
Odelia sedang ada di sebuah sanggar cukup besar yang ada di pinggiran kota bersama teman teman senimannya . Sebagian besar dari mereka adalah seniman jalanan , mereka hidup dari menjual hasil karya mereka .
Walau begitu Odelia bangga menjadi salah satu anggota dari komunitas yang menurut sebagian orang adalah kaum minoritas . Lia bangga karena dari mereka dia belajar hidup mandiri , berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup walau dengan semua keterbatasan .
" Modelnya pasti dapat tampan , dia kekasihmu !? " tanya seorang bernama Elda , salah satu teman di komunitas yang cukup akrab dengan Lia .
Sama sepertinya Elda adalah seorang putri dari seorang pengusaha kaya .
" Bukan , hanya seorang teman yang kemarin sempat singgah ke rumah . Dia pacar Via ... " jawab Lia yang menyerahkan lukisannya untuk di gantung di dinding untuk seleksi pameran lukisan di Paris bulan depan .
" Sepertinya akan ada cinta segitiga ... " kata Elda yang juga membawa lukisannya untuk di seleksi .
" Aku bukan pelakor , masih banyak pria di dunia ini ... salah satunya pasti di takdirkan untukku . Kau melukis rumah pohon ?? " tanya Lia yang melihat lukisan Elda .
" Tempat itu satu satunya tempat ternyaman untukku ... " jawab Elda sambil menarik nafasnya dalam dalam .
Walau di beri materi yang berlimpah tapi Elda selalu merasa hidupnya kosong . Dia tak merasakan hidup di keluarga yang baik . Ayah dan ibunya hidup di satu atap hanya untuk menjaga nama baik keluarga .
__ADS_1
Masing masing dari mereka mempunyai pria ataupun wanita simpanan , dan anehnya mereka bisa berpura pura menunjukkan pada khalayak bahwa keluarga mereka sangat baik baik saja .
" Semua pasti akan baik baik saja , kau bisa mengandalkan aku ... " ujar Lia menepuk bahu sahabatnya .
" Ya aku tahu .. kau beruntung lahir di keluarga yang saling mencintai !! Dari lukisanmu aku bisa melihat cintamu yang berapi api padanya , kau memakai warna warna terang untuk penggambaran wajahnya !! Tapi ada sedikit semburat warna gelap yang juga kau tampilkan , kau sembunyikan rasa yang kau punya ... "
" Asal tebak !!! Mendengarmu aku menjadi lapar , bagaimana jika kita makan di kafe depan !? "
" Traktir ?? "
" Ok ... tapi nanti nebeng pulangnya "
Elda adalah salah satu seniman yang pandai menilai lukisan karya orang lain , walau menyangkalnya tapi hati keci Lia tidak menyalahkan penilaian sahabatnya itu . Sekeras apapun ia sembunyikan tapi nyatanya tetap menyala di hatinya .
*
Di kamar yang di tempatinya Jero sedang mengetik pesan untuk gadis pemilik hatinya . Walau tidak bisa rutin mengirim pesan tapi Jero selalu berusaha menyempatkan diri mengirim pesan untuk sekedar menanyakan kabar .
__ADS_1
Me : Hai , kau sedang apa ?
Love. : Membaca buku
Me : Aku sudah menduganya
Love : Hanya itu yang aku bisa
Me : Kemarin kau bilang sedang melukis diriku , boleh aku melihatnya ?! Aku penasaran !!
Love : Tapi aku tidak bisa melukis
Me : ???? Ya sudah jika masih malu , tapi suatu saat berjanjilah akan memperlihatkannya satu karyamu padaku
Jero menutup ponselnya , sesi berkirim pesan yang sangat berbeda dari yang biasanya . Kali ini Via rasanya terlalu singkat membalas pertanyaan pertanyaannya .
Biasanya Via selalu bercerita panjang lebar tentang semua kegiatannya . Dari pagi yang di penuhi omelan dari Mommynya , kegiatan yang out bersama teman teman hingga malam menjelang tidurnya .
__ADS_1
Jero selalu suka membaca pesan yang di kirim gadis itu , kadang jika lelah dengan rutinitasnya ia akan membaca ulang semua pesan pesan gadis itu padanya . Kata kata gadis itu membuatnya semangatnya cepat kembali .
" Olivia ... kenapa kadang aku merasa tidak mengenalmu !? "