
" Kak Gema sudah bertemu Papa ?? "
" Jika yang kau tanyakan menyangkut proyek pembangunan perumahan di lahan pinggir kota , maka sudah di limpahkan pada Perkasa . Uncle Dewa fokus pada Mega proyeknya yang ada di pulau Borneo , bukannya itu juga menjadi ' main project ' milikmu !? " jawab Gema ketika Janu bertanya padanya .
" Bukan masalah itu , tentang rencana Kak Gema datang ke Rusia "
Gema hanya tersenyum menanggapi kata kata adiknya , dia tahu Janu pasti sangat mengkhawatirkan dirinya yang akan bertemu dengan kakek dari calon istrinya , Gregorius Alvaro .
Dedengkot dunia hitam dari negara itu sekaligus calon kakek mertuanya .
" Aku sudah membicarakan ini para ayah kita , jangan khawatir Kakak yakin jika Gregorius Alvaro adalah pria baik . Wajar jika dia sangat memilih siapa yang akan menjadi pendamping cucu kesayangannya . Dari kecil Vania sudah diasuh olehnya "
" Janu dengar dulu dia adalah sahabat baik Kakek Gaffar , itu artinya .... "
" Kau juga bisa melihat , walau Kakek Gaffar adalah mantan penguasa terkejam tapi nyatanya dia adalah kakek terbaik untuk kita bukan ?? Dia meninggalkan dunianya dan memutuskan untuk menjadi keluarga kita , seorang pengayom yang mendampingi proses kita menuju dewasa "
" Tapi aku dengar dia masih berkecimpung di dunia itu Kak ... "
" Kau percaya padaku ?? Yang aku hadapi adalah seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya ... bukan seorang mafia bengis . Bagaimana keadaan Ava ?? Masih usil !? " ujar Gema terkekeh melihat sorot khawatir pada mata adiknya .
" Kami pindah ke kamar bawah , dia tak bisa menghentikan kebiasaannya yang selalu berlari jika turun dari tangga . Jangan tanya kalau soal usil .... " keluh Janu .
Beberapa hari ini Ava selalu meminta hal aneh padanya , saat tengah malam selalu saja wanita itu terbangun dan minta jalan jalan untuk mencari makanan yang sangat sulit dia dapat .
Contohnya saja tiga hari yang lalu saat dini hari Ava ingin makan bakso , padahal tidak ada warung bakso buka pada jam jam seperti itu . Alhasil wanita halalnya itu marah padanya seharian karena tidak bisa menuruti kemauannya .
__ADS_1
Dan dunianya serasa jungkir balik ketika menghadapi kemarahan istrinya . Ada rasa bersalah dan gemas yang bercampur menjadi satu .
Sampai akhirnya Janu membayar semua gerobak penjual makanan untuk standby di depan mansion , bermaksud agar lebih mudah menjangkaunya saat dini hari . Janu berpikir tidak baik jika Ava selalu keluar malam hari .
Dan ternyata hasilnya membuatnya harus berkali kali menahan nafasnya . Tiga hari setelahnya Ava tertidur pulas sampai pagi , tidak sekalipun ia bangun untuk meminta jajan seperti biasanya .
" Ava memang kadang manjanya kebangetan tapi di situasi tertentu mungkin dia akan menjadi lebih dewasa dari kita "
" Janu tahu itu Kak , karena hal itu Janu mati matian mencintainya "
" Bagaimana dengan Langit ?? " tanya Gema yang ingin tahu tentang adiknya yang lain .
" Kakak bertanya tentang Langit atau istrinya ?? "
" Kenapa kau jadi mirip dengan Steve !? " timpal Gema sebal yang masih selalu dikaitkan dengan Lulu jika ia bertanya tentang Langit .
" Maaf ... Langit bahkan tidak pernah lagi melamun seperti dulu . Sepertinya dia sudah mampu melupakan traumanya , istrinya benar benar bisa merubahnya !! Langit sekolah lagi untuk mendapat gelar walaupun lewat jalur online . Dia akan sibuk mengerjakan tugas kuliahnya saat malam hari karena siangnya dia akan sibuk di showroom bersama Steve "
" Ya ... ya ... wanita memang mampu merubah segalanya "
" Bagaimana dengan wanita ular itu !? Kudengar dia berusaha menyusup ke pulau kakek "
" Kau tenang saja , ayah sudah membuat penjagaan terketat . Semut pun tak akan bisa masuk jika tanpa ijin penjaga disana . Jadi tenang saja dia tidak akan pernah bisa mengganggu Kakek Alfian !! Aku sendiri yang akan membereskan wanita itu sebelum aku pergi ke Rusia "
*
__ADS_1
Sore hari setelah jam kantor showroom sudah selesai Steve pasti menyempatkan diri datang ke rumah sakit yang resmi menjadi miliknya untuk sekedar melihat beberapa laporan . Jika dia beruntung maka ia bisa berbincang dengan pemilik hatinya .
Walau waktu semakin menipis berkaitan Venna yang hanya bertugas selama enam bulan di rumah sakit ini tapi bukan berarti Steve terlalu memaksakan dirinya untuk secepatnya mendapatkan dokter cantik itu .
Dia teramat sangat mencintai Ravenna Alvaro tapi dia tahu semakin dikejar maka dokter cantik itu akan semakin jauh darinya . Maka dia ubah strateginya , dia akan mengulur benang sepanjang yang di inginkan oleh wanita itu dan dia yakin suatu saat Venna lah yang akan mendekatinya .
Seperti saat ini dia tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika mendengar laporan medis dari wanita impiannya . Kebetulan Venna yang sore itu bertugas untuk melaporkan hasil operasi pasien kanker yang dirujuk ke rumah sakit milik Steve .
" Aku sudah selesai melaporkan kenapa kau masih terus menatapku ?? Apalagi yang ingin kau tahu !? "
" Perasaanmu ... " jawab Steve masih dengan senyumnya , ia suka melihat wajah jutek di depannya .
" Sudah aku katakan jangan pernah campur adukkan urusan pribadi dengan masalah pekerjaan !!! " ketus Venna .
" Aku bertanya tentang perasaanmu ketika sudah berhasil menangani pasien itu Dokter , bukan perasaanmu padaku . Aku tahu kau tidak akan pernah menyukai pria selenge'an sepertiku " sahut Steve dengan senyum smirknya
Venna terdiam , dia merasa pria di depannya memang terlalu menyebalkan !! Senyum smirk itu selalu mengganggu hari harinya .
" Saya lega sekaligus bahagia , satu lagi nyawa yang akhirnya bisa kami selamatkan . Laporan saya sudah selesai , dan jam kerja saya pun sudah selesai maka ijinkan saya undur diri " ujar Venna formal seperti selayaknya bawahan pada atasannya .
" Baik ... kau bisa pergi Dokter ! "
DEGGHHHH ..
Ini pertama kalinya pria usil itu merelakan dia pergi , biasanya dengan berbagai cara Steve akan selalu berusaha menahannya agar tetap bisa bersamanya .
__ADS_1
Tapi Venna tetap melangkah keluar kantor , tak mungkin ia bertanya kenapa pria itu tiba tiba saja berubah . Wanita itu merasa Steve perlahan membuat jarak dengannya dan itu sangat mengganggunya .