
DORRR .. DOORRR .. DOORRRR !!!!
Tubuh Vania luruh ke bawah mendengar suara keras peluru yang di muntahkan dari senjata kakeknya . Tidak ia dengarkan suara teriakan dari Gema , dapat dipastikan Gregorius benar benar menembak titik titik vital kekasihnya . Jika bukan kepala maka pasti tepat mengenai jantungnya .
Air matanya mengucur dengan deras , sesuatu yang besar seperti menghimpit dadanya hingga ia tak bisa mengeluarkan suara tangisnya . Hanya satu nama yang ia sebut dalam setiap tarikan nafasnya .
" Gema Aksa ... "
Hingga seorang pria datang padanya dengan raut sedikit ketakutan karena mungkin berpikir dia akan berakhir seperti dua temannya yang tadi pingsan .
" Nona ... Tuan Besar memanggil anda " ujar pria itu pelan .
Vania tak bergeming , kakinya bahkan terasa tak bertenaga walau hanya untuk sekedar berdiri . Dunianya seakan runtuh , pria yang sedari kecil ia puja hilang sekejap mata hanya untuk membuktikan kesetiaan dan keteguhan hati dalam mencintainya .
Tidak !! Jika seorang Gema mampu berkorban nyawa untuknya maka ia harus menjadi lebih tegar dalam menghadapi semua . Perlahan ia bangkit , gadis itu menolak keras ketika pria di depannya ingin membantunya berdiri .
" Aku bisa ... pergilah "
Setelah pria itu pergi Vania memejamkan matanya , berkali kali ia menghembuskan nafasnya agar kuat menghadapi semua seorang diri . Dengan menguatkan dirinya sendiri perlahan ia melangkah menuju lapangan tempat para penjaga melakukan latihan .
Jarak yang sebenarnya tak begitu jauh menjadi begitu lama ia tempuh . Hatinya tak berhenti berdoa agar setidaknya ia bisa bertemu dengan kekasihnya walau untuk terakhir kalinya .
Sampai di tempat latihan ia tak menemukan siapapun , hanya beberapa orang penjaga yang sedang berlatih .
" Jangan jangan ..... "
Vania berlari mendekati beberapa penjaga itu , dia berpikir mayat Gema sudah di bawa oleh tim sweeping yaitu tim yang di latih khusus untuk membersihkan sisa sisa aksi pasukan .
" Mana Grandpa !? " tanya Vania ketika sudah berada di dekat mereka .
__ADS_1
" Nona muda ... Tuan besar ada di sarang."
" Aku dari sana , Grandpa belum kembali !! " tukas Vania mulai hilang kesabarannya .
" Maksud kami sarang belakang Nona"
" Sarang belakang ?? Untuk apa Grandpa kesana ?! " lirih Vania penuh tanya .
Sarang belakang adalah sebutan rumah yang ada di belakang rumah utama yang di tempati Gregorius . Rumah itu biasanya di gunakan beberapa orang terpilih untuk belajar taktik mengalahkan lawan ataupun pasukan .
" Dimana kalian bawa mayat yang tadi ada di sini !!?? " pekik Vania , Grandpa nya pasti meninggalkan mayat Gema begitu saja .
" Mayat ?? Kami kurang tahu Nona ... "
Vania mengepalkan tangannya , ia segera berlari menuju sarang belakang . Yang ada di otaknya sekarang ia hanya ingin melihat pria yang ia cintai .
BRAAKKKK ...
Matanya terbelalak , hatinya seakan diremas kuat ketika melihat apa yang ada di depannya ....
" Kalian .... "
*
" Akkhhhhhh .... "
Langit ambruk di atas tubuh istrinya ketika bersama sama mereka mencapai puncak hasrat mereka .
" Maasss .... berat ihhh !! "
__ADS_1
Langit segera berguling ke samping ketika mendengar keluhan istrinya . Mereka masih mencoba mengatur nafas yang tersengal setelah mengarungi surga dunia tadi .
Mata Langit mengernyit ketika Lulu mengambil bantal untuk mengganjal pinggangnya . Tapi senyumnya kemudian mrngembang , ia sepertinya mengerti dengan maksud istrinya .
" Tumben kamu yang pengen lagi sayang , biasanya aku nambah aja kamu protes . Yukk !! Posisi baru nih paket di ganjel ganjel , kayak di turunan aja " kata Langit yang dengan semangat kembali bangkit untuk memposisikan dirinya lagi .
" Awas Mas ... jangan deket deket !! Sepuluh menit nggak boleh gerak gerak inihh "
" Lho kamu nggak mau nambah ?? "
" Hisshh siapa juga mau nambah , ini lagi nampung itunya biar nggak tumpah !! Tadi ibu yang bilang kaya gitu " kata Lulu yang sore tadi di kunjungi bapak dan ibunya yang mampir sehabis acara pengajian di tempat yang tak jauh dari mansion utama Adipraja .
Sebelum pulang ibunya memberi tips agar cepat cepat mendapat cucu . Walau kurang percaya tapi akhirnya Lulu mempraktekan juga . Semua akan ia lakukan agar cepat mendapat momongan .
" Tapi posisi kamu malah bikin aku on lagi !!."
" Hisshhh ... diem dulu Mas !! Belum sepuluh menit . Kata ibu biar cepet jadi bayi habis itu itu diemin dulu sepuluh menit sama kakinya di angkat "
" Ooooo ... gitu ya ? Mau di bantuin angkat kakinya enggak sayang ?! "
" Enggak ... pasti mau modus " cibir Lulu yang tahu suaminya tak akan cukup sekali untuk menyentuhnya .
" Udah tujuh menit ... "
" Ya berarti Mas diem tiga menit lagi !!! "
" Habis itu boleh minta jatah lagi ??? " tanya Langit penuh harap , tubuh yang terlihat berkeringat itu malah terlihat sangat seksi untuknya . Apalagi Lulu memang belum mengenakan sehelai benangpun .
" Mau nolak juga pasti Mas maksa .... "
__ADS_1
" Pas sepuluh menit ... "
" Massssss !!!!! "