
" Akkhhhhh .... "
Pekik sepasang pengantin baru bersamaan , tubuh mungil itu terkulai di atas tubuh sang suami setelah puas bergerak liar di atasnya .
" Kau hebat sayang ... " bisik Gema pada Vania yang masih mengatur nafas di atas tubuh polosnya .
Vania sangat cepat belajar , Gema yang memimpin dua permainan sebelumnya . Pria itu mampu menerbangkan sang istri ke langit ketujuh , tapi pada permainan ketiga Vania mencoba untuk memimpin . Dan hasilnya sungguh membuat Gema bertekuk lutut .
Dua tubuh polos itu saling memeluk , tak peduli jika waktu sudah menunjukkan dini hari . Mereka ingin membuat malam pertama mereka benar benar berkesan dan pantas di ingat .
" Capek ??!! " tanya Gema yang sudah tak lagi terengah .
" Banget .... " jawab Vania yang kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping .
Gema menciumi pipi istrinya dengan gemas , bahkan ia tak mengira tubuh mungil itu bisa membuatnya menggila di bawahnya .
" Mau mandi sekarang ?? "
Vania menggelengkan kepalanya pelan , yang ia mau sekarang hanyalah berada dalam pelukan hangat suaminya . Tapi sebelumnya ia meraih sebuah kotak kecil yang ada di atas nakas .
" Memang harus pakai beginian ya Om ?? "
" Kau keberatan ??? "
" Sudah tiga kali , rasanya telat kalau aku bilang keberatan " cicit Vania yang membuat suaminya tertawa .
" Banyak hal yang harus kita lalui setelah ini . Kau mulai dengan kuliahmu , dan aku mungkin sibuk dengan pekerjaanku . Kita harus menata semua dengan baik terlebih dahulu " ujar Gema mengeratkan pelukannya .
" Aku mengerti Om , itu sebabnya aku tidak menolak ketika aku melihat kau memasangnya untuk pertama kali . Lagipula rasanya tidak terlalu buruk . Tapi sekali kali aku ingin merasakannya tanpa ini , boleh ?? "
" Tentu saja sayang , kapan saja kau mau !! Siapkan saja banyak tisu . Kita punya satu minggu penuh sebelum kita di sibukkan oleh urusan kita masing masing " jawab Gema sambil menggigit lembut pundak istrinya gemas .
__ADS_1
Vania masih terlalu muda , Gema ingin semua berjalan sesuai alurnya terlebih dahulu . Jika semua berjalan dengan baik baru mereka mempertimbangkan untuk mempunyai seorang keturunan .
" Kita mandi dulu sayang , setelah itu kita bisa istirahat " ujar Gema dengan menggendong tubuh mungil itu menuju kamar mandi .
" Janji hanya mandi !!?? " bisik Vania dengan melingkarkan tangannya ke leher suaminya .
" Sepertinya tidak ... "
*
" Kenapa tidak satu atau dua hari lagi ?? Kalian lama sekali tidak berkunjung di sini " keluh Erina yang mendengar jika keluarga Adipraja akan kembali ke lndonesia hari ini juga .
" Kami tidak bisa meninggalkan Ava terlalu lama , kehamilannya memang tidak terlalu rewel tapi dia .... "
" Superaktif ! " sambung Diva sebelum Aira menyelesaikan kata katanya , dan dua wanita cantik itu tertawa bersama .
" Ya .. ya aku mengerti , dia dan Vania tak jauh berbeda " timpal Erina .
" Mungkin sebelum pulang kita bisa belanja oleh oleh dulu . Kita harus gunakan kartu pemberian suami suami kita dengan sebaik baiknya " ujar Jasmine sambil mengerlingkan satu matanya ke arah Dewa yang duduk di sisinya .
" Kalian hanya perlu siapkan kartunya , jadi duduk manis disini dan nikmati pemandangan " kata Aira yang tahu arti tatapan suaminya .
Bumi selalu mengeluh jika menemaninya belanja , seperti wanita wanita pada umumnya Aira akan berusaha memilih barang termurah dengan kualitas paling bagus ... sesuatu yang tak mungkin terjadi untuknya .
Walau akhirnya ia harus akui jika para wanita adalah makhluk paling ajaib karena bisa mendapatkan banyak barang dengan dana minim . Dan mereka juga bisa membeli benda kecil dengan harga yang cukup mampu merogoh kantongnya walau Bumi sama sekali tak pernah mempermasalahkannya .
Sementara itu di luar sana terlihat Venna sedang mendorong kursi roda Steve untuk berjalan jalan di sekitar villa . Hawa yang lumayan dingin membuat mereka harus mengenakan jaket tebal untuk menghangatkan badan .
Mereka berhenti di sebuah tanah lapang berumput di mana ada beberapa anak bermain di sana . Mungkin salah satu pengunjung villa yang ada di bawah .
" Kau suka anak anak ?? " tanya Steve yang melihat senyum di wajah wanita impiannya ketika melihat anak anak bermain di tengah lapang .
__ADS_1
" Mereka selalu tertawa tanpa beban ... itu sangat menyenangkan " jawab Venna .
" Suatu saat kita akan memilikinya "
" Aku tidak tahu apa aku pantas menjadi seorang ibu ... aku kotor " sahut Venna dengan senyum yang terlihat sangat di paksakan .
Dokter cantik itu terkejut ketika Steve tampak susah payah berusaha turun dari kursi rodanya .
" Apa yang kau lakukan !!! Kembali ke kursi rodamu ... "
" Ckk ... aku tidak apa apa , kurasa aku sudah bisa melakukannya " ujar Steve mencoba menyeimbangkan tubuhnya agar berdiri tegak walau ada rasa ngilu di kakinya .
Tanpa sadar Venna menopang tubuh tinggi besar itu dan dua tangan kokoh itu sudah melingkar di pinggangnya . Tubuh mereka bahkan sudah tidak lagi berjarak .
" Jangan lepass ... aku mohon " lirih Steve yang merasa Venna ingin menjauh ketika sadar jarak mereka sudah terlalu dekat .
Steve meraih dagu dokter cantik itu dan mengangkatnya agar bisa menghadap ke arah wajahnya .
" Dengar ini ... bagiku kau lebih murni dari air yang mengalir di Gunung Elbrus itu , kau lebih putih dari awan yang melingkupi langit biru di atas kita "
" Tapi aku ... "
" Aku tidak peduli " ucap Steve yang kemudian meraup bibir kemerahan itu dengan penuh kelembutan .
Ciuman lembut yang tidak terlalu lama , tapi tidak bisa di bilang singkat karena cukup membuat nafas mereka terengah engah .
" Kau milikku dokter ... "
" Apapun maumu , tapi sekarang duduklah karena semakin lama tubuhmu menjadi berat !! " gerutu Venna yang menuntun tubuh kekar itu untuk kembali duduk di kursi rodanya .
" Kau merusak momennya sayang ... Aku masih ingin menciummu . Bisakah kita ulangi sekali lagi !? "
__ADS_1
" lni bukan siaran langsung , jadi tidak ada siaran ulangnya " jawab Venna yang membuat bibir pria itu mengerucut .