
Gema hanya tersenyum ketika melihat sang istri yang makan wafel buatannya dengan sangat lahap , sebenarnya ada makanan yang hanya perlu di hangatkan tapi Vania menolak dengan alasan karena ingin sesuatu buatan suaminya .
" Enak !? " tanya Gema pada Vania yang duduk di pangkuannya .
" He em ... " jawab Vania singkat karena mulutnya masih penuh dengan makanan .
" Ada daging steak buatan ibu yang bisa aku hangatkan jika kau masih lapar "
" Nanti saja , bukankah malam masih terlalu panjang ?? Om pasti akan membuatku lapar sepanjang malam ini "
Gema terbahak mendengar jawaban frontal istrinya , dia memang sudah sangat ingin ' memakan ' istri kecilnya saat ini juga .
Ketika pada suapan terakhir Gema mengangkat tubuh kecil itu hingga kini sang istri duduk di atas meja makan dengan posisi saling berhadapan .
" Ckk tidak sabaran ... yakin mau disini !!? " lirih Vania yang merasakan dua tangan kokoh sang suami sudah menarik tali bathrobe yang dikenakannya .
Ditariknya bathrobe itu hingga lolos dari pundak sang istri , dan kini dengan leluasa ia dapat melihat tubuh putih di depannya yang hanya mengenakan dua penutup terakhir berwarna merah terang .
__ADS_1
" Kau indah sayang .... " bisik Gema tepat ditelinga istrinya .
Perlahan bibir Gema menyusuri tengkuk dan leher Vania yang sudah memejamkan matanya . Sesekali gadis itu menjerit kecil ketika dengan nakalnya Gema menghisap kuat kulit putihnya .
Puas menyusuri area tengkuk dan leher kini dua bibir itu sudah bertaut , suara cecapan nyaring terdengar menggema di seluruh ruangan .
" Akkhhhh .... Ooommm " pekik Vania ketika dua asetnya yang masih menggunakan penutup diremas lembut oleh dua tangan kokoh suaminya .
" Kita ke kamar sayang .... " bisik Gema dengan nafas yang sudah memburu , diangkatnya tubuh istrinya hingga kini Vania ada diatas perutnya .
Seperti seekor koala Vania di bawa suaminya menuju kamar pengantin tanpa sekalipun melepas tautan bibir yang kadang membuat Gema tak sengaja menabrak benda di sekitarnya . Bukannya merasa sakit mereka malah tertawa bersama dan kemudian saling bertukar saliva kembali .
Pria itu duduk di tepi ranjang dengan sang istri masih duduk di atas pangkuannya , bibir kemerahan itu benar benar menerbangkan kewarasannya . Gema semakin menggila karena Vania ternyata mampu mengimbangi setiap pagutannya .
Satu tangan Vania menahan penutup atasnya agar tidak terlepas ketika tanpa ia sadari Gema sudah melepas pengaitnya .
" Kenapa ??? Malu ?? "
__ADS_1
Vania menganggukkan kepalanya , dan sesaat kemudian menggelengkan kepalanya . Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya , tentu saja ia masih malu untuk memperlihatkan sesuatu yang selama ini ia jaga .
" Kau milikku ... dan aku milikmu ! " ujar Gema meraih tangan mungil itu hingga wajah cantik itu memerah sempurna . Dan pria itu berkali kali menelan salivanya ketika dua bukit itu menjulang tepat di depannya .
Gema merebahkan tubuh sang istri ke ranjang kemudian melucuti sendiri semua kain yang menempel di tubuhnya . Jika ada hal yang bisa ia lakukan mungkin Vania ingin menghilang saat ini juga , bagaimana tidak jika pemandangan di depannya membuat seluruh tubuhnya merinding . Pria halalnya sudah tak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya .
" Sekarang kita samakan keadaan sayang ... " ujar Gema menarik kain satu satunya yang masih menempel di tubuh istrinya .
" Ommmm .... " lirih Vania ketika dua tangannya di bawa untuk menelusuri dada dan perut suaminya .
" Biasakan untuk menyentuhnya ... aku milikmu sepenuhnya dan kau milikku seutuhnya . Kau siap ?? "
Vania mengangguk pelan , ia tahu apa maksud pertanyaan suaminya . Sekarang ia adalah seorang istri sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami baik lahir ataupun batinnya .
Dan malam itu mereka menghabiskan waktu bersama untuk pertama kalinya , semua serasa indah karena di lakukan dengan di landasi rasa cinta dan saling mengasihi .
Walau sakit pada awalnya tapi semakin lama Vania bisa menikmati malam pertamanya . Sebisa mungkin ia mengimbangi permainan sang suami , ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk belahan jiwanya . Hingga keduanya memekik bersama dengan tubuh bergetar karena penyatuan itu telah sampai pada puncaknya .
__ADS_1
" Terima kasih ... aku mencintaimu sayang "
" Aku juga mencintaimu "