
" Abang kok nggak pulang pulang sih !? " tanya Ava pada pria yang sedang sarapan bersamanya pagi ini .
" Ngusir nih !? "
" Ya enggak , heran aja jadi betah banget . Biasanya sehari juga langsung terbang lagi ke Jakarta "
" Sekarang kan dapat tugas dari ayah jagain calon istri . Enak nasi gorengnya !? " tanya Janu ketika melihat gadisnya sangat lahap menikmati satu piring nasi goreng yang tadi ia siapkan .
" Dari dulu apapun yang Abang masak kan Ava selalu suka "
" Ayah dan ibu akan ada di Jakarta dalam waktu yang cukup lama karena menyiapkan pernikahan Langit jadi untuk sementara Abang yang jagain kamu disini "
Ava meletakkan sendoknya ketika mendengar kabar itu , seharusnya dia bahagia ketika mendengar kabar itu tapi entah hatinya malah sedikit nyeri ketika mendengarnya .
" Langit ?? Menikah ? Abang serius ? "
" Kyai Abdulloh yang menjodohkannya , ada anggota keluarganya yang juga nyantri di pesantrennya . Kamu pengen juga ? "
" Pengen apa !? " tanya Ava sambil meminum jus jeruk yang ada di depannya .
" Menikah .... Jika kau mau setelah pernikahan Langit kita juga segera menyusul "
" Tapi Ava masih kuliah "
__ADS_1
" Nggak masalah , Abang tenang kalau kamu sudah benar benar jadi tanggung jawab Abang "
Ava tidak menjawabnya , gadis itu mengambil piring Janu sekaligus piring kotor miliknya dan dibawanya ke kitchen sink . Dari kecil ia sudah di biasakan untuk membersihkan sendiri meja makan setelah menggunakannya .
" Kok diem sih sayang ?? "
Janu berjalan mendekat pada gadisnya dan memeluk pinggang rampingnya dari arah belakang . Di kecupnya tengkuk dan leher jenjang yang ada di depannya hingga suara desisan keluar dari mulut Ava .
" Abang minggir dulu ihhhh .. jangan gangguin dulu , nggak kelar kelar nanti cuci piringnya " lirih Ava sedikit menggeliatkan tubuhnya .
" Kau keberatan jika kita menyusul Langit secepatnya !? "
Setelah selesai mencuci piringnya Ava membalikkan badan dan kini berdiri berhadapan dengan pemilik hatinya .
" Masih meragukan cintaku !? Kau sedang membalasku Nona !? "
" Enggak boleh seudzon ... "
Ava meraih rahang kokoh Janu dengan kedua tangannya , gadis itu menikmati wajah tampan di depannya .
" Ava cuma takut belum bisa jadi istri yang baik untuk Abang , sarapan aja Abang terus yang bikinin . Masih ada banyak kekurangan pada diri Ava , kelak aku pasti akan sangat merepotkan ! Abang siap untuk menerima semua itu ? "
" Sangat siap .... "
__ADS_1
Janu meraih bibir kemerahan yang selalu saja menguji kewarasannya , niat semula hanya ingin mengecupnya sekilas seperti biasa tapi kali ini ia sepertinya enggan untuk melepaskan candunya .
Janu mulai terpancing dengan permainannya sendiri ketika bibir itu mulai membalas setiap cecapannya . Rasa manis bibir kemerahan itu membuatnya ingin lebih merasainya . Pria muda itu tak menyia nyiakan kesempatan ketika bibir kemerahan itu sedikit terbuka . Perlahan lidahnya menerobos masuk untuk mengabsen semua yang ada di sana .
" Sayaaaanngg .... "
Janu mengangkat tubuh Ava duduk di tepi kitchen sink agar lebih leluasa mengeksplor bibir candunya . Dua tangannya tetap melingkar erat di pinggang gadisnya .Semua mengalir begitu saja hingga tautan lidah mereka terlepas ketika mereka telah kehabisan nafas . Ava mencubit lembut perut liat di depannya .
Kening mereka bertaut ketika nafas mereka masih menderu .
" Maaf Abang kelepasan ... "
" Enggak apa apa , paling paling sebentar lagi ayah telpon suruh Ava jauh jauh dari Abang " ujar gadis itu dengan tersenyum lebar .
" Ayah ? Memang kenapa !? "
" Setiap sudut rumah ini terpasang cctv yang langsung terhubung dengan ponselnya . Abang kan tahu sendiri kalau ayah tak bisa melepaskan pengawasan dari orang rumah . Apalagi di sini cuma berdua sama Abang ... bahaya !! "
Benar saja tak lama kemudian terdengar bunyi telpon dari ponsel Janu yang tergeletak di meja makan . Pria muda itu terlihat menggaruk tengkuknya ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya .
" Ya halo Ayah ... "
" Hari ini juga bawa Ava ke Jakarta !! "
__ADS_1