangat dan juga sirih dan minyak zaitun. Betta melihat hal itu aneh, tapi ia bisa lihat jika Nato menghidupkan lilin menggunakan korek api, lalu membakar daun sirih.” Ini obat letta hehe. Di ambil dikit nggak apa apa yah.” jelas Nato terkekeh pelan mengoleskan minyak pada daun siri.
Betta tersenyum tipis mendendengar nato bicara. “ emangnya ini bisa obat bengkak?” Tanya Betta. Selama ini dirinya tidak pernah menggunakan obat herbal, biasanya menggunakan obat gosok atau obat oles dari dokter. Ini aneh baginya.
Nato menempeli kepala Betta menggunakan sirih yang sudah sedikit hitam dan panas. Betta meringis merasakan perih dan sakit bercampur rasa panas.
“ Tahan yah.” jelas Nato membuat sirih mengeluarkan cairan di sirih tadi.
“ dulu itu kami nggak punya uang kalo buat beli obat, jadi kalo gue luka karena dipukul sama temen atau jatuh dari jalan kaki bapak pakek obat ini, memang lebih cepat kempes dan enak pas udah makeknya, besok ini pasti bengkaknya kempes, kering deh lukanya.” Jelas nato tersneyum tipis memandang manik mata Betta.
Bertepatan dengan betta yang juga menatap manik mata Nato, sedikit salah tingkah, Betta mengangguk pelan mendengar hal itu.” udah mendingan kan?” Tanya Nato pelan .
__ADS_1
Betta mengangguk kaku, tidak tau harus apa, sebab nato sangat lembut memperlakukan dirinya. “ loe mau kemana?” Tanya nato pelan pada Betta yang diam saja.
“ gu gue mau sholat.” Jelas Betta pelan.
“ oh loe muslim, tapi di sini nggak ada mukena, bentar gue pinjem sama karyawan kami aja dulu yah.” jelas nya tegas.
Betta mengangguk.” Iya thanks yah.” jelas betta tersenyum tulus.
Nato mengangguk pelan segera menyimpan semua obat tadi, segera pergi dari sana. betta memerah melihat nato menjauh, ia baru tau jika Nato sangat manis.
Mereka sama sekali tidak sadar jika Letta melirik dari balik pintu, mengintip semuanya. letta mencibir Nato yang begitu baik dengan perempuan lain sedangkan kepada adiknya main teriak teriak terus.
“ pencitraan.” Gumam letta dengan sinis, segera kembali tidur, sedangkan Bima sudah pulang tadi malam saat Betta masih tidur, dan saat Betta terbangun Letta pura pura tidur karena tak ingin di Tanya Tanya.
Pagi rumah letta sudah sangat ramai, Bastian dan Udin yang sudah heboh bermain dengan Nemo, Betta yang membantu Nadia masak sarapan, Agung yang sudah sibuk membantu Letta mengganti perban dan juga menaruh saleb di beberapa luka basah dan daun sirih di beberapa bagian bengkak.
Letta memang dilarang mandi untuk beberapa hari jadi Nadia yang tadi membantunya mengompres bagian tubuh yang terasa gerah di siang hari ini.,
“ hahaha jadi Letta dulu itu ditakutin sama banyak orang?” Tanya nadia pada Betta yang membantu dirinya memotong sayur.
Betta mengangguk polos.” Betta aja takut sama dia, muka dia serem, lihat orang tu kayak gini buk.” Ia memperaktekkan matanya Letta zaman dulu.
Nadia terkekeh mendengar cerita Betta.” Apalagi dia ngejar ngejar Fajar, semua orang dijambak dan diteriakin. Betta aja nggak percaya kalo sekarang itu Letta buk, Letta pikir mereka dua orang yang sama tapi beda karakter dan keseluruhannya juga beda.” Jelas Betta serius,
Tapi saat Agung memberikan darahnya kepada Letta yang artinya mereka tetap sama kan? Letta anaknya.
Nadia menggeleng pelan, tidak ada yang harus dirinya khawatirkan. Letta tetap anaknya, dia hanya berubah menjadi lebih baik karena paham jika yang dirinya lakukan selama ini adalah suatu kesalahan. Yah tidak ada yang harus di ragukan.
Letta dibawa oleh Agung ke dapur menggunakan kursi roda, menatap Udin dan bastian yang mulai membersihkan apa yang mereka mainkan.” Ayoo makan makan, sarapannya udah jadi.” Jelas Betta kepada Bastian Udin. Kebetulan Agung dan Letta sudah menuju dapur.
“ tu pak, cocok jadi mantu bapak.” Jelas Letta pada Agung mengarahkan dagu pada Betta yang menyiapkan makanan.
Agung menunduk memandang Betta terkekeh, sedangkan Betta di sana memerah salah tingkah.” Apa sih Letta, “ jelasnya buru buru kebelakang. Letta terkekeh melihat tingkah Betta yang lucu.
