Water N Fire

Water N Fire
111


__ADS_3

Ada rasa bersalah di hati Gema karena sudah berkata kasar pada gadisnya , entah tapi pengendalian dirinya kacau ketika berada di dekat gadis itu . Vania benar benar sering menguji kesabarannya .


Sore tadi setelah bertemu dengan ayahnya membicarakan masalah tentang adiknya , Gema langsung pulang ke rumah untuk meminta maaf pada Vania . Tapi mungkin karena hari sudah larut gadis itu sudah berada di kamarnya untuk istirahat . Dia tak mau mengganggu istirahat gadisnya karena kejadian siang ini dengan para penguntit itu pasti sudah memforsir tenaganya .


Gema sudah ada di meja makan pagi itu , dia melihat ibunya masih disibukkan dengan penggorengan di depannya . Sampai saatnya Diva meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat di depannya .


" Cuma satu ?? " tanya Gema ketika hanya ada satu sarapan yang disiapkan ibunya .


" Ayah semalam telpon jika dia akan menemui Om Wicaksono di Jakarta , ada masalah di perusahaan yang harus mereka bicarakan . Sekalian ingin bertemu Ava , kangen katanya "


" Om Wicak ?? Memang ada masalah apa lagi !? "


" Memang ada masalah apa !? " tanya balik Diva yang membuat Gema merutuki dirinya sendiri , Adam sudah berpesan padanya untuk tidak menceritakan tentang percobaan pembunuhan pada Queen Ava agar tidak membuat panik ibunya .


" Maksud Gema memang ada masalah apalagi dengan perusahaan , banyak proyek Adipraja yang bekerja sama dengan Al Shamma " jelas Gema .


" Cepat makan sarapanmu sebelum dingin , jangan terlalu dipikirkan kau tahu jika ayahnya bisa mengatasi itu semua "


Gema meletakkan sendoknya ketika sudah beberapa suap ia belum juga melihat Vania turun untuk sarapan . Dia berdiri bermaksud mendatangi gadis itu di kamarnya .


" Lhoh nasi goreng ibu tidak enak ?? Kenapa tidak menghabiskannya !? "

__ADS_1


" Gema ingin mengajak Vania turun sarapan dulu Bu , sudah semakin siang tapi dia belum turun juga "


" Semalam Jero menjemputnya , Vania pamit pada ibu jika akan kembali ke Mansion Effendi karena kopernya masih ada di sana . lbu sudah bilang jika dia bisa memakai baju baju milik Ava tapi dia menolak dengan alasan semua keperluannya ada di dalam kopernya . Dia juga berjanji akan mengabarimu agar kau tidak bingung mencarinya "


Gema melanjutkan makannya dengan cepat , dia merasa gadis itu pergi bukan hanya untuk koper seperti yang dia katakan . Pasti ada hal lain yang lebih penting dari itu . Gema meraih ponselnya siapa tahu gadis itu benar benar mengabari seperti yang ibunya katakan .


Benar saja ada sebuah notif pesan dari gadis itu , tapi dahinya mengernyit ketika membaca pesannya .


15 . 47


Hanya itu yang tertulis disana , pria itu berpikir apakah angka itu adalah jam agar dia menjemput Vania di mansion Effendy . Atau jam yang menunjukkan jika gadis itu ingin mereka bertemu di suatu tempat .


Tapi dia tidak akan sesabar itu , dia tak mau mengulur waktu untuk minta maaf atas kata kata kasar yang dia ucapkan .


" Ya sudah hati hati , salam untuk beliau "


Gema membawa mobilnya sendiri karena berencana membawa Vania jalan jalan sebagai wujud permintaan maafnya . Sampai di mansion Effendy seorang penjaga pintu menghampirinya .


" Tuan Gema , apa ada keperluan dengan Tuan besar ?? Maaf tapi beliau sedang tidak ada di tempat " sapa penjaga bertubuh besar itu dengan sangat ramah .


" Aku ingin bertemu Jero dan gadis yang menginap di mansion ini "

__ADS_1


" Tuan Muda Jero dan gadis yang Tuan maksud tadi pagi pagi sekali sudah pergi di jemput Tuan Oliver "


Gema mengerutkan dahinya , dugaannya benar Vania bukan sekedar mengambil koper seperti yang di katakan oleh ibunya .


" Ckk ... apalagi rencanamu kali ini gadis nakal !! "


*


Sementara itu saat ini Bumi sedang ada di kamar rawat Langit , mereka hanya ada berdua diruangan itu karena Aira mengajak Lulu keluar sebentar untuk makan .


" Boleh Papa bicara ? Tapi Papa minta kau mendengarnya dengan hati lapang , jangan libatkan emosimu yang berlebihan lagi . Bukankah semalam kau berjanji pada kami untuk menjadi pria yang lebih baik "


Langit bangun dan berjalan menuju sofa , tidak nyaman rasanya berbicara dengan sang papa dengan posisi dia masih ada di ranjangnya . Siang nanti setelah dokter memeriksanya dia sudah diperbolehkan untuk pulang .


" Langit janji ... maaf jika selama ini Langit membuat papa dan mama menjadi repot dengan kelakuan Langit . Maaf jika Langit selalu menjadi pembangkang , selalu menganggap Papa terlalu mengatur hidup Langit "


" Sudah berlalu ... semua anak laki laki pasti melewati fase seperti dirimu . Dulu Papa nekat pergi keluar negeri ketika berselisih paham dengan kakekmu , Papa masih kuliah kala itu . Tapi proses itu juga yang menjadikan aku dan kakekmu malah semakin dekat . Kami menyadari kesalahan kami masing masing " kata Bumi yang masih sangat ingat jika dulu dia murka karena Alvian menikahkan kakaknya dengan Narra yang merupakan cinta pertamanya .


Dan kakaknya terpaksa menikahi Narra hanya untuk menjauhkan dirinya dari racun wanita ular itu walau sebenarnya Reynand sudah mempunyai istri .


" Apa Papa ingin bicara tentang Kak Cherry ?? Apa benar dugaan Langit jika dia masih hidup !? "

__ADS_1


" Dia tak pernah mati bunuh diri seperti yang kalian ketahui selama ini , seperti katamu ... dia memang masih hidup . Maaf jika Papa tidak mengatakan ini sedari awal padamu "


__ADS_2