
" Hai El gue mau bicara sama elo , Kak Via bersedia ke psikiater. Dan dia mau ketika gue rekomenin paman elo yang katanya datang sore ini " kata Lia , gadis itu sedang menelpon sahabatnya untuk membuat janji temu untuk Via .
" Oke gue juga udah bicara sama dia , paman gue bersedia bertemu dengan Via . Dia bilang lusa mungkin mereka bisa bertemu . Jangan lupa janji elo mau ke rumah ya sore ini !! Kita ke sanggar , kangen gue sama temen temen disana " jawab Elda dari seberang sana .
" Nahhh katanya elo dapet tugas jemput paman elo yang baru datang , gimana sih !! "
" Nanti habis jemput uncle kita mampir ke sanggar , tenang aja dia orangnya easy going kok ! Dia juga suka seni "
" Ya udah kita ketemu nanti sore .. bye !! "
" Bye !! "
Odelia menarik nafasnya dalam dalam , dia berharap Via bisa sembuh melalui konsultasi dengan psikiater itu . Dia juga berharap dengan kesembuhan fobia Via bisa memperlancar hubungan kakaknya dengan Jero .
Lia yakin Jero bisa menerima Via apa adanya , tapi dia tidak yakin Jero bakal bisa memaafkannya karena sudah menyamar menjadi Via malam itu . Dia yang mencuri satu ciuman dari pria itu walau sebenarnya Jerolah yang berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu .
Dan Lia berpikir menyembuhkan Via adalah salah satu jalan untuk menebus kesalahannya .
" Odelia .... "
Suara bariton itu mampu membuyarkan lamunannya , dia melihat pria tinggi besar sudah berdiri di depannya .
" Daddy ... "
" Apa ada olah raga model baru ?? Membentuk bisep dengan mengangkat ponsel !? " kata Abbio dengan menunjuk ponsel yang masih ada di tangan putri bungsunya .
" Ehh ini ... ini tidak seperti yang Daddy pikir , tadi Lia menelpon teman janjian mau pergi ke sanggar bersama sama " kata Lia yang langsung meletakkan ponselnya di lantai karena posisinya memang sedang duduk di lantai bersandar dinding ruangan gym .
Abbio juga melakukan hal yang sama dengan putrinya , pria itu duduk di lantai tepat disamping putrinya .
__ADS_1
" Kau masih suka melukis sayang ?? Daddy dengar lukisanmu menjadi pemenang lomba dan di pajang di Perancis ?? "
" ltu hanya kebetulan Dad , masih banyak pelukis berbakat yang lebih hebat dari Lia "
Abbio mencium kening putrinya , ini yang dia suka dari putri bungsunya yang selalu rendah hati walau semua mengakui kemampuan Lia . Dua putrinya memang punya kelebihan masing masing yang patut di banggakan .
" Daddy bangga padamu , kau kuras uang sakumu hanya untuk membantu teman temanmu di sanggar . Kau membeli lukisanmu sendiri untuk hadiah ulang tahun saudaramu "
" Daddy tahu itu !??? " tanya Lia dengan menggaruk tengkuknya , ia memang menguras tabungan dari hasil uang sakunya untuk membeli lukisannya sendiri .
" Aku daddymu sayang ... aku tahu semua yang terjadi pada putri putriku ! Daddy sudah kembalikan uang yang kau transfer untuk sanggar . Anggap saja itu tanda terimakasih Daddy karena kau sudah menjadi salah satu putriku yang menakjubkan "
" Serius Dad !! Berarti tabungan Lia udah kembali seperti semula ??! "
" Daddy transfer dua kali lipat dari yang kau transfer ke sanggar "
" I love you Dad .... terimakasih !! Terimakasih .... "
" Sama sama sayang , Daddy akan selalu mendukung jika itu berhubungan dengan kegiatan membantu sesama "
" O iya Lia harus segera membersihkan diri Dad , ada janji dengan Elda !! lni tentang psikiater yang pernah Lia bicarakan . Kak Via mau konsultasi dan semoga ini adalah jalan untuk kesembuhan fobia kakak "
Abbio hanya mengangguk , dia tahu semua masalah yang terjadi pada dua putrinya tapi tak sekalipun dia ingin ikut campur . Baginya semua pasti ada jalannya , dan putrinya sudah cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu .
Sore pun tiba , Odelia segera membawa mobilnya menuju ke rumah sahabatnya . Tampak Elda sudah ada di depan rumah menunggunya .
" Kita ke bandara dulu jemput Uncle Albert , setelah itu kita ke sanggar " kata Elda masuk ke dalam mobil dengan membawa sebuah kertas putih bertuliskan nama orang yang akan mereka jemput .
Tak lama kemudian mereka sampai di bandara , dan mereka menunggu pria bernama Albert itu di ruang penjemputan penumpang .
__ADS_1
" Bukannya elo udah kenal sama paman elo , kenapa harus pakai papan nama sih !! " tanya Lia yang melihat Elda membawa kertas putih itu didepan dadanya .
" Tujuh tahun gue nggak ketemu dia , dia tinggal sama nenek di Aussy "
" Ooooo .... "
" Lia elo pegang ini sebentar , perut gue mules banget !! Gue cari toilet dulu ... " ujar Elda dengan menyerahkan papan nama yang dia pegang .
" Lhohh ehhh ... mana gue tahu mukanya kaya apa El !! "
" Kan ada nama sama negara asalnya , dia yang bakal nyamperin elo !! Elo tinggal angkat tinggi tinggi itu papan nama .... " teriak Elda yang sudah berlari menjauh untuk mencari toilet .
Lia hanya bisa menggerutu ketika beberapa penumpang hanya melewatinya , hingga ia duduk berjongkok karena merasa pegal .
" Hai ... apa aku mengenalmu ?? "
Odelia memandang sinis ketika ada pria muda berdiri di depannya dan menyapanya . Lia hanya bungkam karena merasa tidak punya urusan dengan pria di depannya . Gadis itu berpikir yang ia jemput adalah pria berumur dengan kaca mata tebal dan gaya berpakaian yang klasik . Bukankah semua dokter akan bergaya seperti itu !?
" Hai permisi , bisakah kita langsung pulang !? Sepertinya ini sudah terlalu sore "
Pria itu tampaknya mengajak Lia berbicara lagi walau gadis itu sama sekali tidak menanggapinya .
" Apa benar yang ada di tulisan itu ?? Kau menjemput pria bernama Albert dari Australia !? "
" Ckk berisik !!!! Pergi sana !! Memang apa urusannya denganmu jika aku memang sedang menjemput pria bernama Albert hahh !! Nggak usah sok kenal " sinis Lia saking sebalnya .
" Aku adalah Albert , kukira Elda yang akan menjemput ... tapi nyatanya bidadari yang datang ke tempat ini " ujar pria itu sangat ramah , tatapannya tak lepas dari gadis yang masih duduk berjongkok di depannya .
" A ... Apa ?? Kau Albert ?? Tidak mungkin ... " lirih Lia yang melihat pria muda dengan mengenakan celana jeans berwarna gelap dengan kaos putih yang dipadukan dengan jaket kulit berwarna hitam .
__ADS_1