“ beneran pak, tadi pagi Letta lihat Nato pakek obatin dia segala, lukanya di kening tapi pipi yang di pegang, kepala nya yang bengkak hatinya yang di obatin. Betta juga baik, pinter, suka masak, dan lagi yang pasti dia lemah lembut, hatinya kayak sutera saking lembutnya.” Jelas Letta dengan menjabatkan Betta, ada nada mengejek di bagian Nato dan Betta.
Agung mendengar penjelasan Letta mengangguk.’'Bisa di pertimbangkan sih.” jelasnya bergumam.
Letta tertawa pelan melihat Agung mengangguk.” Tapi nato harus sekolah dulu, nggak boleh pacar pacaran, pacaran itu butuh modal, butuh uang. Kamu pikir pacaran nggak mau jalan jalan? makan? Nato kan ngak punya uang masa dibayarin cewek atau split Bill..” Ejek Agung.
Letta mengangguk setuju.” Bener juga. Nato kan miskin.” jelas Letta terang terangan.
__ADS_1
“ hus.. di dengerin Nato habis kamu di cubit.” Jelas Agung mengusap pelan kepala Letta, Letta terkikik mendengar Agung.
Benar juga.
....
Tama mengepalkan tangannya, hidup nya sudah satu minggu menjadi sangat sulit, uang tak ada yang masuk, karena Bima tidak lagi memberikan mereka uang, jangankan uang, sekarang rumah itu di jual oleh Bima sehingga pemilik rumah mendatangi rumahnya dan mengusir mereka secara tak terhormat
Di sebelahnya ada Brayen yang begitu menyedihkan menyandeng tasnya ke depan badan Karenna kakinya patah.” Sialan, ini semua gara gara cewek sialan itu. “ jelas Tama kesal kepada Brayen., urat urat dilehernya keluar karena kesal.
Brayen tak menjawab, hanya diam menatap kedepan, dirinya harus kemana? Sudah tak lagi ada uang ataupun harta, rumahnya pun sudah di ambil alih oleh orang lain.
Brayen menghela nafas pelan melirik Tama” kita mau kemana ?” Tanya Brayen pelan.
“ kita?” Tanya Tama dengan alis terangkat.
Brayen menatap Tama dengan ragu dan mengangguk.” Loe pikir aja masing masing hidup yah. gue ngak sudi nampung adik cacat kayak loe. Nyusahin orang.” Tegas Tama mendengus mengambol tasnya.
“ kak.” Jelas Brayen mendekati tama.” Loe nggak bisa gini in gue, gue tetap adik loe.”: jelas Brayen dengan jelas.
“ gue tetep nggak sudi. Gue nggak mau mikirin loe, hidup gue aja udah susah. Bokap loe noh gila cewek, “ jelas Tama segera pergi meninggalkan Brayen sendirian.
Brayen memanas memandang tama.” Tapi uang tabungan gue kemaren loe yang ngabisin buat judi nggak jelas loe ini, balikin duit gue seenggaknya.” Teriak Brayen tidak terima pada Tama yang meninggalkan dirinya usai di ambil semua uang miliknya.
Tama mendengar hal itu mendekati Brayen dan memukul kuat wajah Brayen talak. Brayen terjatuh meringis kesakitan.” Apa loe bilang ha???? Uang segitu doang loe teriak koar koar. “ teriak Tama kepada Brayen menggema.
Brayen meringis memandang Tama sebab pukulan itu mengenai mata bagian kirinya, meringis kesakitan, Brayen tak bisa melihat dan berdarah.” awas loe yah nyari gue atau nyusahin gue.” teriak tama menendang kuat perut Brayen. Brayen meringis memegang perutnya kesakitan.
Kali ini Brayen menangis, matanya sakit.
Tama melirik Brayen kembali dan merebut dompet milik brayen.” Loe mau apa lagi anjing, balikin dompet sama tas gue!!!.” Teriak Brayen.
Tama mendengar hal itu sama sekali tak peduli, merampas uang dan juga hp seluruh barang brayen.” Mayan buat modal makan.” Gumamnya sinis.
” Balikin bang. Itu buat ongkos gue.” Teriak Brayen sembari memegang sebelah matanya. Tama tak peduli meninggalkan Brayen yang dalam keadaan menyedihkan
Brayen di sana meringis menangis memegang sebelah matanya, sakit, ini sangat sakit hingga matanya berdarah. Tama sialan, sekarang dirinya tak punya apa apa lagi selain baju dan itu juga dirinya tak akan bisa bawa,. Brayen menangis terisak di sana memeluk dirinya sendiri, jika sudah begini dirinya harus kemana? Meminta bantuan kemana????
“ cepet pergi.” Teriak pembeli rumah ganas pada Brayen yang masih tidur di teras rumah.
Brayen mengangguk segera mengambil tongkat kakinya dan pergi dari sana penuh kesedihan dan kesakitan, mengambil satu tas berisikan bajunya dan keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Brayen harus kemana di kondisi seperti ini?? matanya benar benar sakit dan tidak bisa di buka sebelahnya. Brayen menangis di dalam hatinya, mau menangis lebih keras dirinya malu,.
Dimana hati nurani sang ayah?