Water N Fire

Water N Fire
178


__ADS_3

Gema hanya tersenyum ketika melihat sang istri yang makan wafel buatannya dengan sangat lahap , sebenarnya ada makanan yang hanya perlu di hangatkan tapi Vania menolak dengan alasan karena ingin sesuatu buatan suaminya .


" Enak !? " tanya Gema pada Vania yang duduk di pangkuannya .


" He em ... " jawab Vania singkat karena mulutnya masih penuh dengan makanan .


" Ada daging steak buatan ibu yang bisa aku hangatkan jika kau masih lapar "


" Nanti saja , bukankah malam masih terlalu panjang ?? Om pasti akan membuatku lapar sepanjang malam ini "


Gema terbahak mendengar jawaban frontal istrinya , dia memang sudah sangat ingin ' memakan ' istri kecilnya saat ini juga .


Ketika pada suapan terakhir Gema mengangkat tubuh kecil itu hingga kini sang istri duduk di atas meja makan dengan posisi saling berhadapan .


" Ckk tidak sabaran ... yakin mau disini !!? " lirih Vania yang merasakan dua tangan kokoh sang suami sudah menarik tali bathrobe yang dikenakannya .


Ditariknya bathrobe itu hingga lolos dari pundak sang istri , dan kini dengan leluasa ia dapat melihat tubuh putih di depannya yang hanya mengenakan dua penutup terakhir berwarna merah terang .

__ADS_1


" Kau indah sayang .... " bisik Gema tepat ditelinga istrinya .


Perlahan bibir Gema menyusuri tengkuk dan leher Vania yang sudah memejamkan matanya . Sesekali gadis itu menjerit kecil ketika dengan nakalnya Gema menghisap kuat kulit putihnya .


Puas menyusuri area tengkuk dan leher kini dua bibir itu sudah bertaut , suara cecapan nyaring terdengar menggema di seluruh ruangan .


" Akkhhhh .... Ooommm " pekik Vania ketika dua asetnya yang masih menggunakan penutup diremas lembut oleh dua tangan kokoh suaminya .


" Kita ke kamar sayang .... " bisik Gema dengan nafas yang sudah memburu , diangkatnya tubuh istrinya hingga kini Vania ada diatas perutnya .


Seperti seekor koala Vania di bawa suaminya menuju kamar pengantin tanpa sekalipun melepas tautan bibir yang kadang membuat Gema tak sengaja menabrak benda di sekitarnya . Bukannya merasa sakit mereka malah tertawa bersama dan kemudian saling bertukar saliva kembali .


Pria itu duduk di tepi ranjang dengan sang istri masih duduk di atas pangkuannya , bibir kemerahan itu benar benar menerbangkan kewarasannya . Gema semakin menggila karena Vania ternyata mampu mengimbangi setiap pagutannya .


Satu tangan Vania menahan penutup atasnya agar tidak terlepas ketika tanpa ia sadari Gema sudah melepas pengaitnya .


" Kenapa ??? Malu ?? "

__ADS_1


Vania menganggukkan kepalanya , dan sesaat kemudian menggelengkan kepalanya . Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya , tentu saja ia masih malu untuk memperlihatkan sesuatu yang selama ini ia jaga .


" Kau milikku ... dan aku milikmu ! " ujar Gema meraih tangan mungil itu hingga wajah cantik itu memerah sempurna . Dan pria itu berkali kali menelan salivanya ketika dua bukit itu menjulang tepat di depannya .


Gema merebahkan tubuh sang istri ke ranjang kemudian melucuti sendiri semua kain yang menempel di tubuhnya . Jika ada hal yang bisa ia lakukan mungkin Vania ingin menghilang saat ini juga , bagaimana tidak jika pemandangan di depannya membuat seluruh tubuhnya merinding . Pria halalnya sudah tak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya .


" Sekarang kita samakan keadaan sayang ... " ujar Gema menarik kain satu satunya yang masih menempel di tubuh istrinya .


" Ommmm .... " lirih Vania ketika dua tangannya di bawa untuk menelusuri dada dan perut suaminya .


" Biasakan untuk menyentuhnya ... aku milikmu sepenuhnya dan kau milikku seutuhnya . Kau siap ?? "


Vania mengangguk pelan , ia tahu apa maksud pertanyaan suaminya . Sekarang ia adalah seorang istri sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami baik lahir ataupun batinnya .


Dan malam itu mereka menghabiskan waktu bersama untuk pertama kalinya , semua serasa indah karena di lakukan dengan di landasi rasa cinta dan saling mengasihi .


Walau sakit pada awalnya tapi semakin lama Vania bisa menikmati malam pertamanya . Sebisa mungkin ia mengimbangi permainan sang suami , ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk belahan jiwanya . Hingga keduanya memekik bersama dengan tubuh bergetar karena penyatuan itu telah sampai pada puncaknya .

__ADS_1


" Terima kasih ... aku mencintaimu sayang "


" Aku juga mencintaimu "


__ADS_2