Water N Fire

Water N Fire
98


__ADS_3

" Ngapain manyun manyun gitu Lang ?? Kangen bini ya !? " goda Steve yang melihat Langit yang terus uring uringan sepanjang hari ini .


Walau belum seratus persen pulih Langit memutuskan untuk kembali ke perusahaan agar pikirannya tidak selalu memikirkan istrinya .


" Ntar malem gue nginep ke apartemen elo aja , nggak bisa tidur gue kalau di mansion " kata Langit yang sedang duduk bersandar di sofa dengan memejamkan matanya .


Dia sungguh sungguh merindukan istrinya , ada banyak hal yang ingin ia katakan secara langsung pada wanita halalnya itu . Sudah banyak kesalahan yang sudah ia lakukan , ada permintaan maaf yang belum sempat ia katakan .


" Makanya kalau berbuat apa apa itu dipikir dulu , gue kan ajak elo menyelidiki dulu ... malah elo main tuduh !! Waktu itu gue ajakin elo selidiki siapa yang mau bikin ulah sama keluarga kita . Malah elo fokus sama foto Kak Gema dan Lulunya ! Parah dasar .... Mana mungkin Kak Gema ngapa ngapain bini elo "


" Jika saja lengannya tak tertembak waktu itu , mungkin sekarang Kak Gema yang menjadi suami Lulu ..... Dia mengalami itu ketika ingin pergi melamar Lulu "


" Hahh sumpah elo ???!!! "


" Mereka merelakan semua demi kebahagiaan gue . Mata dan hati gue sudah buta waktu itu , sampai sampai nggak bisa lihat kalau mereka berdua punya hubungan . Tapi semua udah berlalu .... Kak Gema sudah jelasin semua "


" Pantes aja ke empat ibu kita nangis nangis diperlukan Kak Gema waktu elo sama Janu nikah "


Langit bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya , kemudian mulai membuka berkas dan menyalakan layar komputer di mejanya .


" Nahh gitu , sekarang buktikan sama uncle dan aunty kalau elo pantas untuk Lulu . Bukan pria cengeng yang yang hanya bisa meratapi nasib "


" B*cot elo kalo ngomong ... "


" Tapi gue bener kan !? Bukan cuma elo gue rasa , karena gue pun ingin bekerja keras agar bisa sehebat mereka ! Ayah ayah kita ataupun Kak Gema ... sampai segede ini gue nggak pernah berkontribusi apapun untuk keluarga ini " kata Steve terlihat berapi api tapi malah terlihat konyol untuk Langit .


" Ya .. ya ... terserah , sekarang selesaikan pekerjaan kita dulu baru kita berencana untuk menjadi hebat "


Walau terlihat menanggapi dengan malas malasan tapi dalam hatinya Langit membenarkan apa yang dibicarakan sepupunya . Dia bertekad untuk belajar agar pantas disebut sebagai pria Adipraja yang hebat , yang tak hanya bernaung dan terlindungi oleh ke empat pilarnya .

__ADS_1


*


" Uggghhhhhh .... "


Perlahan Vania menggerakkan badannya yang terasa sangat pegal , sepertinya belajar surfing kemarin membuat tenaganya terkuras habis .


Matanya mengerjab karena masih asing dengan kamar yang di tempatinya . Jika tidak salah kemarin kamarnya bernuansa hitam dan coklat tua tapi sekarang kamar yang ia tempati bernuansa kuning muda .


" Kok beda ya ... "


" Selamat pagi ... sudah bangun !? "


Vania terkejut ketika melihat seorang wanita parubaya dengan wajah begitu cantik duduk di pinggir ranjangnya .


" Selamat pagi ... anda siapa ?? Maaf jika boleh tahu saya ada di mana !? " tanya Vania yang masih merasa bingung , dia masih ingat jika semalam Gema berjanji untuk mengantarkannya pulang ke mansion Effendy .


" Mansion Adipraja ?? "


" Ya Tuhan kau sudah sebesar dan secantik ini ... dulu kau masih kecil saat terakhir berkunjung dengan kedua orang tuamu "


Diva memeluk gadis yang ada di depannya , dia sangat ingat jika dulu Gema sangat menyayangi balita mungil bungsu dari pasangan Varo Erina ini .


" Aunty Diva juga sangat cantik , dulu pasti aku sering merepotkan keluarga ini "


" Tentu saja tidak , putraku selalu menyanyakan kedatangan kalian jika musim libur tiba . O iya ... sekarang cuci muka dan turun ke bawah karena Uncle Adam dan Gema sedang menunggu kita untuk turun sarapan "


" Baik "


" Ada banyak baju atau pakaian dalam baru di lemari , kau bisa memakainya karena ukuran tubuhmu sepertinya sama dengan Ava "

__ADS_1


" Baik Aunty. .. terima kasih "


Setelah Diva pergi Vania segera membersihkan tubuhnya . Ketika ia turun ia sudah melihat tiga orang sedang melihat ke arahnya . Dan ia yakin pria dewasa yang duduk di sebelah Diva adalah pria yang selalu di ceritakan oleh kakeknya .


Adam Walter Adipraja , anak asuh yang dididik langsung oleh pria hebat bernama Alfian Adipraja . Yang pernah menjadi penguasa nomor satu di dunia bawah , pria yang disegani bukan karena kekejamannya . Melainkan karena ketegasan dan kebijaksanaannya .


" Sini sayang kita sarapan dulu .... " kata Diva yang melihat Vania masih berdiri terpaku .


" Ehh iya maaf ... "


Vania segera duduk di samping Gema karena hanya kursi disamping pria itu yang tersisa .


" Satu kehormatan Uncle bisa makan satu meja dengan gadis hebat sepertimu "


Gema dan Diva menoleh ketika Adam menyapa dengan kata kata ' tak biasa ' pada gadis yang baru saja bergabung sarapan dengan mereka .


" Seharusnya Vania yang berkata seperti itu Uncle , jangan terlalu memuji karena pujian kadang bisa membuat seseorang jatuh " sahut Vania dengan senyum manisnya .


" Kurasa kau tidak akan mudah jatuh semudah itu " kata Adam lagi .


Mereka makan dengan sekali kali terdengar pembicaraan antara Vania dan Diva . Setelah selesai tiba tiba Adam beranjak dan berkata ..


" Boleh Uncle bicara denganmu Vania ?? "


" Tentu saja .. "


" Dan aku hanya ingin berbicara berdua dengannya ... "


Kata Adam yang melihat putranya ingin mendampingi gadis bernama Vania itu . Gema dan Diva saling memandang , mereka heran ketika Adam hanya ingin berbicara empat mata dengan gadis itu padahal ini kali pertama mereka bertemu .

__ADS_1


__ADS_2