
" Ngapain manyun manyun gitu Lang ?? Kangen bini ya !? " goda Steve yang melihat Langit yang terus uring uringan sepanjang hari ini .
Walau belum seratus persen pulih Langit memutuskan untuk kembali ke perusahaan agar pikirannya tidak selalu memikirkan istrinya .
" Ntar malem gue nginep ke apartemen elo aja , nggak bisa tidur gue kalau di mansion " kata Langit yang sedang duduk bersandar di sofa dengan memejamkan matanya .
Dia sungguh sungguh merindukan istrinya , ada banyak hal yang ingin ia katakan secara langsung pada wanita halalnya itu . Sudah banyak kesalahan yang sudah ia lakukan , ada permintaan maaf yang belum sempat ia katakan .
" Makanya kalau berbuat apa apa itu dipikir dulu , gue kan ajak elo menyelidiki dulu ... malah elo main tuduh !! Waktu itu gue ajakin elo selidiki siapa yang mau bikin ulah sama keluarga kita . Malah elo fokus sama foto Kak Gema dan Lulunya ! Parah dasar .... Mana mungkin Kak Gema ngapa ngapain bini elo "
" Jika saja lengannya tak tertembak waktu itu , mungkin sekarang Kak Gema yang menjadi suami Lulu ..... Dia mengalami itu ketika ingin pergi melamar Lulu "
" Hahh sumpah elo ???!!! "
" Mereka merelakan semua demi kebahagiaan gue . Mata dan hati gue sudah buta waktu itu , sampai sampai nggak bisa lihat kalau mereka berdua punya hubungan . Tapi semua udah berlalu .... Kak Gema sudah jelasin semua "
" Pantes aja ke empat ibu kita nangis nangis diperlukan Kak Gema waktu elo sama Janu nikah "
Langit bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya , kemudian mulai membuka berkas dan menyalakan layar komputer di mejanya .
" Nahh gitu , sekarang buktikan sama uncle dan aunty kalau elo pantas untuk Lulu . Bukan pria cengeng yang yang hanya bisa meratapi nasib "
" B*cot elo kalo ngomong ... "
" Tapi gue bener kan !? Bukan cuma elo gue rasa , karena gue pun ingin bekerja keras agar bisa sehebat mereka ! Ayah ayah kita ataupun Kak Gema ... sampai segede ini gue nggak pernah berkontribusi apapun untuk keluarga ini " kata Steve terlihat berapi api tapi malah terlihat konyol untuk Langit .
" Ya .. ya ... terserah , sekarang selesaikan pekerjaan kita dulu baru kita berencana untuk menjadi hebat "
Walau terlihat menanggapi dengan malas malasan tapi dalam hatinya Langit membenarkan apa yang dibicarakan sepupunya . Dia bertekad untuk belajar agar pantas disebut sebagai pria Adipraja yang hebat , yang tak hanya bernaung dan terlindungi oleh ke empat pilarnya .
__ADS_1
*
" Uggghhhhhh .... "
Perlahan Vania menggerakkan badannya yang terasa sangat pegal , sepertinya belajar surfing kemarin membuat tenaganya terkuras habis .
Matanya mengerjab karena masih asing dengan kamar yang di tempatinya . Jika tidak salah kemarin kamarnya bernuansa hitam dan coklat tua tapi sekarang kamar yang ia tempati bernuansa kuning muda .
" Kok beda ya ... "
" Selamat pagi ... sudah bangun !? "
Vania terkejut ketika melihat seorang wanita parubaya dengan wajah begitu cantik duduk di pinggir ranjangnya .
" Selamat pagi ... anda siapa ?? Maaf jika boleh tahu saya ada di mana !? " tanya Vania yang masih merasa bingung , dia masih ingat jika semalam Gema berjanji untuk mengantarkannya pulang ke mansion Effendy .
" Mansion Adipraja ?? "
" Ya Tuhan kau sudah sebesar dan secantik ini ... dulu kau masih kecil saat terakhir berkunjung dengan kedua orang tuamu "
Diva memeluk gadis yang ada di depannya , dia sangat ingat jika dulu Gema sangat menyayangi balita mungil bungsu dari pasangan Varo Erina ini .
" Aunty Diva juga sangat cantik , dulu pasti aku sering merepotkan keluarga ini "
" Tentu saja tidak , putraku selalu menyanyakan kedatangan kalian jika musim libur tiba . O iya ... sekarang cuci muka dan turun ke bawah karena Uncle Adam dan Gema sedang menunggu kita untuk turun sarapan "
" Baik "
" Ada banyak baju atau pakaian dalam baru di lemari , kau bisa memakainya karena ukuran tubuhmu sepertinya sama dengan Ava "
__ADS_1
" Baik Aunty. .. terima kasih "
Setelah Diva pergi Vania segera membersihkan tubuhnya . Ketika ia turun ia sudah melihat tiga orang sedang melihat ke arahnya . Dan ia yakin pria dewasa yang duduk di sebelah Diva adalah pria yang selalu di ceritakan oleh kakeknya .
Adam Walter Adipraja , anak asuh yang dididik langsung oleh pria hebat bernama Alfian Adipraja . Yang pernah menjadi penguasa nomor satu di dunia bawah , pria yang disegani bukan karena kekejamannya . Melainkan karena ketegasan dan kebijaksanaannya .
" Sini sayang kita sarapan dulu .... " kata Diva yang melihat Vania masih berdiri terpaku .
" Ehh iya maaf ... "
Vania segera duduk di samping Gema karena hanya kursi disamping pria itu yang tersisa .
" Satu kehormatan Uncle bisa makan satu meja dengan gadis hebat sepertimu "
Gema dan Diva menoleh ketika Adam menyapa dengan kata kata ' tak biasa ' pada gadis yang baru saja bergabung sarapan dengan mereka .
" Seharusnya Vania yang berkata seperti itu Uncle , jangan terlalu memuji karena pujian kadang bisa membuat seseorang jatuh " sahut Vania dengan senyum manisnya .
" Kurasa kau tidak akan mudah jatuh semudah itu " kata Adam lagi .
Mereka makan dengan sekali kali terdengar pembicaraan antara Vania dan Diva . Setelah selesai tiba tiba Adam beranjak dan berkata ..
" Boleh Uncle bicara denganmu Vania ?? "
" Tentu saja .. "
" Dan aku hanya ingin berbicara berdua dengannya ... "
Kata Adam yang melihat putranya ingin mendampingi gadis bernama Vania itu . Gema dan Diva saling memandang , mereka heran ketika Adam hanya ingin berbicara empat mata dengan gadis itu padahal ini kali pertama mereka bertemu .
__ADS_1