Water N Fire

Water N Fire
104


__ADS_3

DOORRR ... DOORRRR


Gema sengaja membawa mobilnya ke daerah perbukitan yang sangat sepi , ia tak mau ambil resiko jika serangan yang di tujukan padanya akan melukai orang lain .


Dan nyatanya keputusannya tepat karena tak lama setelah memasuki area yang sepi dua mobil hitam SUV di belakangnya sudah mulai menyerangnya .


" Kacanya anti peluru Om ??! "


" Semua mobil Adipraja anti peluru , dan sayangnya aku sedang membawa mobil milik Uncle Oliver ... " jawab Gema masih fokus pada jalanan di depannya , satu mobil hitam itu sudah mulai mencoba menyejajarkan diri dengan mobilnya .


" Artinya ?? "


" Mana aku tahu ini anti peluru atau tidak !! "


DOORRR ..... PRAANNGGG !!!


Kaca samping belakang mobil terlihat pecah karena terkena peluru musuh .


" Terimakasih ... aku sudah tahu jawabannya , aku memang tidak suka dengan kaca anti peluru !!! Woohooo ini akan menyenangkan !! " pekik Vania terlihat sangat bersemangat . Gadis itu mengambil dan kemudian mengenakan jaket warna pink dari tas ranselnya .


Gema terlihat membuka laci mobil dan mengeluarkan satu senjata apinya , begitupun Vania yang sudah meraih kembali tas ranselnya dan mengambil sesuatu di dalamnya .


Gema melambatkan laju mobilnya setelah tadi menginjak gasnya dalam dalam untuk menghindari mobil yang berusaha mensejajari mereka .


" Peluruku yang akan keluar pertama kali !! Kita ada si sebelah kiri mereka jadi tak mungkin aku membahayakan Om yang sedang menyetir . Hadang mereka dari depan !! Biar aku selesaikan satu mobil itu "

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Gema menuruti kata kata gadis itu setelah melesat melewati mobil pertama dia melakukan drifting berbelok dengan posisi Vania bisa berhadapan langsung dengan para penembak di mobil pertama .


DOORRR ... DOORRRR


Semua terjadi begitu cepat hingga mungkin musuh sama sekali tidak memprediksi jika Gema akan berbelok seratus delapan puluh derajat dan Vanialah yang menjadi eksekutornya .


Dua penumpang depan yang salah satunya adalah pengemudi tewas seketika dengan peluru tepat bersarang di kepalanya . Diperkirakan masih ada empat atau lima penumpang lagi yang masih ada di dalam .


" Lindungi aku Om !! " teriak Vania setelah mengambil satu lagi senjata yang ada di tasnya . Gadis itu turun karena terlihat beberapa orang dari mobil kedua turun melihat teman mereka .


" JANGAN TURUUUNNN !!! "


Terlambat , gadis belia itu sudah merangsek maju dengan memuntahkan peluru yang dibawa dua tangan mungilnya . Gema turun dari kemudi dan melindungi gadis itu dari belakang . Dia menembak musuh yang tidak terjangkau oleh Vania .


DOORRRR ....


Jantung gema seakan berhenti ketika melihat Vania menghentikan langkahnya dengan satu tangan memegang dadanya .


Gadis itu terhuyung satu langkah , satu peluru mengenai dada bagian kirinya . Tapi sesaat kemudian gadis itu menggila lagi dengan pelurunya , bahkan dia sempat melayangkan tendangan pada musuh yang mencoba menghadangnya dengan tangan kosong karena Vania sudah menembak lengannya .


" Rompi anti peluru ... " lirih Gema yang langsung berlari ke arah Vania untuk memastikan gadis itu baik baik saja . Tapi sebelum bisa menjangkaunya gadis itu sudah mengarahkan pisau kecil kepadanya .


SYYUUTTTT ... JLLEEBBB


Gema terpaku , jika dia tadi bergerak sedikit saja mungkin kepalanya akan jadi sasaran pisau lipat kecil dari gadis itu . Ternyata ia sedikit lengah , ada seorang pria di belakangnya yang sedang mengarahkan senjata padanya . Dan lemparan pisau itu tepat tertancap di kening pria itu .

__ADS_1


" Selesai .... " ujar gadis itu sangat santai dengan mengibas celana ripped jeans pendek dan jaket warna pink yang dia kenakan . Jaket yang sebenarnya adalah rompi anti peluru yang biasa dikenakan kemanapun dia pergi .


Karena walau identitasnya masih tersembunyi tapi tetap saja dia adalah putri dan cucu dari pengusaha besar di negaranya . Bukan tidak mungkin seseorang mengincar nyawanya hanya karena persaingan bisnis .


" Ya Tuhan kau benar benar ... "


Sampai saat ini pun Gema masih tak percaya gadis cantik didepannya ini mampu menjadi malaikat maut bagi beberapa pria tadi . Gema juga masih shock karena sempat mengira jika gadisnya telah tertembak .


" Kau baik baik saja ??!! Lain kali jika ada penyerangan seperti ini lagi diam dan tunggu perintahku ... mengerti !? "


" Tidak !! Aku tidak pernah mengerti kenapa orang dewasa selalu mengatakan itu . Diam dan tunggu . Padahal setiap satu detik jarum jam berjalan adalah nyawa kita .... aku tidak bisa menunggu "


" Dasar bandel ...."


Gema meraih tubuh mungil itu kemudian memeluknya erat , diciuminya pucuk kepala gadis itu penuh sayang . Tak bisa ia bayangkan jika gadis itu benar benar tertembak tadi .


" Moment yang tepat untuk mengatakan sesuatu , kau tidak ingin mengatakannya Om !?? " kata Vania yang sudah melingkarkan dua tangannya di leher pria impiannya .


" Maksudmu ? "


" Tidak ... aku tidak bermaksud apa apa " gumam gadis itu kesal .


" Baik aku akan mengatakannya ... "


Mata Vania berbinar binar , akhirnya dia akan mendengar apa yang selama ini ingin dia dengar . Sebuah pernyataan yang akan mengubah hidupnya .

__ADS_1


" Revania Alvaro ... lain kali jika ingin melempar pisau kau bisa berteriak agar aku diam !! Kau hampir saja membunuhku tadi !! "


__ADS_2