
" Kak Radit ... "
Ava menatap sahabat kakaknya itu seakan meminta tangannya untuk di lepaskan . Dan Radit yang tahu akan isyarat itu segera melepaskan tangan yang tadi tak sengaja ia genggam itu .
Tapi Radit terkejut ketika tangan itu terlepas hanya untuk meraih tangan Janu agar mau melepas tangannya .
" Abaaanngg lepas yaa .... dari awal Kak Radit yang mengantar . Lagipula kasihan kalau Kak Billa sendirian .... sudah jangan di perpanjang lagi " dengan lembut ia menarik satu tangannya dan kembali berdiri di sisi Radit .
Janu terhenyak , gadisnya lebih memilih untuk berdiri di sisi pria lain ! Tanpa berkata kata lagi ia membalikkan badan dan menyambar koper milik Billa . Dengan berlari kecil Billa mengikuti langkah lebar Janu menuju ruang tunggu bandara .
" Kak Radit maaf ya ...."
" Sudah jangan di bahas lagi , sekarang kita ke hanggar "
*
Selesai meeting Gema segera melesatkan mobilnya ke rumah kosan millik Bu Kus , ia khawatir gadis itu menunggunya untuk makan siang karena kemarin ia berjanji untuk datang lagi .
Sampai disana ia duduk di teras depan karena Bu Kus yang memintanya untuk menunggu di sana . Tak lama kemudian Lulu datang dengan masih berjalan tertatih .
__ADS_1
" Masih sakit !? "
" Tidak sesakit kemarin , mungkin dua atau tiga hari lagi aku sudah tidak memerlukan tongkat ini lagi " jawab Lulu yang sudah duduk di depan tamunya .
" Kau sudah makan !? "
" Jika hanya ingin memastikan aku makan maka jawabannya adalah aku sudah makan . Ckk ... aku bukan anak kecil yang tiap saat harus di awasi makan atau belum kan ?? Tidak sekalian kau tanya padaku aku sudah mandi apa belum !? " gerutu Lulu yang merasa Gema terlalu mengawasi dirinya .
" Tak masalah bagiku kau sudah mandi atau belum ... toh kau pasti akan duduk jauh dariku ! Suatu saat aku pasti akan menanyakan hal itu , tenang saja " jawab Gema sambil meletakkan sebuah kartu berwarna emas di depan Lulu .
" Kartu debit ?? "
" Tidak ... aku masih bisa cari jalan keluarnya sendiri tanpa mengemis padamu " lirih Lulu walau sebenarnya saat ini ia memang sangat butuh hal itu . Tapi ia tidak akan merendahkan dirinya dengan mengemis uang pada orang lain .
" Tidak ada yang mengemis , setiap sen akan dihitung sebagai pinjaman . Dan kau bisa mencicilnya jika kau sudah kembali bekerja . Nomor PINnya adalah hari kelahiranku , dan jangan berani untuk mengubah hal itu tanpa ijinku "
" Kenapa harus hari lahirmu ?! "
" Karena itu kartu milikku .. " jawab Gema dengan tersenyum lebar .
__ADS_1
" Baik , aku memang sedang membutuhkan uang ini . Aku berjanji secepatnya mengembalikan ini padamu setelah aku sehat dan bekerja kembali .... Kau sudah makan !? "
" Tentu saja "
" Kau tidak pandai berbohong , aku bisa mendengar suara cacing di perutmu Tuan Gema Aksa . Sebentar ... " Lulu tampak beranjak dari duduknya dengan sedikit kesusahan .
" Kau mau kemana ? "
" Tadi aku buat puding buah , lumayan bisa membungkam cacing cacing diperutmu itu agar tidak bernyanyi lagi "
Gema tersenyum lebar , walau terlihat ketus ternyata gadis itu memperhatikan dirinya hingga sedetil ini . Jika ada bersama ibunya pasti wanita itu akan mengomel seharian , Diva tidak pernah mengijinkan suami dan anak anaknya gila kerja hingga melupakan kesehatannya sendiri .
" lni terlihat enak ... " ujar Gema saat satu mangkok puding diletakkan di depannya .
" Itu untuk di makan , bukan tontonan !! Atau perlu aku suapi Tuan ? "
" Boleh juga ... "
Dan mungkin ini adalah puding terenak yang pernah ia makan . Sedikit perhatian dari gadis bernama Lulu itu membuat moodnya kembali bagus setelah seharian betkutat dengan angka neraca keuangan perusahaannya .
__ADS_1