
" Sudah ?? "
" He em , jadi ke tempat Kakek Alfian !? " tanya Vania yang sudah naik kapal milik Adipraja .
" Kita kesana dulu sebelum bertemu dengan Grandpa Gregorius , kau keberatan ?? "
" Tentu saja tidak , sudah sejak lama aku mengaguminya tapi baru kali ini bisa bertemu langsung " jawab Vania dengan menyurukkan kepalanya di dada bidang calon suaminya .
Gema menuntun tubuh mungil itu untuk duduk di pangkuannya karena kapal yang mereka naiki sudah mulai melaju .
" Ellard masih mencarimu sampai sekarang , pria yang punya sakit hati kadang punya kejutan tidak terduga . Kau harus lebih hati hati sayang "
" Sengaja belum aku bereskan , itu tugasmu sebagai calon suamiku ! Aku cuma gadis kecil yang butuh perlindungan dari pria tampan sepertimu " sahut Vania dengan mengedip ngedipkan kedua matanya bersamaan .
Gema terkekeh sambil mengeratkan pelukannya .
" Kau milikku tentu saja kau adalah tanggung jawabku . Sekarang tidurlah , kau pasti sudah sangat lelah terbang dari Dubay langsung kesini . Waktu setengah jam kurasa cukup untuk beristirahat "
Vania hanya mengangguk karena sebenarnya ia memang sudah sangat lelah . Saat di Dubay Jero berkata bahwa Gema ingin menemui Cherry di dermaga milik Adipraja . Vania tahu sekejam kejamnya pria Adipraja tapi tak akan pernah menyakiti seorang wanita . Dan mau tidak mau harus dia yang menangani atau masalah ini bisa menjadi batu sandingan rencana pernikahannya kelak .
Aroma tubuh calon suaminya membuat dirinya mudah sekali masuk ke alam mimpi , Vania merasa tenang dalam pelukan Gema . Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah pulau , disana mereka disambut para pria berbaju hitam yang merupakan satuan penjaga pulau yang di awasi langsung oleh pilar kedua .
" Tuan Muda Gema .... selamat datang " ujar salah satu pria berbaju hitam itu penuh hormat .
" Siapkan rumah inap saja !! lni sudah menjelang malam , aku tidak ingin mengganggu istirahat Kakek "
__ADS_1
" Baik Tuan ! "
Gema berjalan ke arah area yang cukup luas , di sana ada beberapa mobil dan motor . Vania berpikir mungkin itu adalah area parkir camp para penjaga .
Gema mengambil sebuah motor trail yang ada di area parkir itu karena hanya motor seperti itu yang tersedia di sama . Sedang mata Vania berbinar ketika sudah berada di atas motor bersama Gema .
" Ini bukan Lambo , kenapa kau sebahagia itu !? "
" Semua terasa istimewa saat aku bersamamu . Boleh aku yang di depan !!? " kata Vania penuh harap dengan melingkarkan tangannya ke perut liat calon suaminya .
Akan sangat menyenangkan jika ia bisa mengendarai motor trail seperti ini .
" Tidak !!!!! "
" Pegangan yang kuat karena jalanan di rumah inap sedikit menanjak "
" Siap ... "
Akhirnya mereka membelah jalanan malam itu , kadang Gema menggeram.karena tangan mungil itu dengan usilnya sengaja mengelus perut ratanya .
Vania suka suasana pulau yang baru saja ia datangi , tidak ada satupun bangunan bertingkat seperti yang biasa ia lihat . Hanya hamparan sawah dan kelapa.kelip lampu rumah penduduk di sepanjang jalan yang ia lewati . Pantas saja jika Tuan Besar Adipraja betah berada di pulau ini .
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah rumah sederhana . Seorang wanita tampak keluar dari rumah itu dengan membawa sebuah sapu .
" Sudah selesai saya bereskan Tuan " ujar wanita itu dengan sopan .
__ADS_1
" Baik , terimakasih banyak Bu " sahut Gema mengajak Vania masuk ke dalamnya .
Vania melihat semua bagian rumah itu dengan tatapan kagum , rumah ini bahkan tidak lebih besar dari kamarnya . Tidak ada marmer ataupun lantai keramik , tembok dengan cat yang sedikit lusuh dan perabotan serba kayu . Tapi entah kenapa bagi Vania semua itu seperti sebuah karya seni klasik yang unik .
" Semua rumah penduduk di sini seperti ini , tidak ada kemewahan ... hanya kesederhanaan !! Sekarang tidurlah dikamar, aku akan tidur di depan "
" Di depan ?? Kenapa harus di depan !? "
" Hanya ada satu kamar di rumah ini , tidak apa apa aku sudah terbiasa tidur di depan " kata Gema yang masuk ke kamar untuk mengambil satu bantal yang kemudian ia taruh di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati .
" Ya sudah jika begitu aku akan menemani Om tidur di depan "
Gema meraih lengan gadis yang juga ingin mengambil bantal di kamar .
" Nurut sayang ... kamu tidur di dalam "
" Tapi !!! "
" Masih ingat ultimatum dari ayah !???? "
" Ckk aku hanya ingin di peluk ... itu saja !! "
Gema mencubit gemas pipi gadisnya , mau di gembleng seperti apapun gadisnya tetaplah gadis yang punya sisi manja .
" Tapi aku tidak bisa ' itu saja ' sayang ... "
__ADS_1