Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal

Transmigrasi Menjadi Gadis Nakal
Kehidupan Letta


__ADS_3

Fajar menekan diri untuk tidak menangis, rasa bersalah semakin menyerang, ditambah Brayen, Fahmi dan Renja pun suram. Terlebih Fahmi yang mendengar semua, tatapanya semakin kosong, ingat jika Letta asli sudah tiada karena mereka.


Air mata Fahmi tiba tiba keluar mendengarnya, jahat sekali mereka ini, orang tua Letta mati matian menghidupi Letta, memberikan yang terbaik, sedangkan mereka? dengan hati nurani yang sempit mendorong mundur Letta untuk mendekat. Kejam, kata yang pantas untuk mereka gauli.


“ kerja kuli, pulang malam saya. Anak saya Letta kecil dulu alergi susu sapi, harga susu selain susu sapi mahal, sampai jutaan sedangkan saya hanya kuli.” Jelas Agung mengeluarkan air matanya tak segan. Letta mendengarnya terdiam menatap Agung. Ia baru mengetahui itu.


Agung menghapus air mata yang jatuh. “ kalo dulu harga susu kambing tiga kali lipat lebih mahal ketimbang susu biasa. Sedangkan saya kuli bangunan, mati rasa kulit saya kerja lembur di tengah malam agar dapat uang lebih.” Jelasnya begitu lirih.


Nadia pun terdiam mendengar Agung bercerita. “ anak saya kecil dulu pernah sakit jantung, sampai saya jual semua harta saya demi anak saya hingga sembuh dan mendapatkan donor jantung. “ jelas Agung lirih.


Letta agak shok mendengarnya, sebab dirinya tidak tau itu terjadi padanya. Agung menepuk pundaknya.” Semua harta habis, saya ratakan, saya jual tanah saya, apapun yang saya miliki, demi anak saya hidup, demi putri saya sehat. Kamu lihat dia cantik begini.” Jelas Agung menepuk pundak Letta pelan.


” Dia sehat dan dia cantik, saya tidak pernah menyesal kehilangan segalanya demi dia, sebab saya hanya berharap anak saya hidup sehat dan terus bersama saya, “ jelas Agung lirih.


Letta baru tau semua itu, tak segan Letta memeluk Agung lirih karena hatinya runtuh., apa karena ini baik Agung maupun Nadia tidak pernah berprilaku buruk, memukul atau bahkan memarahi Letta usai melakukan kesalahan, mereka teramat menyayangi Letta sehingga Letta begitu berharga. Jadi apapun yang Letta inginkan mereka beri, mereka paham begitu berat membesarkan Letta.


Terkutuk lah kau wahai Letta asli!!!!! Tidak kah kau tau perjuangan ibu dan ayahmu dalam membesarkan dirimu? tidaklah kau berpuas hati memiliki malaikat begitu besar sayap dan kepalannya untuk membawa mu terbang ke angkasa dan melihat keindahan dunia ini?


apalagi yang kau cari sedangkan cinta yang kamu miliki sudah sesempurna ini?


Bukan hanya Letta yang menangis. Genta. Bita bahkan Zeyn pun meneteskan air mata mendengarnya. Fahmi semakin kosong tatapannya. Tangisnya lebih terisak ketimbang yang lain, rasa bersalah semakin menguras dirinya, tau benar jika Letta sudah tiada membuatnya sakit. Fahmi beranjak segera pergi meninggalkan ruangan membuat Renja yang menangis menatapnya heran. Brayen disana diam menunduk, sulit yang membaca apa yang ia pikirkan.,

__ADS_1


“ Maaf.” Gumam Fajar menangis lirih dan sesekali meringis sebab menangis bagian sudut bibir dan sudut matanya perih. Bahkan hidungnya yang berdarah terasa pangar saat dirinya bicara.


Agung menangis lebih dalam dan letta memeluknya lebih erat.” Putri saya sangat berharga, dan karena kamu saya hampir kehilangannya.” Jelasnya lirih. Bita disana memeluk suaminya erat., tak paham lagi dirinya mendengar cerita ini. Fajar sangat keterlaluan.


Fahmi lebih keras menangis di depan rumah Letta, di dekat bagasi mobil dirinya memeluk dadanya sendiri. Mendongak pelan.” Maafin gue letta. maafin gue..” bisik nya lirih.


