
" Ehhmmm ... Abaaannggg " suara lirih Ava samar terdengar seiring dengan matanya yang mulai terbuka .
Janu langsung melepaskan ujung jarinya dari bibir gadis itu ketika tiba tiba Ava membuka matanya . Mata bening itu mengerjab pelan , sepertinya baru menyadari ada orang disampingnya .
Biasanya gadis itu akan meraih tangannya dan menjadikannya bantal untuk meneruskan tidurnya , Ava tak akan membiarkannya pergi dari sisinya . Tapi kali ini berbeda , gadis itu bangun dan hanya tersenyum padanya .
" Maaf ... Ava ketiduran di kamar Abang lagi ya !? " cicit Ava sambil melihat sekelilingnya .
" lni kamar Langit ... " sahut Janu datar tanpa melihat ke arah lawan bicaranya .
Ava kembali tersenyum , saking ngantuknya ia menjadi lupa tadi dia memang memaksa masuk dan tidur di kamar Langit .
" Selamat pagi Abaanngg .... Langit mana kok enggak kelihatan !? "
" Sudah turun ke bawah , sekarang cuci muka dan cepat ke bawah karena mereka sudah menunggu kita !! " ketus Janu sebal , ia tak suka ketika gadis itu membuka mata malah pria lain yang ia tanyakan .
" Ehh iyaa ... "
Ava yang sudah biasa dengan sifat ketus Janu segera keluar untuk pergi ke kamarnya sendiri untuk cuci muka dan kembali menggosok giginya .
Janu menunggu gadisnya di ujung tangga , ia sangat hafal kebiasaan Ava yang akan naik ke punggungnya saat menuruni tangga . Benar saja , ia melihat gadis itu berlarian ketika keluar dari kamarnya .
__ADS_1
" Hisshh kok masih di sini sih !! Katanya suruh cepet cepet ke bawah " ujar Ava berlarian melewati pria yang dari tadi menunggunya .
Ava terkejut ketika sebuah tangan mencekal lengannya hingga ia menghentikan larinya .
" Berhenti .... "
" Ckk apalagi sih Bang !? lni Ava lagi mau ke bawah ... "
" Queen Ava !! Naik ... " geram Janu yang tak suka ketika merasa di abaikan .
" Naik naik apaan sih !! Ava mau sarapan di bawah , bukan mau ganti genteng bocor ... enak aja suruh naik " kata Ava ingin melanjutkan langkahnya , ia hanya tak mau bergantung lagi pada pria yang jelas jelas tidak menyukainya .
Dan tangan kekar itu kembali mencekal lengannya , kali ini sedikit terasa sakit karena Janu mencengkeramnya erat .
" Naik Abang bilang ... jangan bandel !! "
" Sakit Abaanngg ... " lirih Ava sambil berusaha melepas cengkeraman Janu , satu tetes air mata tak terasa jatuh di pipinya .
Janu terhenyak dan langsung melepaskan tangannya ketika sadar gadis itu sudah meneteskan air matanya . Dia baru sadar jika tangannya mencengkeram terlalu erat . Dia hanya tak rela ketika gadis itu mengabaikan dirinya .
" Maaf ... Abang minta maaf , sudah di bilang kan kalau turun tangga jangan lari lari ! Sini Abang saja yang gendong ... "
__ADS_1
" Enggak apa apa , Ava bukan bayi lagi yang harus selalu Abang gendong kesana kemari . Pegang tangan Ava saja ... ajari Ava untuk berjalan sendiri "
SYYUUTTT ...
" Bang !!!!!! " pekik Ava yang merasa tubuhnya melayang karena Janu yang tiba tiba membopongnya . Dua tangannya spontan melingkar di leher pria tampan itu .
" Mulai bandel ya !! Pegangan yang kenceng "
Bukannya merasa bahagia tapi hati Ava malah semakin sakit . Mungkin kemarin ia pasti akan merasa sangat senang diperlakukan seperti ini , tapi entah kenapa kepedulian Janu padanya saat ini malah teramat sangat menyakiti hatinya .
Di saat ingin lepas pria itu malah memegangnya begitu erat .
Gema terlihat sudah di ujung tangga bawah , putra paling sulung di Adipraja itu terlihat menatap dua adiknya yang berjalan ke arahnya . Dua tangannya terlihat berada di pinggangnya .
" Ava ... turun , kebiasaan kamu ! "
" Jangan marahi dia Kak , tadi aku yang memaksa untuk menggendongnya . Dia selalu berlari jika menuruni tangga " ujar Janu yang melihat tatapan penuh arti dari Gema .
" Jangan pernah paksa dia lagi ... biarkan dia tidak terus terusan bergantung padamu . Biarkan Ava mandiri ! Tidak apa apa jatuh ... setidaknya dia bisa belajar untuk bangkit kembali "
Semua orang di meja makan hanya saling memandang , belum pernah sekalipun selama ini Gema menunjukkan rasa tidak sukanya pada kedekatan antara Janu dan Ava .
__ADS_1