Water N Fire

Water N Fire
12


__ADS_3

" Ehh ...Mba Lulu ! Tadi Tito di suruh Bu Kus nemenin Mas Gema nunggu Embak " jawab pemuda bernama Tito itu sopan .


" Kamu sudah makan siang ?? " suara Gema menyela .


Lulu memutar bola matanya malas ketika mantan bosnya itu malah menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan . Kemarin dia sempat marah karena Gema menyinggung soal ' hutang ' yang harus ia bayar .


Selama dua minggu ini dia harus menemani pria itu makan siang . Padahal pria itu tahu benar jika jangankan berjalan , kakinya masih sangat sakit untuk di gerakkan .


" Aku tahu benar apa yang ada di pikiranmu . Aku tidak akan membuat kakimu tambah sakit dengan memaksamu makan di siang di luar bersamaku . Kita bisa makan siang di sini bersama Mas Tito dan teman temanmu di sini jika kau mau "


" Mereka hanya akan ada di sini jika malam telah tiba . Tidak ada pengangguran di kos ini "


" Kalian makan siang saja sama lbu , kebetulan lbu masak banyak banget . Ada tempe , tahu , ikan asin , sambel terasi dan sayur asem ! Balado terong juga ada . Ayok ke belakang kita lesehan aja di kebun belakang "


" Tapi Bu ... lni pasti membuat lbu repot , saya bisa pesan makanan di restoran dekat sini saja "


" Lahh nanti kalau enggak di makan malah mubasir masakan lbu Nak !! Udaahh ayo , pamali nolak rejeki !! Mas Tito nanti bantuin Ibuk bawa makanannya ke belakang ya "


" Siap Buuu ... "

__ADS_1


Bu Kus dan Tito terlihat berjalan ke arah dapur untuk.membawa makanan . Dan mata Lulu mengernyit ketika pria tampan mantan bosnya itu berjalan mendekat ke arahnya . Badannya refleks mundur ketika membayangkan bahwa kemarin dirinya ada dalam rengkuhan pria itu .


" Kau mau apa ??! "


Gema mengambil tongkat penopang kaki atau sering disebut dengan kruk yang tergeletak disamping Lulu .


" Aku hanya ingin mengambil tongkatmu , tapi aku tidak keberatan jika harus mengangkatmu ke sana " kata Gema dengan posisi tangan yang ingin membopong tubuh di depannya . Dia hanya ingin melihat bibir itu mengerucut kembali .


" Singkirkan tanganmu itu atau aku berteriak agar Tito dan teman temannya menghajarmu !! "


Gema tersenyum melihat gadis itu terus menggerutu sambil berjalan terpincang pincang ke kebun belakang . Kebun yang tidak terlalu luas tapi banyak pohon mangga dan pohon pepaya disana .


Pria tampan itu membantu Tito menggelar tikar sebelum Bu Kus meletakkan panci sayuran dan piring piring lauknya . Dia melihat ketiga orang itu makan tanpa menggunakan sendok alias dengan tangannya .


" Jangan diliatin aja Nak Gema ! Ayo dimakan seadanya " ujar Bu Kus yang melihat Gema seperti terpaku melihat makanan didepannya .


" Mana dia doyan makanan kampung seperti itu , masa bawa mobil mewah suruh makan sambel terasi ... "


" lbuku setiap hari masak masakan rumahan seperti ini . Sudah satu tahun lebih aku tidak pulang ! Melihat makanan ini seperti pulang kampung "

__ADS_1


" Memang Nak Gema kampungnya di mana ?? Jauh yaa !? "


" Deket kok Bu , paling satu jam kesana " jawab Gema jujur .


" Oooo berarti daerah sini saja ya ... " timpal Tito .


" Saya berasal dari Bali " kata Gema mulai menyendok nasi di piringnya . Dia juga mengambil satu sendok penuh sambal dengan warna kehitaman itu . Walau sedikit kesulitan makan dengan menggunakan tangannya tapi sangat terlihat jika ia menikmati makanannya .


" Hahhh ... Bali !? " gumam tiga orang itu hampir bersamaan .


" Lahhh bagaimana bisa dari sini ke sana cuma satu jam Nak ?? Ibu saja ke pasar Minggu naik motor satu jam pulang pergi , memang Nak Gema punya sayap !? "


Gema memejamkan matanya , sudut matanya terlihat mulai berair .


" Ya Allah Nak , lagi rindu kampung halaman ya ?! Sampai nangis nangis gitu . Sabaarrr .... istighfar .... "


" Air ... sshhhh !!! "


Sedang Lulu dan Tito spontan terbahak melihat pria yang masih memakai kemeja formal warna putih itu meminum satu teko kecil air putih karena kepedasan .

__ADS_1


__ADS_2