Water N Fire

Water N Fire
94


__ADS_3

" WOOHHOOOOO ..... !!! "


Jero hanya geleng geleng kepala mendengar teriakan dari gadis yang baru tadi pagi datang ke mansion milik kakeknya , John Effendy .


Baru beberapa kali ia mengajari gadis itu menakhlukkan ombak di pantai ini , tapi nyatanya gadis itu bisa sangat cepat belajar . Nyalinya pun sangat besar karena gadis cantik itu sama sekali tidak takut tergulung oleh ombak besar yang datang padanya .


Hanya mengenakan bikini two piece dengan di balut kaos oversize warna putih membuat gadis itu terlihat begitu cantik . Rambut panjangnya yang setengah basah berkibar diterpa angin pantai , dan itu menjadi pandangan eksotis untuknya .


Gadis itu sedang berlari kecil ke arah Jero yang saat ini sedang duduk di pinggir pantai .


" Gimana gue ??? Lumayan hebat kan !!!?? " ujar Vania sambil duduk disamping Jero .


Malam itu saat dia turun dari mobil Gema memang dia menelpon Jasmine , istri dari bungsu pilar Adipraja itu yang mengantarkan gadis itu kembali ke apartemen Gema . Sekaligus memberi fasilitas Vania untuk terbang ke Bali menyusul putranya untuk berlibur disana .


Jasmine menurut ketika gadis itu meminta agar dirinya tidak mengatakan keberadaannya pada siapapun . Vania beralasan hanya ingin tenang dan bisa bersenang senang tanpa beban apapun . Padahal Jasmine tahu jika Vania hanya ingin membuat Gema kalang kabut . Dan ia tentu saja sangat mendukungnya .


" Nekat elo ... nggak takut kebawa ombak ?? "


" Gue lebih takut kalo elo jatuh cinta sama gue , dari tadi ngeliatin guenya kaya gitu banget !! Jangan suka sama gue .... gue udah punya inceran sendiri !! "


Jeronimo hanya mendengus kesal ketika tebakan gadis itu memang benar . Dari awal kedatangannya dia suka gaya Vania . Gadis itu mudah akrab dengan siapa saja , enak dan selalu nyambung jika di ajak bicara ... dan sangat cantik !!


" Ckk ... nggak jadi !! Gue nggak jadi suka sama elo ... ge er banget sih ! Emang inceran elo kayak apa ?? Yang kayak itu ... " ujar Jero dengan menunjuk laki laki muda berkulit putih berwajah tampan ala apa opa opa negeri gingseng .


" Atau itu ??? " tunjuk Jero lagi pada pria tampan yang terlihat lebih tua dari mereka dengan tubuh berotot yang memperlihatkan roti sobeknya .


Vania terlihat memperhatikan kedua pria yang ditunjuk oleh Jero , kemudian ia menatap intens wajah pria muda disampingnya hingga Jero salting sendiri .

__ADS_1


" Mereka ... bahkan elo itu enggak ada yang bisa nyamain pangeran tampan gue ! Udah telanjur cinta kali ya , jadi bagi gue dia yang paling sempurna "


" Jadi penasaran gue sama pria impian elo itu , setampan apa sih ??? Jangan jangan tambalan plastik .... "


" Amit amit !!! Gue enggak doyan ana yang begituan , kena panas dikit pada meleleh "


Jero terbahak ketika mendengar celotehan Vania , walau baru tadi pagi kenal tapi mereka sudah seperti teman baik .


DUUGGHHH ...


" Awwwsshh .... "


Vania terkejut ketika kepalanya terkena lemparan bola , sepertinya dari segerombolan muda mudi yang sedang bermain voli pantai tak jauh dari tempatnya duduk .


Vania menarik tangan Jero yang sempat tiba tiba berdiri . Dia tahu jika putra tunggal dari Dewa Adipraja itu emosi ketika melihat pandangan ' jahat ' dari para pria yang sepertinya sengaja melempar bola itu padanya .


" Hai cantik ... main sama kita yuk !! Buka dong kaosnya , nanggung banget sih cantiknya !! "


" B*cot ****** !!! "


Sekali lagi Vania menarik kuat lengan Jero yang ingin merangsek maju melihat pria pria kurang ajar itu . Walau kalah jumlah tapi Jero tidak merasa takut sedikitpun .


" Kita pergi !! Aus banget gue , kita minum kelapa mudanya disana saja " tunjuk Vania ditempat yang jaraknya beberapa meter dari tempat itu , sungguh dia sedang tidak ingin bermasalah dengan siapapun kali ini . Suasana hatinya memang tidak begitu baik sejak tadi karena merindukan wajah Om Tampannya .


DUUGGGHHHHH ...


Vania menghentikan langkahnya ketika sekali lagi lemparan bola mengenai punggungnya .

__ADS_1


" Kurang ajar !!! "


Vania memutar bola matanya malas ketika melihat Jero sudah merangsek maju menghampiri pria yang melemparnya dengan bola , sepertinya sangat sulit untuknya untuk mendapat suasana tenang dan bersenang senang secara bersamaan .


Para penjaga tidak ada yang berani mendekat karena baik Jero ataupun dirinya sudah memperingatkan pada mereka untuk menjaga jarak apapun yang terjadi . Sebelas dua belas dengan Vania , Jero pun memang tidak begitu suka dengan penjagaan terhadap dirinya .


Tiga orang wanita yang bersama para pria itu menjerit ketika melihat Jero yang berdiri menantang tujuh pria sekaligus di depannya .


" Jer !!! Tangkap ... "


Vania melempar satu kelapa muda yang di bawanya pada Jero agar bisa dijadikan senjata dadakan .


" Duit lima puluh ribu gue itu !!! Ntar ganti ... awas kalau enggak !! "


Vania pun sudah maju dan berdiri tak jauh dari Jero hingga pria itu mengerutkan dahinya ketika melihatnya .


" Elo malah ngapain kesini ?? "


" Minum air esnya dulu lahh !! Bisa diomelin Mommy tujuh hari tujuh malam kalau Mommy lihat gue buang buang makanan mubadzir kaya begini " kata Vania santai .


" Nah ngapain punya gue elo lempar sampai tumpah semua begini !!! Mundur sana ... !!! "


" Ogahhh ... elo sendiri yang tadi bilang tangan sama kaki gue masih terlalu kaku naik board surfingnya ! "


" Terus ?? "


" Lhaahh ini mau dilemesin " ujar Vania dengan seringainya yang sangat manis .

__ADS_1


__ADS_2