
Gema dan Vania akhirnya masuk ke kamar pengantin mereka yang sudah disiapkan para ibu mereka di rumah depan . Semua keluarga Adipraja diboyong ke villa milik keluarga Alvaro yang mempunyai view Gunung Elbrus yang merupakan gunung dengan puncak tertinggi .
Erina sudah menyiapkan tenaga spa dan pijat di sana , ia paham jika semua orang pasti lelah dengan persiapan pernikahan putrinya selama beberapa hari ini .
" Kau bahagia sayang ?? " tanya Gema pada istrinya yang sedang sibuk melepas hiasan hiasan yang menempel di rambutnya .
" Sangat ... kau sudah jadi milikku sekarang , jangan pernah berani lagi melirik wanita lain di depan ataupun di belakangku !! " ujar Vania yang kemudian berdiri dengan dua tangan berada di pinggangnya .
Gema terkekeh dan meraih pinggang ramping istrinya , seharusnya dialah yang mengatakan hal itu . Tapi dia bahagia melihat istri kecilnya yang begitu sangat pencemburu . Di kecupnya sekilas bibir merah sang istri yang sudah seharian ini sangat ingin dia sentuh .
" Aku mencintaimu sayang , hatiku terlalu penuh dengan cintamu ... di mataku hanya ada senyummu , jadi tidak akan pernah terisi dengan yang lain "
Mereka saling berpelukan erat dengan sesekali Gema melabuhkan kecupannya di pucuk kepala istrinya penuh sayang .
" Aku gerah ... boleh aku mandi terlebih dahulu !!? " tanya Vania yang membuat senyum di bibir suaminya kembali merekah .
" Tentu saja sayang , aku juga bisa membantumu jika kau kesulitan menggosok punggungmu . Atau kita berendam air hangat bersama , aku adalah pemijat yang hebat " ujar Gema dengan menaik turunkan kedua alisnya .
" Ya ... ya ... aku milikmu , terserah Om mau menggosok atau memijatku ! Sekarang bantu aku membuka bajunya terlebih dahulu , korset di dalamnya membuatku merasa sangat gerah " ujar Vania yang terlihat kesulitan mencapai resleting belakang gaun pengantin dengan model ala ala princess itu .
Dengan sigap Gema membantu istrinya untuk menurunkan resleting yang terletak di belakang . Berkali kali ia menelan salivanya ketika melihat pemandangan di depannya , tubuh putih itu hanya di balut korset model kemben dengan hanya kain segitiga berenda berwarna putih untuk penutup bawahnya .
" Sekalian lepas korsetnya Om , susah ... pengaitnya ada di belakang semua " ujar Vania menyingkap rambutnya ke depan agar Gema leluasa melepas pengait korset yang dikenakannya .
" Hah ... i .. iya sayang "
__ADS_1
Nafas Gema menjadi tak beraturan ketika melepas satu persatu pengait yang perlahan memperlihatkan punggung sang istri secara keseluruhan .
Ketika semua pengaitnya terbuka gadis itu membalikkan badannya dengan satu tangan menahan korset agar tidak terlepas menutupi bagian tubuhnya .
" Makasih Om , tapi sepertinya kita nggak bisa mandi sama sama soalnya kamar mandinya sempit . Hanya kamar Grandpa yang di fasilitasi dengan bath up ... jadi pending dulu mandi barengnya " ujar Vania dengan mengerlingkan satu matanya .
" Nakal ... awas kau !! " gumam Gema gemas ketika melihat Vania dengan sengaja melepas korset dan menutupi dua asetnya dengan dua tangan mungilnya sebelum berlari ke arah kamar mandi .
Rumah di pinggir danau itu memang tidak semewah mansion dimana setiap kamarnya mempunyai fasilitas yang lengkap . Walau besar rumah kayu si pinggir danau itu mempunyai model yang simple sesuai dengan watak pemiliknya .
Dengan hanya mengenakan bathrobe Vania segera keluar setelah selesai membersihkan diri . Dan matanya memicing ketika melihat sang suami sudah mengenakan bathrobe dengan warna sama dengannya . Sepertinya pria halalnya juga sudah membersihkan diri .
" Om sudah mandi ??! "
" Aku mandi di kamar mandi kamar samping sayang " ujar Gema melangkah mendekat pada istrinya .
" Akkkhhh .... " jerit Vania kaget merasa sakit sekaligus nikmat bersamaan .
" Jangan menjerit sekarang sayang , simpan tenagamu untuk nanti karena aku tidak akan sungkan lagi .... " bisik Gema tepat di daun telinga istrinya .
" Aku sangat menantikan itu .... tapi sebelumnya kita isi tenaga kita dulu karena aku sangat lapar "
Gema hanya terkekeh dan kembali menggigit tengkuk istrinya gemas , wajar saja jika Vania lapar karena waktu memang sudah menunjukkan waktu makan malam .
" Kita ke dapur , mungkin ada makanan yang bisa kita hangatkan . lbu pasti sudah menyiapkannya untuk kita .... "
__ADS_1
*
Venna membentangkan selimut tebal untuk menutupi kaki Steve yang saat ini duduk di kursi rodanya di ruang tengah lantai atas villa yang di batasi dinding kaca . Disana mereka bisa melihat Gunung Elbrus yang menjulang tinggi yang diselimuti awan putih .
" Hawa disini sangat dingin , tidak baik untuk kesembuhan kakimu "
" Aku tidak apa apa ... Terima kasih selimutnya " jawab Steve yang sebenarnya memang merasakan sedikit ngilu di kaki kirinya .
" Sama sama ... bagaimana kecelakaan itu terjadi !? Kau suka balapan !? " tanya Vania duduk di sofa single di samping Steve .
" Aku dan Langit sangat suka balapan . Walau tidak seekstrim Langit yang lebih suka balapan liar untuk mencari uang lebih banyak tapi aku cukup jago memainkan rem dan gas !! "
" Ya ... aku bisa melihatnya "
" Ckk jangan mengejekku ! Aku memang cukup hebat memainkan rem dan gas .. kecelakaan ini terjadi hanya karena saat itu aku kurang beruntung " kilah Steve yang melihat sorot tak percaya di mata dokter cantik di sampingnya .
" Kau lebih hebat memainkan rasa ... "
" Apa kau merasa aku sedang bermain denganmu ?? "
" Kau menyukaiku , kau bilang aku sempurna , kau berkata aku adalah wanita yang membuatmu memiliki tujuan hidup .... tapi tak sekalipun kau nyatakan cinta padaku "
Steve terbahak mendengarnya , sepertinya dokter cantik itu sudah mulai bisa terbuka kepadanya .
" Aku mencintaimu Ravenna Alvaro , jika saja kakiku tidak sakit mungkin saat ini aku akan memelukmu dan mencium bibirmu ... hawa dingin dengan pemandangan sempurna ini adalah moment paling tepat untuk melakukan itu "
__ADS_1
" Aku nantikan itu ... cepatlah sembuh ! "
" Maksudmu ??? Apa kau .... "