Water N Fire

Water N Fire
166


__ADS_3

DORRR .. DOORRR .. DOORRRR !!!!


Tubuh Vania luruh ke bawah mendengar suara keras peluru yang di muntahkan dari senjata kakeknya . Tidak ia dengarkan suara teriakan dari Gema , dapat dipastikan Gregorius benar benar menembak titik titik vital kekasihnya . Jika bukan kepala maka pasti tepat mengenai jantungnya .


Air matanya mengucur dengan deras , sesuatu yang besar seperti menghimpit dadanya hingga ia tak bisa mengeluarkan suara tangisnya . Hanya satu nama yang ia sebut dalam setiap tarikan nafasnya .


" Gema Aksa ... "


Hingga seorang pria datang padanya dengan raut sedikit ketakutan karena mungkin berpikir dia akan berakhir seperti dua temannya yang tadi pingsan .


" Nona ... Tuan Besar memanggil anda " ujar pria itu pelan .


Vania tak bergeming , kakinya bahkan terasa tak bertenaga walau hanya untuk sekedar berdiri . Dunianya seakan runtuh , pria yang sedari kecil ia puja hilang sekejap mata hanya untuk membuktikan kesetiaan dan keteguhan hati dalam mencintainya .


Tidak !! Jika seorang Gema mampu berkorban nyawa untuknya maka ia harus menjadi lebih tegar dalam menghadapi semua . Perlahan ia bangkit , gadis itu menolak keras ketika pria di depannya ingin membantunya berdiri .


" Aku bisa ... pergilah "


Setelah pria itu pergi Vania memejamkan matanya , berkali kali ia menghembuskan nafasnya agar kuat menghadapi semua seorang diri . Dengan menguatkan dirinya sendiri perlahan ia melangkah menuju lapangan tempat para penjaga melakukan latihan .


Jarak yang sebenarnya tak begitu jauh menjadi begitu lama ia tempuh . Hatinya tak berhenti berdoa agar setidaknya ia bisa bertemu dengan kekasihnya walau untuk terakhir kalinya .


Sampai di tempat latihan ia tak menemukan siapapun , hanya beberapa orang penjaga yang sedang berlatih .


" Jangan jangan ..... "


Vania berlari mendekati beberapa penjaga itu , dia berpikir mayat Gema sudah di bawa oleh tim sweeping yaitu tim yang di latih khusus untuk membersihkan sisa sisa aksi pasukan .


" Mana Grandpa !? " tanya Vania ketika sudah berada di dekat mereka .

__ADS_1


" Nona muda ... Tuan besar ada di sarang."


" Aku dari sana , Grandpa belum kembali !! " tukas Vania mulai hilang kesabarannya .


" Maksud kami sarang belakang Nona"


" Sarang belakang ?? Untuk apa Grandpa kesana ?! " lirih Vania penuh tanya .


Sarang belakang adalah sebutan rumah yang ada di belakang rumah utama yang di tempati Gregorius . Rumah itu biasanya di gunakan beberapa orang terpilih untuk belajar taktik mengalahkan lawan ataupun pasukan .


" Dimana kalian bawa mayat yang tadi ada di sini !!?? " pekik Vania , Grandpa nya pasti meninggalkan mayat Gema begitu saja .


" Mayat ?? Kami kurang tahu Nona ... "


Vania mengepalkan tangannya , ia segera berlari menuju sarang belakang . Yang ada di otaknya sekarang ia hanya ingin melihat pria yang ia cintai .


BRAAKKKK ...


Matanya terbelalak , hatinya seakan diremas kuat ketika melihat apa yang ada di depannya ....


" Kalian .... "


*


" Akkhhhhhh .... "


Langit ambruk di atas tubuh istrinya ketika bersama sama mereka mencapai puncak hasrat mereka .


" Maasss .... berat ihhh !! "

__ADS_1


Langit segera berguling ke samping ketika mendengar keluhan istrinya . Mereka masih mencoba mengatur nafas yang tersengal setelah mengarungi surga dunia tadi .


Mata Langit mengernyit ketika Lulu mengambil bantal untuk mengganjal pinggangnya . Tapi senyumnya kemudian mrngembang , ia sepertinya mengerti dengan maksud istrinya .


" Tumben kamu yang pengen lagi sayang , biasanya aku nambah aja kamu protes . Yukk !! Posisi baru nih paket di ganjel ganjel , kayak di turunan aja " kata Langit yang dengan semangat kembali bangkit untuk memposisikan dirinya lagi .


" Awas Mas ... jangan deket deket !! Sepuluh menit nggak boleh gerak gerak inihh "


" Lho kamu nggak mau nambah ?? "


" Hisshh siapa juga mau nambah , ini lagi nampung itunya biar nggak tumpah !! Tadi ibu yang bilang kaya gitu " kata Lulu yang sore tadi di kunjungi bapak dan ibunya yang mampir sehabis acara pengajian di tempat yang tak jauh dari mansion utama Adipraja .


Sebelum pulang ibunya memberi tips agar cepat cepat mendapat cucu . Walau kurang percaya tapi akhirnya Lulu mempraktekan juga . Semua akan ia lakukan agar cepat mendapat momongan .


" Tapi posisi kamu malah bikin aku on lagi !!."


" Hisshhh ... diem dulu Mas !! Belum sepuluh menit . Kata ibu biar cepet jadi bayi habis itu itu diemin dulu sepuluh menit sama kakinya di angkat "


" Ooooo ... gitu ya ? Mau di bantuin angkat kakinya enggak sayang ?! "


" Enggak ... pasti mau modus " cibir Lulu yang tahu suaminya tak akan cukup sekali untuk menyentuhnya .


" Udah tujuh menit ... "


" Ya berarti Mas diem tiga menit lagi !!! "


" Habis itu boleh minta jatah lagi ??? " tanya Langit penuh harap , tubuh yang terlihat berkeringat itu malah terlihat sangat seksi untuknya . Apalagi Lulu memang belum mengenakan sehelai benangpun .


" Mau nolak juga pasti Mas maksa .... "

__ADS_1


" Pas sepuluh menit ... "


" Massssss !!!!! "


__ADS_2