Fahmi sesegukan menangis menggeleng pelan.” fahmi loe kenapa?” Tanya Renja menatap Fahmi yang menangis begitu menyakitkan.


Fahmi menggeleng memandang Renja, klehilangan suara hanya mampu terduduk di sana memukul dadanya. Renja tidak paham apa yang terjadi, saat melihat Fajar menangis pertama kali sebelum yang lain Renja heran, dan sekarang dia yang paling keras tangisannya. Seharusnyakan Fajar yang menangis lebih keras, kenapa jadi Fahmi?


Aura di sini sangat dingin, di balut dengan orang orang yang minim bersuara, sehingga keseluruhan hanya memandang agung yang menahan diri dan menenangkan diri dari tangisannya sendiri. Letta hanya bisa memeluk Agung erat dan Agung pun memeluk Letta erat hingga mencium tangan anaknya sayang. Letta menangis begitu dalam.


Sungguh, Letta merasakan seberapa dalam Agung menyayanginya. Agung begitu tulus dalam memperlakukan dirinya.


Fajar tidak banyak bicara, menatap Agung pun tidak berani, bukan hanya kali ini merasa bersalah, rasa bersalah yang kemaren kemaren menjadi berkali kali lebih kuat. Letta yang selalu dirinya sakiti, selalu dirinya pukul mundur hingga masuk rumah sakit. rupanya begitu sangat di manjakan orang tuanya. Fajar merasa menjadi bajingan sesungguhnya.


Agung menghela nafas pelan.” saya tidak mau melakukan apapun, melihat nya saja saya muak, rasa ingin membunuhnya sangat bergejolak di darah saya.lebih baik kalian singkirkan anak kalian yang itu di hadapan saya.” Jelas Agung membuang muka.


Genta dan Bita melirik Brayen membawa Fajar menjauh. Brayen linglung dan Fajar mendongak menatap Agung sendu, sebegitu salah dirinya sehingga terlihat begitu buruk dimata Agung?. Brayen segera menarik Fajar dan membantunya berdiri untuk keluar dari sini.


Agung menghela nafas melihat fajar sudah pergi dan keseluruhan di sana juga ikut diam, “ diminum pak bu. “ jelas Nadia memecahkan suasana.

__ADS_1


Mereka mengangguk, tenggorokan mereka haus, tercekat tapi rasanya air yang mereka lihat terlalu jauh dan terlalu sulit di gapai,. Terlebih rasa bersalah dari hati mereka sangat kental.


“ duh sakit Bry.” Ujar Fajar meringis keluar di papa oleh Brayen tangannya.


“ kayaknya tangan gue uratnya geser deh. Sakit banget.” Gumam Fajar lirih dan juga lemas.


Brayen di depan memapahnya mendesis” diem, dulu, sampek jauh dikit ini.” jelas Brayen.


Tapi suara keduanya digantikan suara tangisan lirih dari Fahmi, ada Renja di sana menatap Fahmi dengan tatapan heran dan Fahmi yang terus menangis lirih di hadapannya.


" lah Fahmi kenapa?” Tanya mereka dengan heran dan sulit.


“ Ren.” Panggil Brayen.


Renja memandang Brayen dan juga Fajar. Brayen memberi kode melirik fahmi dengan Tanya, tapi hanya dibalas angkat bahu oleh Renja.


Brayen membawa Fajar mendekati keduanya penuh keheranan,.” Fahmi kenapa?” tanyanya melirik Fahmi, bahunya bergetar karena tangisan begitu dalam.


Renja menggeleng melirik Brayen.” Nggak tau, tadi keluar keluar dari rumah Letta jadi gini. “ jelasnya lirih,


Baik Renja dan yang lain saling memandang heran. Brayen memberanikan diri menepuk pundak Fahmi.” Fah... fah loe kenapa? Loe ada masalah apa gimana?” tanyanya berbisik.

__ADS_1


Tapi fahmi sama sekali tidak menjawab, tidak sama sekali tidak mengindahkannya. Dia terus menangis di tempatnya. “ duh gimana nih?” Tanya Brayen lirih. Fajar disana tak berdaya hanya bisa menatap mereka lemas.


__ADS_2