Water N Fire

Water N Fire
176


__ADS_3

Gema dan Vania akhirnya masuk ke kamar pengantin mereka yang sudah disiapkan para ibu mereka di rumah depan . Semua keluarga Adipraja diboyong ke villa milik keluarga Alvaro yang mempunyai view Gunung Elbrus yang merupakan gunung dengan puncak tertinggi .


Erina sudah menyiapkan tenaga spa dan pijat di sana , ia paham jika semua orang pasti lelah dengan persiapan pernikahan putrinya selama beberapa hari ini .


" Kau bahagia sayang ?? " tanya Gema pada istrinya yang sedang sibuk melepas hiasan hiasan yang menempel di rambutnya .


" Sangat ... kau sudah jadi milikku sekarang , jangan pernah berani lagi melirik wanita lain di depan ataupun di belakangku !! " ujar Vania yang kemudian berdiri dengan dua tangan berada di pinggangnya .


Gema terkekeh dan meraih pinggang ramping istrinya , seharusnya dialah yang mengatakan hal itu . Tapi dia bahagia melihat istri kecilnya yang begitu sangat pencemburu . Di kecupnya sekilas bibir merah sang istri yang sudah seharian ini sangat ingin dia sentuh .


" Aku mencintaimu sayang , hatiku terlalu penuh dengan cintamu ... di mataku hanya ada senyummu , jadi tidak akan pernah terisi dengan yang lain "


Mereka saling berpelukan erat dengan sesekali Gema melabuhkan kecupannya di pucuk kepala istrinya penuh sayang .


" Aku gerah ... boleh aku mandi terlebih dahulu !!? " tanya Vania yang membuat senyum di bibir suaminya kembali merekah .


" Tentu saja sayang , aku juga bisa membantumu jika kau kesulitan menggosok punggungmu . Atau kita berendam air hangat bersama , aku adalah pemijat yang hebat " ujar Gema dengan menaik turunkan kedua alisnya .


" Ya ... ya ... aku milikmu , terserah Om mau menggosok atau memijatku ! Sekarang bantu aku membuka bajunya terlebih dahulu , korset di dalamnya membuatku merasa sangat gerah " ujar Vania yang terlihat kesulitan mencapai resleting belakang gaun pengantin dengan model ala ala princess itu .


Dengan sigap Gema membantu istrinya untuk menurunkan resleting yang terletak di belakang . Berkali kali ia menelan salivanya ketika melihat pemandangan di depannya , tubuh putih itu hanya di balut korset model kemben dengan hanya kain segitiga berenda berwarna putih untuk penutup bawahnya .


" Sekalian lepas korsetnya Om , susah ... pengaitnya ada di belakang semua " ujar Vania menyingkap rambutnya ke depan agar Gema leluasa melepas pengait korset yang dikenakannya .


" Hah ... i .. iya sayang "

__ADS_1


Nafas Gema menjadi tak beraturan ketika melepas satu persatu pengait yang perlahan memperlihatkan punggung sang istri secara keseluruhan .


Ketika semua pengaitnya terbuka gadis itu membalikkan badannya dengan satu tangan menahan korset agar tidak terlepas menutupi bagian tubuhnya .


" Makasih Om , tapi sepertinya kita nggak bisa mandi sama sama soalnya kamar mandinya sempit . Hanya kamar Grandpa yang di fasilitasi dengan bath up ... jadi pending dulu mandi barengnya " ujar Vania dengan mengerlingkan satu matanya .


" Nakal ... awas kau !! " gumam Gema gemas ketika melihat Vania dengan sengaja melepas korset dan menutupi dua asetnya dengan dua tangan mungilnya sebelum berlari ke arah kamar mandi .


Rumah di pinggir danau itu memang tidak semewah mansion dimana setiap kamarnya mempunyai fasilitas yang lengkap . Walau besar rumah kayu si pinggir danau itu mempunyai model yang simple sesuai dengan watak pemiliknya .


Dengan hanya mengenakan bathrobe Vania segera keluar setelah selesai membersihkan diri . Dan matanya memicing ketika melihat sang suami sudah mengenakan bathrobe dengan warna sama dengannya . Sepertinya pria halalnya juga sudah membersihkan diri .


" Om sudah mandi ??! "


" Aku mandi di kamar mandi kamar samping sayang " ujar Gema melangkah mendekat pada istrinya .


" Akkkhhh .... " jerit Vania kaget merasa sakit sekaligus nikmat bersamaan .


" Jangan menjerit sekarang sayang , simpan tenagamu untuk nanti karena aku tidak akan sungkan lagi .... " bisik Gema tepat di daun telinga istrinya .


" Aku sangat menantikan itu .... tapi sebelumnya kita isi tenaga kita dulu karena aku sangat lapar "


Gema hanya terkekeh dan kembali menggigit tengkuk istrinya gemas , wajar saja jika Vania lapar karena waktu memang sudah menunjukkan waktu makan malam .


" Kita ke dapur , mungkin ada makanan yang bisa kita hangatkan . lbu pasti sudah menyiapkannya untuk kita .... "

__ADS_1


*


Venna membentangkan selimut tebal untuk menutupi kaki Steve yang saat ini duduk di kursi rodanya di ruang tengah lantai atas villa yang di batasi dinding kaca . Disana mereka bisa melihat Gunung Elbrus yang menjulang tinggi yang diselimuti awan putih .


" Hawa disini sangat dingin , tidak baik untuk kesembuhan kakimu "


" Aku tidak apa apa ... Terima kasih selimutnya " jawab Steve yang sebenarnya memang merasakan sedikit ngilu di kaki kirinya .


" Sama sama ... bagaimana kecelakaan itu terjadi !? Kau suka balapan !? " tanya Vania duduk di sofa single di samping Steve .


" Aku dan Langit sangat suka balapan . Walau tidak seekstrim Langit yang lebih suka balapan liar untuk mencari uang lebih banyak tapi aku cukup jago memainkan rem dan gas !! "


" Ya ... aku bisa melihatnya "


" Ckk jangan mengejekku ! Aku memang cukup hebat memainkan rem dan gas .. kecelakaan ini terjadi hanya karena saat itu aku kurang beruntung " kilah Steve yang melihat sorot tak percaya di mata dokter cantik di sampingnya .


" Kau lebih hebat memainkan rasa ... "


" Apa kau merasa aku sedang bermain denganmu ?? "


" Kau menyukaiku , kau bilang aku sempurna , kau berkata aku adalah wanita yang membuatmu memiliki tujuan hidup .... tapi tak sekalipun kau nyatakan cinta padaku "


Steve terbahak mendengarnya , sepertinya dokter cantik itu sudah mulai bisa terbuka kepadanya .


" Aku mencintaimu Ravenna Alvaro , jika saja kakiku tidak sakit mungkin saat ini aku akan memelukmu dan mencium bibirmu ... hawa dingin dengan pemandangan sempurna ini adalah moment paling tepat untuk melakukan itu "

__ADS_1


" Aku nantikan itu ... cepatlah sembuh ! "


" Maksudmu ??? Apa kau .... "


__ADS_2