
" Kenapa elo nggak jual lukisan itu Li ?? ltu harusnya lukisan kan kalau laki duitnya buat bantu temen temen kita " ujar Elda pada Lia yang barusan menolak untuk menjual lukisannya saat petugas gedung seni di Perancis menelponnya .
" Enggak ... gue belum ijin sama dia , Gue jadiin model lukisan saja dia enggak tahu !! "
" Jeronimo ?? "
" Jero nggak tahu kalau gue lukis wajah dia , sampai di pajang di Perancis !! Kalau sampai di beli sama orang kan berarti gue salah !! " jawab Lia sambil membereskan alat alat lukis yang ada di sanggar seni komunitasnya .
" Lagian gue juga udah transfer duitnya ke sanggar "
" Gila .. itu namanya elo beli lukisan elo sendiri !! " kata Elda geleng geleng kepala dengan ulah sahabatnya .
Mulai besok Lia dan Via sudah mulai home schooling , Lia bertekad untuk menemani saudaranya kuliah di rumah walau ia sebenarnya lebih suka kuliah di universitas seperti mahasiswa pada umumnya .
Kegiatan kuliah di rumahnya pasti akan sedikit menguras waktunya hingga ia tak akan bisa terlalu sering datang ke sanggar seni seperti saat libur seperti ini .
" Jadi home schooling??! "
" He em " jawab Lia singkat .
" Kenapa harus menyiksa diri sendiri sih ?? Nggak harus kan elo selalu memikirkan tentang kebaikan Via ?? Elo punya sayap ... tapi nggak pernah di gunain buat terbang, percuma ... sia sia !! " kesal Elda karena Odelia tidak pernah sekalipun memikirkan tentang dirinya sendiri .
" Ngomong apa sih , gue kan masih bisa kesini kalau senggang ... gue juga masih bisa tau kabar sanggar dari grup chat . Elo sering sering main kerumah aja kalau pengen ketemu gue "
" Ya .. ya ... mau gue ngomong sampai jungkir balik juga elo bakalan terus mengutamakan kebahagiaan Via . Gue nggak benci sama saudara elo tapi harusnya dia ngerti posisi elo , harusnya dia bisa bilang sama elo kalau dia baik baik saja tanpa elo harus selalu berkorban untuk dia "
__ADS_1
" Sepertinya kita butuh soft drink dingin ... kepala elo mulai berasap El " kata Lia sambil tertawa .
Dia tahu sahabatnya tidak terlalu setuju jika ia terus berpikir tentang Via , Elda sering mengatakan agar dia juga memikirkan tentang dirinya sendiri .
Sering dia berpikir untuk melakukan apa yang sahabatnya mau , tapi selalu saja tidak bisa . Senyum Via adalah kebahagiaannya begitupun kesedihan via adalah air matanya . Dia akan terbang mencari kebahagiaannya sendiri jika ia sudah memastikan jika Via sudah menemukan kebahagiaan sejatinya .
Dan ia yakin kebahagiaan Via adalah Jeronimo Keith Adipraja , pria tampan yang sejak kecil sudah menjadi idola mereka .
Dan pada malam harinya sebelum ia mematikan lampu untuk istirahat seseorang mengetuk pintunya .
" Kau sudah tidur ?? "
" Masuk Kak , aku belum tidur " jawab Lia ketika tahu Via ada di balik pintu kamarnya .
" Kakak ingin bicara sebentar ... "
" Tadi Jero banyak mengirimi aku pesan , sayangnya tadi dia mengirimi Kakak pesan ketika ponsel Kakak tidak aktif "
" Sekarang udah di baca pesannya , terus udah di jawab kan ?? "
Via terlihat menghela nafas panjang , tapi kemudian gadis cantik itu tersenyum .
" Bukan nggak niat jawab , tapi bingung mau jawab apa "
" Memang dia tanya soal apa ?? "
__ADS_1
" Dia bertanya apa benar aku sudah melukis gambar wajahnya dan kenapa aku tak menjualnya .... Apa kau melukis Jero dan memajangnya di galeri seni !!? "
Lia terdiam , dia juga sedikit kaget bagaimana bisa Jero tahu tentang lukisan itu . Bagaimana pria itu tahu jika ia memang tak berniat menjualnya .
" Aku memang melukisnya , tapi jangan salah paham dulu ! Waktu itu aku hanya punya waktu semalam untuk menentukan sekaligus eksekusi gambar yang akan di ikut sertakan untuk pameran seni di Perancis . Aku putuskan untuk melukis wajah ! Tak mungkin aku lukis wajah Kakak karena itu artinya aku melukis wajahku sendiri .... sudah terlalu malam untuk mencari model lukisan . Jadi kuputuskan melukis wajah Jero , maaf ... "
" Kenapa harus minta maaf , kau memang suka seni lukis dari kecil . Aku yakin lukisan wajah Jero pasti bagus sekali , boleh kakak melihatnya !? "
Lia membuka ponsel dan menyerahkannya pada Via . Di layar pipih itu ada foto lukisan lukisan hasil karya tangannya . Sengaja ia mengambil gambar hasil lukisan lukisannya sebagai koleksi pribadi .
" Yang ini ?? " tanya Via menunjuk sebuah foto , matanya terlihat berbinar melihat lukisan dengan wajah tampan yang yang tampak bersinar penuh energi itu .
" lni indah .... " cicitnya dengan mata terus mengarah pada ponsel Lia .
" Kakak suka ?? "
" Banget ... dia terlihat lebih tampan " ujar Via yang membuat Lia tertawa terbahak bahak .
" Aku memberikannya padamu sebagai hadiah ulang tahun kita dua bulan ke depan . Kakak boleh memajangnya di kamar , jadi kalau kangen tinggal liat lukisan yang lebih tampan itu " ujar Lia tergelak .
" Ckk jangan menggodaku Li ... "
" Sekarang jawab pesan pesannya . Kak Via memang melukisnya , bukan di kanvas tapi di hatinya ... "
" Kau ... "
__ADS_1
Via mencubit sayang dan menggelitik adiknya hingga mereka tertawa bersama . Mereka saling menyayangi dan akan selalu begitu walau jauh di dalam sana ada hati yang retak walau tak berdarah .