
" Kalian urus yang lain , tapi jangan sentuh dia !! Dia urusanku ... " teriak Gema pada orang orangnya yang sudah merangsek maju ketika satu lagi tembakan terdengar sangat nyaring .
Gema yakin tembakan itu dari musuhnya karena semua penjaga atau dirinya memakai peredam.untuk setiap senjata api yang mereka pakai . Dengan cekatan seorang penjaga mengikat luka yang terlihat semakin banyak mengeluarkan darah itu .
" Tuan ... "
" Sudah aku katakan aku tidak apa apa ... "
Gema melangkah ke arah Jeep yang kelihatannya tiga penumpangnya sudah tergeletak di dalamnya , entah pingsan entah sudah tak bernyawa . Sesuai permintaannya satu orang tersisa dengan masih membawa satu senjata di tangannya .
" Jangan kesana Tuan Muda !! Kami bisa selesaikan jika Tuan memintanya ... "
" Dia bagianku !! Jangan ada yang menyentuhnya dan jangan libatkan polisi atau siapapun .... "
" Baik ... "
Gema merangsek maju tanpa membawa senjata ditangannya . Dan orang itu hanya terpaku melihat banyaknya darah yang membasahi seluruh kemeja putih yang di kenakan oleh Gema .
" Keluar B*ngsat !! "
" Aksa .... "
BUGGHHH .... BUGHHHH
__ADS_1
" Kau masih ingat yang aku katakan dulu saat kita latihan menembak bersama hahhh !!! Tembak dada atau kepala !! Kau dengar itu B*ngsat ??!! Tembak di KEPALA !!! Bangun ... jangan terlihat lemah di depanku !! "
Pria itu masih duduk dengan menyapu darah yang keluar dari kedua sudut bibirnya . Sementara para penjaga dengan sigap sweeping tempat itu . Sebagian membawa orang orang yang terkena tembakan ke rumah sakit , sebagian lagi berada di tempat itu untuk menjaga Tuan Mudanya .
" Aku beri kau satu kesempatan lagi untuk menarik pelatukmu ... atau kau akan menyesal seumur hidupmu !!! "
KRREEKK ... KRREKK
Pria itu mengokang senjata apinya dan mengarahkannya pada Gema tapi semua penjaga tak bisa melakukan apa apa karena Gema sudah memberi isyarat untuk tidak ikut campur .
Walau begitu seorang snipper tetap diam diam diam berjaga karena bagaimanapun nyawa Gema adalah nyawa mereka . Nyawa mereka menjadi taruhannya jika mereka tidak bisa menjaga Tuan Muda mereka .
" Di KEPALA !! Jangan meleset seperti tadi ... peluru di lenganku tak akan pernah bisa menumbangkan aku " ujar Gema masih berdiri tegak di depan pria itu .
Pria muda yang memegang senjata itu malah luruh , kepalanya tertunduk dengan berkali kali memukul aspal hingga tangannya berdarah .
Dika tertawa hambar dengan menatap sinis ke arah sahabat sekaligus atasannya itu .
" Dan hanya kau yang selalu dianggap pahlawan !! Mereka memintaku untuk belajar padamu ... mereka pikir kau adalah yang terhebat !! Nyatanya aku bisa mencuri data dengan mudah .... "
" BODOH !!! OTAK UDANGG !!! " sebuah suara membuat keduanya menoleh hampir bersamaan .
" Raditya ... mundur , dia urusanku !! " ujar Gema karena tidak ingin wakilnya ikut terluka karena Dika masih membawa senjatanya .
__ADS_1
" Biarkan ... bila tidak puas dia juga bisa menembakku sekalian !! Kau pikir Gema Aksa bisa kau kelabui semudah itu ?? Dia diam karena masih ingin melihat seberapa jauh kau bisa mengkhianatinya ... dia ingin melihat seberapa besar kau bisa menghargai persahabatan kalian !! Jika memang kau tak mau belajar padanya , kau bisa langsung mengatakannya . Dia sudah menganggapmu sebagai saudaranya !! Apa kau pikir pikirannya akan terlalu sempit untuk bisa membiarkanmu berdiri di kakimu sendiri hahhh !! "
Radit mendekat pada Gema , pria muda itu mengkhawatirkan sahabatnya karena melihat darah yang terus saja menetes dari kain pengikat lukanya .
" Kita belajar apapun bersama , dan dengan picik kau ingin menghancurkan sahabatmu hanya karena warna hitam di hatimu !! Kau lihat ... jika mau para penjaga itu sudah membunuhmu dari tadi . Tapi tidak mereka lakukan karena Gema Aksa tidak ingin kau terluka , karena papamu sudah memberinya tanggung jawab untuk menjagamu ... dasar otak udang !! "
" Bunuh aku .... " lirih Dika dengan mata terpejam , baginya lebih baik tiada daripada menanggung rasa bersalah dan rasa malu .
Gema mendekat dan duduk diatas aspal tepat di depan Dika . Radit pun melakukan hal yang sama , mereka bertiga duduk di tengah jalan aspal .
" Kau adalah saudaraku ... membunuhmu berarti aku membunuh salah satu bagian dari diriku . Kita pernah jatuh bersama sama , jatuh hingga kita bahkan tak bisa merasakan perihnya luka lagi . Tak masalah jika aku hanya kehilangan uang ... tapi tidak sahabat , karena kita saling menopang "
" Kau ingat kau pernah kencan dengan gadis incaranku ?? Sampai sekarang ingin sekali aku menghajarmu ... " kata Radit dengan menendang pelan satu kaki Dika .
" Kau yang duluan memakan nasi ayam milikku .... "
" Kenapa di masalahkan , bukannya kau ambil jatah nasiku waktu itu !? Aku yang kelaparan waktu itu ... " sahut Gema juga menendang pelan satu kaki Dika .
" Maaf .... "
" Itu hanya nasi , tenang saja .. "
Mereka lirih tertawa , mereka sangat ingat waktu ketika mereka di sekolah asrama bersama . Banyak kisah yang mereka lalui bersama bahkan hingga sampai saat ini . Mereka masih bersama belajar mengelola sebuah perusahaan . Dan lamunan mereka buyar ketika sebuah suara mengejutkan mereka ....
__ADS_1
DORRRR !!!!!
" DIKAAAA ..... "