
Setelah berkunjung ke pulau milik Alfian , Gema dan Vania tak membuang waktu . Mereka segera terbang ke Rusia , tujuan pertama mereka mansion Alvaro yang dihuni oleh Dennis dan Erina .
Sedang Gregorius lebih suka tinggal di barak bersama orang orangnya . Barak yang merupakan tempat Vania di gembleng dengan keras hingga mampu memimpin kerajaan bisnis milik klan Alvaro .
" Daddy ... Mommy ... lm home !!! "
" Akhirnya kau pulang juga gadis nakal ... " ujar Varo dan istrinya yang kini memeluk putri bungsunya .
" Senang bertemu kembali Uncle ... Aunty " ujar Gema dengan sopan .
" Ya Tuhan ... calon menantu kita tampan sekali !! Kapan kalian menikah !? " tanya Erina sangat antusias , dia yakin hanya pria seperti Gema yang mampu menjadi ' pawang ' putri bungsunya .
Varo hanya geleng geleng kepala .dilihat betapa antusiasnya sang istri , di raihnya pinggang ramping wanita halalnya .
" Kau terlalu bersemangat sayang !.Mereka baru saja datang sebaiknya mereka istirahat dulu "
Vania hanya tertawa melihat sang ibu , Erina adalah sosok seorang ibu sekaligus sahabat baginya ataupun kakaknya . Sikap apa adanya dari sang ibulah yang membuat Daddynya sangat mencintainya .
" Sayang tadi Mommy bikin puding , kita siapkan untuk mereka sebelum makan malam tiba " kata Erina sengaja memberi waktu pada sang suami dan Gema bicara empat mata .
" Baik Mom ... "
__ADS_1
" Apa kabar keluarga Adipraja !? Sudah lama sekali Uncle tidak berkunjung ke lndonesia . Semakin tua Uncle semakin malas untuk melakukan perjalanan jauh .... Lagipula calon istrimu itu harus Uncle awasi 24 jam ! Kau sangat tahu jika dia istimewa "
" Gema mengerti , Gema berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Vania " ujar Gema mantap .
" Uncle percaya padamu . Besok Uncle sendiri yang akan mengantarmu ke barak bertemu Daddy .... "
Gema tersenyum , ternyata banyak orang yang mengkhawatirkan pertemuannya dengan kakek Vania itu .
" Kami sudah memutuskan untuk menghadapi Tuan Gregorius bersama , Uncle jangan terlalu khawatir "
" Dia mirip sekali dengan Vania , wataknya tak terduga ... dan kadang melakukan hal yang di luar ekspetasi kita "
" Gema tahu itu dan gema akan berusaha meluluhkannya . Selama niat kami baik maka Gema yakin Grandpa Gregorius juga akan menanggapinya dengan baik "
" Vania antar Gema ke kamarnya , Mommy peringatkan jangan mengganggunya ! Biarkan calon suamimu itu istirahat dulu karena besok hari kalian mungkin akan berat "
" Ok Mom ... Vania tidak pernah mengganggunya " gerutu Vania yang membuat kedua pria disampingnya tertawa bersama .
" Ya ... ya ... Mommy percaya itu "
Setelah selesai acara makan puding Vania membawa Gema ke kamar tidur tamu .
__ADS_1
" Kau mau apa sayang !? " tanya Gema yang melihat Vania ikut masuk ke kamarnya dan mulai mengeluarkan baju baju dalam kopernya .
" Aku hanya mau membantu menata bajumu dalam lemari , siapa tahu Om akan lama di sini "
" Kita minta restu pada Grandpa dulu sayang , setelah itu baru keluarga besar yang mengurus pernikahan kita . Kau mau kita menikah di sini atau di lndonesia !? " tanya Gema membantu Vania memindah satu persatu bajunya ke sebuah lemari pakaian yang ada di samping ranjang .
" Mau di mana saja tak masalah ... yang penting sama Om , nggak mau sama yang lain !! Awwwsshh .... kok nyubit sih " gerutu Vania mengelus pipinya .
" Gemes ... " sahut Gema sekenanya .
" Kalau Grandpa tidak setuju Om mau mundur !? "
" Aku paksa dia biar setuju "
" Ha ... ha ... sebelum bisa memaksanya isi revolver 47 nya akan bersarang di jantung atau kepala Om "
" Aku tidak takut , karena tanpa dirimu akupun terasa tak bernyawa ehhh .... "
Vania berjinjit dan meraih bibir calon suaminya , kecupan kecupan ringan yang berubah menjadi lebih interns . Hingga tanpa sadar Vania sudah ada dalam pangkuan Gema yang duduk ditepi ranjang . Dua bibir itu terus terpaut hingga suara cecapan dan geraman samar terdengar menghiasi kamar .
Hingga suara berdehem seorang pria mampu menghentikan aksi mereka .
__ADS_1
" Haissshhh ... benar kata Mommymu., sebaiknya kalian memang segera menikah !! "