
Elda tertawa ketika melihat Albert gelisah , dia tahu pasti pria itu sedang menunggu seseorang . Elda tahu paman kecilnya itu sudah tertarik pada Lia sejak pandangan pertama .
Mungkin sudah takdir jika pria pendiam seperti pamannya itu suka dengan gadis periang dan aktif seperti Lia .
" El apa sahabatmu itu perlu aku jemput ?? Apa rumahnya terlalu jauh ? Kenapa dia belum juga datang !? Acara makan malam sudah akan dimulai .... " tanya Albert bertubi tubi yang membuat Elda menggaruk tengkuknya bingung , pertanyaan mana yang harus ia jawab terlebih dahulu .
" Ckk ...dia memang sering ngaret , paling juga ngegym dulu ! Gebukin sansak ... atau jangan jangan lagi latihan menembak sama Uncle Abbio " kata Elda yang hafal dengan kebiasaan kebiasaan sahabatnya .
Albert mengernyitkan dahi ketika mendengar kebiasaan kebiasaan Lia yang menurutnya cukup unik itu . Tapi pantas jika hobi gadis itu olah raga karena badannya terlihat sangat sempurna .
" Kenapa Uncle ?? Pusing ?? " tanya Elda ketika melihat Albert sedikit mengeleng gelengkan kepalanya .
Albert berbuat seperti itu karena merasa pikirannya terkontaminasi dengan lekuk tubuh Lia yang sempurna di matanya . Baru kali ini dia berpikir ' kotor ' tentang seorang wanita .
" Sepertinya otakku memang sedikit bermasalah ... " jawab Albert sekenanya .
__ADS_1
" Siapa yang bermasalah ??! "
Suara seorang gadis membuat garis senyum terlihat di bibir Albert . Gadis yang ia nantikan akhirnya datang juga , dengan penampilan yang menurutnya sangat menakjubkan .
Mengenakan blouse model sabrina berwarna hitam dipadu rok pendek warna senada . Dan sneaker putih membuat penampilannya sempurna , seksi tetapi tetap sporty sesuai dengan kepribadian gadis itu .
" Hai El ...hai Al ... maaf jika sedikit telat " sapa Lia pada dua orang yang terlihat di teras rumah .
" Kau sempurna ... " lirih Albert spontan , matanya sangat jelas memancarkan kekaguman pada makhluk cantik di depannya .
" Belum terlalu malam , tapi kau sudah mengigau Al .... " ujar Odelia sambil berjalan melewati dokter tampan itu .
Acara makan malam itu berlangsung dengan hangat , Lia meminta maaf karena Daddy dan Mommynya tak bisa hadir karena sore ini mereka pergi keluar kota untuk menemui relasi .
Setelah makan malam selesai Albert mengajak Lia duduk di teras depan rumah , Elda tidak bisa menemani mereka dengan alasan membantu ibunya membereskan dapur , padahal semua di bereskan oleh maid mereka .
__ADS_1
" Aku dengar kau tinggal dan sekolah di Aussy " kata Lia memecah suasana kaku yang sempat ia rasakan .
" Grandma memintaku untuk tinggal bersama mereka sejak aku lulus sekolah menengah atas , waktu itu Elda masih kecil jadi Grandma berpikir mungkin Aunty akan terlalu repot jika mengurusku "
" Kenapa tidak tinggal dengan Daddy dan Mommymu ?? "
" Mommy meninggal setelah melahirkan aku , beliau mengalami pendarahan hebat . Waktu itu usianya sudah tidak muda lagi ketika mengandung aku , dokter sudah menyarankan untuk ' membuangku ' ketika aku masih berusia satu bulan di rahimnya . Tapi Mommy tetap berkeras untuk mempertahankan aku , dia sangat mencintaiku "
" Setiap ibu pasti sangat mencintai anak anaknya , maaf jika aku bertanya tentang itu . Aku tidak tahu jika ... " kata Lia merasa bersalah telah membuka luka lama pria yang duduk di sampingnya .
" Sudah ! Tidak apa apa , aku cukup kuat untuk menghadapi itu " sahut Albert sambil tersenyum .
" Bisa kita mulai berbicara tentang kakakku sekarang ?? Sebelum hari terlalu malam " tanya Lia sambil melihat jam tangannya .
" Tentu saja , kita disini memang untuk hal itu . Sekarang ceritakan apapun mengenai Olivia .. apapun ... karena hal itu untuk referensiku menilai kepribadian kakakmu . Aku tidak punya tempat praktek di sini jadi jika di ijinkan aku akan datang ke rumahmu saja untuk sesi konsultasinya . Satu hal lagi , aku yang akan mengantarmu pulang . Aku tidak akan membiarkan gadis secantik dirimu pulang sendirian malam malam begini "
__ADS_1
" Kurasa itu juga akan lebih nyaman untuk Kak Via . Apa itu tidak merepotkanmu ?! "
" Dengan senang hati aku akan ke sana , kurasa akan menyenangkan jika sering bertemu denganmu ! Maksudku ... bukankah kau pernah berjanji untuk mengajariku melukis !? " ujar Albert yang hampir saja mengakui jika ia memang menyukai Odelia .