Water N Fire

Water N Fire
149


__ADS_3

Vania meletakkan sendok dan garpunya ketika mendengar dan melihat pria yang memang sudah sangat ia rindukan ada di depannya , di sebuah layar plasma besar yang tepat selurusan dengannya .


" Kau cantik sekali sayang .... "


Vania yang masih belum percaya hal ini malah melirik Jero yang ada di samping layar plasma , pria muda itu hanya mengacungkan dua jempolnya seakan berkata ini nyata .


" Kau juga sangat tampan pria tua ... Pasti casanova tengil itu yang memberimu setangkai mawar merah . Kau lebih tampan jika membawa pisau atau pistol " ujar Vania dengan masih tetap duduk ditempatnya .


Diseberang sana Gema terlihat terbahak , pria itu kemudian menggeser sebuah kursi dan duduk diatasnya .


" Dia memberikannya agar aku terlihat lebih romantis padamu , maaf jika aku tidak tahu apa bunga kesukaanmu ... "


" Aku suka semua yang kau berikan padaku , aku bukan gadis pemilih . Sekarang katakan apa yang ingin Om katakan ... tidak mungkin kau akan seiseng ini jika bukan tanpa tujuan . Tahu akan bertemu denganmu tadi aku memilih baju seksi termahal di butik Aunty . Aku yakin kalian pasti memang sudah bersekongkol untuk hal ini "

__ADS_1


" Aku pun baru tahu kita akan bertemu dengan cara seperti ini dua detik setelah dia berteriak ON ... tapi jujur saja ini sangat menyiksa . Aku bisa melihat keindahanmu tanpa bisa menyentuhnya .... "


" Cieee ... cieeee .... kemajuan nih Jer !! Kulkas lima pintu sudah bisa bilang menyentuh !! " teriak Steve yang tentu saja masih bisa di dengar oleh Jero yang memang duduk disamping layar .


Jero pun tertawa terbahak mendengarnya , seperti sebuah mimpi mendengar kakaknya bisa bicara seromantis itu . Dan Gema hanya mendengus kesal dengan kelakuan dua adiknya itu .


" Mereka memang menyebalkan !! Tapi mereka adalah hal paling berharga di hidupku , setelah kamu tentunya .... "


Jero melirik sinis pada Vania yang sedang tertawa penuh kemenangan mendengar dia di nomor satukan , begitupun Steve yang tidak terima jika posisinya kalah dari Vania .


" Om .... "


Vania berdiri dan terpaku , ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi . Bukan hanya Vania , dua pria Adipraja pun menganga tak percaya . Orang yang paling mereka anggap kaku ternyata bisa bicara seindah itu .

__ADS_1


" Aku mau ... aku mau .... kita akan menua bersama . Bukan itu ! Kau saja yang tua ... "


Vania tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena pria impiannya sudah melamarnya , air mata sudah membanjiri kedua pipinya .


Dan tiba tiba layar menjadi beberapa bagian dengan menampilkan orang orang terdekat mereka . Ada Bumi , Dewa dan Langit beserta istri mereka disatu bagian . Ada Dennis Alvaro dan Nayya yang sedang tersedu di pelukan suaminya . Ada Adam memeluk istrinya yang juga sedang tersedu . Begitu juga Jerry dan Nayya yang malam itu ikut menjadi saksi acara lamaran itu .


Dan ada wajah pria tua tanpa ekspresi yang menatap mereka tajam , Gregorius Alvaro . Tapi sesaat kemudian layar bagian pria itu langsung gelap . pria itu mematikan live streamingnya .


" Steve ... apa yang kau lakukan !? " tanya Gema yang terkejut karena tak menyangka semua keluarga menyaksikan ' lamarannya ' pada gadis pemilik hatinya .


" Kau memang putra kami !! Kau hebat !! Kami sepenuhnya mendukungmu .... nikahi gadis nakal itu ! Sepertinya tak lama lagi kita akan menjadi besan Tuan Denis Alvaro " ujar Bumi dengan senyum lebar .


" Ya ... ya ... akan sangat menyenangkan menjadi besan dari kalian , Adipraja !! Aku titip putriku " sahut Varo tak kalah lebar tersenyum .

__ADS_1


" Dia sudah menjadi putri kami sejak dia lahir Mas ... " kata Aira pada Varo , pada pria yang menjadi ayah angkat dari putranya .


__ADS_2