Water N Fire

Water N Fire
160


__ADS_3

" Sudah ?? "


" He em , jadi ke tempat Kakek Alfian !? " tanya Vania yang sudah naik kapal milik Adipraja .


" Kita kesana dulu sebelum bertemu dengan Grandpa Gregorius , kau keberatan ?? "


" Tentu saja tidak , sudah sejak lama aku mengaguminya tapi baru kali ini bisa bertemu langsung " jawab Vania dengan menyurukkan kepalanya di dada bidang calon suaminya .


Gema menuntun tubuh mungil itu untuk duduk di pangkuannya karena kapal yang mereka naiki sudah mulai melaju .


" Ellard masih mencarimu sampai sekarang , pria yang punya sakit hati kadang punya kejutan tidak terduga . Kau harus lebih hati hati sayang "


" Sengaja belum aku bereskan , itu tugasmu sebagai calon suamiku ! Aku cuma gadis kecil yang butuh perlindungan dari pria tampan sepertimu " sahut Vania dengan mengedip ngedipkan kedua matanya bersamaan .


Gema terkekeh sambil mengeratkan pelukannya .


" Kau milikku tentu saja kau adalah tanggung jawabku . Sekarang tidurlah , kau pasti sudah sangat lelah terbang dari Dubay langsung kesini . Waktu setengah jam kurasa cukup untuk beristirahat "


Vania hanya mengangguk karena sebenarnya ia memang sudah sangat lelah . Saat di Dubay Jero berkata bahwa Gema ingin menemui Cherry di dermaga milik Adipraja . Vania tahu sekejam kejamnya pria Adipraja tapi tak akan pernah menyakiti seorang wanita . Dan mau tidak mau harus dia yang menangani atau masalah ini bisa menjadi batu sandingan rencana pernikahannya kelak .


Aroma tubuh calon suaminya membuat dirinya mudah sekali masuk ke alam mimpi , Vania merasa tenang dalam pelukan Gema . Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah pulau , disana mereka disambut para pria berbaju hitam yang merupakan satuan penjaga pulau yang di awasi langsung oleh pilar kedua .


" Tuan Muda Gema .... selamat datang " ujar salah satu pria berbaju hitam itu penuh hormat .


" Siapkan rumah inap saja !! lni sudah menjelang malam , aku tidak ingin mengganggu istirahat Kakek "

__ADS_1


" Baik Tuan ! "


Gema berjalan ke arah area yang cukup luas , di sana ada beberapa mobil dan motor . Vania berpikir mungkin itu adalah area parkir camp para penjaga .


Gema mengambil sebuah motor trail yang ada di area parkir itu karena hanya motor seperti itu yang tersedia di sama . Sedang mata Vania berbinar ketika sudah berada di atas motor bersama Gema .


" Ini bukan Lambo , kenapa kau sebahagia itu !? "


" Semua terasa istimewa saat aku bersamamu . Boleh aku yang di depan !!? " kata Vania penuh harap dengan melingkarkan tangannya ke perut liat calon suaminya .


Akan sangat menyenangkan jika ia bisa mengendarai motor trail seperti ini .


" Tidak !!!!! "


" Pegangan yang kuat karena jalanan di rumah inap sedikit menanjak "


" Siap ... "


Akhirnya mereka membelah jalanan malam itu , kadang Gema menggeram.karena tangan mungil itu dengan usilnya sengaja mengelus perut ratanya .


Vania suka suasana pulau yang baru saja ia datangi , tidak ada satupun bangunan bertingkat seperti yang biasa ia lihat . Hanya hamparan sawah dan kelapa.kelip lampu rumah penduduk di sepanjang jalan yang ia lewati . Pantas saja jika Tuan Besar Adipraja betah berada di pulau ini .


Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah rumah sederhana . Seorang wanita tampak keluar dari rumah itu dengan membawa sebuah sapu .


" Sudah selesai saya bereskan Tuan " ujar wanita itu dengan sopan .

__ADS_1


" Baik , terimakasih banyak Bu " sahut Gema mengajak Vania masuk ke dalamnya .


Vania melihat semua bagian rumah itu dengan tatapan kagum , rumah ini bahkan tidak lebih besar dari kamarnya . Tidak ada marmer ataupun lantai keramik , tembok dengan cat yang sedikit lusuh dan perabotan serba kayu . Tapi entah kenapa bagi Vania semua itu seperti sebuah karya seni klasik yang unik .


" Semua rumah penduduk di sini seperti ini , tidak ada kemewahan ... hanya kesederhanaan !! Sekarang tidurlah dikamar, aku akan tidur di depan "


" Di depan ?? Kenapa harus di depan !? "


" Hanya ada satu kamar di rumah ini , tidak apa apa aku sudah terbiasa tidur di depan " kata Gema yang masuk ke kamar untuk mengambil satu bantal yang kemudian ia taruh di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati .


" Ya sudah jika begitu aku akan menemani Om tidur di depan "


Gema meraih lengan gadis yang juga ingin mengambil bantal di kamar .


" Nurut sayang ... kamu tidur di dalam "


" Tapi !!! "


" Masih ingat ultimatum dari ayah !???? "


" Ckk aku hanya ingin di peluk ... itu saja !! "


Gema mencubit gemas pipi gadisnya , mau di gembleng seperti apapun gadisnya tetaplah gadis yang punya sisi manja .


" Tapi aku tidak bisa ' itu saja ' sayang ... "

__ADS_1


__ADS_2